Ruang Terbuka

991 Views |  Like

Ruang adalah sesuatu yang sangat berharga, yang sering kali kurang kita  hargai keberadaannya. Di kota-kota besar di Indonesia, ruang terbuka publik semakin hari semakin sulit didapatkan. Hampir setiap jengkal tanah dikuasai oleh pribadi maupun dikomersialkan. Kawasan perkotaan, terutama di kota Jakarta, sebagai kota padat penduduk.

Tahun 2008, pertama kalinya lebih dari 50% penduduk dunia tinggal di kawasan perkotaan dan pada tahun 2050 diperkirakan 75% penduduk dunia tinggal di kawasan perkotaan. Penduduk banyak yang bermigrasi dan tinggal di kawasan perkotaan, pada saat yang sama kawasan perkotaan meluas merambah ke daerah penyangga (hijau), kawasan produktif pertanian dan kawasan non-perkotaan lainnya.

Waktu saya kecil, saya tinggal di kompleks perumahan di Jakarta yang masih dikelilingi kebun singkong milik penduduk. Di depan rumah terbentang lapangan luas. Saya dan teman-teman saya memanfaatkan ruang tersebut untuk bermain. Beberapa tahun setelah itu, ruang-ruang kosong telah berubah menjadi perumahan, bergabung dengan perumahan yang selama ini kami diami. Di salah satu sudut “ruang terbuka” tersebut dibangun rumah besar yang dihuni oleh salah seorang pejabat negara. Lapangan bermain kami berubah menjadi rumah yang sangat besar, lengkap dengan lapangan olahraga di dalamnya.

Beruntung kami berteman dengan anak-anak pejabat tersebut sehingga dapat memanfaatkan lapangan yang sekarang telah menjadi bagian rumah tersebut. Tempat bermain kami telah berubah sebagian menjadi perumahan dan sebagian ruang terbuka privat. Mungkin dalam rencana kota, ruang terbuka tersebut diperuntukan untuk perumahan, tanpa ruang terbuka hijau. Tempat dimana kami tinggal sekarang, di Jakarta, tidak memiliki ruang terbuka, sehingga anak-anak bermain dalam rumah atau banyak menghabiskan waktunya bermain di ruang terbuka di sekolah.

Ruang terbuka seperti apa sebenarnya yang diperlukan oleh warga? Ketersediaan ruang terbuka yang berkualitas dan memiliki makna untuk  penduduk dan warga kota. Ruang terbuka merupakan salah satu identitas kota itu sendiri. Jakarta sebagai ibu kota negara selalu diidentikan dengan Monas, salah satu kawasan ruang terbuka yang tersisa di kawasan kota yang padat. Akan tetapi, apakah benar Jakarta sudah sepadat itu? Dengan bantuan Google Earth dapat dilihat bahwa sebagian besar wilayah Jakarta didominasi oleh kawasan perumahan, baik yang padat penduduk, kampung kota, maupun perumahan mewah, sebesar 67% dari total luas wilayah DKI Jakarta (sumber BPS, 2004). Selain kawasan Monas, Gelora Bung Karno, Jakarta memerlukan lebih banyak ruang terbuka dengan skala neighbourhood seperti yang direncanakan di kawasan Kebayoran Baru. Menurut sumber yang sama, kawasan murni taman hanya seluas 1% dari total luas Jakarta.

ruang terbuka

Jika dilihat dari segi luas lahan, tidak ada lagi lahan yang tersisa di untuk kebutuhan ruang terbuka, akan tetapi, melihat potensi yang ada dengan perubahan peruntukan dan aturan pemintakatan yang baik (zoning regulations), terdapat potensi memusatkan kegiatan, menghentikan urban sprawl dengan membangun vertikal (tidak harus pencakar langit, atau rusunami seperti yang marak belakangan ini, akan tetapi bangunan tingkat menengah 4-8 lantai) untuk memeroleh kembali ruang-ruang kota yang hilang. Prof. Danisworo sering berkata, apabila kita melihat ke atas (di Jl. Sudirman/Thamrin) Jakarta tidak kalah dengan kota-kota lain di dunia, akan tetapi begitu kita memandang horisontal maka terlihat perbedaan kontras antara gedung-gedung megah tersebut dan interaksinya dengan ruang terbuka di sekeliling bangunan.

Ruang terbuka seharusnya tidak diprivatisasi. Ruang terbuka yang adil tidak hanya digunakan oleh kalangan atau untuk tujuan tertentu, banyak ruang terbuka yang berubah menjadi ruang komersial, baik oleh pemodal besar maupun oleh kaki lima. Contoh terkini adalah dikembalikannya fungsi taman Barito yang sekarang diberi nama Taman Ayodya ke fungsi aslinya. Penduduk kota berhak atas ruang terbuka untuk kegiatan beraktifitas, kita sering melihat jalan umum ditutup untuk kegiatan pribadi maupun kelompok masyarakat tertentu, dengan tersedianya ruang terbuka, maka kegiatan-kegiatan sosial tersebut dapat dilaksanakan tanpa mengganggu jalan umum.

Publikasi ruang yang pertama merupakan salah satu cara mengambil alih hak ruang publik, untuk warga berekspresi, tanpa melanggar hak orang lain. Ruang yang awalnya kosong akan coba diisi dan dimaknai dengan tulisan dan buah-buah pemikiran kita semua.

(Tiyok Prasetyoadi)

Tiyok Prasetyoadi
A managing Director, Architect, and Urban Designer at PDW Architects (Planning & Development Workshop). The firm is responsible for several urban design guidelines, master plan, public
and landmark projects in Indonesia. He has worked on several public improvement project in Jakarta, namely on pedestrian project, a
major upgrading pedestrian project from the government of Jakarta. Prior to working in Jakarta, he spent four years practicing in Sydney,
Australia. Prasetyoadi is a certified architect and planner,
he is corporate member of Planning Institute Australia, Indonesia Architects Institute and Singapore Institute of Architects. He is also core founder of Green Building Council of Indonesia. He is trained as an architect, graduated from Institute of Technology, Bandung in
1995. In 1998, he graduated from Master of Urban Development and Design program, The University of New South Wales, Sydney, Australia.