Tertawa untuk merayakan kekeliruan

1008 Views |  Like
Gambar 1. Suasana Studio Arsitektur dimana mahasiswa mendesain konsep desain. Studio desain adalah sebuah tempat untuk mengukur kreativitas dan karakter individu secara langsung oleh orang-orang di sekitar mahasiswa tersebut. Photography by Eric Dinardi

Gambar 1. Suasana Studio Arsitektur dimana mahasiswa mendesain konsep desain. Studio desain adalah sebuah tempat untuk mengukur kreativitas dan karakter individu secara langsung oleh orang-orang di sekitar mahasiswa tersebut. Foto oleh Eric Dinardi

Pengantar

Tulisan ini terdiri dari tiga buah babak, babak pertama adalah mengenai latar belakang tentang konteks, keadaan, dan persepsi atas pengajaran arsitektur yang dibentuk oleh keadaan sosial di masyarakat. Babak kedua berisi tentang pentingnya pendidikan karakter, dimana untuk mendidik seseorang dibutuhkan pengajaran yang spesifik, yang tidak sama dan berfokus ke mahasiswanya. Babak ketiga berisi tentang pentingnya meraih kegagalan dan bagaimana belajar melalui kegagalan.

“Sial, gue udah capai – capai bikin maket, presentasi, begadang  tapi akhir presentasi maket gue dibalik sama penguji  abis itu dibilang lebih bagus…” cerita salah seorang mahasiswa arsitektur.

Babak pertama: Pendidikan Arsitektur, Pendidikan yang Menyeramkan.

Pendidikan arsitektur seringkali dinilai sebagai salah satu pendidikan yang menguras tenaga, emosi, dan apabila tidak tahan akan mendapatkan gangguan kejiwaan. Preposisi publik menyatakan pandangan bahwa Jurusan arsitektur adalah jurusan yang menyeramkan, ditambah lagi persepsi gaji yang didapat dari lulusan jurusan arsitektur relatif kecil. Padahal mahasiswa arsitektur menghabiskan waktu 22 jam dalam seminggu selepas kelas, yang berarti apabila ada 5 hari aktif perkuliahan, mahasiswa arsitektur perlu menambah 4,4 jam untuk belajar diluar jam kelas [1]. Hal-hal seperti kurang tidur, hanya 2 jam satu hari. Hal ini, misalnya, menyebabkan 25 persen mahasiswa di Inggris mengalami gangguan kesehatan mental, depresi, sehingga kerap mengalami kondisi frustasi dan merasa putus asa. Hal ini dialami tidak hanya mahasiswa namun juga calon arsitek, atau yang disebut arsitek junior dengan persepsi “Jurusan arsitektur kerap dipandang sebelah mata. Namun anda baru bisa mengerti esensi jurusan ini kalau sudah merasakan sendiri,” seperti memendam perasaan benci tapi cinta, cinta tapi benci. Seakan-akan seperti paradoks yang bisa membuat gila pecandunya apabila tidak cukup sabar untuk belajar mendalaminya [2].

Salah satu usaha untuk mengurai paradoks pendidikan arsitektur antara lain dibahas melalui sebuah film berdurasi 25 menit, “Archiculture” yang berisi wawancara dengan beberapa arsitek peraih Pritzker Prize, yakni penghargaan sekelas nobel di bidang arsitektur, kritik arsitektur, akademisi arsitektur, ahli sejarah, seperti Kenneth Frampton, Shigeru Ban dan Thom Mayne [3]. Film tersebut berisi tentang pengalaman 5 orang mahasiswa Pratt Institute di Brooklyn dimana mereka bekerja hingga larut malam untuk mempersiapkan desain mereka, menggambar, membuat maket, mempersiapkan panel dan mempresentasikannya di depan dosen mereka. Di Indonesia, proses pendidikan arsitektur di bahas oleh film “24 Jam” yang memuat rangkaian wawancara untuk menjelaskan kompleksitas disiplin arsitektur yang begitu komprehensif, mulai dari studi mengenai tipologi bangunan yang didesain, seni, psikologi, estetika, material, kreativitas, konstruksi, dan manajemen [4].

