Tiga Orang yang Berperan di Awal Kemerdekaan

1420 Views |  1

Arsitek itu untuk siapa? 

Pertanyaan ini sepantasnya terus dilontarkan; sebagai pengingat, catatan, dan juga refleksi tentang kontribusi yang telah diberikan oleh para arsitek di Indonesia. Beberapa catatan tentang sebagian dari mereka―arsitek di era kemerdekaan―memberi gambaran akan pahit dan manisnya bersinergi bersama pemerintah.

Mereka pernah berjaya, kebanjiran proyek di tengah gemuruh pembangunan nasional pada satu-per-empat periode setelah Indonesia merdeka. Semuanya merupakan bagian dari usaha presiden pertama, Soekarno, untuk mengatasi dilema dirinya atas keberagaman demografis yang dimiliki Indonesia. Saat itu kondisi politik belum begitu stabil, konflik dan perpecahan antar etnis sangat rentan terjadi. Menjadikan satu etnis tertentu sebagai jati diri bangsa dianggap sesuatu yang berbahaya. Modernisme ditempuh sebagai jalan pintas pencarian jati diri baru bangsa Indonesia, dianggap sebagai sesuatu yang paling netral dalam menyampaikan ideologi dirinya.

Karya-karya arsitektur saat itu tidak cukup terdefinisikan dengan kata modern, tapi juga monumental. Apa yang dilakukan oleh Soekarno bertujuan untuk mencapai efek sublim, membuat orang lain takjub dan tenggelam ke dalam pesona sublimisme tersebut. Dalam kondisi tersebut sudah pasti arsitek menjadi profesi yang sangat dibutuhkan pemerintah untuk mewujudkan mimpinya. Namun kejayaan tidak pernah mutlak, ada pula titik dimana para arsitek harus mengalah pada kenyataan yang pahit. Pasang surut perjalanan tiga arsitek Indonesia ini merupakan potongan kecil dari mozaik sejarah arsitektur yang lebih besar.

Bertepatan di tahun 1959, muncul perkumpulan anak muda yang mendirikan Ikatan Arsitek Indonesia yang berganti dari nama sebelumnya NIAK. Upaya ini dilakukan sebagai pembebasan diri dari ingatan kolonial. Mereka berusaha mewujudkan “pembangunan nasional” melalui identitas. [1]

Lakon pertama diwakilkan Frederich Silaban, arsitek yang sudah sering terdengar namanya bagi sejarah arsitek modern Indonesia. Silaban memiliki tendensi karya yang monumentalis dan modern. Latar belakang kesukaannya terhadap musik klasik mempengaruhi karya-karyanya. Hal ini tercermin pada usahanya menggubah bangunan dengan sangat memperhatikan skala, proporsi, ritme, dan harmoni seperti yang tertera pada teori estetika klasik. Kecenderungan dirinya yang seperti itu menjadikan ia sosok yang tepat bagi mimpi Soekarno.

Di tahun 1955, ia terlibat pada proyek sayembara monumen nasional yang digagas Soekarno. Meskipun hanya menjadi pemenang kedua tapi ia menjadi yang terbaik karena tidak ada pemenang pertama. Pada tahun itu tidak didapatkan rancangan yang diharapkan Soekarno. Hingga Soekarno  menunjuk kembali Silaban dan Soedarsono untuk bekerjasama membuat rancangan baru pada tahun 1961. Karena idealisme dirinya yang cukup kuat, Silaban memilih untuk menolak tawaran itu. Kemudian ia meminta untuk membuat rancangan sendiri-sendiri saja. Akhirnya, rancangan Silaban pun tidak jadi dibangun karena skala bangunan yang dirancangnya terlalu besar sedangkan dana anggaran tidak memadai. Kedekatan dirinya dengan Soekarno membuat dirinya menjadi arsitek “laris” dan dipilih untuk membangun beberapa bangunan lainnya di ibu kota. Selain proyek ini, ia juga merupakan perancang dari Masjid Istiqlal, Bank Indonesia, Markas Besar AURI, dan Hotel Banteng. [2]

 

©Rifandi S. Nugroho

Usulan Rancangan Monas karya Silaban ©Rifandi Septiawan Nugroho

©Rifandi S. Nugroho

Usulan Rancangan Monas karya Silaban ©Rifandi Septiawan Nugroho

 

