Ruang Dalam Interpretasi

734 Views |  Like

 

Ada rasa penasaran yang begitu besar untuk tahu bagaimana orang menginterpretasikan karya saya. Memahami bagaimana ruh mereka melebur dengan memori dan pengalaman personal tiap individu, untuk melahirkan sebuah makna baru. Untuk mewujudkan itu, saya berkolaborasi dengan dua rekan baik saya yang juga aktif menulis. Saya memberi mereka dua foto ruang kamar saya, untuk menjadi sumber inspirasi tunggal karya fiksi mereka. Saya tidak memberikan batasan dalam ruang imajinasi mereka. Karena pencipta harusnya sudah mati, saat karya sampai di tangan penikmat.

 

A Man Who Thought He Got The Time

by Puti Karina Puar

A Man Who Thought He Got The Time. ©Lukman Hakim

 

He always thought he got the time. In the morning he woke up exactly at five, went jogging for thirty minutes, took shower and ready for breakfast at six thirty. He always thought he was imitating the sun for keeping the time. He thought he got the time so he kept it, tight, afraid of losing it. Dropped the children at school, became the first person to be present in the office, worked, lunch, worked, left.

Everything was in place and on time until she came. She started by taking his breath away and a couple seconds after office hours. Slowly she stole more seconds; during break time, before breakfast, at 9 AM when he always had his coffee. Then seconds grew into minutes, minutes into hours. Then things started to fall apart. She wanted more and more of his time.

He started to forget to pick up his children. He went jogging longer. He stayed in the shower too long. Sometimes he cried. He skipped breakfast. He no longer became the first person to be present in the office. Sometimes he just skipped everything. He no longer got the time. He gave it all to her. Maybe the time was never his and he was never imitating the sun. Maybe he was only a part that refracted.

And in a year he gave up his thought. He gave up everything as the sun set and stopped being refracted. He was no longer there.

 

 

Belajar Mengenal Patah

oleh Theoresia Rumthe

Belajar Mengenal Patah. ©Lukman Hakim

 

Patah. Adalah rasa yang perlu dikenali. Tetap harus dipeluk dan dijadikan sebagai sebuah pengalaman perjalanan. Seperti salah satu dari bagian tubuhmu, peluk ia erat. Pagi ini saya bangun dengan melihat dua buah mawar putih yang tumbuh segar di halaman. Tetapi ada satu bahkan dua—mawar lainnya yang layu, terkulai begitu saja—patah.

Selama saya hidup, patah bukan hal yang baru. Banyak orang suka mengidentifikasi kata ini dengan “patah hati” atau “kehilangan” atau “ada sesuatu yang terlepas dari dalam dirimu, padahal sebelumnya begitu melekat.”

Ketika bercerita tentang patah, saya ingat Ayah. Ayah mengalami patah (hati) yang begitu tidak dapat dijelaskan ketika Ibu meninggal. Kejadiannya, sudah setahun lebih, tetapi rasa patah itu masih ada. Sampai di sini saya menyadari satu hal: ada rasa patah yang begitu lekat, susah untuk dilepas. Bahkan waktu, mustahil untuk menyembuhkannya.

Ketika Ibu meninggal, Ayah seperti kehilangan sesuatu yang tidak dapat saya jelaskan. Hanya saja, hal tersebut dapat dirasakan. Saya lalu merasa bahwa, rasa patah atau kehilangan semacam itu, akan terjadi di dalam diri kita, apabila kita memang nantinya akan kehilangan orang yang begitu kita cintai. Maka, berhati-hatilah dengan cinta!

Saya rasa, peringatan ini bukan bermaksud untuk menghindarkan kamu dari cinta dengan segala perasaan perasaanya, tetapi bagaimana kita bisa mengenal cinta dengan sebuah konsekuensi besar bahwa suatu hari nanti, kita bisa saja kehilangan orang yang kita cintai, yang membuat kita patah—begitu patah.

Tetapi apakah ketika ada yang patah, lantas kita kehilangan? Ataukah sebenarnya sesuatu yang kita cintai, begitu melekat, tidak akan pernah hilang dari dalam diri kita. Saya sendiri tidak tahu pasti. Maka, berhati-hatilah dengan cinta dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Karena suatu hari nanti dalam jangka waktu yang tidak ditentukan, hal-hal tersebut akan selesai, disadari ataupun tidak, selesai.

Sampai di sini, ketika memang itu harus selesai, itu bukan salah kamu, salah saya, salah kita yang menjalaninya, melainkan karena waktu yang mengijinkan. Tetapi perlu diingat, cinta, patah—patah, bukan hal yang berbahaya. Mereka sama seperti bagian dari tubuhmu, melekat, ingin dipeluk erat, kenali saja.

Dan jika kamu telah mengenal rasa patah dengan baik, sangat baik. Sebelum rasa patah itu datang, cintailah seseorang sungguh sungguh, penuh penuh, sekarang.

 

Lukman Hakim
Lukman Hakim, menyelesaikan studi sarjana Teknik Lingkungan ITB pada tahun 2012, lalu mulai berkarya pada bidang visual dan menelurkan video klip pertamanya untuk Tulus-Teman Hidup. Selama 2 tahun berikutnya ia bekerja di perusahaan retail asal Jepang sebagai Store Manager. Kemudian hingga kini ia kembali belajar di dunia visual dengan menjadi asisten salah satu fotografer Indonesia, Davy Linggar.