Menyoal Kebebasan, Kreativitas, dan Etika: Refleksi Kegelisahan Berpengetahuan Arsitektural di Jagat Infonaut

208 Views |  1

 

Kisah tentang sejarah pembebasan diri manusia dari belenggu pengikat selalu mampu menggugah hasrat personal penyimaknya. Isu sosial, politik, hingga lingkungan hari ini pun tampak masih mengorbit sekitar perkara kebebasan. Arsitektur sebagai salah satu cabang ilmu tak luput dari perkara tersebut. Sayangnya, pengamatan keseharian saya dalam praktek belajar-mengajar di universitas menemukan kebebasan belum menjadi topik hangat untuk dibicarakan. Tulisan ini merupakan sebuah catatan akan relasi tiga konsep penting dalam proses berpengetahuan arsitektural: kebebasan, kreativitas, dan etika. Jagat infonaut, atau alam pikir terkini karena pesatnya kemajuan teknologi informasi, akan digunakan sebagai konteks dan arah penjelajahan tiga konsep tadi.

 

Ilmu Pengetahuan dan Pembebasan

Memburu pengetahuan merupakan salah satu cara bertahan hidup paling mendasar. Dalam perkembangan peradaban manusia, aktivitas itu mulai disistemasi dengan serangkaian langkah dan jalan ilmiah yang memungkinkan tiap orang menelusuri proses berpengetahuan itu.

Apabila dilihat dari cara mengajarkan pengetahuan, ada tiga cara yang dapat dilakukan: pedagogik, mathetics, dan didaktik. Satu dekade lalu, Gunawan Tjahjono (2009) pernah menjelaskan karakter dan pola dari masing-masing teknik. Pedagogik berasal dari “paidagogeo” ,bahasa Yunani Kuno, yang bermakna aktivitas membimbing, mengawal, mengawasi seorang anak laki-laki yang sedang ditempa mental dan perilakunya menjadi beradab. Mereka yang menempa merupakan tokoh-tokoh bijak berpengetahuan dan berketerampilan sebagai pemberi petunjuk. Sementara pengawasnya disebut “paidagagos,” yang merupakan para budak dari orangtua sang anak.

Cara didaktik lebih menekankan ke pengajaran. Didaktik berasal dari kata Yunani “didaskein” yang berarti mengajar. Pendekatan didaktik memakai serangkaian aturan main yang teruji dan lebih bersifat pelatihan untuk menguasai keterampilan tertentu. Dalam pendidikan arsitektur, kita menemukan contoh pendekatan ini saat mahasiswa berlatih melalui proses mimesis tipe formal bangunan tertentu, atau saat mereka membuat gambar kerja dari berbagai karya arsitektur. Kreativitas bukan menjadi tantangan dalam berpengetahuan didaktik.

Berpengetahuan secara mathetics menitikberatkan pada proses pembelajaran yang berasal dari istilah Yunani Kuno manthanaen, atau belajar. Mathetics menempatkan pengajar dan pembelajar pada posisi setara selama penggalian pengetahuan. Mathetics lebih bersifat dialektik dan membangun kepekaan pembelajar akan gejala di sekitarnya. Pendekatan ini menjadikan pengalaman pembelajar sebagai sumber pengetahuan yang dianggap membekas. Dari ketiga pendekatan berpengetahuan tadi, mathetics adalah cara yang menuntut pembebasan alam pikir pembelajar.

Di dalam universitas, calon arsitek tak hanya dituntut memiliki keterampilan menggambar dan membangun, tapi juga berimajinasi. Untuk dapat merespon tantangan alami dari proses perancangan, pembelajar harus dapat mengisi diri dengan berbagai pengetahuan yang bahkan berasal dari rumpun ilmu lain. Pada situasi keterdesakan, mereka perlu paham bahwa masalah yang dihadapinya punya konsekuensi serius, sehingga ia perlu sadar saat bertindak selama merancang.

Kesadaran ini tak dapat terjadi saat pembelajar terhalangi ketika memikirkan kemungkinan yang memiliki dampak lingkungan paling minim. Meski situasi perancangan di universitas bersifat simulasi, pembelajar tak dapat mengelak dari tanggung jawab dampak rancangannya. Manusia dan unsur lingkungan hidup lain dengan segala kompleksitasnya harus dipertimbangkan sebagai penerima konsekuensi rancangan.

0072f557ae0d93075ba04f122d61aaa6

Karikatur yang Menggambarkan Socrates dan Metode Berpengetahuan Dialektik Mathetics. Sumber: Jon Kudelka, 2011

 

Dengan demikian praktek berpengetahuan, termasuk di dalam arsitektur, adalah sebuah praktek pembebasan diri. Pembelajar perlu memupuk mental merdeka untuk sadar soal tanggung jawab moral dan tujuan aksinya. Dengan berempati pada manusia dan sekitarnya, pembelajar akan terpicu untuk mencari solusi jitu dan mutakhir lewat lompatan imajinasi.

