Menuju Jakarta Hemat Energi dan Bebas Emisi

2684 Views |  Like

Kalau anda punya hobi bersepeda minggu pagi di Jakarta, udaranya nyaman sekali. Cobalah anda kayuh sepeda anda di sepanjang jalan Thamrin Sudirman sampai ke taman Monas, terasa udara yang nyaman, bersih dari polusi. Tidaklah heran apabila setiap minggu pagi, ramai orang “gowes” disepanjang jalan ini, ada yang bersepeda onthel, bersepeda lipat, sepeda mini, sepeda gunung, sampai yang jogging…nyaman dan menyenangkan. Belum lagi ada saja perusahaan atau organisasi yang membuat acara bersepeda santai atau “fun bike” sekalian berpromosi. Para pejabat pun ramai ramai turun bersepeda, ingin meyakinkan masyarakat bahwa merekapun peduli akan udara Jakarta yang bersih dari polusi. Berbagai macam merek sepeda dapat dilihat di jalanan, mulai dari yang berharga satu juta sampai dengan puluhan juta rupiah. Jadilah jalan Thamrin-Sudirman menjadi ajang pamer orang orang snob yang sesungguhnya bukan pencinta olahraga sepeda.

Jakarta Hemat Energi dan Bebas Emisi

Akan tetapi, kondisi nyaman dan menyenangkan ini tidaklah berlangsung lama. Pada hari senin sampai dengan sabtu sepanjang minggu, jalan Thamrin Sudirman adalah jalan terpadat di Jakarta, dilalui oleh berbagai jenis kendaraan bermotor yang mengeluarkan emisi gas CO2, CH4 dan gas lainnya yang mengotori udara Jakarta dan menyumbangkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK), salah satu yang tertinggi di dunia. Malah pernah ada seorang pejabat tinggi di pemprov DKI yang menyatakan bahwa kualitas udara di Jakarta adalah nomor 3 terburuk di dunia setelah Mexico City dan Bangkok. Akan tetapi pernyataan ini setelah dicek ke berbagai sumber di internet tidaklah terlalu akurat. Barangkali cukup dikatakan bahwa kualitas udara di Jakarta adalah salah satu yang terburuk di dunia.

Pemanasan Global

Pemanasan global yang ditimbulkan oleh efek rumah kaca merupakan fenomena alam yang hangat dibicarakan belakangan ini. Upaya mengurangi emisi gas rumah kaca menjadi salah satu upaya yang mendapat perhatian besar dalam pengelolaan lingkungan di seluruh dunia. Efek rumah kaca akan menyebabkan energi dari sinar matahari tidak dapat terpantul keluar bumi. Pada keadaan normal, energi  matahari yang diabsorbsi bumi akan dipantulkan kembali dalam bentuk infra merah oleh awan dan permukaan bumi. Namun karena adanya gas rumah kaca, sebagian besar sinar infra merah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas-gas rumah kaca untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Akibatnya terjadi peningkatan suhu di permukaan bumi yang menyebabkan pemanasan global. Beberapa penelitian mengenai perubahan iklim akhir-akhir ini menunjukkan bahwa aktivitas manusia ternyata memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap kenaikan temperatur di muka bumi selama setengah abad terakhir.

Gas-gas utama yang dikategorikan sebagai Gas Rumah Kaca adalah gas CO2 dan CH4, yang sangat berpotensi menyebabkan pemanasan global. Meskipun CO2 dan CH4 secara alami terdapat di atmosfer, namun intensitas industrialiasi pada abad terakhir menyebabkan gas-gas tersebut mengalami peningkatan jumlah yang pesat secara global. Menurut penelitian, kontribusi gas CO2 terhadap total gas rumah kaca adalah sebesar 50%, sementara CH4 memiliki persentase sebesar 20%. Pembakaran bahan bakar minyak merupakan sumber utama emisi gas rumah kaca, diikuti kemudian oleh penggunaan biomassa dari kayu bakar, limbah pertanian, dan gas bumi . Dari pembakaran bahan bakar tersebut, sektor transportasi merupakan penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di urutan kedua setelah sektor listrik. Efek dari keberadaan gas rumah kaca kini telah dapat dirasakan tidak saja di kota-kota metropolitan, akan tetapi juga dirasakan di kota-kota lainnya di dunia, termasuk di Jakarta. Beberapa tahun terakhir ini, suhu udara di Jakarta terasa semakin panas.  Peningkatan temperatur bumi ini menyebabkan efek lanjutan seperti mencairnya es di kutub, kenaikan muka air laut, menggangu pergantian musim yang berdampak pada sektor pertanian dan secara tidak langsung akhirnya berdampak pada ekonomi suatu negara.

