SHAU: kolaborasi arsitek Indonesia + Jerman di Belanda

1704 Views |  Like

Bukan zamannya lagi sebuah kantor arsitektur hanya melayani konsultasi desain bangunan (terspesialisasi), terikat sebuah lokasi, dan menganut beberapa nilai yang kaku. SHAU percaya bahwa semakin banyak nilai yang dianut, semakin besar kemungkinan lahirnya nilai-nilai baru yang dapat menjawab tantangan global yang penuh dinamika, dan hal ini perlu terutama bagi kantor arsitektur yang sedang berkembang (young offices). Seperti yang Jane Jacobs teorikan mengenai perlunya heterogenitas suatu kota, sebagai contoh kota Detroit yang memiliki industri homogen, bila industri tersebut hancur, maka kota yang bersangkutan juga akan mati (Jane Jacobs: Life and Death of Great American Cities). Demikian juga dengan seorang arsitek di dunia global, tidak bisa lagi hanya berpraktek secara tradisional sebagai perancang bangunan, melainkan peran-peran lain: sebagai arsitek, urbanis, teoris, akademisi, kurator, entrepreneur, penulis, dan lainnya. Selama peran yang dijalankan bisa menunjang posisi sebagai arsitek, hal ini sangat dianjurkan. Yang heterogen daya survivabilitasnya lebih tinggi dari yang homogen. Pemikiran SHAU ini sedikit banyak dipengaruhi oleh pergeseran posisi arsitek ke arah ´public intellectual´ (Rem Koolhaas 2006).

Perbedaan posisi arsitektur terhadap kota di Indonesia dan Belanda membedakan output desain arsitektur keduanya. Arsitektur di Indonesia berfokus pada apa yang terbaik yang bisa dilakukan di dalam tapak yang diberikan, tanpa kaitan dengan perkotaan (introvert). Bisa dimaklumi bahwa di dalam tata kota yang berantakan seperti di Jakarta, arsitektur berusaha survive dengan merayakan apa yang bisa dirayakan secara introvert. Sembilan puluh persen inovasi arsitektur yang ada di Indonesia, tidak ada kaitannya dengan perkotaan. Sedangkan di Belanda, peran arsitektur sebagai pembentuk kota, maka setiap bentuk arsitektur selalu berkaitan dengan perkotaan. Arsitektur bangunan, lansekap dan tata kota amat terintegrasi, tidak terpisah tanpa komunikasi. Sikap ini dipengaruhi oleh keadaan lahan di Belanda, yang hampir seluruhnya merupakan built environment maka cara pikir terintegrasi ini sudah ada sejak awal negara ini dibangun- karena lahan mereka sedikit, sedangkan di Indonesia, sebagian besar lahan merupakan natural environment. Lahan kita berlimpah, maka penggunaannya tidak berhati-hati.

Open City Jakarta/ Rotterdam dan Jakarta

Reciprocity merupakan prinsip yang kaya dan penting bagi sebuah kota informal. Bentuk pertukaran timbal balik, seperti barter, tawar-menawar, memberi-menerima atau mengumpulkan adalah satu dari kegiatan ekonomi yang berperan menstruktur perkotaan yang seringkali terlupakan, tidak terteorisasi, tidak terdesain dan tidak terencana. Bisakah Reciprocity berperan sebagai strategi perkotaan? ‘Seperti apakah Recipro-City (kota timbal balik) itu?’ Open City Jakarta merupakan kelanjutan dari karya-karya pameran terseleksi dari 4th International Architecture Biennale Rotterdam 2009, menampilkan 12 riset inovatif dan karya desain yang menggagas Jakarta sebagai Recipro-City (kota timbal-balik) dalam 12 skenario berbeda.

Open City Jakarta

Karya-karya tersebut mengilustrasikan hubungan timbal- balik: antara lingkungan binaan dan alam (sebagai contoh, Sponge City: analisis pola banjir di Jakarta, dan usulan serangkaian intervensi arsitektur untuk memperbaiki efek banjir), antara sektor formal dan informal (sebagai contoh, Jakarta Bersih: memfokuskan hubungan antara sistem pembuangan sampah formal dan informal di Jakarta), antara pengusaha dan masyarakat (sebagai contoh, Social Mall: mengusulkan untuk menyisipkan lebih banyak lagi fasilitas umum di dalam mal, supaya dengan dengan demikian mal menjadi bagian terpadu dari lingkungan sekitarnya). Kedua belas skenario tersebut dinarasikan dengan menggunakan figur-figur wayang dari Eko Nugroho, dan diilustrasikan oleh foto-foto urban-antropologis Erik Prasetya. Arsitek Indonesia yang berkontribusi, antara lain adalah Andra Matin, Adi Purnomo, Ahmad dan Wendy Djuhara, dan Budi Pradono.

