Sinergi Antara Arsitek dan Pemerintah

1141 Views |  5

Sejarah mencatat hubungan antara arsitektur dengan penguasa atau pemerintah dapat menjadi sebuah kekuatan yang besar dan mempengaruhi masyarakat luas. Pada masa arsitektur modern mulai berkembang di Eropa, terdapat aliran Konstruktivisme yang berkembang di Rusia. Aliran Konstruktivisme yang berkembang sekitar tahun 1913 hingga 1920 ini menghasilkan karya seni dan bangunan yang kreatif, yang mengetengahkan bentuk geometris serta kedinamisan sebagai pencerminan era kemajuan teknologi dan estetika mesin.

Para seniman Konstruktivisme adalah pelopor pembaharuan di Rusia atau dikenal dengan sebutan Russian avant-garde. Para seniman dan desainer Konstruktivisme memiliki kesamaan visi dengan pemerintahan Bolsevik di Rusia pada saat itu yang menginginkan tatanan masyarakat baru yang bersifat optimis dan berdasarkan nilai-nilai komunal. Pemerintah pada akhirnya menobatkan Konstruktivisme sebagai seni resmi Negara Soviet sekaligus menjadi alat propaganda untuk program-program pemerintah.

Sebagai contoh adalah karya El Lissitzky Beat the Whites With the Red Wedge yang menjadi poster propaganda Lenin pasca Revolusi Bolshevik. Pada poster ini tampak ketegasan, kekontrasan, keberanian sekaligus bentuk yang lingkaran yang menggambarkan sesuatu yang terus bergerak dan dinamis.

"Beat the Whites with the Red Wedge" adalah karya El Lissitzky, 1919 (sumber: en.wikipedia.org)

“Beat the Whites with the Red Wedge” adalah karya El Lissitzky, 1919 (sumber: en.wikipedia.org)

Tokoh lain adalah seorang pemahat sekaligus arsitek bernama Vladimir Tatlin yang juga merupakan salah satu pelopor gerakan Konstruktivisme di Rusia. Setelah melakukan perjalanan ke Paris, Tatlin berpendapat bahwa seni harus bisa dinikmati oleh semua kalangan secara merata serta tidak boleh ada pembedaan seni untuk kaum borjuis atau kaum proletar. Karenanya Konstruktivisme berkembang menjadi seni terapan yang idenya merangkum pentingnya desain yang baik untuk kehidupan masyarakat eperti desain benda keseharian, patung, dan bangunan. Karenanya selain memakai kanvas, rancangan seniman dan desainer Konstruktivisme kebanyakan memakai media yang beragam seperti kayu, kaca, besi, dan baja.

Tatlin merancang sebuah monumen yang bernama Monument to the Third International yang rencananya akan dibangun melebihi tinggi menara Eiffel. Hal ini memperlihatkan ambisi Tatlin untuk memamerkan potensi kekuatan Rusia berupa ketajaman visi, kemampuan membangun, serta sumber alam dan manusia yang lebih bervariasi dibandingkan Perancis atau Negara Barat lain. Ukuran yang besar—bahkan rencananya dua kali ukuran Empire State Building di Amerika Serikat—menyimbolkan pemerintahan Rusia yang kuat dan dominan.

“Monument To The Third International” adalah salah satu karya fenomenal dari Vladimir Tatlin, 1920. (sumber: en.wikipedia.org)

Monumen ini memiliki garis rancangan yang tegas—rencananya menggunakan bahan baja—dan rangkaian elemen yang saling menopang serta membuat gerakan ke atas yang dinamis. Monumen ini juga menunjukkan komposisi asimetris dan menunjukkan gerakan spiral ke atas yang menyimbolkan perubahan masyarakat kearah yang lebih baik, produktif, dan saling menopang; seperti yang Tatlin inginkan bagi masyarakat Rusia di zaman modern.

