Mencari Arsitek Konservatoris

3933 Views |  3

Waktu tidak dapat meruntuhkan semangatnya. Meski telah aktif berprofesi sejak era pemerintahan Sukarno, Han Awal seperti tidak mengenal kata berhenti. Di usianya yang ke-83, Ia masih tetap aktif berprofesi sebagai arsitek konservatoris. Belum lagi beberapa tanggung jawab lainnya, seperti anggota dewan pengawas Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA) dan yang terkini, sebagai anggota Board of Advisor dari Jakarta Endowment for Arts and Heritage (JEFORAH).

Tiga hari setelah perayaan Imlek, saya berkunjung ke rumahnya bersama puluhan pertanyaan akan realita arsitek konservatoris di Indonesia. Profesi yang bergerak khusus dalam konservasi bangunan bersejarah ini seperti masih belum banyak memiliki peminat. Han Awal yang berpengalaman selama lebih dari dua dekade tentu akan memiliki cara pandang tersendiri terhadap hal ini.

Sore itu, Ia menyambut saya di pintu ruang tamu. Mengenakan kemeja batik merah dan celana kain hitam, Han Awal langsung mengundang saya duduk di teras belakang.

“Rumahnya bagus pak”, ujar saya spontan melihat rumahnya yang sangat hangat, khas garis desain Han Awal.

“Ini rumah gaya lama kok. Hahaha”, jawabnya ramah.

Kami berhenti di depan meja kayu bundar yang dikelilingi kursi-kursi plastik berwarna putih. Kicauan burung peliharaan bersama bising suara pembangunan apartemen di dekat rumahnya mengiringi kedatangan kami. Beberapa saat kemudian, satu cangkir kopi susu dan piring kecil makanan ringan diantarkan oleh seorang wanita paruh baya. Setelah Han Awal meminta satu cangkir lagi kopi susu untuknya sendiri, kami segera memulai diskusi.

Kiprahnya dalam dunia konservasi diawali pada tahun 1980-an ketika Uskup Agung menawarinya memperbaiki kerusakan pada gereja Katedral. Han Awal yang saat itu tidak pernah mempelajari ilmu konservasi, tetap kukuh untuk mencoba dan belajar secara otodidak.

Kelak hal itu membuatnya tersadar bahwa di praktek konservasi profesi arsitek dapat disamakan dengan seorang dokter. Han Awal harus melakukan diagnosa terhadap penyakit bangunan dengan sangat hati-hati. Melalui riset mendalam terhadap sejarah, teknis dan metodologi cara membangun pada masa itu.

“Lama-lama akhirnya menjadi passion. Bukannya saya tergila-gila, tapi saya sangat empati dengan pekerjaan saya. Seperti ada kekayaan yang terpendam. Sesuatu yang tadinya tidak tahu akhirnya jadi memahami bahwa di belakang itu ada semacam kearifan. Tidak analisa bangunan saja, tetapi juga jiwa dan cara membangun pada masa itu. Ini luar biasa.”

Dia melanjutkan dengan pentingnya pemahaman sejarah. “Saya yakin bahwa kearifan sejarah perlu kita miliki. Karena di situ kita banyak gali jejak sejarah kita sendiri, untuk akhirnya sampai ke masa kini. Berpijak pada apa yang diberikan oleh sejarah.”

“Sejarah yang mana?”, tanya saya.

“Entah itu tentang kolonial, Majapahit atau bagaimana pedagang Islam masuk kesini. Tidak usah menolak diri, karena itu kenyataan untuk bangsa. Dan tanpa kenyataan itu, kita tidak akan timbul budaya seperti sekarang.”

“Kita juga harus melihat masa kolonial membawa sesuatu yang positif, tidak selamanya negatif. Memang banyak penindasan, tapi juga banyak yang dikenalkan seperti cara berpakaian.  ‘Masak kita jadi bangsa sarungan?’ kata Soekarno. Akhirnya, bangsa Indonesia baiknya menata masa depan dari kearifan lokal seperti Soekarno”, lanjutnya

Bangunan bersejarah memang seperti sebuah laboratorium hidup. Mereka menyimpan kearifan masa lalu dan sejarah secara gamblang, terbuka untuk interpretasi lebih lanjut. Dokumentasi melalui buku tidak bisa menggantikan suasana ruang, bukti aplikasi teknologi terhadap lingkungan, dan jejak autentik sejarah yang hadir di sebuah bangunan. “Pemahaman ini sangat penting untuk dimiliki para mahasiswa dan praktisi arsitektur”, ujar Han. Sehingga semakin banyak arsitek konservatoris yang bergerak aktif, semakin banyak ilmu dan memori bangsa yang akan terselamatkan untuk kita dan generasi mendatang.