Kedua adalah  Soejoedi Wirjoatmodjo, seorang arsitek kelahiran Rembang, 27 Desember 1928, hari yang bertepatan dengan pengakuan kedaulatan negara Indonesia. [3] Soejoedi berjuang menyelesaikan masa studinya dengan berpindah-pindah di tiga kampus dari tiga negara yang berbeda. Setelah belajar di L’ecole des Beaux-Arts, Paris, 1954 dan Technische Hoogeschool Delft, 1955. Akhirnya ia menyelesaikan tahapan akhir pendidikannya di Technische Universitat, Berlin Barat. Dirinya harus berpindah-pindah kampus karena pengaruh dari nasionalisasi perusahaan asing di Indonesia yang pada saat itu sangat gencar dilakukan oleh pemerintah. Hubungan antara pemerintah Indonesia dan Belanda pun memanas. Akibat dari retaknya hubungan kedua negara ini banyak pelajar Indonesia di Belanda yang memutuskan untuk pindah negara meskipun tanpa disuruh, begitu pula dengan Soejoedi.

Soejoedi kembali ke Indonesia untuk menggantikan Profesor Insinyur Van Rommondt sebagai Ketua Jurusan Arsitektur di Institut Teknologi Bandung, karena profesor tersebut juga ingin kembali ke Negara asalnya di Belanda. Selama empat tahun Soejoedi menjabat sebagai Ketua Jurusan Arsitektur di ITB. Memiliki titel insinyur muda yang pernah mengenyam pendidikan di Eropa nyatanya bukan jaminan hidup nyaman. Soejoedi hidup sebagai orang yang perekonomiannya tergolong susah. Pada tahun 1960, selain menjadi kepala jurusan arsitektur ITB, ia mencari tambahan sehari-hari dengan bergabung bersama biro arsitek Estetika, mengepalai kantor cabang Bandung yang berkantor di garasi kediamannya sendiri. Kemudian ia juga membentuk bironya sendiri yang bernama Prakarsa. Selain berbagai jabatan tersebut, Soejoedi diangkat menjadi staf ahli bidang arsitektur di pemerintahan. Di situlah ia mengerjakan dan memenangkan proyek sayembara Gedung Conefo yang kemudian mengangkat dirinya dalam wacana arsitektur modern. [4]

Pengerjaan Gedung Conefo tergolong ambisius dan sangat menguras tenaga arsitek. Sampai-sampai jurusan arsitektur ITB mengirimkan para mahasiswa terbaiknya untuk proyek tersebut. Mereka ditampung di Wisma Hasta dan bekerja penuh waktu. Bahkan agar para mahasiswa tersebut dapat mengikuti ujian dan kuliah, para dosen didatangkan dari Bandung ke Jakarta. Perlakuan khusus tersebut menimbulkan reaksi pro dan kontra di lingkungan kampus ITB khususnya jurusan arsitektur. Namun komando presiden Soekarno bukanlah sesuatu yang dapat ditawar.

Mereka diberi waktu untuk menyelesaikan proyek setahun saja semenjak pemancangan gedung dilaksanakan tanggal 19 April 1965. Saat itu sebagian besar tenaga ahli bidang bangunan gedung Indonesia berada di Senayan untuk menyelesaikan pekerjaan monumental sebelum tanggal 17 Agustus 1966.Untuk itu semua perusahaan bangunan negara dikerahkan dalam pekerjaan yang berlainan. PN Hutama Karya mengerjakan gedung sidang, PN Adhi Karja melaksanakan gedung sekretariat, PN Nindja Karja bertanggung jawab mengerjakan auditorium dan gedung resepsi. PN Waskita Karja, di lain pihak, mengerjakan pembangunan danau buatan, plaza, dan mengerjakan semua fasilitas elektrikal; sementara PN Peprida melaksanakan pekerjaan mekanikal.

Pekerjaan ini memberi pelajaran banyak bagi Soejoedi. Berkelut dengan proyek yang ambisius membuat dirinya rela melakukan apapun mulai dari awal hingga tuntas. Ia menjadi arsitek yang cukup tangguh untuk mewujudkan mimpi sang Presiden. Setelah itu Soejoedi mendirikan konsultan PT Gubahlaras. Di bawah bendera ini Soejoedi mulai menangani berbagai proyek yang mengangkatnya sebagai salah satu arsitek Indonesia yang patut diperhitungkan.