Gambar 2. Sebagai sebuah proses desain studio arsitektur, maket digunakan untuk studi desain dan digunakan di dalam presentasi ke dosen pembimbing ataupun dosen tamu. Foto oleh Diana Widjaja

Gambar 2. Sebagai sebuah proses desain studio arsitektur, maket digunakan untuk studi desain dan digunakan di dalam presentasi ke dosen pembimbing ataupun dosen tamu. Foto oleh Diana Widjaja

Ada dua hal di dalam studio yang menjadi inti pedagogi arsitektur, pertama adalah proses penemuan ide-ide di dalam studio melalui eksplorasi desain, yang dilanjutkan dengan internalisasi atau asistensi berupa simulasi dengan dosen pembimbing. Studio desain adalah sebuah tempat untuk mengukur kreativitas dan karakter individu secara langsung oleh orang-orang di sekitar mahasiswa tersebut. Menilai cara pandang mengenai arsitektur, hingga karakter yang dituangkan ke dalam desain. Oleh karena itu, studio desain adalah hal yang personal untuk mahasiswa yang menjalaninya. Mereka saling bertemu, berdialog dengan dosen yang menyempurnakan pemikiran, teknik presentasi, dan memperkuat karakter mahasiswa. Ada kondisi dimana sang mahasiswa tidak bisa berhenti bekerja, berpikir tentang arsitektur begitu ia mulai mendesain.

Gambar 3. Sketsa digunakan sebagai iterasi ide - ide desain. Iterasi gagasan inii berlangsung secara introvert di dalam medium gambar dan ekstrovert di dalam proses diskusi untuk menggubah bentuk, menciptakan fungsi secara intuitif ataupun analitis. Foto oleh Diana Widjaja

Gambar 3. Sketsa digunakan sebagai iterasi ide – ide desain. Iterasi gagasan inii berlangsung secara introvert di dalam medium gambar dan ekstrovert di dalam proses diskusi untuk menggubah bentuk, menciptakan fungsi secara intuitif ataupun analitis. Foto oleh Diana Widjaja

Yang kedua, penggodokan produk berupa pemasukkan karya berupa gambar, maket, dan presentasi ke dosen pembimbing ataupun dosen tamu. Di dalam proses presentasi inilah mahasiswa akan berargumentasi dengan membuka karakternya terhadap dunia luar. Kenneth Frampton membahas bahwa terkadang, presentasi sering disalahartikan sebagai sebuah ajang untuk menjual ide atau gagasan. Namun, sebuah presentasi sebaiknya dilihat sebagai tempat untuk bertukar ide dan gagasan melalui gambar yang dilihat[5]. Pertukaran ide dan gagasan ini berlangsung secara introvert dan ekstrovert, untuk menggubah bentuk, menciptakan fungsi secara intuitif ataupun analitis, gubahan pengetahuan yang disebut Immanuel Kant sebagai a-priori dan a-posteriori [6]. Dua hal ini ditambahkan di dalam studio dengan dimensi emosi, rasa, dan begitu banyak parameter yang lain melalui peralatan yang dimiliki. Alat gambar, perkakas maket, 3D printing, hingga laser cutting, untuk membuat ruang-ruang tersebut menjadi sebuah simulasi sebelum dibangun dengan skala yang bisa dibayangkan dalam kondisi yang nyata. Perkembangan alat-alat untuk mendesain dan produksi sudah berkembang jauh dalam beberapa tahun terakhir ini, menjadi semakin cepat, semakin efisien, dan konstruksinya bisa mendekati kenyataan, sehingga ide-ide itu menjadi lebih mudah dalam realisasinya.

Membicarakan arsitektur tidak pernah mudah, selalu ada selimut kultural di dalam individu yang menjalaninya. Diskusi SPIRIT_45 di Le Havre Perancis, misalnya, menggarisbawahi dialektika jebakan kultural yang tanpa ujung. Bahwa tren ataupun kultur itu memberikan sebuah selimut untuk pelakunya sendiri. Tantangannya adalah bagaimana arsitek-arsitek bisa lepas dari selimut yang dibuat oleh kultur untuk kemudian menemukan jati dirinya dengan karakter yang semakin kuat. I. M. Pei mengalami jebakan kultural yang diberikan untuk dirinya sendiri dalam menciptakan bentuk-bentuk piramida dan geometris. Namun, ia lantas memanfaatkan kesempatan yang dialaminya untuk mendefinisikan karakternya di dalam karyanya yang terlihat di dalam rentang waktu dengan geometri yang konsisten sehingga menjadikan karya arsitektur sebagai biografi hidupnya. Di sinilah kita melihat bahwa karakter seseorang sedemikian penting, dan keunikan itu tidaklah sama antara satu karakter dengan karakter yang lain. Termasuk I.M. Pei dan banyak praktisi muda berbakat lainnya.

Problem pengajaran arsitektur muncul begitu ditujukan untuk mencetak orang yang sama dengan cara yang sama tanpa mengerti bahwa mahasiswa berkembang dengan caranya dan karakternya sendiri. Sehingga, pengajaran harus dilakukan dengan pendekatan yang spesifik.  Untuk itu dibutuhkan sebuah sikap, seperti yang digagas oleh Antoniades, bahwa pusat pengajaran sebuah pedagogi berada pada mahasiswa. Pengajar perlu menggali potensi dengan sering berbicara positif dan mendorong terciptanya suasana belajar yang positif.