Namun kenyataan berbicara lain. Franky Liauw dalam “Konservasi masih Minoritas” [1]  menekankan bahwa kegiatan konservasi masih belum memiliki banyak peminat di Indonesia. Manfaat konservasi telah banyak dikemukakan, tetapi banyak yang masih melihat konservasi sebagai penghambat kemajuan. “Kemajuan” masih diidentikkan dengan membangun bangunan modern yang ada di negara “maju” dalam kecepatan tinggi. Yang jika diteruskan akan merusak budaya dan identitas sebuah kota, membawanya menjadi semakin generik.

Franky juga berkata tuntutan ekonomi juga lebih mendorong para pemberi ijin meloloskan penghapusan bangunan bersejarah. Mayoritas arsitek sendiri masih belum terlalu peduli terhadap pentingnya mereka,. Terlalu sibuk mencari nama dengan menciptakan sesuatu yang baru dan berani, dan kurang menoleh ke belakang.

Bangunan kolonial di Kota Tua Jakarta rubuh di awal tahun 2014 karena kurangnya sentuhan konservasi ©YusniAziz

Bangunan kolonial di Kota Tua Jakarta rubuh di awal tahun 2014 karena kurangnya sentuhan konservasi ©YusniAziz

Padahal arsitek-arsitek besar yang menciptakan pembaruan juga adalah sosok yang sangat menghargai pekerjaan konservasi dan sejarah. Kurator Vennice Biennale 2014, Rem Koolhaas, memberikan tema “Fundamentals” yang akan mencoba mengangkat evolusi arsitektur nasional sebuah negara dalam kurun waktu 100 tahun. Pada tahun 2012, delapan pemenang Pritzker Prize, dan beberapa arsitek ternama lain mengirimkan sebuah surat terbuka [2]  kepada walikota Chicago, Rahm Emanuel, untuk menghentikan penghancuran Rumah Sakit Prentice karya Bertrand Goldberg, yang akan digantikan oleh bangunan riset medis Universitas Northwestern.

Setahun kemudian, Rem Koolhaas, Peter Eisenman, Steven Holl, dan beberapa nama besar lainnya juga menandatangani surat terbuka [3] untuk preservasi rumah Konstantin Melnikov di Moskow, Rusia. Surat tersebut menyatakan pentingnya preservasi rumah tersebut untuk menjadi sebuah museum publik. Segala dokumentasi tentang Melnikov juga sebaiknya dikumpulkan di sebuah museum yang terletak dekat dengan rumahnya, dan terbuka untuk pembelajaran arsitek, akademisi dan masyarakat.

Lantas,

kenapa kita seperti masih kekurangan arsitek konservatoris? Apakah kita butuh lebih banyak arsitek konservatoris? Bagaimana sebetulnya realita yang terjadi di Indonesia?

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) merupakan kementerian yang bertanggung jawab terhadap pelestarian Bangunan Cagar Budaya (BCB) dan Kawasan Cagar Budaya (KCB). Nadia Purwestri, direktur PDA, menyampaikan kondisi yang sedang terjadi, “Nah, Kemdikbud itu didominasi arkeolog. Mereka memperlakukan bangunan yang bukan candi seperti candi. Akhirnya bikin dead monument, bukan living monument.

Menurut Arya Abieta, anggota Tim Sidang Pemugaran (TSP) DKI Jakarta, realita yang terjadi ini bukan sesuatu yang salah. Namun memang sering terjadi perbedaan pola pikir dalam pelaksanaan konservasi. “Sederhananya, teman-teman arkeolog ingin mengajak masa kini ke masa lalu. Kita arsitek ingin mengajak masa lalu ke masa kini.”

Konservasi bangunan di Indonesia memang dipelopori oleh profesional di bidang arkeologi. Pada era kolonial, banyak masyarakat Eropa yang tertarik kepada kebudayaan nusantara. Karena hal ini dapat mengangkat nama Belanda di mata internasional, akhirnya Commisie in Nederlandsche-Indie voor Oudheidkundige Orderzoek op Java en Madura dibentuk tahun 1901, untuk mengelola warisan budaya Indonesia.

