Secangkir Teh bersama Johan Silas: Peran Bisnis dan Komunitas untuk Kota

2753 Views |  5

 

Ia duduk tenang di kursi kayu berlapis kulit itu. Di ruang tamu yang penuh cinderamata dan penghargaan perjuangannya. Matanya memandang tegas. Posturnya masih tegap untuk orang seusianya. Sesaat ia terhiraukan oleh perempuan muda berparas indo yang datang membawa teh untuk kami. “Terima kasih”, ujarnya. Lalu kami melanjutkan pembicaraan.

Namanya Johan Silas, salah satu tokoh arsitektur Indonesia yang aktif di bidang permukiman dan kota. Di tahun 2005, Ia memperoleh penghargaan Habitat Scroll of Honour dari UN Habitat atas kiprahnya selama bertahun-tahun dalam menyediakan rumah yang terjangkau untuk kaum miskin. Ia termasuk salah satu pencetus KIP (Kampung Improvement Program) dan juga aktif dalam rekonstruksi paska gempa dan tsunami di Aceh dan Nias.

Lampu hijau menyala ketika saya utarakan ajakan berbincang untuk mengisi RUANG edisi Komunitas. Akhirnya siang itu, ia menyambut saya di kediamannya yang hangat. Dalam tutur kata yang lembut, ia membagi ilmu dan pengalamannya dengan cuma-cuma. Yang didalamnya banyak tersirat harapan untuk generasi muda Indonesia.

Johan Silas menyambut saya di kediaman pribadinya. @Yusni Aziz

 

Y: Menurut bapak, untuk apa dan siapa profesi arsitek dan arsitektur itu sendiri?

JS: Jika dilihat dari proses perkembangan, arsitektur itu kan sebenarnya karya masyarakat. Sebagai contoh, mari kita lihat arsitektur tradisional. Ada pemimpin dalam pengerjaan arsitektur tradisional, misalnya ada undagi di Bali. Mereka hadir bukan sebagai ahli ilmu pengetahuan, melainkan ahli dalam menjaga aturan-aturan adat yang sudah ada.

Arsitektur tradisional itu dimulai dari sebuah keinginan. Setelah ada keinginan biasanya mereka mulai mengumpulkan resources­ dari sekitar daerah tinggalnya. Dari situ kemudian mereka membentuk bangunan yang menurut mereka sedang diperlukan waktu itu.

Pasti terjadi banyak kegagalan.Tapi dari sini mereka mencari penyebab dan berusaha menghindari kegagalan berikutnya. Nah, pengalaman inilah yang menjadi dasar terbentuknya aturan. Pada saat itu belum ada pendekatan rasional dan filosofis, maka aturan tersebut selalu dikaitkan dengan kepercayaan. Keterkaitan dengan budaya dan agama ini juga membuat aturan yang sudah baik itu tidak mudah dilanggar.

Namun, tidak berarti arsitektur tradisional itu beku. Setiap kali proses berulang, selalu ada tambahan baru dan peluang untuk dikembangkan. Arsitektur mengikuti keadaan dan kepentingan hidup manusia.

Saya kira arsitektur muncul sebagai “ilmu” pada saat renaissance. Era itu menyebabkan orang mulai berpikir dan melakukan rasionalisasi. Dari situ kemudian ilmu pengetahuan, termasuk arsitektur, lepas dari ikatan agama dan budaya. Jadi pada dasarnya arsitektur itu adalah sebuah produk untuk memenuhi keinginan manusia yang bersifat budaya. Saat budaya berkembang, arsitektur berkembang.

Tapi kemudian dalam perjalanannya arsitektur dan budaya ditarik dan dikaitkan oleh agama dan kekuasaan. Inilah yang kemudian melahirkan arsitektur yang terlepas dari harkatnya yaitu masyarakat. Lalu akhirnya timbul dua aliran arsitektur, yaitu yang terlepas harkat dan menjadi bidang kerja keprofesian arsitek dan arsitektur yang masih dikerjakan masyarakat sendiri.

Pertanyaan yang mungkin menarik itu jika mau berbicara arsitektur, yang mana?