Selama perang saudara di tahun 1918-1921 para pengikut gerakan Konstruktivisme mulai menggarap ruang publik dengan karya mereka sebagai pengejawantahan ide tentang masyarakat baru. Karena gerakan Konstruktivisme berorientasi ke masa depan atau bersifat futuristik, karya seniman dan perancang menggunakan material baru seperti besi, beton, dan kaca yang menunjukkan kemajuan teknologi. Para seniman dan desainer Konstruktivisme memiliki keinginan menjadikan karya mereka berguna untuk masyarakat. Beberapa seniman dan arsitek juga memiliki hubungan yang dekat dengan para tokoh pelopor sekolah desain modern Bauhaus di Jerman; El Lissitzky misalnya menjadi salah seorang pengajar di Bauhaus.

Di Jerman, pada saat yang hampir bersamaan dengan gerakan Russian avant-garde, terdapat sebuah perkumpulan seniman, arsitek, dan kalangan industrialis yang disebut dengan The Deutscher Werkbund. Terbentuknya perkumpulan ini menjadi sebuah momentum penting dalam perkembangan arsitektur modern dan penyatuan antara desain, arsitektur, dan industri. Tujuan awal pendirian perkumpulan yang didirikan pada tahun 1907 di Munich ini adalah menyatukan para profesional di bidang desain dengan kalangan industrialis, sehingga mampu meningkatkan daya saing produk-produk Jerman. Pemerintah sangat mendukung The Werkbund karena selama ini produk-produk Jerman dianggap belum bisa menyaingi produk-negara tetangga seperti Inggris dan Prancis. Sebagai pimpinan pertama The Werkbund adalah Hermann Muthesius yang pernah dikirim pemerintah Jerman ke Inggris untuk mempelajari gerakan Arts and Crafts, serta pengaruh desain terhadap perindustrian di Inggris.

The Deutcher Werkbund juga membuat pameran internasional seperti Cologne Exhibition pada tahun 1914 serta Stuttgart Exhibition pada tahun 1927—yang memamerkan rancangan rumah karya arsitek dunia dengan skala 1:1 atau dikenal dengan Weissenhofsiedlung. Moto dari the Deutscher Werkbund adalah Vom Sofakissen zum Städtebau (dari bantal sofa hingga pembangunan kota), yang mengindikasikan betapa besarnya ambisi Jerman untuk meningkatkan bidang desain, industri dan perdagangan.

Beberapa hal yang dapat kita pelajari dari gerakan Konstruktivisme di Rusia adalah betapa arsitektur mampu mendukung sebuah pemerintahan karena arsitektur merupakan media yang mampu menjangkau semua lapisan masyarakat. Hal ini dikarenakan kesamaan visi antara pemerintah dan para seniman dan desainer serta semangat untuk mengisi sebuah era baru yaitu era modern yang penuh dengan perubahan, perkembangan cepat, dan kemungkinan-kemungkinan baru. Walaupun monumen buatan Tatlin tidak pernah terealisasi, namun dunia menyaksikan betapa idealisme dari seorang arsitek dapat mencapai lapisan masyarakat yang luas di Rusia, bahkan juga mempengaruhi arsitektur modern melalui keunikannya. The Deutcher Werkbund juga memperlihatkan kerjasama yang kuat antara para profesional dengan pemerintah, sehingga daya saing produk nasional Jerman dapat menjadi lebih baik. Tanpa kesamaan visi dan kerjasama yang kuat antara seniman, arsitek dan pemerintah maka akan sulit menyatukan daya upaya demi kemajuan bersama.

Referensi:
Frampton, Kenneth. Modern Architecture: A Critical History (World of Art). Fourth edition. London: Thames & Hudson, 2007.
Curtis, William J. R. Modern Architecture Since 1900. Oxford: Phaidon Press, Oxford, 1982

Yulia Nurliani Lukito
Yulia Nurliani Lukito teaches at the Department of Architecture, University of Indonesia, where she also got her undergraduate degree in architecture. She obtained her master degree in history and theory of architecture from Graduate School of Design, Harvard University, and her doctorate degree from RWTH Aachen University in Germany. Her research interests are mainly philosophy of design, history and theory of architecture, modernity and vernacular architecture.