Jakarta saat ini menjadi salah satu kota besar dengan tingkat polusi udara terburuk di dunia. Lingkungan hidup menjadi permasalahan serius di Jakarta. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup di Jakarta merupakan tindakan yang harus segera diupayakan, untuk itu harus ada kerjasama dengan warga Jakarta untuk mengurangi polusi udara. Buruknya kualitas udara di Jakarta, sebagian besar disebabkan oleh emisi gas CO2 yang berasal dari kendaraan bermotor. Sektor transportasi memberikan kontribusi hampir 50% emisi gas CO2 yang ada di Jakarta ini. Sebuah angka yang cukup tinggi, bila kita bandingkan dengan kota-kota besar di dunia lainnya, sumbangan emisi gas rumah kaca dari transportasi tidaklah sampai setinggi itu. Hal ini disebabkan sangat tingginya jumlah kendaraan bermotor di Jakarta, sebagian besar adalah kendaraan roda dua dan roda empat pribadi. Angkutan massal di Jakarta belum seefisien di kota kota besar lainnya seperti di Singapura yang sudah memiliki subway, Kuala Lumpur yang sudah memiliki angkutan umum massal monorail (LRT), demikian juga halnya dengan Bangkok.

Strategi Menghadapi Pemanasan Global

Banyak cara yang dapat dilakukan kota-kota besar untuk menghadapi fenomena pemanasan global ini. Berbagai seminar, loka karya, penelitian, dan studi mengenai dampak gas rumah kaca dan pemanasan global telah dilakukan dan terus berlangsung hingga saat ini. Bank dunia telah mencanangkan inisiatif eco2 city, sebagai bagian dari World Bank Urban and Local Government Strategy, kegiatan yang tujuannya membantu kota-kota besar di Negara berkembang untuk mencapai keseimbangan ekologi dan ekonomi secara berkelanjutan. Urbanisasi di Negara berkembang menjadi sebuah fenomena yang tak terjadi sebelumnya. Lebih dari setengah penduduk dunia akan bermukim di kawasan perkotaan, angka ini akan lebih besar lagi di Negara berkembang. Bila kita ingin mempertahankan eksistensi kota-kota besar ini serta menjadikannya sebagai  kota tempat bermukim dan berkerja yang layak dan nyaman, maka paradigma perencanaan dan pengelolaan kota sudah waktunya untuk bergeser. Kota-kota besar sudah harus memikirkan bagaimana caranya untuk tetap menyediakan harapan dan lapangan pekerjaan bagi penghuninya, mengurangi dampak kemiskinan perkotaan, dan secara bersamaan juga melakukan kegiatan mitigasi untuk mengantisipasi dampak negatif urbanisasi dan perkembangan kota yang tidak terkontrol tersebut.

Kota-kota yang inovatif di Negara berkembang maupun di Negara maju menunjukkan bahwa dengan menggunakan strategi yang tepat, mereka dapat memanfaatkan sumber daya yang ada secara lebih efisien – sumber daya yang semakin langka dan sebagian besar tidak dapat terbarukan – dan menggantikannya dengan sumber daya yang dapat terbarukan, sekaligus juga mengurangi polusi dan sampah yang dihasilkan oleh kegiatan tersebut. Cara yang lebih efisien ini, meningkatkan kualitas hidup penghuni kotanya, memperkuat daya saing perekonomian kotanya, meningkatkan kapasitas fiskal kotanya, serta menciptakan budaya berkelanjutan (culture of sustainability). Banyak pula program dan kegiatan yang diciptakan kota-kota kreatif ini menguntungkan serta memihak kepada penduduk miskin perkotaan. Program dan kegiatan seperti inilah yang hendak ditularkan oleh kota-kota besar di Negara maju dan Negara berkembang kepada kota-kota besar lainnya ,melalui inisiatip eco2city World Bank, dan program-program lainnya dari lembaga-lembaga dunia seperti UN Habitat, C40, Clinton Climate Initiative dll.