Komisi ini akhirnya menjadi Dinas Purbakala Hindia-Belanda (Oudheidkundige Dienst in Nederlandsche-Indie) di tahun 1913. Secara undang-undang, Monumenten Ordonnantie no. 238 tahun 1931 juga ditetapkan untuk melindungi dan mengelola cagar budaya, yang menjadi dasar pembentukan UU Cagar Budaya no 5 tahun 1992.

Dari sini muncul beberapa tindakan arkeologis yang sangat fundamental. Pada tahun 1907 hingga 1911, tim pimpinan Theodoor van Erp melakukan restorasi pertama Borobudur. Kemudian tahun 1902, van Erp juga mengawali pemugaran candi Prambanan, yang akhirnya terselesaikan tahun 1953 di bawah pemerintah Indonesia.

Borobudur sebelum proses restorasi Theodoor van Erp. (Sumber: Borobudur, Periplus Editions HK Ltd. 1990)

Borobudur sebelum proses restorasi Theodoor van Erp. (Sumber: Borobudur, Periplus Editions HK Ltd. 1990)

Mayoritas arsitek sendiri pada saat itu lebih terfokus untuk mengenalkan modernisme, atau berusaha melakukan sintensis dengan kearifan lokal. Di era pemerintahan Soekarno, mereka semakin sibuk dengan arsitektur modern sebagai usaha penciptaan identitas baru bangsa Indonesia. Hingga akhirnya di tahun 1970an, konservasi semakin terangkat di kalangan arsitek ketika Ali Sadikin mempelopori revitalisasi kota tua Jakarta.

Namun pendidikan arsitektur di perguruan tinggi pada saat itu masih belum memberikan pendidikan konservasi. Alhasil, arsitek Indonesia yang mendapatkan proyek konservasi cenderung belajar secara otodidak seperti Han Awal.

Dewasa ini, beberapa universitas sudah mengenalkan ilmu konservasi bangunan, meski masih dalam ranah mata kuliah pilihan. Konservasi seakan masih belum menjadi hal krusial dalam dunia pendidikan arsitektur Indonesia. Nadia berpendapat, “Karena pemugaran itu engga popular. Mereka lebih suka desain kan? Bangunan tingkat tinggi, atau yang kompleks. Daripada bangunan tua itu.”

“Mata kuliah sejarah arsitektur juga cenderung di anak tirikan oleh mahasiswa karena buat mereka engga keren.”

“Tapi menurut saya ya engga salah kalau mahasiswanya kaya gitu, lah dosen-dosennya juga banyak yang engga paham.”

Alhasil mayoritas arsitek muda kurang memiliki kesadaran dan wawasan konservasi yang diperlukan dalam dunia arsitektur. Jika hal ini terus berlanjut,  praktik konservasi terancam akan selalu didominasi oleh arkeolog. Arya mengatakan dominasi ini juga berdampak besar pada kinerja dokumentasi depdikbud, dimana data gambar yang sudah ada cenderung masih prematur untuk kebutuhan kerja arsitek.

Ini menjadi salah satu alasan untuk mendirikan PDA sebagai institusi independen pada tahun 2002. Sebagai salah satu pendiri, Arya menyatakan PDA berusaha menjembatani perdebatan antara arsitek dan arkeolog. PDA juga melakukan pekerjaan esensial melalui kegiatan penelitian dan dokumentasi isu-isu arsitektur dan cagar budaya Indonesia.

“Kalau bikin ‘Pedoman’ terlalu formal, itu urusan negara dan pemerintah, akhirnya dinamakan ‘Panduan’. Panduan itu pun pada saat mau dicetak kita pikir harusnya dibuat oleh instansi yang berwenang. Makanya saya rubah judulnya jadi ‘Pengantar Panduan’. Dan istilahnya sangat di-appreciate oleh pihak pemerintah.”, ujar Han Awal. ©YusniAziz

“Kalau bikin ‘Pedoman’ terlalu formal, itu urusan negara dan pemerintah, akhirnya dinamakan ‘Panduan’. Panduan itu pun pada saat mau dicetak kita pikir harusnya dibuat oleh instansi yang berwenang. Makanya saya rubah judulnya jadi ‘Pengantar Panduan’. Dan istilahnya sangat di-appreciate oleh pihak pemerintah.”, ujar Han Awal. ©YusniAziz

Sebagai arsitek konservatoris, Han Awal merasa mendapatkan dukungan luar biasa dengan adanya PDA. Dia juga merasa PDA telah melakukan sebuah gerakan signifikan dengan penerbitan “Pengantar Panduan Konservasi Bangunan Bersejarah Masa Kolonial” di tahun 2011. Buku ini mencoba memberikan pemahaman dasar konservasi dari sudut pandang arsitek. Sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Dengan adanya buku ini untuk publik, Han berpesan, “Saya yakin setiap arsitek bisa melakukan konservasi, asal ada sikap ingin tahu dan hati-hati.”

