Volume 2: Narasi

886 Views |  1

Apakah pemerintah dan masyarakat memiliki visi dan aspirasi yang sama tentang kota? Bagaimana membangun komunikasi yang produktif antara pemerintah dan masyarakat? Lantas, apa peranan arsitek dalam hal ini?

Pemerintah telah mengikutsertakan perencana kota dalam merencanakan pembangunan; namun uji kompetensi atau tender yang tidak terlaksana dengan baik, beserta kultur KKN yang masih mewabah, membuat banyak hasil pembangunan tidak terlaksana dengan baik atau mengusulkan strategi yang tidak tepat. Akhirnya, arsitek seringkali terjebak dalam konflik antara pemerintah dan masyarakatnya. Idealnya, arsitek harus bersikap sebagai penengah yang memediasi aspirasi masyarakat dengan visi pemerintah. Namun seringkali arsitek hanya berpihak pada satu sisi, atau malah memilih sisi ke-empat: pasar.

Bagian kedua dari Ruang edisi #10: Pemerintah, menawarkan “narasi” dalam membaca praktek-praktek yang berlangsung; seperti realita lapangan yang seolah berjarak dengan visi, fenomena-fenomena politis keruangan atau pengaturan pengalaman ruang-ruang kota yang membentuk manusia. Ruang bersyukur mendapat masukan dari berbagai macam latar belakang disiplin keilmuan. Penyelenggara negara, praktisi arsitektur dan perencana kota, akademisi, seniman, aktivis, pengamat, serta pecinta arsitektur dan kota menawarkan beragam sudut pandang untuk membedah kompleksitas permasalahan tadi. Campuran antara bahasa Indonesia, bahasa Inggris, ataupun bahasa Indonesia-Inggris memperkaya kemungkinan-kemungkinan yang membebaskan, bukan malah memenjarakan. Semoga artikel-artikel ini memancing kita dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan.

Wacana akan dibuka oleh Maria Sheheraza de Guidici dan Davide Sacconi dari AA School, “City and Power: 12 Tales from a Present Future”, yang membahas tentang relasi antara kota dan kekuasaan melalui sebuah kolaborasi eksperimental bersama 12 arsitek dan praktisi kolektif. Kemudian Ayos Purwoaji dari AYOREK Surabaya bercerita tentang “Kota dan Narasi yang Majemuk”, bahwasanya kota justru dibentuk oleh fragmen-fragmen kecil yang kemudian menjadi identitas kolektif. Sementara Derrick Andika Juda, desainer urban di AECOM Jakarta, menyumbangkan bagian dari tesis masternya yang bertajuk “Pasar Senen: How life Between Buildings Matters in Market Revitalisation”. Selanjutnya, Siti Amrina Rosada menjabarkan observasinya tentang “Arsitek dalam Profesi: Peran, Posisi, dan Potensi”, yang kembali kepada pertanyaan: apakah menjalani profesi arsitek saja akan cukup untuk bersetia pada arsitektur?

Noa Haim, founder dari Collective Paper Aesthetic Rotterdam, bercerita tentang proyek yang terinspirasi dari karya Buckminster Fuller dan memiliki tujuan untuk menjadi instrumen berpikir untuk arsitektur dan perencanaan kota berdasarkan konsep partisipatif, “How Can We Make Places People Truly Love?”. Sri Suryani, seorang lulusan UCL yang tinggal di Jakarta, menangkap fenomena realitas kaum marjinal di ibukota tersebut melalui tulisan “Di Atas Kertas”. Lalu, Rifandi S. Nugroho dari komunitas Kami Arsitek Jengki Surabaya, membahas tentang “Tiga Orang yang Berperan di Awal Kemerdekaan” dalam upaya merefleksikan gambaran akan pahit dan manisnya bersinergi bersama pemerintah pada masa tersebut. Seorang seniman bernama D.A.E. Savitri Sastrawan, akan mengusung artikel “Bali: We Now Devote Ourselves to the God of (US) Dollar” yang bercerita tentang pergeseran nilai pada pariwisata Bali dan pergerakan seniman untuk mengekspresikan kritik mereka kepada pemerintah melalui karya seni. Di akhir wacana, Rofianisa Nurdin, penggagas CreativeMornings Jakarta, akan menutup rangkaian narasi dengan mengangkat observasinya pada Umbrella Movement Hong Kong tahun 2014 silam, “Kisah Hong Kong: Di Balik Surealisme Okupasi Kota dan Euforia Kesadaran Politik Kaum Muda”.

Dalam euforia memaknai kebebasan bicara dan berwacana secara lantang di ruang publik, fenomena di atas sedikit banyak memberi andil dalam melahirkan beragam subkultur yang memperkaya kehidupan di ruang kota. Meski pada akhirnya, bagaimana kita memaknai kehadiran mereka, akan kembali lagi kepada keberpihakan kita kepada nilai-nilai yang mereka bawa.

Selamat memilih sudut pandang, selamat menikmati Ruang!

admin
Ruang adalah sebuah majalah online bertema arsitektur, kota, dan lingkungan binaan, beserta segala permasalahannya. Kami tertarik dengan cara pandang yang beragam dalam melihat sebuah tema; karenanya, kami mengambil sebuah posisi yang objektif dengan memberikan kesempatan kepada setiap pandangan untuk menyuarakan argumennya. Tidak ada benar dan salah dalam berpendapat, yang ada hanya argumen yang lebih berdasar. Kami percaya bahwa konsensus bukanlah sebuah tujuan. Karenanya kami berupaya agar setiap edisi diwarnai oleh beragam kontributor: praktisi, akademisi, pengamat, penikmat, pengguna, patron maupun kritikus dari berbagai disiplin ilmu.

Ruang tidak mencari solusi terhadap sebuah permasalahan yang diangkat dalam setiap tema. Bagi kami, untuk saat ini merupa pertanyaan yang baik dan tepat lebih diperlukan daripada terburu-buru mengambil solusi. Maka, setiap edisi akan dibuka oleh sebuah pertanyaan berupa call for paper yang akan melahirkan sebuah edisi. Dan, edisi tersebut menjadi pengantar bagi sebuah temuan awal dari tema yang ditampilkan. Namun edisi tersebut belum akan ditutup, dan akan terus dibuka untuk mencari cara pandang lain mengenai permasalahan dalam tema tersebut.