Pembelajar yang merdeka juga akan terbuka untuk mengkritisi diri dan mencari kekeliruan dari gagasan dan tindakannya. Sikap ini mencegah pembelajar berputar di lingkaran yang sama, dan terus-menerus menggali untuk menjadi semakin manusiawi. Penggalian pengetahuan yang didasarkan pada kebebasan berpikir, berpendapat, dan tanggung jawab moral, juga akan mengenalkan pembelajar ke konsep etika seorang perancang.

 

Kontradiksi Melahirkan Progres

Seorang filsuf Amerika, Eric Hoffer punya kutipan populer: “the beginning of thought is in disagreement, not only with others but also with ourselves” (Hoffer, 1955). Saya mengartikan istilah disagreement-nya Hoffer sebagai state of chaos yang mengandung kontradiksi mengakar.

Kontradiksi pribadi ini yang mendorong para budak di masanya menjadi generasi penggerak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Francis Fukuyama (1992), seorang ilmuwan politik Amerika, pernah menguraikan bahwa para budak pernah kehilangan martabat kebebasannya, dan bahkan menggadaikannya untuk ditukar dengan kesempatan hidup. Para majikan disegani bukan hanya karena kekayaan atau kekuasaan, tapi juga keberanian mengorbankan hidup demi kemenangan di medan perang. Fukuyama menyebut pilihan para majikan sebagai bentuk pembebasan dari ikatan hasrat biologis atau natural manusia.

Pada masa itu, para budak mulai membangun gagasan kemerdekaan melalui pekerjaan keseharian. Jika awalnya budak bekerja karena perintah majikan, berikutnya mereka mulai sadar untuk bekerja atas keinginan sendiri. Sikap ini melahirkan dorongan untuk bekerja semakin baik dari hari ke hari. Bekerja untuk kemajuan menjadi sikap baru budak yang justru melahirkan esensi akan etika bekerja. Mereka terus menghidupkan imajinasi tentang kebebasan di dalam pikiran, meski nyatanya mereka tetap budak. Konsep kebebasan para budak dianggap Fukuyama sangat filosofis dan menunjukkan kesadaran pribadi budak telah jauh melampaui kesadaran majikan. Chaos soal kebebasan dalam pribadi budak itulah yang menggerakkan banyak kemajuan.

Selama bekerja untuk majikannya, kelompok budak bersentuhan langsung dengan alat-alat. Lekatnya pengetahuan terhadap cara kerja sebuah alat memungkinkan para budak melakukan perbaikan terhadap alat tersebut dan berbuah kemajuan teknologi. Jamaika dan industri gula masa lalunya dapat menjadi salah satu gambaran. Seorang sejarawan Jamaika, Veront Satchell mencatat selama masa penjajahan Inggris, Jamaika dikenal sebagai pengekspor gula kelas dunia. Industri gula Jamaika sangat bergantung pada pekerjaan penduduk asli Jamaika berstatus budak Inggris di perkebunan maupun pabrik. Dari 49 paten inovasi teknologi yang didaftarkan sepanjang pertengahan abad 18 hingga awal abad 19, 34 di antaranya merupakan paten di bidang industri gula dan diinisiasi oleh para pengrajin kulit hitam di pabrik, bukan oleh para ilmuwan di laboratorium (Satchell, 2010).

Jauh mendahului Fukuyama, Immanuel Kant dan Hegel, filsuf metafisik dari abad 18 dan 19, memandang esensi kemanusiaan adalah kebebasan memilih. Sedangkan martabat manusia terletak pada kemampuan memilah yang baik dan buruk, serta hadirnya hasrat untuk berlomba-lomba mengejar nilai yang baik selama hidup.

Mereka yang menjadi garda depan gerakan pencerahan ilmu pengetahuan adalah mereka yang menanggapi kegelisahan dan tidak menghindari chaos, atau dalam bahasa pedagogik, menyempurnakan pengetahuan sampai taraf mathetics. Mereka bukan manusia yang menyamankan diri secara ekonomis semata dan mencintai situasi stabil tanpa masalah. Dalam diri para pencerah, chaos dan kontradiksi menemukan jalan keluar lewat kreativitas dan imajinasi. Kreativitas menjadi kunci munculnya solusi menanggapi masalah nyata dalam masyarakat.