Persoalan-persoalan ini kemudian menuntut jawaban, apa yang seharusnya kita lakukan?  Mungkin kita bisa melihat permisalan Alexander yang agung saat mengatasi legenda Simpul Gordian. Alexander yang agung, di dalam ceritanya, menebas tali yang kusut sebagai cara kreatif untuk mengurai tali tersebut.  Fumitake Koga membahas bahwa cara untuk mengurai permasalahan adalah dengan memiliki inisiatif dan keberanian untuk membuat sebuah terobosan. Keduanya memiliki jalan tengah bahwa perlu ada seseorang atau sekelompok orang yang memiliki kreativitas dan kemauan untuk berkontribusi secara positif, dan tidak menyerah kepada sistem yang sudah ada. Kita perlu saling melihat apa yang sudah terjadi di dalam pengajaran universitas saat ini, karena apa yang kita anggap masalah atau isu yang sudah ada itu sewajarnya akan muncul ke permukaan.

Sudah ada beberapa contoh kelompok-kelompok yang menawarkan beberapa posisi yang segar seperti Critical Context 2017. Mereka telah meniupkan angin segar dalam memaparkan sebuah cara alternatif untuk melihat studio desain yang lekat dengan mahasiswanya, baik dari Jawa dan di luar Jawa [6]. Semangat berproses itu juga dibawa oleh jurusan arsitektur UI dengan pameran Architecture Affair 2016.Pameran itu mencoba mempertanyakan atas apa yang mahasiswa mau buat dengan mengobservasi, mendesain, dan mempresentasikan melalui medium-medium presentasi yang beragam dan yang dikuasai juga disuka oleh mahasiswa yang dibimbing di dalam proses studio[7]. Omah Library juga membuat beberapa kursus desain, diskusi, dan lokakarya (workshop) melalui program-program yang ditujukan untuk mahasiswa atau calon arsitek yang baru lulus. Di dalam perjalanannya, terbukti pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan seputar relevansi tugas-tugas studio yang sedang dijalani seperti “apakah saya bisa sukses dengan menjalani ini?”, “bagaimana saya harus bersikap di dalam studio?”, “apa sih tips dan triknya menjalani studio?” Pertanyaan-pertanyaan itu didiskusikan melalui bentuk olah literasi dan sesi diskusi dengan para praktisi, sehingga pada akhirnya mahasiswa ataupun anak-anak muda yang baru lulus, bisa mengerti bahwa ini adalah proses yang wajar untuk menjadi seorang arsitek [8].

Babak kedua: Pembentukan Karakter Mahasiswa Arsitektur

Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga membahas di dalam bukunya “The Courage to be Disliked” mengenai dua tipe kepribadian anak, atau dapat kita anggap sebagai mahasiswa. Bahwa ada dua tipe anak yaitu easy superior dan unbuke attention. Tipe yang pertama adalah tipe yang haus akan perhatian, apabila orang tersebut diberikan perhatian maka hasratnya akan terpenuh. Sedangkan tipe kedua adalah orang yang egois dan tidak mau kalah karena ingin men onjolkan dirinya sendiri. Tipe ini membutuhkan pengakuan terus-menerus dan tidak memiliki daya interpersonal yang tinggi, sehingga gagal untuk memahami motif dibalik tingkah lakunya sendiri. Prinsip sikap tidak mau kalah ini muncul dari ketiadaan perhatian dan respek dari pendidik. Dalam kasus anak-anak yang muncul dari keluarga yang tidak harmonis, orang tua yang terlalu sibuk sering abai untuk menampilkan kasih sayang yang mencukupi bagi anak-anaknya. Tentu saja kasih sayang menjadi penting di dalam hati seorang pengajar. Dua tipe anak ini mendasari sebuah hubungan dari anak-anak yang diajar di dalam pendidikan arsitektur. Mereka yang mencari perhatian, sebagai dasar eksistensi dirinya sendiri dan mereka yang punya sikap tidak mau kalah, sangat kompetitif. Pada dasarnya mendidik adalah memberikan perhatian, juga menyembuhkan trauma yang terjadi untuk tipe anak yang kedua. Untuk itu dibutuhkan 3 sikap yang penting. Pertama, sikap yang tanpa pretensi, tanpa dendam, amarah ambisi bahwa pada dasarnya dimulai dari kepercayaan bahwa setiap orang memiliki potensi dan karakter yang harus diperhatikan dan ditingkatkan keunikannya. Kedua, sikap untuk mau berkontribusi pada kepentingan murid. Ketiga, bahwa untuk mengajar pada hakikatnya adalah untuk belajar, kita bisa belajar karena kita bisa mengajar [9].