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk menghadiri seminar dan lokakarya internasional Climate Dialog yang diprakarsai bersama oleh C40, Clinton Climate Initiative (CCI), dan Pemerintah Kota Hong Kong  Special Administration Region (SAR). Lokakarya ini membahas dampak pemanasan global serta berbagai pengalaman kota-kota besar di dunia, utamanya para anggota C40 dalam mewujudkan visi kota bebas karbon (Low Carbon Cities for High Quality Living). Berbagai kota besar di Negara berkembang dan Negara maju saling berbagi pengalaman dalam mengatasi dan mengantisipasi dampak pemanasan global dan emisi gas rumah kaca yang saat ini sedang mewabah di segala penjuru dunia. Dari berbagai paparan yang disampaikan oleh kota-kota ini, paparan kota Hong Kong menarik perhatian saya karena pengalaman serta contoh-contoh yang diberikan sangat relevan dengan keadaan yang kita hadapi di Jakarta saat ini. Pengalaman mereka sangat menarik untuk dipelajari dan dicontoh oleh DKI Jakarta.

Hong Kong: Membangun kota hemat energi

Hong Kong adalah kota dagang dan pusat keuangan dan perekonomian di Asia Timur dan dunia. Daya tariknya serta lokasinya yang strategis berdampingan dengan Negara berpenduduk terbesar di dunia, Republik Rakyat Tiongkok, mengakibatkan kota ini menjadi tujuan para pencari kerja. Tingkat urbanisasi di kota ini adalah salah satu yang tertinggi di dunia. Akibatnya, masalah pasokan rumah tinggal, kepadatan bangunan tinggi, transportasi, kemacetan lalu lintas, banjir dan poluisi udara, adalah sebagian masalah yang dihadapi kota ini. Sama dengan Jakarta, Hongkong juga dihantui masalah banjir dan emisi gas rumah kaca yang semakin tahun semakin parah. Menurut Donald Tsang, Chief Executive Hong Kong Special Administration Region (SAR), kota-kota besar seperti Hongkong yang dipadati bangunan tinggi,  mengeluarkan 70% emisi gas rumah kaca yang dipancarkan di bumi ini. Hal ini disebabkan karena bangunan adalah pengguna energi terbesar, yang digunakan untuk pemanas, ventilasi, pendingin udara (HVAC), alat pengangkutan dalam gedung seperti lift dan escalator, dan penerangan buatan. Sebagian energi yang digunakan berasal dari listrik yang juga diproduksi menggunakan sumber energi fossil yang tidak terbarukan.

Hong Kong dipagi hari yang cerah diselimuti oleh SMOG, kabut polusi akibat emisi gas rumah kaca.

Karena pasokan lahan yang semakin terbatas, urbanisasi yang tak terbendung serta peran ekonominya yang dominan, pertumbuhan  Hong Kong semakin tak dapat dibendung. Hong Kong dibangun diatas tanah karang yang berbukit bukit, yang pasokan lahannya semakin langka saja. Akibatnya Hong Kong SAR dan pengembang swasta mengalihkan perhatian mereka ke laut yang masih terbuka, membangun kawasan permukiman dan perdagangan di atas tanah reklamasi. Lebih dari 7 juta penduduk bermukim diatas lahan reklamasi dan areal sepanjang pesisir pantai Hong Kong. Akibatnya keseimbangan ekologi di Hong Kong terganggu, siklus hidrologi terganggu, sehingga pada saat hujan besar dan badai terjadi – hal yang semakin sering terjadi di Hong Kong – banjir besar tak terhindari melanda kawasan ini. Fenomena yang tidak asing bagi kita penghuni Jakarta. Perencana kota Hong Kong mencari penyelesaian masalah banjir dengan solusi teknis seperti melebarkan sungai Shenzhen dan Kam Tin yang mengalir di teritori baru dan membangun pembuangan air limbah bawah tanah. Akibatnya sekarang ini hampir mustahil mendapatkan aliran sungai yang alami di Hong Kong, hampir semua sungai dan anak sungai diubah menjadi kanal-kanal buatan yang mengancam ekologi kawasan rawa-rawa, merusak habitat burung-burung , dan memunahkan beberapa spesis ikan langka.

