Membangun Rumah Impian

3153 Views |  Like

Saya tidak pernah menyangka bahwa membangun rumah bisa menjadi sebuah perjalanan spiritual. Ada begitu banyak nilai-nilai filosofis yang saya pelajari sepanjang prosesnya. Ini merupakan pengalaman luar biasa yang mengubah cara pandang saya melihat hidup dan berinteraksi dengan sekeliling.

Tampak Depan (foto: Dinda Jouhana)

Tampak Depan (foto: Dinda Jouhana)

Rencana  merenovasi rumah muncul pada tahun 2010. Rumah yang terletak di sebuah kompleks perumahan di Cibubur, Bogor itu dibeli oleh suami saya dari tangan ketiga pada akhir 2008. Dengan luas bangunan 48m2 diatas tanah 72 m2, rumah dengan dua kamar tidur itu tak lagi nyaman untuk saya dan suami.

Tipikal rumah kompleks, apalagi sudah direnovasi pemilik sebelumnya, rumah itu sangat mengandalkan AC untuk sirkulasi udara. Cahaya alami hanya bisa didapatkan dari kamar depan yang kami sulap menjadi ruang kerja. Selain itu usianya cukup tua sehingga banyak bocor dimana-mana.

Saya dan suami memutuskan untuk menggunakan jasa arsitek professional. Sebab kami menginginkan sebuah rumah yang sesuai kebutuhan, rumah impian. Tidak apa membayar biaya desain, tapi hasilnya puas. Daripada dikerjakan sendiri, dengan pengetahuan yang terbatas, hasilnya tidak akan maksimal.

Saya mengusulkan untuk menggunakan jasa Yu Sing, yang saya ‘kenal’ dari sebuah artikel di koran tahun 2009. Idealismenya dalam berbicara soal rumah sehat yang terjangkau, penggunaan bahan-bahan alam yang murah dan mudah ditemukan, membuat saya ‘jatuh cinta pada pandangan pertama’. Suami saya setuju dengan usulan ini. Baginya, karya Yu Sing artistik dan tidak biasa.

Pada awal Oktober 2010, saya mengirimkan e-mail kepada Yu Sing menanyakan  kesediaannya untuk merenovasi rumah kami. Setelah sebulan belum berbalas, lantas, saya memberanikan diri mengirimkan e-mail kedua dengan permintaan yang lebih spesifik dan memberikan anggaran Rp 100 juta.

Kami terkejut karena permintaan kami ditolak. “Renovasi sering bertentangan dengan kepuasan. Padahal apalagi kenikmatannya selain kepuasan desain kalau dari proyek-proyek kecil seperti ini,” kata Yu Sing. Ia lebih memilih membangun rumah dari nol, sehingga desain lebih maksimal, dan mengajukan angka, 150 juta.

Alasannya cukup masuk akal. Sebagai penulis dan fotografer freelance, saya paham rasanya menolak klien yang tidak seide. Saya dan suami justru mengagumi langkah ini. Kami pun dengan semangat membalas: jika memang rumah yang sekarang harus dirobohkan, kami tidak keberatan.

Sejak itu, perjalanan mendesain rumah pun dimulai. Yu Sing memberikan kami ‘formulir’ berisi serangkaian pertanyaan seperti lokasi lahan, peraturan tertentu untuk membangun disitu, kebutuhan ruang, anggaran, dan sumber dana. Tidak hanya itu, juga ada pertanyaan pribadi seperti hobi, karakter keluarga, falsafah hidup, dan hal lain yang menurut kami relevan. Ada juga pertanyaan soal kualitas ruang yang kami impikan, atau apakah kami sudah punya konsep rumah. Arahnya tentu saja agar desain rumah bisa dibuat sepersonal mungkin. Uniknya, semua ini cukup dilakukan lewat e-mail.

Soal rumah impian, pada dasarnya kami memiliki beberapa kriteria penting. Yang pertama adalah rumah yang ramah sehingga orang – terutama tetangga – tidak segan untuk masuk, mengingat rumah kompleks biasanya sangat privat. Lalu, haruslah mengutamakan fungsi daripada estetika belaka. Rumah juga harus menjadi tempat istirahat yang nyaman sehingga seolah seperti suasana berlibur di rumah. Hal ini penting bagi suami saya dengan jadwal 5 minggu kerja di luar kota dan 4 minggu libur di rumah. Rumah juga harus sehat dengan sirkulasi udara dan cahaya baik. Jika memungkinkan, kami menginginkan rumah yang ramah lingkungan serta gampang perawatannya.

