Ruang hiperrealitas

771 Views |  Like

Kita adalah generasi apple yang menekan tombol play ipod untuk mengisolasi diri dari keadaan sekitar.

Kita adalah generasi google yang mengagungkan www sebagai satu-satunya perpustakaan.

Kita adalah generasi skype yang terhipnotis  oleh teleconference webcam sebagai sarana sosialisasi.

Kala itu utopia, ruang imajinasi, akan bertransformasi menjadi heterotopia, jukstaposisi dari bermacam ruang, dan lalu bertransformasi menjadi hiperrealitas.

1.

Hiperrealitas, dalam semiotika dan pemikiran post-modern, ditandai dengan ketidakmampuan sebuah kesadaran dalam membedakan realita dan fantasi. Realita dapat dibentuk secara radika dengan memfilter kejadian-kejadian atau pengalaman-pengalaman yang diisolasi, diceritakan, dan digambarkan ulang secara berlebihan oleh media. Ia menyerupai Dunia Fantasi milik Jakarta yang penuh imajinasi dan menolak realita kota yang berpolusi, ruwet, penuh oleh kemacetan, kemiskinan, dan kriminalitas. Ia menjadi sebuah tempat untuk sejenak keluar dari realita ke dalam dunia impian.

Dunia Fantasi

Hiperrealitas dapat diwakilkan atau direpresentasikan. Misalnya, jika seseorang terobsesi dengan sinetron sehingga menghabiskan hari-harinya dengan menontonnya, ia, secara sadar atau tidak, akan masuk ke dalam dunia sang penulis naskah. Ia mulai menginterpretasi kehidupan sehari-harinya, hubungannya dengan orang lain, dan konflik yang terjadi di sekitarnya seperti sebuah naskah sinteron. Ia akan mendramatisir setiap kejadian, sehingga lama kelamaan sulit untuk melihat kenyataan tanpa mengaitkannya kepada naskah drama tadi.

Pernahkah kita berjalan kaki menyusuri barisan pepohonan rimbun di Jalan Ganesha Bandung dengan earphone tersumbat di kedua telinga sambil memutar lagu Menghapus Jejakmu milik Peter Pan menggunakan Ipod Nano terbaru kita? Seketika, suasana jalan yang penuh kotoran burung, pedagang DVD bajakan, gerobak jualan, serta angkot yang ngetem maupun berlalu-lalang berubah menjadi suasana musim gugur di kota Eropa. Berwarna, melankolis, dan membuat kita ingin melompat-lompat seperti Dian Sastro dalam videoklip lagu itu.

2.

“…However, hyperreality, provides ‘HyperWorlds’ that blurs the line between what is ‘real’ and what is ‘virtual’ and make it appear ‘natural.’” (Tiffin and Terashima, 2001, pp. 30)

Kemajuan inovasi teknologi dan media membawa dampak pada dunia hiperrealitas. Semakin banyak orang yang tertarik ‘keluar’ dari dunia nyata untuk menghabiskan waktu lebih berjam-jam di internet, dunia maya, permainan computer, video interaktif, dan lain-lain.

Crowd watching movie in theatre, rear view

Crowd watching movie in theatre, rear view

Dalam esainya yang berjudul The Hyperreality Paradigm, John Tiffin, berusaha mengingatkan kita agar tidak terjebak diantara hiperrealitas dan virtual reality (VR). Ia memberi dua contoh, bioskop dan telepon. Bioskop adalah salah satu usaha kita dalam menciptakan VR. Penonton akan duduk dengan khusyuk ketika lampu mulai dimatikan, dan secara sukarela mereka menghilangkan keberadaannya secara fisik untuk memasukkan sebuah eksistensi lain dari layar bioskop. Mereka memasuki sebuah dunia baru yang penuh imajinasi dan fantasi. Dalam kasus telepon, ketika dua orang berinteraksi melalui telepon, walau berjauhan, mereka merasakan kehadiran satu sama lain dan yakin bahwa eksistensi mereka nyata dan lawan bicara mereka maya. Walau terperangkap dalam VR dan realitas fisik, tindakan serta percakapan mereka terlihat alami.

Internet lalu membawa dampak signifikan terhadap perkembangan informasi dan telekomunikasi. (Hampir) Semua hal dapat dicari, dan (hampir) semuanya terhubung! Walaupun dua individu terpisah ribuan kilometer, di dua negara, bahkan benua, yang berbeda, mereka tetap dapat merasakan kehadiran seseorang melalui suara, bahkan representasi fisik (hampir) dalam waktu yang sebenarnya. Hal ini didukung oleh inovasi webcam dan aplikasi yahoo messeger atau skype.

Iklan Simpati Love Series[1], misalnya, menggambarkan ruang hiperrealitas yang berlapis-lapis. Dua pasangan yang terpisah ribuan kilometer dapat membangun ruang yang intim secara bertahap dengan bantuan koneksi internet. Pada hari jadi mereka, sang lelaki menyanyikan sebuah lagu dengan iringan musik yang syahdu dan suasana yang romantis. Sang wanita tersentuh dan mulai meneteskan air mata haru. Pada adegan puncak, sang lelaki berusaha menghapus air mata sang wanita dan menenangkannya. Dan sang wanita tersenyum dan berhenti menangis. Namun, semua itu terjadi melalui layar monitor laptop masing-masing, tanpa ada jarak yang memisahkan mereka, seolah-olah kedua pasangan itu ada di satu tempat yang sama.

 

Simpati love series 1

Simpati love series 1

Simpati love series 2

Walau mereka sadar bahwa eksistensi ruang yang mereka alami adalah maya – hanya melalui representasi data melalui monitor. Namun, eksistensi fisik mereka sebenarnya suatu hal yang nyata. Walaupun kontak fisik dihilangkan dari ruang fisik, ruang intim yang penuh luapan emosi yang alami dapat terbentuk. Batas antara fisik dan maya seolah terhapus.

Apakah ini bentuk eksistensi ruang yang paling sempurna pada era internet ini, ataukah hanya sebuah awal dari eksodus dunia nyata ke dunia maya?

Apakah ruang-ruang hiperrealitas ini sebuah ancaman bagi eksistensi manusia? Masih mampukah kita membedakan antara kenyataan dan maya?

Apakah kita akan menerima kehidupan dan ruang-ruang hidup begitu saja, tanpa bertanya, berefleksi dan berkontemplasi? Sehingga, secara sadar atau tidak, kita telah hidup dalam dunia hiperrealitas tempat sulitnya membedakan antara sebuah kenyataan dan fantasi. Semuanya menjadi kabur dan melebur menjadi sebuah entitas yang tidak terpisahkan.

[1] Lihat https://www.youtube.com/watch?v=mx-7xVoRmiI

Ivan Nasution
Ivan Nasution lulus dari Arsitektur ITB pada tahun 2006, lalu bekerja di Park+Associates Architect, Singapura. Di tahun 2011, ia menyelesaikan pendidikan penelitian pascasarjana di Berlage Institute Rotterdam. Saat ini menjadi peneliti di Centre for Sustainable Asian Cities, National University Singapore. Di sela waktu luangnya, ia aktif menjadi fasilitator bagi Participate in Design, sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang desain, perencanaan, dan pendidikan.