Selain pendidikan, kebijakan pemerintah juga berdampak besar pada praktik arsitek konservatoris. UU Cagar Budaya no. 11 tahun 2010 mengamanatkan bahwa setiap pemerintah kota harus memiliki tim Ahli Cagar Budaya untuk mengusulkan penetapan atau penghapusan BCB. Arya memandang ini sebagai sebuah langkah yang positif. Dia kemudian menegaskan bahwa TSP DKI Jakarta telah berdiri jauh sebelum terbitnya kebijakan tersebut, dan bahkan fungsinya telah merambah ke ranah perijinan.

Dengan ini, setiap arsitek yang menangani proyek tentang BCB atau KCB di Jakarta harus berdiskusi dengan TSP, yang anggotanya mencakup arsitek, arkeolog, planolog hingga budayawan. Arya berpendapat bahwa diskusi ini dapat membantu mencari solusi terbaik untuk proyek konservasi yang cenderung memiliki grey area yang sangat tebal. Apa yang sebaiknya tidak dilakukan di bangunan satu mungkin dapat menjadi sebuah rekomendasi ke bangunan yang lain, tergantung dari berbagai pertimbangan arsitektural dan konteks pada saat itu

Meski demikian, dukungan pemerintah dirasa masih belum optimal. Masih banyak juga kebijakan yang cenderung menjerat praktik arsitek konservatoris.

“Serba sulit kalau kita kaitkan dengan aturan proyek pemerintah. Proyek itu ditenderkan, komponen penilaian tender lebih banyak biaya daripada teknis. Sementara kalau bicara konservasi, justru masalah teknis didahulukan”, komentar Arya.

Insentif untuk konservasi juga masih belum ada sehingga arsitek dan pemilik bangunan tidak terlalu tertarik untuk mengusulkan konservasi. Arya menambahkan, “Pada waktu bekerja di konservasi, sebetulnya kita kerja double. Sebagai arsitek dan peneliti. Namun jika itu proyek pemerintah, kita dibayar seperti proyek pemerintah yang lain. Dan sialnya juga terkadang pekerjaan itu disebut sebagai pekerjaan rehabilitasi!”

Standar gaji untuk pekerjaan rehabilitasi memang cukup minim, ujar Han Awal. Membuat konservasi cenderung menjadi pekerjaan sampingan seorang praktisi, demi hobi atau idealisme dalam berprofesi. Hal ini tentu membuat banyak orang berpikir dua kali jika ingin mendalami konservasi. Membuat kita terancam untuk selalu kekurangan arsitek konservatoris.

Namun akhirnya tantangan yang luar biasa besar, tidak membuat para penggiat konservasi menyerah. Perlahan tapi pasti, dengan optimis, perjuangan Han Awal, Arya Abieta, Nadia Purwestri bersama rekan lain untuk mengangkat praktik konservasi semakin menunjukkan masa depan yang cerah.

Kesadaran pemerintah kota dan masyarakat akan pentingnya bangunan bersejarah semakin meningkat.  Tim Ahli Cagar Budaya sudah dibentuk di Surabaya, Solo, Yogyakarta, dan beberapa kota lainnya. Mimpi Ali Sadikin pun dilanjutkan kembali lewat sebuah langkah yang patut dicontoh melalui kerjasama pembentukan Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC). Konsorsium ini berinisiatif untuk menghidupkan kembali kawasan Kota Tua dengan membeli 85 bangunan dan merenovasinya kembali. Ini berarti juga membuka jalan lapang untuk pekerjaan konservasi bersama dengan pihak privat hingga setidaknya 20 tahun kedepan, sesuai target operasi mereka.

Proyek konservasi kita juga sering mengangkat dunia arsitektur Indonesia di mata internasional. “Award of Excellence” dari UNESCO Asia-Pacific Heritage Award pernah diberikan kepada proyek Arsip Nasional pada tahun 2001, atau Wae Rebo dari Rumah Asuh pada tahun 2012. Wae Rebo juga pernah terdaftar dalam shortlist untuk Aga Khan Award 2012.