Gell House/ Obernzell, Jerman

Gell house, Obernzell

SHAU ditugasi mendesain rumah tinggal di Obernzell, Bavaria dan terletak di lereng bukit selatan yang memberikan pemandangan indah sungai Danube. Tiga aspek rancangan yang penting merupakan: hill – sun – view. Situs ini mirip dengan kondisi di lereng pegunungan di Indonesia. Perbedaannya, iklim yang menentukan material bangunan dan syarat peraturan bangunan di Jerman yang sangat ketat. Meskipun demikian SHAU tetap ingin bebas berdialog dengan alam sekitarnya. Konsep gubahan massa terdiri atas 2 volume atas-bawah dimana volume atas merupakan struktur kantilever yang memaksimalkan view ke berbagai arah, terutama ke arah sungai Danube, sedangkan volume bawah menyesuaikan diri dengan kontur dan berusaha memuat program-program yang diperlukan. Garis atap dari kedua volume yang naik-turun mendapat referensi dari kemiringan dan topografi lansekap khas area Danube.

Pavilion Kupu-kupu/ Pejaten, Bali

Pavilion Kupu-kupu, Pejaten, Bali

Proyek ini merupakan bagian dari kompleks artist residence di Pejaten, Bali yang didesain oleh Adi Purnomo (mamostudio). Pavilion ini terletak dekat entrance kompleks, menaungi kolam renang dan merupakan hotspot untuk relaksasi, meditasi, fotografi, dan acara-acara prosesi pernikahan, tarian, dan lainnya. Proses perancangannya melintasi mistisisme yang dianut di Bali. Analisis tapak, selain berupa peta kontur, kemiringan, jenis vegetasi, juga mencakup pemetaan energi- yang benar-benar khas Bali. Pemetaan energi ini ada hubungannya dengan posisi tapak terhadap dua pura, aliran air, dan orientasi kaja-kelod. Menurut pemetaan energi, di area dimana pavilion kupu-kupu akan berdiri, diperlukan pelepasan energi di tapak tersebut. SHAU menghargai konsep transendental ini, dan memadukannya dengan konsep hi-tech engineering, low-tech manufacturing dengan mengkalkulasi bukaan cahaya dan struktur bangunan kupu-kupu ini lewat software khusus, dan merencanakannya agar dapat dibangun secara manual. Studi ini dilakukan di TU Delft Jurusan Teknologi Bangunan. Proyek ini merupakan contoh ekstrem dimana nilai-nilai arsitektur Bali diterima dan ditunjang dengan teknik terbaru yang ada di Eropa.

***

(SHAU, firma arsitektur dan urbanisme, merupakan kolaborasi partnership antara Daliana Suryawinata (Indonesia), Florian Heinzelmann (Jerman) dan Tobias Hofmann (Jerman) dengan kantor pusat di Rotterdam, Belanda. SHAU bergerak dalam kesempatan ruang kultural Indonesia, Jerman dan Belanda dalam bidang desain arsitektural, riset urbanisme, kuratorial, dan akademik. Maka kreasi dan metodologi SHAU menganut kombinasi nilai-nilai dari ketiga negara, antara lain: spontanitas dan fleksibilitas Indonesia, presisi dan logika Jerman dan argumentasi Belanda. Yang menarik, kadang nilai-nilai tersebut bertentangan satu sama lain namun bila dicarikan sinerginya, dapat membuahkan konsep-konsep spesifik yang berguna untuk arsitektur dan urbanisme.)
Daliana Suryawinata
She is the founder of SHAU Rotterdam, curator of Open City Jakarta,
lecturer, researcher and PhD-by-Design nestor at the Why Factory, TU Delft. She is chief officer of the Indonesian Institute of Architects, European Union chapter. Daliana is a graduate of the Berlage Institute Rotterdam (MArch) and Tarumanagara University in Jakarta (BSc). She worked at OMA, West 8, MVRDV, andramatin and Han Awal and Partners. Since 2006 she has been teaching at the Berlage Institute, the Rotterdam Academy of Architecture, and Delft University of Technology. Recently she received the ”ARCHINESIA Certificate of Appreciation 2012” and ”Indonesian Diaspora Award for Innovation 2012”. She is also an advisor to the architecture and urban design programs at the Erasmus Huis Jakarta for the period 2012-2016.