Masalah siklus hidrologi yang terganggu, banjir, kemacetan lalu lintas, pemborosan energi fossil yang tidak terbarukan, akhirnya berujung ke perubahan iklim dan pemanasan global. Kota-kota besar di dunia, cepat atau lambat akan mengalami permasalahan ini, yang kalau tidak segera diintervensi akan menghancurkan kota–kota tersebut.  Celakanya lagi permasalahan ini justru lebih banyak terjadi di kota-kota besar di Negara berekembang, yang secara faktual sangat rendah daya saing kotanya, minim potensinya, dan rendah kapasitas SDM pengelola kotanya. Beruntung sekali Hong Kong memiliki SDM pengelola kota yang inovatif, kreatif dan berkualitas. Disamping memanfaatkan kedekatan fisiknya dengan main land China, sehingga masalah kelangkaan pasokan tanah untuk pembangunan perumahan sebagian dapat diatasi, Hong Kong juga banyak memanfaatkan kemajuan teknologi serta potensi ekonomi masyarakat. Khusus untuk mengatasi masalah pemanasan global dan emisi gas rumah kaca, sebagaimana dinyatakan dalam penelitian sebelumnya, polusi di Hong Kong sebagian besar berasal dari emisi gas CO2 dan CH4 (metana) dan CFC yang berasal dari bangunan. Sektor transportasi tidak terlalu besar kontribusi emisi gas rumah kacanya disebabkan system transportasi massal di Hong Kong ini sudah berjalan dengan baik. Sebagian besar penduduk Hong Kong melakukan aktivitas perjalanan sehari-hari menggunakan jasa transportasi umum.

Ada dua kebijakan berkaitan dengan pemanasan global dan emisi gas rumah kaca yang telah dan akan dilakukan oleh pemerintah kota Hong Kong (SAR), yaitu program retrofitting bangunan; dan sosialisasi dan menggalakkan penggunaan kendaraan bermotor yang menggunakan tenaga listrik. Retrofitting bangunan untuk bangunan lama merupakan beban yang cukup memberatkan bagi pemilik bangunan. Semakin tua bangunan akan semakin tidak efisien penggunaan energi yang dimanfaatkan untuk HVAC, penerangan, lift, escalator dsb. Adalah menjadi tugas pemerintah kota untuk memberikan insentif kepada para pemilik bangunan untuk mau berpartisipasi dalam program retrofitting bangunan ini. Tidak selesai sampai disini, pemerintah kota juga mengajak swasta dan lembaga keuangan untuk berpartisipasi dan membantu pemilik bangunan agar dapat membiayai proyek retrofitting bangunannya. Berbagai skema kerjasama dan bantuan ditawarkan, sehingga menarik bagi pemilik bangunan untuk berpartisipasi.

Tram listrik adalah angkutan umum yang sangat nyaman digunakan bagi penduduk Hong

Kebijakan selanjutnya adalah menekan sebanyak mungkin penggunaan bahan bakar fossil yang tak terbarukan serendah mungkin. Mobil-mobil pribadi dan angkutan umum diupayakan agar sedapat mungkin sudah menggunakan energi listrik. Untuk mempersiapkan ini, pemerintah kota Hong Kong sudah memikirkan penyediaan stasiun pengisian ulang listrik. Produsen mobil seperti Toyota, Nissan, Mercedes dsb, sudah mulai memperkenalkan mobil-mobil produksi terbarunya yang menggunakan bahan bakar hybrid ataupun listrik. Walaupun produksi saat ini masih boleh dikatakan sangat rendah, akan tetapi ramalan 5 sampai 10 tahun mendatang cukup menjanjikan, sementara itu harga mobil listrik juga akan semakin terjangkau. Kendaraan angkutan umum sudah mulai menggunakan listrik, bus-bus listrik sudah mulai diproduksi, bahkan produsen mobil Korea juga sudah memproduksi bus listrik yang direncanakan sudah operasionasl akhir tahun ini di Seoul.