Dalam perenungan akan ketiga sikap tersebut, muncullah dharma. Dharma adalah sebuah nilai untuk memberikan kebaikan sebagai sebuah jalan hidup kepada orang lain. Di dalam mitologi India, ada dua tipe kebajikan seperti tercermin dalam kisah Mahabharata atau Ramayana. Hal ini dibahas oleh Devdutt Pattanaik mengenai konsep adharma dan dharma. Adharma adalah sikap mengenai keadilan, hitam dan putih, sedangkan dharma adalah sikap mengenai ketulusan dalam berbuat. Sikap tentang hitam dan putih membawa sikap berbuat dengan pamrih: Apa yang saya dapatkan? Apa yang saya berikan harus saya dapatkan imbalannya? Dharma akan memberikan kedamaian bagi sebuah sistem, sebuah kebenaran yang dimulai dari pendalaman spiritualitas bahwa jalan hidup seseorang adalah jalan hidup untuk orang lain [10].

Nilai-nilai ini turut dibahas oleh Apurva Bose di dalam bukunya yang berjudul Architectural Voices of India. Di dalam perjalanannya untuk merefleksikan perjalanan 18 praktisi arsitektur termasuk Balakrishna Doshi dan Raj Rewal, hingga mereka bisa mencapai ujung karir yang unik dan memiliki karakter kuat di tengah lansekap india yang kompleks. Dia memberikan 3 alasan dasar benang merah yang menjadi kesamaan proses berpraktek praktisi-praktisi tersebut.

Pertama, bahwa kedelapan belas orang tersebut terus mencari dan menjawab permasalahan praktek desain secara fungsional, hal-hal yang mendasar. Kedua, mereka sadar bahwa ada kompleksitas dalam pemikiran mereka yang berlapis-lapis diawali dengan sebuah hal yang sederhana. Ketiga bahwa hidup mereka didedikasikan sebagai misionaris. Hal ini menjadi sebuah pengabdian menuju dharma. Di dalam filosofi jawa, diceritakan bahwa untuk mencapai suwung, diperlukan sikap sumarah, dimana sumarah menjanjikan sebuah perjalanan spiritual untuk berpasrah diri sehingga Suwung pun bisa dipahami sebagai sebuah perjalanan totalitas kita sebagai manusia dalam menjalani kehidupan [11].

Babak ketiga: Belajar menjadi Pecundang

Definisi Kesuksesan

Melakukan kekeliruan, kesalahan ataupun kegagalan sebenarnya merupakan hal yang sangat manusiawi dalam pendidikan arsitektur. Ini yang mungkin menjadi “kekeliruan” kita, bahwa semuanya harus sempurna, berhasil dan sukses. Kesuksesan atau keberhasilan bukan hal instan, tetapi memerlukan proses. Nah, dalam proses itulah sangat mungkin (bahkan niscaya) terjadi kesalahan, kekeliruan dan kegagalan, yang kemudian terus direvisi, diperbaiki dan disempurnakan.

Gambar 4. Proses di dalam studio desain yang dialami mahasiswa adalah simulasi penemuan ide di studio firma arsitek. Hal ini disebut Anders Ericsson sebagai Deliberate Practice, sebuah pelatihan dengan tekanan dimana proses menjadi profesional membutuhkan konsistensi dan batasan. Foto oleh Eric Dinardi

Gambar 4. Proses di dalam studio desain yang dialami mahasiswa adalah simulasi penemuan ide di studio firma arsitek. Hal ini disebut Anders Ericsson sebagai Deliberate Practice, sebuah pelatihan dengan tekanan dimana proses menjadi profesional membutuhkan konsistensi dan batasan. Foto oleh Eric Dinardi

Ketika Edison menemukan bola lampu listrik ataupun gramofon pertama, dia melakukan kegagalan ratusan kali, bahkan ribuan kali sebelumnya. Yang sering kita jadikan fokus adalah keberhasilannya, sedangkan kegagalan-kegagalan yang terjadi sebelumnya tidak diekspos, kita jadi kehilangan jejak prosesnya. Demikian juga dengan para arsitek, yang kita dengar hanya success story-nya, sementara proses yang sebenarnya (yang di dalamnya ada kegagalan dan kesalahan) menjadi tertutupi atau tidak terpublikasikan dengan baik (atau mungkin masih dianggap tabu atau aib?)

