Neighborhood Unit

2425 Views |  2

Dalam khazanah perencanaan kota dan pemukiman, Neighborhood Unit barangkali boleh dianggap sebagai bentuk pemukiman paling ideal. Tidak heran kalau orang mendambakan bisa tinggal di lingkungan seperti itu.

Dalam unit ini, semua rencana dilandasi prinsip human first and life priority basis. Artinya, pemukiman tersebut dikembangkan sedemikian rupa untuk menampung kegiatan hidup sehari-hari, dalam suasana yang nyaman, manusiawi, serta mementingkan hubungan komunitas antar sesama warganya. Pendek kata Neighborhood Unit adalah ruang kota bersuasana “kampung halaman” yang dibuat untuk mengembalikan social community yang sehat dalam kehidupan urban.

Bentuk fisiknya boleh bervariaisi. Satuan luasnya sekitar 100 hektar. Daya tampungnya diproyeksikan untuk 6.000 sampai 10.000 penduduk. Dalam skala yang lebih luas, satuan tadi boleh dibayangkan seperti sel-sel pemukiman yang tersebar di sekeliling kota. Masing-masing unit dipisahkan oleh infrastruktur kota maupun batas alam yang cukup jelas seperti rel kereta api, jalan raya, sungai, saluran irigasi, ladang, hutan kota, dan sebagainya.

Bentuk perumahannya didominasi oleh rumah tunggal (detached house), dilingkungi jaringan jalan dengan hierarki dan standar kualitas tertentu. Yang pasti, wilayah ini tidak ingin diganggu oleh through traffic. Dengan demikian anak-anak tidak perlu memotong jalan raya bila hendak bermain atau pergi ke sekolah. Demikian pula ibi-ibu rumah tangganya, tak perlu khawatir dengan hingar bingar lalu lintas. Selanjutnya ada fasilitas pendidikan, khususnya tingkat Sekolah Dasar, yang prinsipnya harus mampu menampung “seluruh” murid di wilayah tersebut. Lokasi SD ditempatkan sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai pusat wilayah sekaligus community center bagi warganya.

Di beberapa negara, bahkan sudah ditetapkan aturan baku agar jarak tempuh dari rumah ke sekolah tak lebih dari 1.000 meter atau kurang dari 20 menit berjalan kaki! Selain itu, tersedia pula public amenity yang berupa fasilitas komersial maupun pelayanan masyarakat, seperti pusat perbelanjaan dan pertokoan, tempat-tempat hiburan, balai pertemuan, sarana ibadah, bank, klinik, kantor pos, salon kecantikan, restoran, pompa bensin, dan sebagainya. Kemudian tersedia pula sarana umum untuk olah raga, rekreasi, dan tempat bermain bagi anak-anak. Ini bisa diwujudkan dalam bentuk open space atau taman-taman, baik yang khusus dirancang untuk anak-anak (playground) maupun untuk seluruh penghuni seperti neighborhood park; dan sebagainya.

Neighborhood Unit by Clarence Arthur Perry sumber: http://www.planning.org/pas/at60/img/141figure01.jpg

Neighborhood Unit by Clarence Arthur Perry
sumber: http://www.planning.org/pas/at60/img/141figure01.jpg

Teori Neighborhood Unit seperti yang dibayangkan di atas, muncul pertama kalinya pada tahun 1929 dari pemikiran Clarence Arthur Perry. Gagasan tersebut, walaupun sudah tua tetapi tidak pernah menjadi kuno. Dunia pun seolah sepakat bahwa itulah model pemukiman yang paling ideal. Apalagi sejak Perang Dunia II usai, dibarengi dengan adanya newtown movement, lahirlah kota-kota baru yang mengacu pada konsep Neighborhood Unit tadi dengan berbagai variant dan modifikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan lokalnya. Mulai dari Harlow di Inggris sampai Park Forest di Amerika. Dari Tapiola di Finlandia sampai Senri New Town di Jepang.

Indonesia tentu saja tidak ketinggalan!

Pemukiman lama di Kebayoran Baru – Jakarta Selatan adalah salah satu saksi yang tertua di negeri kita (waktu itu popular dengan sebutan kota-satelit). Generasi berikutnya muncul di banyak tempat dan akhirnya benar-benar mengalami boom sejak tahun 1980-an. Lihat saja “kota-kota baru” yang tumbuh menjamur di sekeliling kota besar kita. Apalagi di sekitar Jabodetabek.

Pembangunan kota baru memang telah berusaha memenuhi kebutuhan pemukiman dengan kualitas lingkungan yang lebih baik. Dalam aspek ini bolehlah kita sama-sama setuju. Tapi bagaimana dengan aspek lainnya? Profesor Djoko Sujarto, guru besar Planologi ITB, pernah mengatakan bahwa fasilitas tempat tinggal yang tumbuh menjamur itu lebih ditujukan bagi kelompok masyarakat tertentu, khususnya yang berdaya beli tinggi, daripada sebagai counter magnet untuk membelokkan tujuan migrasi ke kota besar. Pendek kata, lebih mementingkan tujuan komersialnya. Dan saya rasa pendapat beliau benar!

Penulis ingin merenungkan aspek lainnya lagi. Maksud saya, apakah perkembangannya telah mencapai social community yang sehat, seperti yang diamanatkan oleh adi cita Neighborhood Unit. Kalau kita lihat betapa tinggi dan rapatnya pagar cluster pemukiman yang membentengi perumahan, atau justru para pembantu rumah tangga lah yang lebih akrab bergaul dengan sesama tetangganya dibandingkan sang majikan, atau anak-anaknya yang masih terpencar dalam sekolah favorit masing-masing, atau…”penduduk setempat” yang cenderung terusir dan semakin terpinggirkan dalam lingkungan barunya…maka saya belum yakin bahwa community itu terbentuk. Kita hanya bisa melihat kulitnya, tapi rohnya tidak terasa.

Barangkali, inilah cermin diri kita yang sebenarnya. Gemar meniru yang serba kulit tapi sering lupa memahami maknanya.

Agus Prabowo
Dr. Agus Prabowo, yang oleh teman-temannya biasa dipanggil
Uwo, lahir di Yogyakarta tahun 1958, dan besar di Bandung. Masuk ITB tahun 1977, memilih Jurusan Arsitektur, lulus tahun 1984, kemudian bekerja sebagai birokrat karier, antara lain di BPPT, BAPPENAS, dan sekarang bertugas sebagai salah satu Deputi di LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah). Gelar doktornya diperoleh pada tahun 1996 dari Hokkaido University di Sapporo - Jepang dalam bidang Urban and Regional Planning khususnya Urban Redevelopment. Ia juga salah satu alumnus terbaik Pendidikan Lemhannas RI tahun 2007.
Di sela-sela kesibukan kerjanya, apabila ada waktu dan mood, ia menekuni salah satu hobby-nya, melukis. Sejak tahun 2002 lalu bergabung dengan ARPEL 21 yaitu kelompok “arsitek pelukis dua jiwa jadi satu” yang dimotori oleh beberapa arsitek senior lulusan ITB yang juga punya hobby melukis.