Salah satu tujuan dibentuknya institusi pendidikan adalah memberi kesempatan para pembelajar untuk memerdekakan diri dari berbagai prasangka. Sehingga mereka bisa secara sadar menemukan dan mengejar tujuan pribadi, sembari mempertimbangkan berbagai konsekuensi tujuan itu. Dengan kata lain, setiap pembelajar didukung untuk mengalami pencerahan bagi dirinya dalam atmosfer kebebasan.

Sekumpulan pembelajar yang bebas berpengetahuan dalam institusi akan dapat saling mengkritisi dan mengapresiasi demi tercapainya nilai luhur bagi banyak pihak. Bentuk berpengetahuan seperti ini akan melahirkan pembelajar-pembelajar yang tak hanya mengejar keuntungan pribadi, tapi juga bermanfaat bagi sekitarnya.

Para pembelajar arsitektur perlu berani keluar dari jeratan oportunistik maupun borjuis dalam berpengetahuan. Karya mereka semestinya tak hanya sekedar menjadi tanda pencapaian pribadi, melainkan juga bisa berkontribusi bagi banyak masalah spasial dan lingkungan hidup hari ini yang sangat butuh gagasan segar, atau bahkan radikal.

 

Kebebasan Berkreativitas Menumbuhkan Pembelajar Beretika

Kebebasan berpengetahuan merupakan syarat lahirnya kreativitas. Untuk membahas cara kerja kreativitas ini saya meminjam elaborasi seorang pendidik arsitektur, David Hutama (2009). Dengan meminjam gagasan Aristoteles, Hutama menjelaskan dua jenis pengetahuan, yakni episteme dan techne sebagai konteks lahirnya kreativitas. Episteme mengarah pada imajinasi dan abstraksi, sementara techne mengarah pada keterampilan penggunaan berbagai alat dan material. Episteme dan techne sama-sama membutuhkan kepekaan pembelajar dalam prakteknya. Pengetahuan episteme lekat dengan pengalaman inderawi pembelajar terhadap gejala di sekitar serta mendorong perancang menumbuhkan kesadaran dalam menentukan tindakan. Kesadaran ini penting karena menyangkut suatu situasi konteks yang hidup dan tak tertukar.

Penjelasan Hutama penting disimak mengingat kemajuan teknologi informasi hari ini. Pembelajar arsitektur telah memiliki akses tak terbatas akan alat dan media untuk melatih pengetahuan episteme dan techne secara informal dan mandiri di luar perkuliahan. Namun, tak sedikit pula pembelajar yang justru kehilangan kebebasan dalam berkreativitas karena kenyamanan dari bantuan berbagai alat tadi. Sekarang, pembelajar dengan mudah mendapat informasi tentang karya arsitektur, maupun ratusan kajian arsitektural yang dipublikasi bebas lewat internet.

Andi Sandbergs (2009), peneliti futuris Swedia, menggambarkan arketipe keruangan manusia hari ini dalam rupa diagram jaringan dan menyebutnya jagat para infonaut. Infonaut sendiri adalah istilah yang muncul pada 1985 untuk menggambarkan generasi yang mengalami kemajuan dari revolusi teknologi komputer dan sangat mengandalkan pertukaran informasi berbasis internet. Lebih lanjut Sandbergs menjelaskan operasi peradaban kita dalam beberapa karakteristik, di antaranya kesatuan masyarakat global dengan komunikasi tanpa batas, operasi ekonomi berbasis pertukaran informasi, pencapaian tertinggi dalam bidang ilmu komputer, dan penguasaan media yang mempengaruhi seluruh penyelenggaraan kehidupan. Poin terakhir juga menyebabkan adanya ekses informasi yang disertai meningkatnya kedangkalan konten informasi, serta ruang sosial yang makin berperan peranan penting.

Social_Network_Diagram_(large)

Diagram Arketipe Spasial “Jaringan” di Era Para Infonaut Sumber: Anders Sandbergs, 2009

 

Jagat infonauts membuka potensi besar bagi pengembangan imajinasi pembelajar. Namun apabila mental kebebasan tak dipelihara, pembelajar akan mudah menyamankan diri dan menjauhkan diri dari chaos yang diperlukannya untuk berkreasi. Salah satunya saat alat bantu, seperti program komputer, mengambil alih sebagian besar proses berpengetahuan pembelajar. Mereka jadi mengandalkan alat dan tak mengembangkan kemandiriannya. Pada situasi inilah, pembelajar kehilangan kemerdekaannya dalam berpengetahuan. Tanpa kehadiran alat dan media bantuan, pembelajar merasa tersesat. Selain itu, saat pembelajar memanfaatkan ekses informasi dari internet tanpa mengkritisi informasi tersebut, maka ia akan jatuh pada pengetahuan yang tak berakar.