Di kancah arsitektur, tidak sedikit nama yang turut mencicipi kegagalan. Le Corbusier di paruh usia dua puluh, pernah menghabiskan waktu menjadi drafter di bawah Peter Behrens bersama Ludwig Mies van der Rohe dan Walter Gropius. Ia juga menjadi pelukis bersama kawannya, Amédée Ozenfant, yang kerap menyemangatinya saat ia belum memiliki pijakan karir yang kuat sebagai arsitek. Geoffrey Bawa di sisi lain, baru belajar berpraktik di usia 32 tahun di bawah H.H. Reid akibat pukulan keras atas kegagalannya membangun villa dari tanah terbengkalai yang ia beli di Lunugangga, pada tahun 1948. Geoffrey Bawa kini dikenal sebagai the master of tropical modernism. Namun, nama besar tidak menjadi jaminan untuk tidak berjumpa lagi dengan kegagalan. Norman Foster nyaris bangkrut di tahun setelah menyelesaikan proyek di HSBC Hongkong, karena ia tidak mendapatkan proyek setelah proyek besar di HSBC sehingga harus kehilangan karyawannya. Setiap arsitek yang bercerita di sesi Bitter and Sweet di Omah library menganggap kegagalan sebagai hal yang wajar, tidak semuanya memulai dengan nilai yang cemerlang semasa mahasiswa, namun semua arsitek yang dibahas melalui tekanan, atau melatih dirinya di dalam tekanan dan kemudian bertahan sampai berpraktek dan mengaktualisasikan karakternya yang semakin lama semakin tajam. Hal ini disebut Anders Ericsson sebagai Deliberate Practice, sebuah pelatihan dengan tekanan dimana proses menjadi profesional membutuhkan konsistensi dan tekanan yang terus menerus.

Proses yang terjadi untuk menjadi arsitek pun bukan hanya proses intelegensi saja (yang mengandalkan otak, atau katakanlah: logika), tetapi juga termasuk proses emosional dan spiritual. Jika mengalami kegagalan (atau rangkaian kegagalan) dan tidak dibentengi dengan kekuatan emosional dan spiritual yang cukup, tentu akan membuat orang putus asa, frustrasi. Dalam serat Wedhatama karya Mangkunegoro IV, antara lain disebutkan bahwa jika ingin “amrih lantip” (agar cerdas), maka seseorang harus melakukan “cegah dhahar lawan guling”, (mengurangi makan dan tidur). Intinya, jika ingin menggapai sesuatu, kita harus melatih raga dan jiwa untuk “meper hawa napsu” (mengendalikan hawa nafsu) agar menjadi kuat mental menghadapi apa saja, termasuk untuk menghadapi kegagalan-kegagalan.

Berpikir vs Tertawa

“Manusia berpikir, dan Tuhan pun tertawa”, itulah kata-kata dari Milan Kundera. Milan Kundera mungkin sedikit mengkritik manusia yang terlalu serius, yang selalu berpikir untuk menemukan kebenaran, sedangkan Tuhan (yang mencipta manusia) di atas sana toh tertawa-tawa melihatnya. Sebenarnya ini bukan ajakan untuk tak serius, atau untuk main-main saja. Hanya sebuah refleksi kecil, karena yang serius itu biasanya cenderung kaku, menakutkan dan juga stagnan (mandheg). Kita bisa kembali kepada konsep play dari Gadamer, yang dengan cerdas sebuah proses diibaratkannya sebagai bermain sepak bola. Pemain bola, pada dasarnya jelas pekerjaannya adalah bermain bola (yang tidak serius, hanya permainan), tetapi pada prakteknya dia sangat serius dalam permainannya itu. Jika tidak serius dalam bermain, dia tentu akan dimarahi oleh si pelatih, atau bisa juga dipecat oleh pemilik klub. Maka, si pemain bola itu bermain dengan aturan permainan yang jelas (dan serius), bermain dengan serius juga. Dia menertawakan keseriusan murni, dan men-serius-kan tawa murni.

Desain arsitektur pada dasarnya adalah play, dan yang paling penting adalah proses permainannya, bukan pemainnya. Pemain telah terserap ke dalam permainan itu sendiri. Kondisi itulah yang membuat pemain bola bisa bergerak bebas antara bermain dan serius, antara tertawa dan berpikir. Jika pemain bola gagal mengeksekusi penalti misalnya, maka dia akan sangat frustasi, bahkan menangis, dan akan ada temannya yang datang dan mengatakan padanya: jangan terlalu serius, ini hanya permainan. Lalu wajahnya akan cerah kembali dan bisa bermain lagi seperti semula. Begitulah, kegagalan bukan akhir segalanya, bukan untuk ditutupi, tetapi cukup ditertawakan dan dianggap hal yang biasa (bukan luar biasa), dan kita akan dengan gembira memulai lagi sesuatu yang baru.

Kesimpulan 3 babak: Menghayati Arsitektur lebih dalam.

aku durung tau ketemu manungsa” (aku belum pernah bertemu manusia)

– Ki Ageng Suryomentaram.

