ruang bincang : Hiramsyah S. Thaib, Presdir & CEO Bakrieland Development.

1075 Views |  Like

Hari jumat, 11 Juni 2010, saya berkunjung ke Wisma Bakrie 1, untuk berbincang dengan Pak Hiramsyah Sambudhy Thaib, Presiden Direktur dan CEO Bakrieland Development. Beliau merupakan alumni Arsitektur ITB angkatan 1981. Beliau sempat melalangbuana di dunia perbankan selama belasan tahun sampai akhirnya kembali ke industri yang berhubungan erat dengan background pendidikannya, yaitu industri properti melalui wadah Bakrieland Development.

Hari itu, kami berbincang di ruang beliau mengenai arsitektur hijau dan perkembangannya di Indonesia. Beliau menyatakan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk bisa menerapkan arsitektur hijau. Kita harus melakukan pendekatan yang berbeda dibandingkan negara-negara maju dalam mengimplementasikan arsitektur hijau.

Perbincangan dengan Hiramsyah, CEO Bakrieland

Menurut Bapak, apa itu arsitektur hijau?
Bagi saya, arsitektur hijau itu arsitektur yang ramah lingkungan. Arsitektur hijau mencakup bagaimana membuat lingkungan ini menjadi lebih bermanfaat untuk masa depan dengan mempertimbangkan berbagai aspek sebelum melakukan eksplorasi lingkungan.

Saat ini, orang sering melihat arsitektur hijau itu sebagai sebuah konservasi lingkungan. Sebenarnya yang paling penting untuk dikonservasi itu manusia-nya. Konservasi manusia itu penting supaya manusia itu tetap sustain. Sehingga ujungnya yang tetap sustain itu manusia, bukan hanya lingkungannya. Kalau lingkungannya sustain, tapi manusia habis, tidak ada guna juga kan? Jadi, esensinya kembali kepada manusia. Caranya adalah dengan melakukan arsitektur hijau, dimana konservasi meliputi manusianya sehingga kualitas hidup manusia masa depan jauh lebih baik daripada sekarang.

Saat ini, kecenderungan yang terjadi itu melihat arsitektur hijau identik dengan sebuah bangunan?
Sebenarnya apa arti arsitektur? Penting sekali kita mendefinisikan arsitektur karena akan berpengaruh pada pola pikir kita. Arsitektur itu bagaimana kita mewujudkan satu wadah agar manusia bisa melakukan aktivitas secara optimal. Arsitektur itu luas! Contohnya, ada arsitektur lanskap, arsitektur perbankan, dan arsitektur teknologi informasi. Tidak selamanya arsitektur identik dengan bangunan. Jadi, arsitektur itu sebuah sistem besar. Ketika kita berbicara arsitektur, harus terintergrasi antara aspek-aspek mikro dan makro dalam sebuah sistem. Tidak bisa kita berfikir hanya mikro atau makro saja.

Kata kunci dari arsitektur itu adalah integrasi. Selama ini kita masih berjalan parsial. Jika kita bicara manusia sebagai obyek utama, hal yang sama juga harus diberlakukan terhadap konservasi lingkungan. Kita harus memahami betul  supaya bisa menciptakan lingkungan yang baik. Kita harus bisa membayangkan manusia 50 tahun ke depan seperti apa, jadi kita bisa membuat wadah yang bisa mengakomodasi kebutuhan manusia.

Bagaimana dengan perkembangan arsitektur hijau di Indonesia?
Ada satu keuntungan untuk arsitektur hijau di Indonesia yaitu kita berkesempatan melakukan pendekatan pembangunan berkelanjutan (sustainibility development). Negara-negara barat itu rata-rata sudah lebih maju dan sudah tertata rapi, sedangkan kita belum. Dengan adanya Undang-Undang UU Tata Ruang, ini bisa menjadi  sarana terpenting buat pemerintah untuk bisa menerapkan arsitektur hijau .

Kita tahu bahwa salah satu kontributor terbesar dari global warming itu emisi gas buang dan efek rumah kaca. Efek rumah kaca turut berperan menghasilkan global warming, tetapi emisi gas buanglah yang berkontribusi negatif terbesar untuk pelestarian lingkungan. Emisi gas buang itu pada dasarnya terjadi karena adanya mobilitas manusia yang menggunakan kendaraan yang  tidak ramah lingkungan.

Nah, pertanyaan sekarang adalah bagaimana caranya manusia itu  mengurangi  mobilitas dengan pendekatan ramah lingkungan? Sudah pasti, salah satunya dengan berjalan kaki atau bersepeda. Namun di Indonesia, mobilitas dengan jalan kaki kaki dan bersepeda belum optimal, begitu banyak waktu yang nantinya terbuang.  Sebenarnya, cara yang paling mungkin adalah dengan membuat membuat mobilisasi orang itu jauh lebih efisien. Kalau orang bekerja di Kuningan, ya sebaiknya tinggal di Kuningan. Namun saat ini, yang terjadi adalah orang bekerja di Kuningan, tetapi tinggalnya di Depok, sehingga setiap hari terjadi pemborosan energi. Khususnya di Jakarta, orang-orang bisa menghabiskan waktu 2 jam di pagi hari dan 2 jam di malam hari untuk melakukan mobilisasi. Itulah sebenarnya anti arsitektur hijau yang paling utama.