 

Di Surabaya, ada seorang arsitek muda bernama Harjono Sigit. Selepas lulus sarjana pada bulan Maret tahun 1964, Harjono lekas kembali ke Jawa Timur. Kebutuhan akan profesi arsitek di Surabaya pada saat itu cukup tinggi, menurutnya arsitek dicari-cari oleh proyek bukan arsitek yang mencari-cari proyek. Terbukti, ia langsung mendapat tawaran untuk merancang bangunan Gedung Aula PPS Semen Gresik yang dikerjakannya sendirian. Kesempatan ini digunakan olehnya semaksimal mungkin, eksperimentasi struktur busur menggantung dua buah balok auditorium dengan meminimalisasi penggunaan kolom konvensional di bawahnya.

Rancangan busur beton yang diterapkan pada bangunan tersebut terinspirasi dari Palace of the Soviets, sebuah konsep arsitektur yang diajukan Le Corbusier saat mengunjungi Uni Soviet pada tahun 1928, namun gagal terbangun. Sebagai seorang penggemar Corbu, Harjono Sigit menerapkan gagasan serupa ketika ia diberi kesempatan berkarya di masa muda. Setelah keberhasilannya pada proyek pertama ini, proyek-proyek berikutnya pun berdatangan. Seperti Gedung Laboratorium Penelitian Kimia, Jagir (1967); Kantor Penggilingan Padi PT Mentras, Pasuruan (1967); hingga Guest House Perhutani di Jatirogo (1972); Taman Kanak-kanak Randu Belatung; Pasar Atum; dan Gedung Direksi Perhutani. Perlahan demi perlahan, di umurnya yang tergolong muda, ia terus menerus mendapatkan kesempatan berkarya. [5]

 

Kenyataan tidak selamanya indah. Politik Indonesia tidak pula selamanya stabil. Di sela-sela tahun 60 hingga 70an, terjadi kembali pergolakan politik di dalam negeri yang berakhir hingga pergantian presiden. Rezim berganti, begitu pula kendali dari penguasa. Di era kepemimpinan Soeharto yang dikenal dengan Orde Baru, pola pikir nasionalismenya sangat berbeda jauh dengan dengan rezim sebelumnya. Imbasnya, arsitek yang sebelumnya lancar mendapatkan proyek pun perlu sedikit bersabar.

Rezim Orde Baru yang lebih pro-Barat mencoba untuk menghapuskan semua hal yang terkait dengan rezim Soekarno. Silaban menjadi satu orang yang diasosiasikan dengan Soekarno. Faktor ini yang diduga menyebabkan keterlambatan dalam pembayaran jasa desain Silaban untuk Hotel Banteng (sekarang Hotel Borobudur). Kemungkinan hal ini juga yang menyebabkan posisi Silaban sebagai arsitek tersisihkan. Cukup ironis, dalam fase hidup terakhirnya, ketika ia pensiun dari Departemen Pekerjaan Umum, beliau sangat haus akan pekerjaan dan penghasilan. Upah pensiunannya tidak cukup untuk menghidupi keluarganya yang besar. Kedekatannya dengan Soekarno telah menyebabkan kejatuhan bagi karirnya pada rezim Orde Baru Soeharto. Beliau harus mencari pekerjaan baru yang sesuai dengan keahliannya dengan mencoba melamar pekerjaan ke PBB.

Serupa dengan dua arsitek pendahulunya, Harjono Sigit menjadi yang paling muda dalam melewati tiga fase berbeda: mulai dari Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi. Di zaman Orde Baru, beliau yang sebelumnya sangat semangat mengikuti arus internasional, karyanya perlahan-lahan semakin melembut mengikuti keinginan Presiden Soeharto untuk menginjeksikan unsur “lokalitas” Indonesia pada tiap bangunan pemerintah. Gejala ini terlihat pada bangunan sekolahan yang dibangun pada sekitar tahun 90-an. Tipologinya mirip dengan bangunan sebayanya, dengan balok masa bangunan modern sesuai fungsi dipasangkan dengan atap miring bertumpuk seperti atap meru Gedung Rektorat UI karya Gunawan Tjahjono.

