Volume 1: Sistem

707 Views |  1

Kontrak sosial kepada sebuah entitas yang mengatur hak dan kewajiban tiap individu dan masyarakat dengan sistem hukum membentuk sebuah entitas yang sering kita sebut pemerintah.

Pemerintah menjadi kata yang berpolemik sejak Indonesia berusaha mencari bentuk negaranya. Sebelumnya, Moh. Hatta mencetuskan kata “pengurus” (n orang mengurus) yang berdasar kepada nilai-nilai kolektivisme – gotong royong dan usaha bersama. Sehingga, “pengurus” merupakan bagian dari rakyat. Sementara kata “penguasa” atau “pemerintah” membawa nilai individualisme yang patut dilindungi. Pemerintah menjadi sebuah kedudukan superior yang tercerai dengan rakyat. Hal ini membawa berbagai permasalahan terkait sistemik dan narasi yang terbentuk di ruang-ruang kota.

Permasalahan-permasalahan ini dipertanyakan, dikritisi, dan didefinisikan kembali oleh kontributor-kontributor pada edisi 10 ini. Ruang bersyukur mendapat masukan dari berbagai macam latar belakang disiplin keilmuan. Penyelenggara negara, praktisi arsitektur dan perencana kota, akademisi, seniman, aktivis, pengamat, serta pecinta arsitektur dan kota menawarkan beragam sudut pandang untuk membedah kompleksitas permasalahan tadi. Campuran antara bahasa Indonesia, bahasa Inggris, ataupun bahasa Indonesia-Inggris memperkaya kemungkinan-kemungkinan yang membebaskan, bukan malah memenjarakan. Semoga artikel-artikel ini memancing kita dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan.

Dalam edisi ini, kedelapan belas artikel yang terkumpul dapat dituturkan dalam dua kelompok besar. Beberapa artikel menyoroti soal visi dan peranan ideal beberapa komponen-komponen penyusun negara, kritik terhadap praktek-praktek hubungan diantara mereka hingga ide berkolaborasi dan bersinergi dalam sebuah “sistem”. Sementara sebagian lain menawarkan “narasi” dalam membaca praktek-praktek yang berlangsung, seperti realita lapangan yang seolah berjarak dengan visi, fenomena-fenomena politis keruangan atau pengaturan pengalaman ruang-ruang kota yang membentuk manusia.

Kategori “Sistem” akan dibuka oleh Sherly de Yong, yang membahas tentang sebuah  mekanisme  kekuasaan  untuk  mengatur  perilaku  individu-individu  di  dalam  sebuah organisasi  masyarakat melalui artikelnya “Panoptisisme dan Pemerintahan”. Sementara Patrick Tantra melihat sistem kota dari sudut pandang ICT (nformation and Communications Technology) dalam artikel “Government, Citizenship and Smart Cities”. Kemudian Yulia Nurliani Lukito mengedepankan tentang “Sinergi Antara Arsitek dan Pemerintah” dalam studi kasus pada aliran Konstruktivisme yang berkembang di Rusia. Sedangkan Amalia Defiani memaparkan argumen mengenai peranan visi dalam arah kebijakan pemerintah pada studi kasus Bandar Udara Soekarno-Hatta dan  Bandar Udara Baru Karawang dalam artikel berjudul “Sistem Multi-bandara di Indonesia: Tinjauan dari  Sudut Pandang Kebijakan”. Tim Ruang juga berkesempatan mewawancara Bambang Eryudhawan dari Pusat Dokumentasi Arsitektur, yang saat ini turut aktif memperjuangkan RUU Arsitek, untuk membagi pandangan dan pengalamannya dalam bergerak bersama pemerintah.

Selanjutnya, Ivan Nasution dalam artikel “Komunikasi Politik Media Sosial” mengedepankan tentang peranan media dalam spektrum politik di Indonesia, terutama media sosial sebagai ruang publik baru di era Internet. Fath Nadizti, dalam “Praktek Berarsitektur: Sebuah Krisis Jati Diri”, memotret dilema peran dan posisi arsitek dalam proyek pemerintah pada studi kasus pengembangan kawasan Old Oak Common dan Park Royal, London Barat. Tim Ruang juga mewawancarai Hendro Sangkoyo, Pendiri Sekolah Ekonomika Demokratika, mengenai kiprah sekolah tersebut sejak didirikannya di tahun 2007. Kemudian, Indrawan Prabaharyaka dan Tiara Anggita menutup wacana tentang “Sistem” mengritik dikotomi pemerintah dan rakyat melalui artikel yang berjudul “Kita adalah Pemerintah / pemerintah / pemerintahan”.

Dalam euforia memaknai kebebasan bicara dan berwacana secara lantang di ruang publik, fenomena di atas sedikit banyak memberi andil dalam melahirkan beragam subkultur yang memperkaya kehidupan di ruang kota. Meski pada akhirnya, bagaimana kita memaknai kehadiran mereka, akan kembali lagi kepada keberpihakan kita kepada nilai-nilai yang mereka bawa.

Selamat memilih sudut pandang, selamat menikmati Ruang!

admin
Ruang adalah sebuah majalah online bertema arsitektur, kota, dan lingkungan binaan, beserta segala permasalahannya. Kami tertarik dengan cara pandang yang beragam dalam melihat sebuah tema; karenanya, kami mengambil sebuah posisi yang objektif dengan memberikan kesempatan kepada setiap pandangan untuk menyuarakan argumennya. Tidak ada benar dan salah dalam berpendapat, yang ada hanya argumen yang lebih berdasar. Kami percaya bahwa konsensus bukanlah sebuah tujuan. Karenanya kami berupaya agar setiap edisi diwarnai oleh beragam kontributor: praktisi, akademisi, pengamat, penikmat, pengguna, patron maupun kritikus dari berbagai disiplin ilmu.

Ruang tidak mencari solusi terhadap sebuah permasalahan yang diangkat dalam setiap tema. Bagi kami, untuk saat ini merupa pertanyaan yang baik dan tepat lebih diperlukan daripada terburu-buru mengambil solusi. Maka, setiap edisi akan dibuka oleh sebuah pertanyaan berupa call for paper yang akan melahirkan sebuah edisi. Dan, edisi tersebut menjadi pengantar bagi sebuah temuan awal dari tema yang ditampilkan. Namun edisi tersebut belum akan ditutup, dan akan terus dibuka untuk mencari cara pandang lain mengenai permasalahan dalam tema tersebut.