Mencari Tanah Surga

187 Views |  Like

Pada sebuah kota di Pulau J.

Aku adalah seekor anjing

Aku adalah seekor anjing, dan kerena kalian para manusia adalah binatang-binatang yang kurang rasional daripada aku, kalian katakan saja pada diri kalian, “Anjing-anjing tidak berbicara!” Namun demikian, kalian sepertinya mempercayai sebuah kisah di mana mayat-mayat bisa bicara dan tokoh-tokoh menggunakan rangkaian kata-kata yang tak mungkin bisa mereka mengerti. Anjing-anjing bisa berbicara, tetapi hanya pada mereka yang tahu bagaimana mendengarkannya.

― Aku Seekor Anjing, dalam Namaku Merah karangan Orhan Pamuk

"An old Pariah Dog thinks about crossing the street in Park Circus, a difficult place for stray animals in Kolkata." - Jesse Alk, Pariah Dog Movie (Sumber: https://www.instagram.com/pariahdogmovie/)

“An old Pariah Dog thinks about crossing the street in Park Circus, a difficult place for stray animals in Kolkata.” – Jesse Alk, Pariah Dog Movie
(Sumber: https://www.instagram.com/pariahdogmovie/)

Jika kalian, para manusia ingin mendengarkannya, aku akan bercerita tentang upayaku untuk menemukan sebuah tanah surga.

Dua tahun lalu, aku lahir di sebuah celah sisa ruang-ruang manusia. Ibuku adalah seekor anjing dengan cinta buta kepada tuannya. Beberapa hari sebelum aku lahir, ibuku tertinggal-dibawa oleh seorang manusia yang menjadi rumahnya. Ibuku selalu menggunakan kata ‘tertinggal-dibawa’, sehingga dia selalu menunggu di titik yang sama sekalipun si manusia tak kunjung datang menjemputnya.

Aku bukan ibuku, jadi aku tak perlu mengikuti penantiannya. Aku ingin berkelana, menemui tanah surga sebagaimana yang diceritakan banyak anjing di sekitarku. Tanah surga itu berada di balik tembok-tembok kokoh. Konon katanya, di sana terdapat sebuah halaman berumput yang sangat luas sehingga para anjing tak perlu menahan hasrat untuk berlari. Di sana juga terdapat gedung-gedung yang dapat melindungi kami dari panas dan hujan. Tempat itu banyak didatangi manusia yang sedang belajar, dan tak jarang mereka memberi makanan untuk binatang berkaki empat yang ada di sana.

Ah, membayangkan tempat itu saja sudah membuatku bahagia. Betapa akan berubahnya hidupku jika di sana. Tak ada lagi tendangan mengusir bahkan lemparan batu dari manusia.

 

Aku adalah anjing mahal

Konon katanya,  aku dibeli dengan harga melebihi harga sepeda motor keluaran terbaru. Aku adalah anjing pedigree, salah satu ras unggul di muka bumi ini yang diperanakan pada kennel terkemuka. Satu hal lain yang pasti, sedari kecil sampai sekarang tampilanku memang lucu sekali.

Berulang kali, Tuanku mengatakan itu saat bermain-main denganku, atau ketika bermain dengan temannya sambil bermain denganku.

Tuanku sangat menyayangi aku. Sekalipun buluku rontok di pertengahan tahun, atau biar aku harus dibawa ke dokter setiap tiga bulan sekali, Tuanku selalu memanjakan aku. Makanan, minuman, mainan, sampai tempat tidur, semua disediakan untukku.

Kadang, ketika berlari pagi bersama Tuanku atau sekedar jalan-jalan bersama, aku sering melihat anjing-anjing jalanan yang tak memiliki apa yang aku miliki. Melihat mereka selalu membuatku bersyukur dengan apa yang aku miliki. Aku memiliki Tuanku. Karena jika aku tidak memiliki Tuanku, aku tak akan bisa tinggal di bumi ini.

 

Aku adalah anjing pejabat

Semua yang hidup memiliki tempatnya masing-masing. Sehingga adalah sebuah kesalahan jika seseorang melanggar tempat di mana dia seharusnya. Misalnya, jika aku khilaf lalu naik ke atas sofa, maka Tuanku akan menegurku sehingga aku turun dari sana.

Tuanku adalah seorang pejabat di sebuah perguruan tinggi kenamaan di negeri ini. Beberapa kali, aku pernah di bawa ke sana. Semisal acara pertemuan pencinta anjing atau sekedar menemani tuanku lari pagi. Menurutku, semua tentang kampus ini hebat. Tapi tuanku selalu mengeluhkan beberapa hal kecil yang perlu diselesaikan. Salah satunya adalah tentang binatang-binatang liar yang berkeliaran di salah satu wilayah kampus.