Kata arsitektur juga muncul tadi karena pemisahan, dari proses semula yang ada di masyarakat menjadi proses di kalangan elit. Sah-sah saja jika ada dua aliran. Ini ada di semua bidang, misalnya perumahan. Banyak statement mengenai perumahan yang sebenarnya adalah bukan perumahan yang dimiliki masyarakat. Di Indonesia, saya kira sekitar 80-85% rumah yang digunakan masyarakat hadir tanpa pelayanan seorang arsitek.

Muculnya ide housing backlog itu berangkat dari anggapan bahwa rumah itu yang benar adalah yang buatan swasta, bukan dibuat oleh masyarakat. Padahal 85% rumah yang ada adalah dari masyarakat.

Kalau kita memang memahami ide backlog, apa yang akan kita lihat? Di terminal bus numpuk orang, di stasiun kereta api numpuk orang, itu backlog. Tapi itu kan harus diselesaikan, dan sekarang sudah tidak ada lagi penumpukan di terminal bus, stasiun kereta api, atau bandara. Jadi konsep backlog itu salah kaprah atau sengaja tidak dimengerti untuk kepentingan tertentu.

Tapi itu adalah hakikat di lapangan, dan tinggal individu lebih cenderung kemana. Kecenderungan pada yang punya modal atau dia ingin dekat dengan masyarakat untuk membangkitkan mereka.

Seperti di Surabaya, kampung-kampung bahkan bisa lebih bagus dari yang disebut low cost housing-nya pemerintah. Jadi artinya masyarakat itu sebetulnya punya potensi, dan mereka tidak perlu menunggu bantuan pemerintah.

 

Menurut Johan Silas, sekitar 80-85% rumah di Indonesia hadir tanpa pelayanan arsitek. ©Christopher Little

 

Y: Tapi menurut bapak, apakah seorang arsitek harus menyeimbangkan diri untuk aktif dalam kedua aliran tersebut?

JS: Saya kira penyeimbang itu adalah pasar. Misalnya sekarang pasar bergeser menuju ke bagian high end dan middle class, karena munculnya the new middle class menunjukkan sebuah kekuatan baru. Sebagai illustrasi adalah budget airlines seperti Air Asia. Meskipun pesawatnya jenis terbaru, tetapi yang dilayani adalah rakyat kecil. Handphone sekarang juga bukan milik kelompok atas saja. Di sini menurut saya letak asli arsitek itu, customer­-nya tidak hanya kelas atas tapi juga kelas menengah kebawah. Kita mau melihat dunia ini dalam kacamata yang sempit atau melihat dunia ini dalam sebuah perspektif yang luas dengan berbagai warna.

 

Y: Sebagai contoh, Shigeru Ban adalah pemenang pritzker prize yang berpraktik secara komersil tapi juga menjalankan proyek kemanusiaan. Menurut bapak apakah arsitek komersial harus memiliki misi sosial seperti ini?

JS: Saya melihatnya agak sulit, kecuali jika yang dilakukan benar-benar berpihak ke masyarakat. Banyak yang menggunakan teknologi bangunan terbaru dan tercanggih, namun tidak memiliki perhatian terhadap masalah masyarakat.

Jika kita harus melayani rakyat kecil, tidak harus dengan pola pikir kasihan. Mereka tidak minta dikasihani. Mereka minta diberi kesempatan yang sama seperti semua, buktinya mereka bisa bangkit sendiri.

Jadi menurut saya, seorang arsitek sebaiknya memilih. Tetapi tidak dengan anggapan bahwa saya adalah arsitek besar, maka saya merasa kasihan. Kita bisa melayani rakyat kecil secara bisnis, contohnya Air Asia itu tadi.

Jadi jika saya melihat ada aliran-aliran, ini masih belum nampak dalam pelayanan arsitektur. Sekarang kondisi sudah sangat berkembang, dan membentuk ide yang hanya dimengerti oleh arsitek sendiri sudah bukan masanya. Jadi saya setuju sekali jika anda mengatakan bahwa RUANG diusahakan sebanyak mungkin orang bisa men-download, untuk memperluas kesempatan membacanya.