Disamping dua kebijakan berkaitan dengan retrofitting bangunan lama dan baru, serta penggunaan kendaraan listrik, Hong Kong juga sudah memikirkan untuk memproduksi energi  listrik yang ramah lingkungan, artinya listrik yang dikonsumsi di Hong Kong sudah diproduksi dalam proses yang ramah lingkungan dan tidak mengeluarkan emisi gas rumah kaca. Listrik di Hong Kong tidak lagi diproduksi dari bahan baku tradisional seperti batu bara, diesel, atau gas bumi. Akan tetapi diproduksi menggunakan proses ramah lingkungan yang berasal dari tenaga air atau tenaga nuklir. Walaupun penggunaan bahan baku nuklir ini masih menimbulkan pro dan kontra, akan tetapi sudah jelas bahwa pemerintah kota Hong Kong SAR sudah berkomitmen untuk menggunkan energi yang dihasilkan dari produksi yang ramah lingkungan dan tidak mengeluarkan emisi gas rumah kaca.

Untuk lebih merangsang penduduk Hong Kong agar menggunakan kendaraan angkutan  umum, MTR, maskapai yang menyediakan layanan angkutan transit massal juga berupaya untuk menyediakan fasilitas kebutuhan hidup lainnya yang dapat memberikan kenyamanan maksimal kepada pengguna jasa MTR. Stasiun MTR dibuat senyaman mungkin dan dilengkapi dengan berbagai kenyamanan yang membuat penumpang betah dan tidak perlu berjalan jauh untuk mencari kebutuhan sehari-hari. Disamping itu MTR sendiri juga terus menerus mencari terobosan untuk menutup biaya operasional, dengan cara mengembangkan stasiun menjadi kawasan multi peruntukan yang dikerjasamakan dengan pengembang swasta.  Manajemen asset dan fasilitas stasiun MTR menjadi aspek penting yang digunakan untuk memberikan keuntungan finansial kepada perusahaan dengan cara mengoptimalkan pemanfaatannya.

Pedestrian di Hong Kong juga sangat dimanjakan, koridor pejalan kaki dibuat nyaman, beratap dan menghubungkan antara bangunan satu dengan yang lain, menyatu dengan jembatan penyebrangan yang dibuat di atas jalan maupun di bawah tanah. Berjalan kaki di Hong Kong menjadi sebuah pengalaman yang menyenangkan, menyehatkan dan jauh dari kekuatiran akan ditabrak mobil atau kendaraan bermotor lainnya. Fasilitas yang sama juga diberikan bagi pengendara sepeda. Adalah pemandangan yang lumrah dijumpai di Hong Kong, masyarakat berolah raga Tai Chi di koridor-koridor pedestrian yang menghubungkan gedung satu dengan yang lain. Kadang-kadang koridor pedestrian ini juga dilengkapi dengan ban berjalan.

Jembatan penyebrangan di Hong Kong menghubungkan gedung satu dengan lainnya, sangat nyaman bagi pejalan kaki

