Volume 2: Jendela

597 Views |  Like

Pada akhirnya, beragam teknik untuk mengolah fiksi berpotensi untuk menjadi alat kritik realitas atau alat advokasi atas masa depan yang diharapkan. Dalam level yang lebih subtil, ia membuat pembaca lebih awas terhadap kebaikan atau kekejaman realitas. Fiksi dalam konteks arsitektur akan membuka ruang yang lebih bebas terhadap interpretasi arsitektur dan kota, melalui imajinasi-imajinasi baru.

Setelah merenungkan bersama relasi antara fiksi dan arsitektur lewat “Cermin”, kita melangkah menuju volume kedua, “Jendela”. Di dalam kompilasi ini, delapan kontributor mengajak pembaca untuk masuk ke dalam dunia rekaan mereka. Mereka menggunakan fiksi untuk menyampaikan isu-isu arsitektur secara lebih subtil, yang diwujudkan dalam berbagai media. Dari komik, cerita pendek hingga karya arsitektur utopis.

Ivan Nasution dan Purwanti Wulandari akan membuka “Jendela” dengan Almari Kuriositas, yang berisi dialog antara arsitektur dan biologi yang terjadi dalam tiga babak. Kemudian Margaret Ami akan mengajak kita melihat Kota Taman yang berisi imajinasi radikal tentang Garden City untuk mencapai kota ideal masa kini. Setelah itu ada komik Paduraksa dari Oudyse Samodra yang membayangkan lenturnya batasan ruang dan waktu di kota masa depan.

Masih tentang kota yang akan datang, PHL Architects mengusulkan sebuah megastruktur mandiri untuk komunitas tepi sungai Ciliwung dalam Envisioning Tatlin’s Tower. Setelah itu, Fath Nadizti akan membagi ceritanya ketika berusaha Kabur Dari Bandara.

Selanjutnya ada kolaborasi antara Lukman Hakim, fotografer dan dua penulis fiksi, Theoresia Rumthe dan Puti Karina Puar, yang menghasilkan Belajar Mengenal Patah. Rifandi Nugroho kemudian mengajak kita Makan Malam Bersama Randu untuk membahas ketahanan pangan dan permakultur. Dan sebagai penutup, rangkaian perjalanan volume ini berakhir dalam Mencari Tanah Surga karya Siti Amrina Rosada yang menceritakan anjing untuk membahas kegelisahannya tentang arsitektur dan kehidupan.

Setelah “Cermin” mengajak kita untuk merefleksikan hal-hal keruangan, perkotaan dan lingkungan binaan melalui kerangka fiksi, kini “Jendela” akan mengajak kita tenggelam dalam narasi-narasi fiksional. Fiksi tidak lagi digunakan sebagai kacamata, melainkan ruh yang menstimulasi pengalaman dan imajinasi serta membangkitkan keberanian untuk mengritisi keseharian kita dalam ruang, kota, dan lingkungan binaan.

Selamat menikmati dunia-dunia baru di dalam “Jendela”. Dan, sampai jumpa di edisi RUANG yang selanjutnya!

 

admin
Ruang adalah sebuah majalah online bertema arsitektur, kota, dan lingkungan binaan, beserta segala permasalahannya. Kami tertarik dengan cara pandang yang beragam dalam melihat sebuah tema; karenanya, kami mengambil sebuah posisi yang objektif dengan memberikan kesempatan kepada setiap pandangan untuk menyuarakan argumennya. Tidak ada benar dan salah dalam berpendapat, yang ada hanya argumen yang lebih berdasar. Kami percaya bahwa konsensus bukanlah sebuah tujuan. Karenanya kami berupaya agar setiap edisi diwarnai oleh beragam kontributor: praktisi, akademisi, pengamat, penikmat, pengguna, patron maupun kritikus dari berbagai disiplin ilmu.

Ruang tidak mencari solusi terhadap sebuah permasalahan yang diangkat dalam setiap tema. Bagi kami, untuk saat ini merupa pertanyaan yang baik dan tepat lebih diperlukan daripada terburu-buru mengambil solusi. Maka, setiap edisi akan dibuka oleh sebuah pertanyaan berupa call for paper yang akan melahirkan sebuah edisi. Dan, edisi tersebut menjadi pengantar bagi sebuah temuan awal dari tema yang ditampilkan. Namun edisi tersebut belum akan ditutup, dan akan terus dibuka untuk mencari cara pandang lain mengenai permasalahan dalam tema tersebut.