Sedikit berbicara tentang konservasi, semua bangunan cagar budaya sudah menjadi milik kita, termasuk bangunan belanda. Like it or not itu adalah sejarah. Tapi kita juga harus forward looking. Saya sering mengkritik, apakah Gubernur Jawa Timur masih harus tinggal di rumah yang dibangun Daendels? Di mana untuk membangun itu dia membakar dan merusak Keraton Surabaya. Dia ingin menghilangkan kekuasaan Jawa, dengan menghilangkan simbol. Kenapa tidak membangun kantor atau rumah karya anak bangsa, kemudian bangunan itu jadi museum saja?

 

Rumah dinas Gubernur Jawa Timur. ©Wikipedia

 

Kita merdeka. Kenapa kita masih memakai simbol penjajahan itu? Baiknya kita meneruskan cita-cita kemerdekaan, bukan kepentingan dan keinginan sejarah Belanda. Kembali lagi disini peranan arsitek sebaiknya ada unsur nasionalisme yang perlu kita bangun. Lihat saja perumahan mewah di sekitar surabaya yang bergaya klasik, dan sebagainya. Itu bukan 100% salahnya arsitek, tetapi dia mengikuti keinginan owner. Namun kita sebagai arsitek, demi laba tetap dikerjakan saja.

 

Y: Tapi bukankah owner hanya mengikuti yang digalakkan oleh media, Pak? Jadi akar penentunya sebenarnya media.

JS: Iya. Kita bisa belajar dari Steve Jobs, Microsoft, atau Air Asia yang bisa merubah trend. Masalahnya tinggal mau dan berani tidak? RUANG berani tidak keluar dari keterikatan seperti itu? Sebagai arsitek yang katanya mengampu budaya, apa kita hanya mau menjadi kaya tetapi tidak peduli?

Kenapa tidak seperti Air Asia yang memiliki pesawat paling modern tetapi menyesuaikan pelayanannya kepada semua lapisan masyarakat. Make them happy.

Tidak benar jika kita meninggalkan laba maka kita akan gagal. Lihat saja Steve Jobs yang memberontak akhirnya dipecat, tapi ujung-ujungnya memang dia yang benar. Jika dia tidak memutuskan untuk membongkar Apple yang dulu, kita tidak akan punya Apple yang sekarang. Perombakan-perombakan itu yang harus dilakukan di bidang arsitektur.

Jika Garuda itu isinya business class semua tanpa economy, akan bangkrut dia. Sebaliknya jika kita melayani economy class tanpa business bisa tetap untung, seperti Lion Air atau Air Asia. Disana adalah kesempatan kita untuk membantu middle class menjadi bermutu, kuat dan maju. Bukan hanya ngurusin desain bergaya aneh-aneh itu. Misalnya ada rumah yang seperti dari jaman kaisar Nero, untuk apa? Kenapa tidak baju dan kendaraannya sekalian? Seperti ada split personality, apakah arsitek mau menjadi seperti itu? Harusnya kan tidak.

Jadi jika mau maju, kita harus punya pendobrak yang menghasilkan produk seperti Apple atau Air Asia itu.

 

Y: Kemudian untuk perencanaan partisipasi yang melibatkan masyarakat, bagaimana dengan konteks Indonesia? Apakah kita sudah cukup melek untuk itu dan kalau dituruti apakah mereka cenderung meminta lebih?

JS: Sebetulnya tidak juga. Misalnya di Nias mereka bisa mengikuti target kita dalam setahun anggaran, jadi harus selesai pembangunannya. Meski rumah adat yang besar itu tidak bisa 100% selesai, dan itu tugas mereka sendiri untuk menyelesaikan. Menurut saya yang penting kita percaya bahwa mereka bisa mendesain. Di Nias, bantuan kita hanya 65 juta meskipun saya tahu bahwa rumah itu akan memakan lebih dari 100 juta. Mereka sadar dan mereka juga menyiapkan rencana kerja. Akhirnya semua juga bisa selesai sesuai jadwal.

Sama seperti Air Asia, jika tidak bawa bagasi kenapa bayar bagasi, jika tidak makan kenapa bayar, jadi jangan bayar yang aneh-aneh dan ekstra. Jika kembali ke middle class, restoran besar di Surabaya banyak yang asalnya dari Pedagang Kaki Lima (PKL). Mereka bisa berdiri sendiri. Mereka kan tidak jual steak, tidak jual pasta, hanya soto lamongan, pecel madiun, dan laku. Kelas menengah seperti itu banyak. Tetapi dia tidak bisa dipaksa disuruh bayar yang dia tidak merasakan.