Jakarta: Menuju kota hemat energi dan rendah emisi

Menurut data dari hasil kajian BPLHD Jakarta (Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah), penyebab paling signifikan dari polusi udara dan emisi GRK di Jakarta adalah kendaraan bermotor yang menyumbang andil sebesar  46,5%, sektor energi (pembangkit listrik dsb) sebesar 35%, sektor rumah tangga menyumbang sekitar 3,5%, sektor industri sebesar 8,4% dan dari persampahan sebanyak 6,6%.  Kenyataan ini menunjukkan bahwa  transportasi adalah penyumbang terbesar buruknya kualitas udara di Jakarta. Hal ini berkorelasi langsung dengan perbandingan antara jumlah kendaraan bermotor, jumlah penduduk dan luas wilayah DKI Jakarta. Menurut data dari Kepolisian, jumlah kendaraan bermotor yang terdaftar di DKI Jakarta (tidak termasuk kendaraan milik TNI dan Polri) pada bulan Juni 2009 adalah 9.993.867 kendaraan, sedangkan jumlah penduduk DKI Jakarta pada bulan Maret 2009 adalah 8.513.385 jiwa. Perbandingan data tersebut menunjukkan bahwa jumlah kendaraan bermotor di DKI Jakarta melebihi jumlah penduduknya. Disamping itu tingkat pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Jakarta sangat tinggi, mencapai 10,9% pertahunnya. Pertumbuhan yang sangat tinggi ini tidak diimbangi dengan pertambahan prasarana jalan, akibatnya kemacetan di jalan-jalan di Jakarta akan semakin parah setiap tahunnya. Kemacetan di jalan-jalan tersebut seyogyanya dapat dikurangi apabila pemerintah provinsi dapat menyediakan sarana angkutan umum yang memadai dan nyaman digunakan seperti di kota-kota lain di Negara tetangga. Saat ini angkutan umum di Jakarta masih belum mencukupi permintaan, dan angkutan umum yang tersedia belum dapat menampung jumlah pengguna yang bertambah setiap tahunnya. Bus TransJakarta yang dianggap sukses itu juga belum dapat secara signifikan mengurangi jumlah pemakai kendaraan pribadi.

Penyebab lain dari meningkatnya polusi di Jakarta adalah kurangnya ruang terbuka hijau (RTH). RTH adalah ruang terbuka atau open spaces di dalam wilayah kota yang diisi dengan taman, pohon-pohon, tanaman dan vegetasi yang berfungsi sebagai paru-paru kota, sebagai bagian dari sistem sirkulasi udara, pengatur iklim mikro, peneduh kota, penghasil oksigen, penyedia habitat satwa, penyerap polutan media udara, air dan tanah, serta menahan angin. Kurangnya RTH di dalam kota mengakibatkan kurangnya kemampuan ekosistem kota untuk menyerap polusi. Idealnya, kita membutuhkan sekitar 30% lahan di Jakarta sebagai RTH, akan tetapi kiranya angka 30% yang ditetapkan oleh UU no 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang ini bukanlah angka yang realistis untuk Jakarta. Saat ini RTH di Jakarta baru mencapai angka 9%, sedangkan target rencana tahun 2010 ini baru mencapai 13,94%. Sempitnya lahan yang tersedia serta tidak dimanfaatkannya RTH yang ada secara optimal mengakibatkan kualitas udara di Jakarta semakin memburuk.

Untuk menghilangkan citra negatif Jakarta sebagai kota polusi, sudah semestinya apabila masyarakat dan Pemerintah DKI Jakarta perlu menetapkan dan melaksanakan langkah-langkah perbaikan yang tepat. Langkah-langkah yang tidak tepat atau tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat perlu diidentifikasi dan kemudian dihindari untuk mencegah resistensi (perlawanan) dari masyarakat agar upaya perbaikan yang ditempuh tidak menjadi kontraproduktif. Sudah cukup banyak peraturan dan perundang-undangan yang dikeluarkan pemerintah Pusat dan Daerah. Sudah saatnya kini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih nyata untuk  menurunkan emisi gas rumah kaca dan mengurangi polusi udara di Jakarta. Apa yang telah dilakukan Hong Kong mungkin dapat dijadikan contoh. Program retrofitting bangunan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca secara cukup signifikan. Demikian juga halnya dengan pengembangan pelayanan bus TransJakarta sehingga dapat melayani bagian kota yang lebih luas, bahkan sampai ke kawasan Jabodetabek. Penyempurnaan pelayanan transportasi kota yang komprehensif, sehingga meningkatkan jumlah pengguna kendaraan umum, dapat secara signifikan mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan-jalan, dan akhirnya menurunkan jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan.