Memang tidak semua orang yang belajar arsitektur akan menjadi arsitek, namun perjalanan untuk menjadi seorang arsitek dilihat pula sebagai proses di dalam perjalanan kuliah di sekolah-sekolah arsitektur, dimana yang diutamakan adalah hal-hal formalistis atau teknis. Mahasiswa arsitektur dianggap harus tahu tugas dan tanggung jawab menjadi seorang arsitek, bagaimana mendesain, bagaimana menggambar dan membuat produk-produk arsitektur. Lebih jauh lagi, tahu soal hak dan kewajiban arsitek, juga kode etik arsitek, apa yang boleh dan tak boleh dilakukan oleh seorang arsitek, harus memahami seputar estetika, budaya, dan masalah sosial, sehingga memiliki kompetensi dan kualifikasi yang tinggi sebagai seorang arsitek profesional. Hal-hal tersebut memang sangat penting dipahami oleh mahasiswa, tetapi justru memunculkan pertanyaan baru, “Seberapa penting hal tersebut?” dan “Apakah ada yang lebih penting dalam belajar mengenai kehidupan profesi seorang arsitek?”. Keprofesian arsitek kemudian menjadi agak membosankan karena “berjarak” dengan realitas mahasiswa sendiri dan menjadi pengetahuan yang cenderung normatif ataupun pragmatis belaka.”

Di masa depan ketika pendidikan arsitektur semakin kompleks, dan tuntutan pengembangan karakter dan perkembangan teknologi membangun yang sedemikian cepat. Dasar-dasar penemuan diri sendiri di tengah-tengah semesta menjadi penting. Oleh karena itu ada tiga catatan penting untuk menghayati arsitektur lebih dalam lagi. Pertama, sebetulnya menghayati arsitektur pada hakekatnya adalah menghayati untuk menjadi manusia yang lebih bermartabat. Proses menjadi (becoming) dan penghayatan inilah yang perlu ditekankan.

Menghayati arsitektur itu indah sekali, hidup yang holistik sekaligus kontekstual. Tidak hanya seluk-beluk kehidupan arsitek tetapi mungkin juga sebagai seniman, petani, aktivis sosial, agamawan, atau warga masyarakat biasa, bahkan pemberontak atau pecundang yang berurusan dengan kehidupan sehari-hari. Tidak hanya menjadi sukses namun juga menjadi gagal menjadi penting. Dengan demikian, penghayatan akan kehidupan arsitek menjadi lebih mendalam dan personal, merasuk ke dalam alam bawah sadar para mahasiswa. Mahasiswa diajak untuk berimajinasi, merefleksikan, menganalisa, dan membuat interpretasi atas buku-buku yang dibaca, atas film-film yang ditonton, yang diharapkan akan bisa merangsang penghayatan mereka secara lebih mendalam atas profesi ini, juga lebih kontekstual dengan realita yang ada di lingkungan mereka untuk menghayati arsitektur.

Kedua, mahasiswa perlu untuk tidak kehilangan suara hati, identitas, dan karakter dirinya untuk menggapai cita-citanya. Mahasiswa diberikan sebuah “pancingan” dengan tugas-tugas yang lebih memicu kreativitas, misalnya: Bagaimana jika manusia itu, arsitek itu, adalah “dirinya sendiri” dan membayangkan akan jadi apa manusia itu 20 tahun ke depan, apa saja cita -cita yang ingin dicapai. Di sini mahasiswa akan diajak untuk berimajinasi dan membuat interpretasi atas diri mereka sendiri.

Ketiga, pentingnya apresiasi terhadap hasil kerja keras dari mahasiswa. Sebagai sebuah bentuk harapan agar peserta semakin termotivasi untuk mengembangkan karakter dirinya dan tidak patah semangat dalam memahami, mengalami, dan menghayati proses menjadi arsitek. Runtutan esai, cerita, gubahan karya seni bisa disimulasikan untuk dibuat pameran – pameran untuk menonjolkan semangat apresiasi sehingga retrospeksi mahasiswa secara personal bisa terjadi, bahwa mereka memiliki cara yang berbeda-beda dalam mencintai profesi yang satu ini (baca: arsitek)[12].

Sudah banyak telaah-telaah praktik yang berpusat pada Adlerian theory yaitu, bahwa semua masalah yang dialami oleh manusia berpusat dari masalah hidupnya itu sendiri, dan masalah sosial yang terjadi adalah kumpulan dari interelasi masalah-masalah individu. Solusinya di dalam memecahkan masalah-masalah tersebut adalah bukan meraih skill yang lebih baik, namun keberanian untuk memperbaiki sehingga menimbulkan rasa cinta. Masa depan arsitektur Indonesia terletak di tangan anak-anak muda oleh karena itu, mereka layak untuk diperjuangkan.