Sore ini, aku berbaring di lantai sambil menggigiti mainanku. Di sofa itu, Tuanku duduk bersama beberapa tamunya. Mereka membicarakan tentang keberadaan anjing dan kucing liar yang semakin meresahkan di kampus. Kehadiran mereka membawa kesan kumuh dan kotor, sangat bertentangan dengan citra kampus sebagai universitas nomor satu di negeri ini.

Sambil berguling-guling, aku mendengar bahwa mereka berencana mengadakan pengendalian hewan liar di hari libur kampus. Mereka membicarakan kemungkinan penolakan dari organisasi pencinta hewan, namun Tuanku menyahut marah, bahwa mereka seharusnya malah lega, karena keputusan ini membawa sektor pemerintahan untuk terlibat dalam kegiatan penertiban satwa domestik. Berulang kali mereka berkata, bahwa rencana mereka untuk memindahkan hewan-hewan liar itu entah ke mana bukanlah hal yang melanggar hukum.

Ah, hukum. Akhirnya aku mengerti maksud tuanku dan tamunya. Layaknya sofa yang diolah bagi manusia untuk duduk, kampus Tuanku ini diolah bagi manusia untuk belajar. Sofa dan kampus bukanlah tempat bagi anjing. Lagi pula, seperti yang sering diucapkan Tuanku, arsitek kampus ini susah-susah merancang tidak untuk ditiduri, apalagi dikencingi, oleh anjing-anjing liar itu.

There are two type of person... (Sumber: https://www.instagram.com/pariahdogmovie/)

There are two type of person…
(Sumber: https://www.instagram.com/pariahdogmovie/)

 

Aku adalah makhluk Tuhan (juga)

Aku kira, aku sudah sampai di tanah surga.

Aku sudah menemukan hamparan rerumputan luas dan berlarian di atasnya. Aku bertemu banyak teman seperjuangan lainnya, kucing-kucing yang mendesis ketika melihatku, dan beberapa anjing lain yang mengendusi bokongku.

Aku pun telah memiliki teman, seorang anjing tua yang tampaknya begitu akrab dengan manusia. Banyak manusia memanggilnya dengan sebutan ‘Bobby’ lalu mengusap perutnya. Bersama anjing itu, aku merasakan sentuhan-sentuhan penuh kasih dari tangan manusia. Mereka menggaruk-garuk telinga dan kepalaku, sambil melemparkan beberapa potong ayam dari piring makan.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku merasakan hangatnya keset sebagai alas tidurku.

Namun, semua berubah ketika pagi datang. Waktu itu tidak seramai ketika aku tiba di tanah surga ini. Hanya ada beberapa manusia dengan pakaian yang sama. Aku mendatangi mereka, mengharapkan sentuhan yang sama seperti tangan-tangan kemarin. Namun, aku salah.

Sentuhan itu begitu kasar. Tangan-tangan itu menyeretku, memaksaku masuk ke dalam sebuah kerangkeng besi yang diletakkan di atas mobil. Aku masih tak percaya ketika aku terkurung di sana. Kaki-kaki ku mengais, mencoba keluar dari penjara itu. Tapi percuma.

Terdengar banyak suara keras yang menyeramkan. Semakin lama semakin banyak anjing dan kucing lain yang berada di atas mobil terbuka ini. Mereka sama-sama di dalam kerangkeng. Mereka sama-sama mencoba keluar. Seekor anjing di sudut sana mulai merintih. Rintihan itu menulari kami semua, termasuk aku.

Ketika matahari begitu terik, mobil pun berjalan. Diiringi suara gonggongan dan meongan yang ramai. Di antara tangisan-tangisan itu, aku mencoba berdoa.

Tuhan, bukankah semua di dunia ini milik-Mu?

Semoga aku dan lainnya baik-baik saja. Semoga nanti aku kembali ke tanah surga ini. Semoga nanti di sana tempat kami menuju adalah tanah surga yang lain. Semoga aku masih bisa berlari di atas rumput. Semoga masih ada cukup keset bagiku untuk mencari hangat. Semoga selalu ada tangan-tangan lembut yang menggaruk-garuk kepalaku.

Mobil masih berjalan tanpa aku tahu ke mana tujuannya. Suara keras kembali terdengar, seakan menyuruh kami untuk diam. Aku mencoba menahan rintihan, namun tubuhku lah yang menjadi gemetar.

Seekor kucing di sebelahku menatap nanar, badannya bergetar hebat sampai air kencingnya keluar. Aku sebenarnya tahu, tapi menolak untuk mengaku. Kami semua tahu, ke mana akhir jalan ini. Lalu apa kabar doaku? Entah.

Karena kata mereka yang mendaku hegemoni ketuhanan, aku adalah haram.

The domination–exploitation of human beings begins with animals, wild beasts and cattle; the humans associated with these inaugurated an experience that would turn back against them: killings, stockbreeding, slaughters, sacrifices and (in order better to submit) castration.

