Volume 1: Cermin

931 Views |  Like

Fiksi adalah cerita rekaan, penuturan subyektif tentang hasil imajinasi yang berakar dari fakta. Ia diasosiasikan dengan “ketidaknyataan” dan “kebohongan”, sementara fakta terkait dengan “kenyataan” dan “kebenaran”.

Imajinasi juga merupakan ruh arsitektur. Setiap karya muncul dari angan-angan untuk merekayasa realita, membuat ruang terasa asing namun tetap lekat dengan kenyataan. Sepanjang sejarah, karya fiksi terbukti mampu mendorong batas imaji ruang dan pemikiran di sebuah jaman. Seperti bagaimana Archigram mengenalkan kota yang dapat bergerak atau pemikiran utopis para Metabolis yang mendorong lahirnya Nakagin Capsule Tower di Tokyo.

Berangkat dari semangat yang sama, kami membuka edisi kesebelas. Kami mempertanyakan apa yang akan terjadi jika hubungan arsitektur dan fiksi didekatkan kembali dalam diskursus arsitektur. Apa akan muncul imajinasi baru? Apakah akan ada cara yang lebih tepat untuk menyampaikan isu arsitektur? Atau malah lebih mendasar, perlukah hubungan ini berlanjut?

Kami lalu mengundang kontributor untuk ikut mempertanyakan, membahas, atau bahkan meredefinisi kembali pertanyaan itu; dan menerjemahkannya dalam sebuah karya. RUANG sangat berterima kasih atas respon positif yang diberikan dari dalam dan luar negeri. Sebanyak sembilan belas artikel telah kami terima, dan siap mengajak pembaca untuk masuk ke dalam pemikiran mereka.

Karya mereka kami pilah menjadi dua kelompok besar. Untuk mengawali, “Cermin” akan mengajak pembaca merefleksikan peran fiksi untuk arsitektur, dan mempertanyakan bagaimana arsitektur digunakan dalam fiksi; atau sebaliknya. Setelah itu, pembaca dapat melihat ke “Jendela” untuk masuk dalam dunia rekaan para kontributor yang berisikan berbagai pesan tentang arsitektur, kota hingga ketahanan pangan.

Endhy Prasetyo akan membuka volume “Cermin” dengan Realita Arsitektur Fiksi. Di dalam tulisannya, ia membahas batasan realita, arsitektur, dan fiksi; serta hubungan di antara ketiganya. Selanjutnya Christian Parreno bercerita bagaimana fiksi, yang dilihat sebagai sesuatu yang nyata, telah mendasari proses mendesain dan diskursus arsitektur melalui Fiction as Truth in Architecture. Hiroki Muto kemudian membahas apa yang fiksi telah lakukan pada kota melalui Fictional City. Dilanjutkan oleh M. Shamin Sharum, melalui Media Fiction / Media Futures, yang melihat bagaimana media dewasa ini telah memberi kesempatan bagi pengguna untuk menikmati peran fiksional sebagai arsitek.

Tim RUANG juga berkesempatan untuk mewawancara Avianti Armand, arsitek praktisi yang juga terkenal lewat karya-karya fiksinya, dalam Antara Fiksi, Kritik dan Arsitektur. Setelah itu, Laras Primasari menyelidiki bagaimana drama dan idealisme sebuah proyek dapat saja gagal jika tidak ada dukungan politik di baliknya melalui From Mies, For Detroit.

Sesudahnya, Tania Chumaira mengkritisi tren hunian masa kini yang sebetulnya didominasi oleh ruang virtual lewat Distopia Hunian Kekinian. Masih dalam konteks tempat tinggal, Annisa Nur Ramadhani memeriksa eksistensi ruang sosial dalam rumah susun melalui Ruang Sosial dalam Rumah Susun: Fiksi(kah)?. Yang dilanjutkan oleh pengamatan Yusni Aziz tentang workshop Alter Shelter yang menggunakan fiksi untuk mengkritisi isu hunian.

Savitri Sastrawan lalu menceritakan bagaimana arsitektur telah memicu mimpi dan memorinya di My Dream – Architecturally. Dan sebagai penutup, Nazmi Anuar dan Shreyank Khemalapure akan mendiskusikan bagaimana karya Mies van der Rohe ditampilkan di berbagai film lewat Mies at the Movie.

Dalam euforia memaknai kebebasan bicara dan berwacana secara lantang di ruang publik, fenomena di atas sedikit banyak memberi andil dalam melahirkan beragam subkultur yang memperkaya kehidupan di ruang kota. Meski pada akhirnya, bagaimana kita memaknai kehadiran mereka, akan kembali lagi kepada keberpihakan kita kepada nilai-nilai yang mereka bawa.

Selamat memilih sudut pandang, selamat menikmati Ruang!

admin
Ruang adalah sebuah majalah online bertema arsitektur, kota, dan lingkungan binaan, beserta segala permasalahannya. Kami tertarik dengan cara pandang yang beragam dalam melihat sebuah tema; karenanya, kami mengambil sebuah posisi yang objektif dengan memberikan kesempatan kepada setiap pandangan untuk menyuarakan argumennya. Tidak ada benar dan salah dalam berpendapat, yang ada hanya argumen yang lebih berdasar. Kami percaya bahwa konsensus bukanlah sebuah tujuan. Karenanya kami berupaya agar setiap edisi diwarnai oleh beragam kontributor: praktisi, akademisi, pengamat, penikmat, pengguna, patron maupun kritikus dari berbagai disiplin ilmu.

Ruang tidak mencari solusi terhadap sebuah permasalahan yang diangkat dalam setiap tema. Bagi kami, untuk saat ini merupa pertanyaan yang baik dan tepat lebih diperlukan daripada terburu-buru mengambil solusi. Maka, setiap edisi akan dibuka oleh sebuah pertanyaan berupa call for paper yang akan melahirkan sebuah edisi. Dan, edisi tersebut menjadi pengantar bagi sebuah temuan awal dari tema yang ditampilkan. Namun edisi tersebut belum akan ditutup, dan akan terus dibuka untuk mencari cara pandang lain mengenai permasalahan dalam tema tersebut.