Kemajuan teknologi informasi perlu disikapi dengan mental kebebasan yang kritis. Daya kritis ini mampu menuntun pembelajar untuk menemukan celah akan peran untuk sekitarnya. Misalnya saja, meski masalah kerusakan lingkungan telah menjadi isu kemanusiaan paling mengkhawatirkan, mayoritas mahasiswa arsitektur yang saya temui belum menjadikannya keresahan mendasar dalam proyek studio mereka. Keberlanjutan masih dianggap sebagai pilihan gagasan. Padahal itu keharusan dan tanggungan sebuah karya arsitektur untuk tak memperparah krisis ekologis. Kesadaran, kebebasan, dan sikap kritis membuat karya pembelajar arsitektur mengusung misi krusial. Di sanalah etika seorang perancang terus terpupuk.

 

Peran Pembelajar yang Bebas, Kreatif, dan Etis di Jagat Infonauts

Saat masih menjadi mahasiswa arsitektur, saya melatih kebebasan berkreativitas dengan mengikuti sayembara. Saat itu saya justru memilih tidak dimentori dosen untuk menguji jauhnya pengetahuan arsitektural saya dalam menyelesaian perkara. Ketika saya menjadi pendidik arsitektur, saya sering diminta sekelompok mahasiswa membimbing mereka dalam kompetisi desain. Di dalam proses, saya berusaha tidak banyak memberi arah. Saat mahasiswa terlihat kurang terbantu karena saya tak menyelamatkan mereka dari chaos, dan tidak pernah memberi petunjuk untuk menyelesaikan desain, saya sebenarnya berusaha melatih kebangkitan jiwa bebas mereka lewat pendekatan mathetics.

Pertanyaan selanjutnya: jika sudah melatih kebebasan, lalu menjadi kreatif dan memupuk etika, apa seorang pembelajar mampu memberi peran nyata dalam konteks era infonauts?

Salah satu paparan Chantal Mouffe (2017), teoris politik Belgia, bisa memberi pencerahan. Mouffe melihat gejala pergeseran mekanisme public control yang sebelumnya dilancarkan melalui institusi pendisiplin seperti sekolah atau korporasi, telah digantikan peran jaringan informasi dan telekomunikasi. Situasi ini mendorong perubahan signifikan bagi kebebasan berpendapat dan pembentukan identitas personal seseorang. Jejaring komunikasi tanpa batas ini pun membuka potensi baru dalam pembentukan relasi sosial yang lebih independen.

Pembelajar arsitektur dapat memiliki arena penyebaran dan pertukaran gagasan yang langsung terkoneksi dengan masyarakat luas, termasuk mereka yang menghidupi konteks perancangan si pembelajar. Ia dapat memanfaatkan berbagai platform sosial media, situs web, atau blog. Di dalamnya pembelajar akan berproses kreatif secara terbuka, dan tidak steril sekedar di dalam studio.

Manfredo Tafuri (1969), kritikus arsitektur Itali, juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi informasi akan menempatkan imajinasi sebagai pemegang kuasa terkuat. Di dalamnya, imajinasi kreatif seseorang akan menginisiasi terbentuknya kesadaran global untuk mengarah pada pemerdekaan kolektif dan penciptaan gelombang perbaikan secara masif.

Pembelajar arsitektur perlu memanfaatkan masa-masa emas berpengetahuannya untuk memberi kontribusi aktif dan nyata. Melalui kolaborasi karya-karya dan potensi jaringan informasi, pembelajar arsitektur tak hanya menghasilkan pengetahuan melainkan beraksi menyebarkan manfaat pengetahuannya. Dengan kata lain, kemajuan teknologi bukan memberi penjara baru yang membuat pembelajar terlena oleh kemudahan yang menjauhkan mereka dari kreativitas. Sebaliknya, pembelajar arsitektur di jagat infonauts harus menjadi semakin merdeka dalam berpengetahuan dan berkarya agar dapat terus mendesak pencerahan.

Klara Puspa
Klara Puspa Indrawati dilahirkan di Tanjungpandan, Belitung pada tahun 1990. Pendidikan sarjana arsitektur diselesaikannya pada tahun 2012 di Universitas Indonesia. Setahun setelahnya, melalui Beasiswa Fastrack, ia memperoleh gelar magister arsitektur dalam kekhususan teori dan metode perancangan dari universitas yang sama. Sejak tahun 2013, Ia pernah menjadi pengajar arsitektur di UI, Untar dan UPJ. Saat ini ia aktif mengembangkan riset arsitekturalnya dan menulis untuk berbagai publikasi serta konferensi arsitektur lokal maupun internasional.