― Henri Lefebvre dalam Rhythmanalysis: Space, Time and Everyday Life

 

Anjing jalanan di kawasan Taj Mahal, Agra. Saat mengambil foto ini, sang fotografer terlibat konfik dengan pihak keamanan yang tidak senang. "The subjects in our documentary beleive it comes from an imposition of Western values, this idea that for a country to be "modern," it shouldn't have community dogs." - Jesse Alk, Pariah Dog Movie (Sumber: https://www.instagram.com/pariahdogmovie/)

Anjing jalanan di kawasan Taj Mahal, Agra. Saat mengambil foto ini, sang fotografer terlibat konfik dengan pihak keamanan yang tidak senang. “The subjects in our documentary beleive it comes from an imposition of Western values, this idea that for a country to be “modern,” it shouldn’t have community dogs.” – Jesse Alk, Pariah Dog Movie
(Sumber: https://www.instagram.com/pariahdogmovie/)

 

Sementara itu, di Pulau S.

Aku seperti lolongan anjing

Kamu tahu, ketika satu anjing melolong maka anjing-anjing yang lain pun akan mengangkat wajahnya ke langit ikut sumbang suara. Karena itulah, lolongan anjing sering terdengar terus bersahutan tiada henti, sampai akhirnya mati sendiri.

Aku hadir di setiap titik temu manusia-manusia yang mengelompokkan diri, lewat lenggokan lidah yang menari, atau sentuhan-sentuhan huruf yang dibentuk oleh jemari.

Kisahku hari ini adalah di sebuah pasar sana, seekor anjing menggigit tangan manusia. Namun, tak ada yang menyampaikan alasan mengapa si anjing menggigit tangan manusia, atau bagaimana konteks kejadian yang sebenarnya terjadi, sehingga diriku menjadi berimbang di semua sisi. Memang begitulah kedatangan sebuah kabar, hadir dan dibentuk lewat pilihan-pilihan yang ingin ditampilkan.

Berawal dari sana, kehadiranku ditambah dengan cerita keresahan manusia akan keberadaan anjing-anjing tanpa rumah yang mulai mengganggu. Lalu sebagai pamungkas, cukup dipantiklah satu kata yang selama ini menghantui; rabies.

Kamu tahu, bagaimana hebatnya sebuah kata? Kata bisa menjadi senjata, bisa juga menjadi target jika digunakan sebagai penanda. Tanyakanlah bagaimana arti kata ‘teroris’ bagi pada muslim di negeri barat sana. Kalau kamu sudah mau mati, coba nanti tanyakan berapa juta nyawa yang berpisah dengan dunia karena satu kata ‘komunis’ saja.

Lalu kamu bayangkan saja, bagaimana satu kata rabies itu itu bereaksi dengan kenyataan bahwa manusia memang tak ingin berbagi ruang.

"This child's mother is standing by as her daughter roughly plays with a strange street dog at the Manakamana temple. If something goes wrong here, there can be terrible consequences for the local street dogs, at least that's how it happens in most places."- Jesse Alk, Pariah Dog Movie (Sumber: https://www.instagram.com/pariahdogmovie/)

“This child’s mother is standing by as her daughter roughly plays with a strange street dog at the Manakamana temple. If something goes wrong here, there can be terrible consequences for the local street dogs, at least that’s how it happens in most places.”- Jesse Alk, Pariah Dog Movie
(Sumber: https://www.instagram.com/pariahdogmovie/)

 

Namaku menjadi umpatan: Anjing!

"Street dog finds a meal at the Dakshineswar Kali temple, while a crow waits for leftovers." - Jesse Alk, Pariah Dog Movie (Sumber: https://www.instagram.com/pariahdogmovie/)

“Street dog finds a meal at the Dakshineswar Kali temple, while a crow waits for leftovers.” – Jesse Alk, Pariah Dog Movie
(Sumber: https://www.instagram.com/pariahdogmovie/)

Waktu itu aku baru saja mengais apa yang disebut oleh manusia sebagai sampah. Melakukan kegiatan ini sehari-hari membuat aku sulit percaya, bahwa para nenek moyang diceritakan bisa berlari kencang mengikuti indera penciuman yang tajam untuk mendapatkan buruan.

Maksudku, coba lihat saja sekitar kita. Apa yang bisa diburu oleh anjing dalam kota ini? Manusia bahkan menyemen pasir sehingga tak ada lagi tempat untukku buang air. Para anjing tua sering berkisah, hidup anjing dan manusia cukup harmonis sebelum segelintir manusia dengan kuasa berlimpah membuat maklumat bahwa ruang bumi adalah milik mereka, lalu membaginya dengan teman-teman mereka.