Setelah melalui proses desain yang kesemuanya dilakukan tanpa tatap muka, akhirnya, gambar final datang pada bulan November 2011, sekitar satu tahun sejak pertama kali mengirimkan e-mail. Yu Sing memang sudah mensyaratkan bahwa ia tidak bisa buru-buru.

Di atas kertas, desain rumah sangatlah cantik. Kebutuhan ruang dapat terpenuhi. Tiga kamar tidur, dua kamar mandi, ruang keluarga, dapur, ruang makan, ruang kerja hingga ruang servis yang memuat gudang, tempat cuci dan jemur. Apalagi, dalam proses itu kami mendapat rezeki, sehingga bisa menaikkan anggaran pembangunan menjadi Rp 300 juta. Rumah yang tadinya direncanakan dua lantai, menjadi tiga karena ditambahkan ruang mezzanine (ruangan di bawah atap) yang bisa dipakai buat apa saja.

Balkon Lantai Mezzanine (foto: Dinda Jouhana)

Balkon Lantai Mezzanine (foto: Dinda Jouhana)

Skylight dan Railing (foto: Dinda Jouhana)

Skylight dan Railing (foto: Dinda Jouhana)

Sembari mengurus Izin Mendirikan Bangunan, kami mulai mencari kontraktor. Karena kami tidak punya referensi, sang arsitek merekomendasikan kontraktor yang pernah bekerja dengannya. Kami tahu rumah ini akan ‘berbeda’ dari rumah kebanyakan, tentunya dibutuhkan kontraktor yang sudah mengenal gaya sang arsitek. Akhirnya, kami memutuskan untuk menggunakan jasa kontraktor yang direkomendasi.

Setelah bertemu dan menerima pengajuan RAB, ternyata anggaran untuk struktur saja sudah hampir mencapai anggaran keseluruhan yang kami sediakan. Meskipun kami masih menyediakan dana cadangan diluar anggaran, tetap saja itu terlalu mahal karena masih ada pekerjaan finishing yang biasanya berjumlah signifikan.

Berbekal penawaran RAB, kami bertemu muka dengan Yu Sing dan tim Akanoma, Anjar Primasetra. Dari hasil diskusi tersebut, kami sepakat untuk mengubah spek bangunan. Perubahan paling vital adalah dinding. Yang tadinya memakai bata, kini berdinding simpai: teknik yang menggunakan besi hollow untuk pertulangan, dinding GRC yang disekrup di satu sisi dan plesteran aci di sisi yang lain, dengan menggunakan kawat ayam dibagian tengahnya agar acian dapat menempel baik. Selain itu, rumah akan bernuansa ekspos. Dinding tidak dicat, langit-langit tanpa plafon dan jaringan listrik terlihat jelas.

Kami membawa hasil diskusi itu ke kontraktor. Tidak pernah mengerjakan dinding sedemikian, ia sempat ragu. Sang kontraktor memberikan argumentasi ‘khas sipil’ terutama soal kekuatan dan ketahanan bangunan. Masalah kerapian juga mengemuka. Ia ingin memastikan kami tahu apa yang kami lakukan. Dengan spek baru, harga bisa ditekan, meskipun pekerjaan dinding masuk kepada finishing, bukan struktur.

Saya dan suami menimbang plus-minus spek yang baru. Tapi, keputusan apapun dalam hidup ini pasti ada kontroversinya. Ini adalah salah satu pelajaran filosofis yang saya dapatkan. Pertanyaannya sekarang, jika sudah tahu apa kekurangan dan kelebihannya, maukah kami berkomitmen atas keputusan itu? Ternyata jawabannya adalah: YA. Kami masih muda, dan senang berpetualang. Membangun rumah yang nyeleneh, juga adalah petualangan; kami siap menanggung resiko.

Dan dari situ, petualangan sesungguhnya dimulai.

Awal tahun 2012, kami mengontrak rumah yang berjarak hanya dua menit berjalan kaki dari rumah awal. Sesuai kontrak, rumah akan selesai pada bulan November 2012. Dengan perkirakan satu bulan beres-beres, jika berjalan lancar, awal 2013 kami sudah bisa menempati rumah baru. Tahun baru, rumah baru. Itu rencananya.