 

Y: Jadi sebetulnya sektor informal seperti PKL itu dibutuhkan oleh kota. Karena pembangunan kota sangatlah formal, dengan gencarnya perumahan swasta atau bangunan mixed use. Pemerintah seakan masih belum melihat pentingnya sektor ini. Bagaiman menurut bapak?

JS: Sebenarnya jika ditinjau kembali, sektor-sektor itu tidak semuanya informal. Kampung itu tidak dibuat tanpa perencanaan, buktinya ada jalan dan sebagainya. Kampung itu juga tidak dibuat tanpa izin bangunan, meski hanya izin masyarakat. Jika bikin rumah, apa berani jika tidak selametan? Selametan itu kan meminta persetujuan tetangga. Jika mereka tidak setuju, mereka tidak datang, dan sebaliknya. Itu kan sama.

 

Y: Bagaimana dengan formalitas yang terkait dengan birokrasi?

JS: Yang harus dirubah ya birokrasinya, bukan orangnya. Seperti perumahan 80% dari rakyat yang tadi harus diwadahi pemerintah. Pada kenyataannya penambahan itu tidak ada, jadi kita anggap backlog. Angka yang dipakai media pun masih angka lama, yang masih tidak masuk akal. Misalnya hari ini backlog­­-nya 7 juta, seminggu kemudian 15 juta. Tetapi tidak ada yang melakukan cek dimana itu 7 atau 15 juta berasal.

Kemudian arsitek itu juga harus berani blusukan. Anda tidak bisa jadi arsitek hanya tinggal di ruang kelas. Anda harus mengerti di mana dan apa yang diinginkan oleh masyarakat. Mereka yang tinggal di perkampungan itu jenius karena masih tetap bisa survive meski dalam tekanan atau ancaman. Jokowi juga sudah melakukan blusukan, dan makin serius seperti walikota Surabaya. Blusukan itu untuk silaturahmi. Dari tiap blusukan itu dia bisa tahu siapa rakyatnya.

 

Y: Mengenai Jokowi, menurut bapak program Musyawarah Perencanaan Pembangunan (MUSRENBANG)[1] Solo Kota Kita itu apa sudah baik atau perlu diperbaiki ?

JS: MUSRENBANG ini bagus, kita juga punya di Surabaya. Anda bisa hadir langsung atau melalui online. Jadi kota menyediakan anggaran yang bisa dikelola masyarakat melalui program ini. Surabaya sudah lama punya dan menganggarkan sekitar 750 juta per kelurahan. Program ini bagus, cuma di banyak tempat seakan hanya menjadi formalitas saja. Di sini musrenbang-nya sudah dikemas dan diawasi ketat pemerintah kota. Sehingga mereka juga menjadi pelancar kegiatan.

Kemudian mengenai PKL tadi, mereka itu penting. Di Surabaya sudah ada sekitar 30 cluster PKL. Jika mereka PKL makanan maka diletakkan dekat keramaian, tetapi jika bukan PKL makanan ada di dekat tempat parkir. Jadi sebetulnya Surabaya sudah berbuat banyak, tetapi kita tidak gila publikasi.

 

Diskusi bersama warga dalam program Musrenbang. ©Solokotakita

 

Y: Saya juga pikir Surabaya memiliki potensi kampung yang sangat baik namun seperti kurang dipublikasikan. Kenapa seperti itu, Pak?

JS: Ya silakan saja, kita open kok. Namun jika kita harus membayar publikasi tersebut seperti Jokowi, ya jangan. Jangankan publikasi, pasang foto saja bu Risma tidak mau. Coba keliling Surabaya, di mana fotonya? Mungkin di kampung karena ada inisiatif warga. Jika kota ingin mempublikasikan kan tentu tidak gratis. Dan sebetulnya sudah ada beberapa media yang meliput Surabaya dan walikotanya.

 

Y: Kembali ke MUSRENBANG, berarti program ini sangat diperlukan oleh kota?