Ia pun mengungkapkan bahwa di zaman itu, menangani proyek pemerintah cukup melelahkan. Pihak yang terlibat ke dalam proyek semakin banyak, ia tidak lagi sebebas dirinya saat baru lulus kuliah. Bahkan pasca keruntuhan rezim Soeharto yang digantikan oleh era Reformasi, ia mengaku sudah tidak begitu bersemangat mengerjakan proyek pemerintah. “Yang campur tangan makin banyak,” ujarnya. Arsitek, menjadi sosok yang dijauhkan dari kliennya, dari fungsinya sebagai tempat berkonsultasi. Bukan lagi menjadi sosok yang personal dengan calon pengguna bangunan.

“Sejarah perlu diproduksi melalui proses pelupaan dan pengingatan (forgetting and rememberance). Istilah “pelupaan dan pengingatan” berarti kita menentukan sendiri bagaimana sejarah kita akan diceritakan. Dan ini penting untuk menunjukan jati diri si pemilik sejarah.” [6]

Rezim silih berganti, pembangunan pastinya bergantung pada kebijakan pemerintah dan pasang surut investasi. Dalam sebuah garis sejarah, selalu ada usaha keras untuk pembangunan yang berujung pada pembangunan identitas. Namun pada tiap titik pergantian rezim, usaha keras itu seperti berusaha menghilangkan ingatan lama. Mulai dari rezim Soekarno yang ingin melepaskan diri dari ingatan Kolonial, rezim Soeharto yang ingin melepaskan diri dari ingatan Orde Lama, dan rezim pasca Reformasi yang masih mencari jati dirinya. Campur aduk dunia politik selalu berimbas pada nasib arsitek yang terlibat pada proyek pemerintah. Kisah-kisah ini membentuk sebuah narasi arsitektural di Indonesia. Sebuah narasi modernis tentang pencitraan diri yang dihasratkan.

Rezim terkadang berusaha melupakan yang sebelumnya. Namun karya pasti selalu tercatat untuk generasi selanjutnya. Ruang-ruang dan bangunan yang hadir di era kemerdekaan ini bukanlah tempat memberi pesan, tetapi ruang itu sendiri adalah pesan; yang kalau sudah dimengerti silakan beraksi dan masuk ke dimensi berikutnya. Bangunan-bangunan itu hanyalah titik berangkat atau batu loncat ke masa depan, untuk memulai era yang baru. Bangunan-bangunan itu adalah gertakan awal yang diperlukan untuk gertakan berikutnya dan seterusnya sehingga “revolusi” terus berjalan.

Setidaknya tiga arsitek di atas mewakili beberapa arsitek lain yang cukup tangguh menanggung beban kebetulan demi kebetulan yang mereka dapatkan. Peristiwa-peristiwa yang mereka lewati menjadi tempaan bagi mereka. Ini semua mengingatkan kita bahwa arsitek tidak hidup sendirian, bukan sosok yang serba bisa menyelesaikan segala persoalan. Dengan begitu arsitek menjadi sosok yang rendah hati dan menyadari bahwa kita terkait pada siapa yang sekarang berpihak kepada kita. Sekaligus mengingatkan kita, sebagai arsitek, kita ini untuk siapa?

Tulisan ini pun hanya untuk membantu penulis mengingat kembali peran mereka, sebagai rangkuman kecil buku-buku yang telah menuliskan mereka.

*

[1] Sopandi, Setiadi, dkk. 2008. Rumah Silaban. Jakarta: mAAN Publishing Indonesia.

[2] Riset Setiadi Sopandi untuk Pameran Triennale Arsitektur UPH “Waktu Adalah Ruang”.

[3] Tanggal 27 Desember 1949 adalah peristiwa soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) kepada Indonesia yang ditandatangani di Istana Dam, Amsterdam. Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Pengakuan_tanggal_kemerdekaan_Indonesia_oleh_Belanda (red).

[4] Sukada, Budi A. Membuka Selubung Cakrawala Arsitek Soejoedi. Jakarta: Gubahlaras Arsitek & Perencana, 2011. Print.

[5] http://ayorek.org/harjonosigit

[6] Sidharta, Amir, Nadia Purwestri, M. Nanda Widyarta, dkk. Tegang Bentang: Seratus Tahun Perspektif Arsitektural di Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2012. Print.

 

Rifandi S. Nugroho
Rifandi Septiawan Nugroho adalah penggemar wacana dan arsip arsitektur. Saat ini bekerja paruh waktu di OMAH Library dan arsitek junior di RAW Architects. Pada tahun 2015 menyelenggarakan pameran arsip Harjono Sigit bersama teman-temannya di Surabaya.