Pemandangan di bunderan HI pada hari Minggu bebas kendaraan

Saat ini berbagai upaya program mitigasi dan adaptasi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca telah dilakukan oleh Pemprov DKI, akan tetapi program-program tersebut masih sangat kecil, tidak efisien, sporadis, serta tidak terpadu. Program seperti car free day, bike to work, kontrol emisi kendaraan, konversi penggunaan minyak tanah ke LPG, sudah cukup bagus akan tetapi hasilnya tidak signifikan dalam mengurang emisi gas rumah kaca yang ada sekarang. Pemerintah Provinsi harus bisa lebih agresif mencari terobosan-terobosan baru dalam menggalakkan program retrofitting bangunan. Merencanakan dan membangun green building tidak hanya sebatas pada gedung gedung publik, akan tetapi juga semua bangunan milik swasta. Kerjasama dengan swasta seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Hong Kong dapat ditiru. Pemerintah Provinsi perlu memperbaiki sektor transportasi dan fasilitas angkutan umum sehingga para pengguna kendaraan pribadi tidak akan segan-segan untuk beralih ke kendaraan umum.  Keterpaduan sistem transportasi perkotaan antara  TransJakarta Busway, KRL Jabodetabek dan MRT Jakarta (yang masih rencana) perlu direncanakan dan disinergikan. Keterlibatan Pemerintah Pusat, dan Pemerintah Daerah lainnya di Jabodetabek perlu mendapatkan perhatian khusus. Untuk itu peran Pemerintah Pusat sebagai koordinator sistem transportasi perkotaan di Jabodetabek sangat diharapkan. Pengalihan energi transportasi umum kepada penggunaan energi  listrik sudah perlu dipikirkan. Untuk itu sarana dan prasarananya sudah harus direncanakan dan dipersiapkan dari sekarang.

Pelaksanaan dan penegakan hukum memegang peran yang sangat krusial dalam mencegah laju polusi, tidak hanya di Jakarta tetapi juga di daerah lain di Indonesia. Fakta membuktikan bahwa ketidaktegasan dalam pelaksanaan hukum menyumbang andil cukup signifikan dalam peningkatan polusi di Indonesia. Sebagai contoh, UU Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan telah memberlakukan kewajiban uji emisi kendaraan bermotor. Setiap kendaraan bermotor wajib memenuhi persyaratan ambang batas emisi gas buang dan tingkat kebisingan. Akan tetapi dalam kenyataannya, sering sekali kita lihat masih banyak kendaraan bermotor di Jakarta yang bebas berlalu lalang di jalan umum dengan mengeluarkan asap hitam pekat dan suara yang memekakkan telinga. Kesadaran masyarakat dan disiplin pengusaha angkutan dan pengguna jalan di Jakarta masih perlu ditingkatkan.

Upaya untuk mengurangi polusi udara dan emisi gas rumah kaca membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya. Pelaksanaan kebijakan apapun tentu tidak akan mendatangkan hasil maksimal apabila hanya mengandalkan peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi. Sebagai contoh, aturan yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk mencegah polusi tidak akan banyak berarti tanpa kesadaran masyarakat. Oleh karena itu, partisipasi masyarakat dan sinergi antara Pemerintah dan masyarakat dalam perbaikan lingkungan juga perlu digalakkan. Pada dasarnya, banyak warga Jakarta yang telah memahami persoalan kota mereka dan telah berinisiatif untuk ikut memperbaikinya. Gerakan bike to work (bersepeda ke tempat kerja), “car pooling” (sharing mobil dengan teman sekantor menuju tempat kerja), adalah contoh bentuk kepedulian warga Jakarta untuk mengurangi emisi kendaraan bermotor. Kepedulian dan partisipasi warga perlu terus dijaga sebagai aset penting dalam pemeliharaan kesehatan lingkungan. Adalah cita-cita kita semua untuk dapat mewujudkan impian kota Jakarta yang hemat energi dan rendah emisi.

Oleh:
Khairul I. Mahadi
alumni Arsitektur ITB, pernah mengabdi selama 30 tahun di PemProv DKI Jakarta, dan saat ini bekerjasbg direktur di PT JIExpo, perusahaan pengelola venues yg bergerak di bidang MICE.

Khairul I. Mahadi
Alumni Arsitektur ITB, pernah mengabdi selama 30 tahun di PemProv DKI Jakarta, dan saat ini bekerja sbg direktur di PT JIExpo, perusahaan pengelola venues yg bergerak di bidang MICE.