JS: Menurut saya itu perlu sekali. Saya ambil contoh Surabaya. Di kota ini, perencanaannya sudah sampai RT – RW. Jadi benar-benar hingga ke layer terbawah. Permasalahannya biasanya di definisi structure plan yang akan dibuat itu. Apa mungkin plan ini hanya menyangkut unsur utama dari kota? Menurut saya, ketika struktur kota hanya mengatur hal-hal yang penting, infill-nya harus fleksibel. Karena kita tidak bisa memprediksikan masa depan, maka sebaiknya setiap 5 tahun infill boleh berubah. Tetapi struktur utama seperti jalan, saluran, bentuk kota harus tetap. Sebetulnya di masa depan, kota Indonesia baiknya menjadi seperti kota-kota Jepang.

 

Y: Kenapa harus Jepang?

JS: Karena di Jepang budaya lokal dan life style global masih bisa tetap eksis bersama. Tempat sesajen masih ada, meskipun yang dahulu menggunakan makanan segar sekarang diganti makanan kaleng. Master bedroom masih menggunakan tatami, meski dapur, kamar mandi atau kamar anak sudah modern. Esensi itu yang harus kita pakai. Yang berubah adalah teknologi.

Mereka juga kaya sekali, namun apakahnya rumahnya mewah-mewah dan bertingkat? Enggak. Indonesia kedepan harus seperti itu. Belajar saja dari Jepang.

 

Y: Jadi disini apakah peranan arsitek menjadi penting juga untuk mengarahkan visi kota kedepan pak?

JS: Pasti. Jadi pengetahuan itu akan dibawa oleh arsitek. Tetapi arsitek tidak menganggap dia yang paling tahu, dia masih perlu masyarakat.

 

Salah satu sudut kampung Peneleh, Surabaya. @Yusni Aziz

 

 

Y: Jadi sebetulnya arsitek dan arsitektur bisa membantu mengarahkan masa depan dan budaya. Mengenai budaya sendiri, gotong royong yang sudah mengakar di kita berasal dari kampung. Tapi kampung seakan stagnan, tidak tumbuh lagi. Apakah menurut bapak kita memerlukan kampung baru atau bagaimana?

JS: Sekarang di Surabaya kampung sudah jauh lebih bagus dan berkembang, bahkan lebih bagus dari perumahan swasta. Kampung akhirnya tidak sesuai dengan istilah “kampungan” yang dulu suka digaungkan. Kemudian kampung dan kota itu saling membutuhkan. Di kampung, orang dari luar kota mulai membangun kehidupannya. Tentu ada yang gagal, tapi banyak juga yang berhasil

Kita perlu kampung. Karena masih ada orang miskin yang ingin mengembangkan diri. Tapi apakah kita perlu membentuk kampung baru? Menurut saya tidak. Kampung itu dibentuk masyarakat sendiri. Jika mereka merasa perlu maka mereka akan berusaha lagi.

Jika kembali ke Jepang, di Kyoto kampung-kampungnya masih sangat dijaga. Budaya kekeluargaan di dalam kampung pun masih ada. Sekarang saya tanya, bagaimana budaya suatu kota bisa didapat dari real estate?

Yang membuat budaya kota itu kan kampung. Jika tidak ada kampung, siapa yang memutuskan budaya kotanya. Jadi menurut saya, selama masyarakat masih memerlukan kampung, adalah tugas pemerintah untuk menjaga dan memperbaiki kampung tersebut.

Surabaya bisa maju dan kampungnya masih banyak. Bahkan kampung di kota menjadi cagar budaya, termasuk namanya. Anda tidak boleh mengubah nama kampung. Berbeda seperti Yogya, dimana nama-nama tradisional dihilangkan.

Itulah warna khas dari kota-kota kita. Coba kita lihat kota-kota baru, seperti Alam Sutera, BSD. Apakah bisa bertemu budaya Betawi? Tidak ada. Di sini pelaku tari remo, reog masih ada di kampung-kampung. Itu yang memberi ciri khas, tanpa itu tidak akan bisa bersaing. Hanya akan menjadi kota yang generik.

 

[1] http://solokotakita.org/en/

Yusni Aziz
Alumnus dari double-degree bachelor program kerjasama antara ITS dan Saxion Hogeschool of Applied Sciences. Kemudian menyelesaikan riset di Berlage Institute pada tahun 2013. Saat ini sedang sibuk dengan riset independen dan mengasuh blog pribadi di www.yusniaziz.com