Disini, arsitek dan urban planner diajak berperan besar dan paling penting yakni dengan membuat satu konsep tata ruang yang harus ramah lingkungan. Bukan sekedar arsitektur hijau dalam arti tidak menggunakan AC. Itu juga benar dalam satu aspek. Tapi perancangan konsep tata ruang yang mengambil porsi terbesar. Ini merupakan peluang yang sangat besar yang bisa dilakukan di Indonesia, terutama di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Indonesia masih dalam tahap bertumbuh sehingga bisa diterapkan konsep tata lahan yang berwawasan lingkungan. Berbeda dengan negara-negara maju lainnya yang sudah terlanjur established, untuk membongkar lagi dan merubah itu semua pastinya menghabiskan cost yang mahal sekali. Contohnya di Singapore, akan susah untuk memindahkan atau memecah CBD (Central Business District). Oleh karena itu, sebelum terlanjur semua masyarakat ingin tinggal di pusat kota, Pemerintah selaku regulator, harus mempunyai blueprint untuk memecah pusat-pusat kegiatan dan membuat kantung-kantung atau sentra-sentra yang sifatnya terintegrasi. Jadi, sudah tidak ada lagi daerah yang permukiman only, perkantoran only, dan lain sebagainya. Idealnya dimana orang tinggal, disitu dia bekerja. Apakah semua diatas bisa diwujudkan? Bisa! Asal pemerintah membuat satu kebijakan yang mendukung aktivitas tersebut.

Bentuk konkret apa yang bisa diterapkan untuk mewujudkan arsitektur hijau di kota besar, seperti Jakarta?
One stop living! Seperti yang banyak terjadi di superblok-superblok Jakarta, konsep one stop living inilah yang memberikan kontributor besar terhadap isu ramah lingkungan karena meminimalisasi pergerakan manusia. Saat ini merupakan saat yang tepat untuk mengembangkan one stop living karena teknologi telah berkembang pesat dan sudah berpihak pada kita. Konsep SOHO (Small Office House Office) bisa diterapkan pada sentra-sentra yang ada. Selain itu, teknologi terbaru seperti teleconference atau telehologram telah menghasilkan sebuah teroboson yang bisa membuat komunikasi lebih efisien, sehingga bisa meminimalisasikan mobilisasi manusia.

Selain konsep one stop living, desain fisik bangunan yang ramah lingkungan juga harus tetap diterapkan untuk konservasi lingkungan. Bagaimana kita meminimalisasi penggunaan AC melalui penghawaan alami. Intinya Bagaimana kita mewujudkan Reduce+Reuse+Recycle dan Reinvent.

Dari awal, seharusnya semua sudah direncanakan dengan baik sehingga cost-nya akan murah. Inilah yang kita sebut dengan arsitektur hijau. Bukan hanya di ujung proses , tapi bermula dari saat penentuan tata ruang. Pengefisiensian mobilitas orang dapat menekan emisi gas buang yang ujung-ujungnya akan mengurangi secara signifikan dampak global warming, dan setelah itu baru kita menerapkan arsitektur hijau lebih kepada bangunannya. Yang terjadi saat ini, orang lebih sering bekerja parsial dan tidak mau berkolaborasi.  Bagaimanapun juga,  arsitek, urban planner dan kalangan industri harus berkolaborasi guna menghasilkan arsitektur hijau.

Beberapa negara menerapkan sistem standardisasi green tersendiri. India mencoba menerapkan LEED dan Singapore menggunakan Green Mark. Apakah kita bisa menggunakan standardisasi green tersebut di Indonesia?
Bisa saja, tetapi kita harus mempunyai satu positioning sendiri, yakni harus mengandung local content. Karena belum tentu yang bisa diterapkan di Singapore, dapat diterapkan dengan baik di Indonesia. Kita harus mengetahui latar belakang mereka menggunakan standardisasi tersebut. Contoh, Singapore sangat terkenal dengan etos kedisplinannya (excellent execution)  sehingga mereka bisa menggunakan Green Mark sebagai standardisasi bangunan.  Kita harus cari identitas bangsa Indonesia. Kita negara kepulauan, yang mempunyai kekayaan biota laut dan darat terbesar di dunia. Kita harus membuat konsep hijau yang khas Indonesia!