Semakin banyak juga kerjasama dengan pihak internasional terkait dengan pergerakan cagar budaya mulai dari International Committee of the Blue Shield, UN-Habitat, UNESCO, dan dengan Pemerintah Belanda, seperti program Jakarta Old Town Reborn dan Inventarisasi benteng di Indonesia.

Namun perjalanan masihlah panjang. Masih banyak mimpi yang ingin dicapai. Nadia berharap, “Saya inginnya makin banyak arsitek yang melek konservasi. Supaya bangunan-bangunan kita bisa lebih lestari.”

Arya juga merasa bahwa hal itu sangat penting, sehingga dunia arsitektur bisa menjadi lebih ideal. Arsitek konservatoris bisa bergerak secara independen atau mendukung arsitek lain dalam proyek konservasi. Kerjasama ini sangat penting sehingga usulan akan menjadi kreatif dan tetap dapat dipertanggungjawabkan dalam kaidah konservasi. Untuk dunia konservasi yang lebih progresif, tidak selalu didominasi oleh pendekatan arkeologis.

Dalam dunia pendidikan, Nadia berharap dalam waktu dekat sebaiknya semua universitas bisa mewajibkan mahasiswa arsitektur untuk mengambil mata kuliah konservasi, minimal satu semester. Arya juga mengusulkan sebaiknya mulai dipikirkan mendirikan S2 khusus konservasi, mengingat beberapa universitas sudah memiliki sumber daya yang memadai.

Han Awal menambahkan, “Undang-undang dan peraturan yang ada perlu dielaborasi. Dan janganlah konservasi itu dianggap sebagai kerjaan rehab. Skala fee-nya itu tidak banyak. Kalau ada peraturan yang lebih baik, dan insentif mungkin orang akan lebih tertarik.”

Tanpa terasa, kopi susu saya sudah hampir habis. Langit juga sudah mulai gelap. Ternyata sudah satu jam lebih saya bercengkrama dengan Han Awal. Menjelang akhir, Han Awal menekankan dia tidak pernah berekspektasi macam-macam dalam berprofesi sebagai arsitek konservatoris, meski pengakuan semakin sering datang dari berbagai pihak. Seperti Professor Teeuw Award dalam bidang pemugaran yang diberikan kepadanya di tahun 2007; dan Satya Lencana dari Presiden SBY yang dianugerahkan atas perjuangannya dalam konservasi di tahun 2013.

Ketika saya tanyakan apakah ada keinginan untuk mendapatkan penghargaan UNESCO untuk proyek Jakarta Kota Tua, dia menjawab, “Saya lebih mementingkan, bagaimana saya bertanggung jawab kepada isu sejarah. Kalau saya dapat memperkaya tanpa mengganggu jejak sejarah, its okay. Bahwa itu nanti dihargai macam-macam, itu bonus.”

“Yang penting, saya bertanggung jawab. Dan itu satu poin yang juga harus dipegang arsitek terutama yang muda, beranilah bertanggung jawab!”

Begitu banyak ilmu yang dia dapat dari bekerja sebagai arsitek konservatoris. Mulai dari kearifan masa lampau, hingga cara pandang baru yang lebih menghargai setiap peran dalam proses pembangunan sebagai mitra sejajar, baik klien, kontraktor ataupun para pengrajin. Untuk semua ini, Han Awal berkata, “Saya sangat berterima kasih. Luar biasa kayanya. Dan saya ingin kerja terus sampai akhirnya engga bisa.”

Momen penting dalam pergerakan konservasi arsitektur di Indonesia ©YusniAziz

Momen penting dalam pergerakan konservasi arsitektur di Indonesia ©YusniAziz

1. Tulisan dapat ditemukan dalam Prosiding Seminar Nasional Perkembangan Teknologi VS Konservasi Arsitektur. Jurusan Arsitektur Universitas Merdeka Malang, 28 Agustus 2008.

2. Surat terbuka dapat dilihat di: http://resources.bertrandgoldberg.org/Open-Letter-to-Mayor-Emanuel_Prentice_08.29.12.pdf

3. Surat terbuka untuk preservasi rumah Konstantin Melnikov dapat dilihat di: http://www.arquitecturaviva.com/media/Documentos/melnikov_heritage.pdf

Yusni Aziz
Alumnus dari double-degree bachelor program kerjasama antara ITS dan Saxion Hogeschool of Applied Sciences. Kemudian menyelesaikan riset di Berlage Institute pada tahun 2013. Saat ini sedang sibuk dengan riset independen dan mengasuh blog pribadi di www.yusniaziz.com