Jadi, selain mencari cara baru sebagai alternatif pendidikan arsitektur, kita juga mencari cara “baru” untuk berpikir, cara “baru” melihat apa itu kegagalan. Dan salah satu alternatifnya adalah dengan cara tertawa dan menganggapnya sebagai sebuah permainan, dimana kegagalan tidak untuk ditutupi atau disembunyikan (apalagi diratapi), tetapi justru diungkap untuk menyingkap keberhasilan yang sesungguhnya.

Catatan Penyunting

[1] Nuran Wibisono, “Jurusan-Jurusan Sangar yang Membikin Mahasiswa Menangis”, diakses dari https://tirto.id/jurusan-jurusan-sangar-yang-membikin-mahasiswa-menangis-ciHv, pada tanggal 28 September 2018.

[2] Katyusha Methanisa, “Kuliah Arsitektur Membuat Saya Mengidap Depresi Parah”, diakses dari  https://www.vice.com/id_id/article/vvddnb/kuliah-arsitektur-membuat-saya-mengidap-depresi-parah, pada tanggal 28 September 2018.

[3] Karissa Rosenfield,”Watch Now: World Premiere of ‘Archiculture’”, diakses dari  https://www.archdaily.com/578901/watch-now-world-premiere-of-archiculture, pada tanggal 28 September 2018.

[4] Film “24 Jam” – sebuah Film mengenai arsitektur yang memberikan sekilas gambaran mengenai apa yang terjadi dalam pendidikan arsitektur; filosofi apa yang melatarbelakanginya, bagaimana metodenya, seperti apa orang-orangnya, apa tujuan dan maknanya. Dapat diakses pada https://www.youtube.com/watch?v=3-91346wIKU

[5]  Karissa Rosenfield op. Cit, 11.10 “The other thing I think is sometimes negative is the idea that student should be trained to do a sales pitch in this jury presence.”

[6]  Menurut Immanuel Kant, terdapat dua dari 4 jenis proposisi yang disebut a priori dan a posteriori, keduanya merupakan bentuk pengetahuan yang diklasifikasi dalam buku Critical of Pure Reason (1781). Pengetahuan APriori ialah yang dapat dicerna tanpa pengalaman, sementara sebaliknya, a posteriori, merupakan pengetahuan yang memerlukan pengalaman untuk didapatkan. Pada pendidikan arsitektur, kedua jenis pengetahuan ini dapat hadir secara dinamis dalam setiap proses perancangan.

[6] Critical Context 2017 merupakan lokakarya yang diinisiasi oleh Avianti Armand, Ariyati, Al Busyra Fuadi, Resza Riskiyanto, Gustav Anindhita, Defry Agatha Ardianta, Endy Yudho Prasetyo, Hermawan Dasmanto, Goya Tamara Kolondam, Dirgantara I. Ketut, David Hutama, Eko Alvarez, Jacob Gatot S. Penekanan dari lokakarya ini adalah membuka perspektif baru atas keberagaman yang merupakan konteks fundamental Indonesia sebagai landasan dalam proses merancang.

[7] Pameran Architecture Fair UI 2016 merupakan hasil karya mahasiswa arsitektur  Universitas Indonesia yang dikuratori Professor Yandi Andriyatmo. Pameran ini bertujuan untuk menanamkan design thinking seorang arsitek untuk dapat mendesain dengan pendekatan yang merespon konteks. Memaparkan materi mengenai bagaimana menciptakan konsep desain yang merespon konteks sehingga memberikan dampak positif baik secara mikro (skala ruang diri) maupun makro (skala ruang masyarakat).Memunculkan sebuah kesadaran dan keinginan untuk memperhatikan dampak arsitektur (lingkung bangun) terhadap lingkungan tempat didirikannya (lingkung alam) dalam proses merancang.

[8] OMAH Library merupakan sebuah perpustakaan arsitektur pribadi yang dimiliki oleh Realrich Sjarief dan Laurensia Yudith. Sejak 2014, secara berkala OMAH Library mengadakan diskusi umum dengan berbagai topik yang berputar pada gagasan arsitektur dan prakteknya.

[9] Dua jalan seseorang yang ingin menjadi unik atau spesial dibahas di dalam buku yang ditulis oleh Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga di dalam halaman 238 – 241, bahwa semua manusia pada dasarnya memiliki tujuan untuk menjadi pribadi yang unik atau spesial.