Pemerintah Singapore pada tahun 2009 memberikan paket stimulus untuk sustainibilty inisiative di dunia properti? Bagaimana dengan kondisi properti Indonesia?
Saat ini pembahasan insentif masih sedang dalam proses. Bicara mengenai arsitektur hijau, tidak boleh dilepaskan dari tata ruang. Jadi bukan hanya pemda, seharusnya pemerintah dalam hal ini menteri PU, menteri kehutanan, menteri lingkungan hidup dan menteri terkait lainnya melakukan cross sectoral melalui SKB terkait tata ruang hijau. UU Tata ruang masih perlu disempurnakan karena masih banyak angle yang belum tercover, termasuk keberpihakan tata ruang yang berwawasan lingkungan seperti pemberian insentif. Disitu, penaltinya sudah ada tetapi awardnya yang belum ada. Harusnya paket nya balance, ada reward dan ada penalty. Jadi ini bisa menjadi payung untuk semua perda.

Saat ini kita sering sekali melihat pengembang-pengembang mengedepankan isu hijau sebagai marketing tools. Bagaimana Pak Hiram menyikapinya?
Menurut saya, paling tidak kita senang bahwa arsitektur hijau telah lazim digunakan sebagai tema banyak pengembang, Itu sudah bagus sekali karena artinya telah timbul kesadaran arsitektur hijau. Hanya saja, tingkat kesadarannya masih ada yang bernilai 10, ada yang bernilai 50 dan ada pula yang 90. Tinggal bagaimana kita meningkatkan yang bernilai 10 tadi menjadi di atas 90 karena tidak semua pengembang mempunyai spirit dan kemampuan yang sama utk menerapkan arsitektur hijau. Ini juga menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat mengenai arsitektur hijau sudah mulai tumbuh. Dengan masyarakat yang sudah semakin pintar, maka akan menjadi tugas dari arsitek, pengembang dan pemerintah untuk bisa lebih menerapkan arsitektur hijau.

Sebagai CEO Bakrieland, peran apa yang bapak ambil terhadap isu arsitektur hijau saat ini?
Di Bakrieland, kita memiliki program “Bakrieland Goes Green”, dimana terdapat 3 core value di dalamnya yaitu Green Architecture, Green Operation, dan Green Attitude.

Dari awal, kita sudah menghasilkan desain hijau, kemudiaan dioperasikan dengan cara yang hijau, dan ditambah dengan sikap ramah lingkungan. Karena kita bergerak di industri properti dan infrastruktur, maka semua produk properti dan infrastruktur harus ramah lingkungan. Bakrieland akan membuat jalan tol yang berbeda dengan jalan tol lainnya di Indonesia. Sepanjang tol akan menjadi daerah green belt. Jika orang bilang hutan lindung hanya ada di gunung, maka kita akan membuat another hutan lindung sepanjang jalan tol. Selain itu, kantor dan gerbang tol kita sayembarakan dengan pendekatan arsitektur hijau. Artinya arsitektur hijau akan jadi visible jika dilakukan sejak awal. Seperti tagline Bakrieland “Dream-Design-Deliver”, kalau dreamnya sudah hijau, maka design process akan hijau pula dan secara otomatis pasti delivernya juga hijau. Disinilah pentingnya peran arsitek untuk sedari awal menggugah semua orang untuk berfikir hijau dan berperilaku hijau sehingga resultnya akan hijau juga.

Bagaimana ke depannya industri properti Indonesia, terutama terkait dengan isu arsitektur hijau?
Luar biasa! Saya punya keyakinan bahwa masa depan industri properti Indonesia dan lingkungan kita menjadi jauh lebih baik dari sekarang. Ada hikmahnya industri properti baru bertumbuh pada saat ini, dibandingkan jika kita tumbuh di tahun-tahun sebelumnya. Jika tidak ada krisis moneter 1998, pertumbuhan sektor properti bisa kebablasan. Krisis moneter membuat pertumbuhan sektor properti terkoreksi, yang kemudian memaksa kita untuk kita berfikir ulang selama 6-8 tahun terakhir untuk bisa bertumbuh lebih baik. Saat ini, mindset generasi muda lebih berupaya untuk memberikan perhatian terhadap isu lingkungan karena adanya pengaruh global dari socio-media. Green attitude inilah yang menjadi modal utama pembangunan saat ini. Jadi, jika mindset-nya sudah ramah lingkungan, maka masyarakat akan berfikir dan bekerja dengan framework ramah lingkungan, dan secara otomatis hasilnya juga akan bersahabat terhadap alam. Saya yakin arsitektur hijau di indonesia akan berkembang dengan luar biasa.

Apa pesan bapak untuk masyarakat Indonesia untuk bisa menerapkan nilai green dalam kehidupan sehari-hari?
Please, hayati betul yang namanya green attitude, dan kemudian lakukan green architecture dan terapkan green operation. Ketiga hal tersebut mencakup gaya hidup yang berwawasan lingkungan. Berfikir, berjiwa hijau dan berperilakulah hijau!

(wawancara oleh Giri Narasoma Suhardi)

Giri Narasoma
Alumni arsitektur ITB angkatan 2002 yang mengenyam pendidikan magister di London, UK. Sebelumnya, sempat bekerja di salah satu biro konsultan arsitektur di Jakarta dan salah satu Bank Swasta Nasional.