Maka hari itu seperti biasa penciumanku memilah aroma di antara sampah sebuah pasar. Aku baru saja menggigit tulang yang berasal dari sepotong ayam, ketika aku mencium bau ketakutan dari seekor anjing lain yang berlari.

Anjing itu berlari ke arahku. Di belakangnya satu anjing dan dua manusia yang sama-sama berseragam mengejar dengan sebuah senjata di tangan mengarah pada si anjing.

Aku melepaskan makanan pertamaku di hari terakhirku, dan ikut berlari. Banyak manusia bilang bahwa aku adalah anjing, yang berarti aku tak bisa berpikir. Tapi, aku tahu apa itu rasa takut. Aku tahu tahu rasanya harus berjuang untuk selamat dari kesakitan. Sehingga, biar dadaku begitu gaduh karena degupan, kaki-kakiku gemetar dirambah kengerian, aku harus terus berlari.

 

Aku adalah anjing petugas

Mengapa seekor anjing bisa mengusir anjing lainnya? Mungkin tanyamu begitu.

Karena aku adalah seorang petugas, maka pekerjaanku adalah menjalankan tugas. Saat ini, tugasku adalah anjing.

Lain waktu tugasku juga bisa berupa manusia, dengan berbagai ragamnya. Bersama para petugas manusia, aku membantu membubarkan pedagang pinggir jalan, pemukim pinggir sungai, sampai pengemis pinggir trotoar. Kalau kamu manusia bertanya mengapa seekor anjing bisa mengusir anjing lainnya, aku anjing juga bisa bertanya mengapa seorang manusia bisa mengusir manusia lainnya.

Alasannya adalah karena aku berdiri di atas legalitas, menyingkirkan mereka yang kemudian disebut ilegal. Penyingkiran-penyingkiran tersebut adalah mandat yang harus dipatuhi oleh kami para pekerja. Kali ini, ilegalitas yang harus disingkirkan adalah anjing.

Anjing-anjing ini hidup di ruang publik, tapi mereka hidup tanpa kepemilikan. Mereka tak memiliki manusia yang memiliki ruang bagi tempat mereka tinggal. Atau seperti aku, mereka pun tidak memiliki instansi yang menaungi mereka. Karena nya mereka harus pergi.

Aku menggonggong nyaring. Lalu, satu… dua… tiga… DOR!

 

Aku anjing yang akan mati

Jika berdoa pada Tuhan bagiku adalah haram, haruskah aku bertanya pada evolusi? Karena sepertinya Tuhan berdusta saat berkata bahwa semua di dunia ini adalah milik-Nya. Khalifah di muka bumi ini memetak tanah satu persatu, lalu berteriak bahwa itu milik mereka.

Kematian itu tak ada rasanya. Namun, jalan bertemu dengannya begitu menyiksa.

Aku adalah seekor anjing. Aku jatuh dengan sebuah panas yang melubangi bahuku. Panas yang menyeret nafasku, memaksa untuk bertemu kematian sekalipun aku masih belum ingin bertemu dengannya.

Aku merasakan sentuhan di puncak kepala. Lembut, seperti sentuhan beberapa manusia yang kadang datang dengan suara lembut dan makanan yang tak kalah lembutnya. Tapi kelembutan itu tak mampu mengusir sakitku. Apakah tangan ini pula yang melubangi bahuku? Entah. Manusia begitu banyak wajahnya.

Kematian mulai tampak diujung sana. Kedua tangannya terbuka lebar menyambutku. Apa memang di sanalah seharusnya aku berada, yang manusia sebut tanah surga? Karena dalam ruang bumi ini tempat hidup untukku tampaknya juga tak ada.

Jika bertanya kepada Tuhan bagiku adalah haram, maka biar aku tanyakan pada evolusi. Mengapa aku harus lahir, jika tampaknya aku tak punya hak untuk hidup di bumi sekalipun aku dan manusia sama-sama berasal dari anti materi?

Mass Culling di Karachi, Pakistan. Anjing-anjing yang telah mati diracun dikumpulkan di jalan. (Sumber: Reuters, dapat dilihat pada http://foto.okezone.com/view/2016/08/04/1/27541/ratusan-anjing-mati-diracun-di-pakistan)

Mass Culling di Karachi, Pakistan. Anjing-anjing yang telah mati diracun dikumpulkan di jalan.
(Sumber: Reuters, dapat dilihat pada http://foto.okezone.com/view/2016/08/04/1/27541/ratusan-anjing-mati-diracun-di-pakistan)

Terinspirasi dari fakta eleminasi hewan domestik di berbagai tempat, dan sebuah fiksi berjudul Namaku Merah buatan Orhan Pamuk.

Siti Amrina Rosada
Tahun 2013 lalu menjadi lulusan Arsitektur Brawijaya, saat ini menetap di Palangka Raya. Sampai saat ini kebanyakan berkarya lewat fotografi, tulisan, dan arsitektur.