[10] Konsep atas dharma dan adharma digambarkan kembali oleh Devdut Pattanaik melalui hikayat putra mahkota Janamejaya yang menghabisi nyawa seluruh ular untuk membalas kematian ayahnya. Tindakan itu sebetulnya merupakan perilaku adharma karena mengulangi dosa sang ayah dan para pendahulunya. Satu-satunya cara untuk menghentikan kutukan tersebut adalah dengan menyerah pada dharma.

[11] Suwung dibahas di dalam buku Suwung: Ajaran Rahasia Jawa Setyo Hajar Dewantoro. Ia mengutip  RMP Sosrokartono yang menjelaskan suwung sebagai sikap mental seseorang yang telah masuk pada kesadaran kejumbuhan atau kemanunggalan tanpa batas dengan Sang Sumber Hidup.

[12] Upaya apresiasi terhadap karya mahasiswa dilakukan pada pameran Menjadi Arsitek yang berlangsung pada Januari – Februari 2018. Pameran ini menampilkan 60 karya mahasiswa arsitektur yang bertajuk mimpi 20 tahun mendatang, interpretasi media seni, hingga esai personal.

Daftar Pustaka

Antoniades, Anthony C. (1992). Poetics of Architecture: Theory of Design. New Jersey: Wiley.

Dutta, Apurva Bose. (2017). Architectural Voices of India: A Blend of Contemporary and Traditional Ethos. Newcastle: Cambridge Scholars Publishing.

Dewantoro, Setyo Hajar. (2017). Suwung Ajaran Rahasia Leluhur Jawa. Jakarta: Javanica.

Ichiro Kishimi, Fumitake Koga. (2018). The Courage to Be Disliked: The Japanese Phenomenon That Shows You How to Change Your Life and Achieve Real Happiness. New York: Atria Books

Klassen, Winand (1990), Architecture and Philosophy, University of San Carlos, Cebu City, Philippines.

Mitrovic, Branko. (2011). Philosophy for architects. New York: Princeton Architectural Press.

Pattanaik, Devdutt. (2011). Jaya: An Illustrated Retelling of the Mahabharata. London: Penguin Global.

Romano, Laura. (2013). Sumarah: Spiritual Wisdom of Java. lulu.com.

Anas Hidayat
Bekerja sebagai arsi-TEKS (arsitek yang bergelut dengan teks) di sebuah negeri kecil yang dia beri nama ReK – Republik Kreatif di Surabaya. Lulusan Sarjana dan Magister Arsitektur ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya dengan tesis tentang hubungan antara Arsitektur Jawa/Primbon dan Hermeneutika (Filsafat Penafsiran).
Anas juga pengajar Arsitektur di UKDC (Universitas Katolik Darma Cendika) dan UPN Veteran Jawa Timur di Surabaya, serta aktif di Lesnika (Lembaga Studi Etnika) UKDC Surabaya. Berminat pada kajian seputar arsitektur Nusantara dan Indonesia serta “jungkir balik” architectural discourse dalam arti luas.
Bukunya yang pertama berjudul Arsitektur Koprol (2010) yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jawa Timur, juga menulis buku-buku kolaborasi dengan penulis-penulis lain (seperti Buku C/S/A Contemporary Surabaya Architecture dan Buku +1 Karya Arsitek IAI Jatim). Kadang-kadang juga men-dalang lakon kontekstual dengan wayang kontemporer ciptaannya yang disebut Wayang Arek. Buku 15 Cerita Arsitek Muda merupakan bukunya yang terkini, yang diterbitkan akhir tahun 2017.
Realrich Sjarief
Realrich Sjarief, arsitek sekaligus founder dari RAW Architecture yang merupakan singkatan dari Realrich Architecture Workshop. Karyanya, Sekolah Alfa Omega mendapatkan nominasi World Architecture Festival di 2018 untuk kategori bangunan pendidikan. Selain itu ia juga aktif sebagai arsitek untuk bangunan - bangunan rumah tinggal dan menaruh minat ke dalam topik lokalitas dan ketukangan untuk mendefinisikan arsitektur yang natural, sederhana, tanpa pretensi dan memiliki kualitas transenden. Di Tahun 2015, Realrich mendirikan Omah library, sebuah tempat belajar arsitektur melalui literasi, workshop, kursus dan diskursus arsitektur melalui topik filsafat, teknik konstruksi, sejarah dan materialitas. Omah library menjadi tempat untuk diskursus praktik - teori. Realrich juga aktif di dalam kelompok Spirit 45 bersama Andy Rahman dan Eka Swadiansa yang menerbitkan buku berjudul SPIRIT_45 : A Cultural Hypnosis and an Unfinished Manifesto di awal tahun 2018. Realrich adalah pengajar tamu di Universitas Pelita Harapan dan aktif sebagai pemateri di beberapa universitas di Indonesia.