Setelah pekerjaan administrasi dan sebagainya, pekerjaan rumah baru dimulai pada bulan Maret 2012. Rumah lama dihancurkan total. Masalah pertama muncul: keluarga dan tetangga yang melihat tentu kaget dan menyayangkan keputusan ini. Tapi kami jalan terus.

Sekitar lima bulan kemudian saat struktur sudah selesai dibangun, tim arsitek membeberkan ide untuk merubah façade. Perubahan ini tentunya masih mungkin dilakukan mengingat proses finishing belum dimulai.

Ide perubahan ini berawal dari usulan kami untuk menambahkan detail ukiran Aceh yang  terinspirasi dari rumoh geudong milik keluarga besar suami saya yang terletak di Sigli, Nangroe Aceh Darusalam. Ternyata ide ini diterima, malah berkembang sehingga rumah kami berganti ‘judul’ menjadi Rumoh Aceh Transformasi.

Rumah ini terlihat seolah-olah seperti rumah panggung dari kayu. Untuk lantai dua dan tiga, yang tadinya memakai GRC diganti menjadi woodplank, bahan dari fiber semen yang permukaannya dicetak mirip kayu. Beberapa detail ditambahkan, seperti lisplang dan railing balkon yang ukirannya terinspirasi dari ukiran rumoh geudong tersebut.

Setelah struktur selesai, proses finishing agak tersendat. Kontraktor memastikan semuanya akan sesuai jadwal. Awalnya kami percaya penuh. Namun, di bulan Oktober – sebulan sebelum kontrak berakhir, rumah masih belum berdinding, belum berlantai. Kecuali dibangun oleh Bandung Bondowoso, rumah tidak akan bisa selesai sesuai jadwal dalam kontrak.

Meskipun was-was dengan kinerja kontraktor, kami tetap berprasangka baik. Begitupun, saya mengambil langkah drastis. Pengerjaan rumah saya supervisi sendiri. Saya mempelajari semua seluk beluk rumah dan mendatangi proyek setiap hari untuk memastikan pekerjaan tukang. Saya juga membeli sendiri bahan-bahan yang seharusnya disediakan kontraktor. Saya bahkan melaporkan perkembangan rumah kepada kontraktor yang memang jarang nongol di lapangan.

Pada saat itu kepercayaan saya terhadap kontraktor sudah jauh menurun dan kesabaran saya benar-benar diuji. Suami saya tetap berpendapat untuk memberi kesempatan kepadanya untuk memperbaiki kinerja. Akhirnya kami memutuskan untuk memperpanjang kontrakan rumah hingga Februari 2013, karena hingga Desemberpun proyek belum selesai.

Saat pertemuan awal Januari, sang kontraktor berjanji dengan sungguh-sungguh akan serah terima rumah pada akhir Januari. Namun, pada tenggat yang ia tentukan sendiri itu, rumah juga masih belum selesai. Jangankan mengunjungi proyek, mengabari pun tidak. Padahal, pekerjaan sesungguhnya hanya tinggal sedikit. Akhirnya, kami memutuskan untuk memberhentikan para tukang pada akhir Februari, dan memanggil tukang lain untuk menyelesaikan sisa-sisa pekerjaan.

Permasalahan dengan kontraktor ini adalah pelajaran lain yang saya dapatkan dari proses membangun rumah. Sebagus apapun konsep yang kita punya, jika eksekusinya tidak baik, maka hasilnya tidak akan maksimal. Mungkin seperti negara ini: konsep Pancasila di republik ini begitu bagus, namun jika pemerintah tidak mengatur negara ini dengan baik, hasilnya adalah chaos.

Akhirnya rumah baru sudah bisa saya tempati pada awal Maret, meskipun masih harus dirapikan di sana-sini. Hasil akhir rumahnya sendiri tidak berbeda jauh dari apa yang didesain oleh para arsitek.

Tentu saja ada detail-detail yang terlihat bagus di atas kertas, namun tidak sesuai dengan lapangan sehingga harus berimprovisasi. Juga, ada hal-hal yang sebenarnya sangat bisa dilakukan sesuai dengan desain, namun karena pengerjaan yang kurang rapi dan presisi, membuat beberapa hal berbeda dari desain. Selain itu, ada spek yang kami ubah. Beberapa atap/skylight yang sesungguhnya bisa memakai polikarbonat, kami ganti dengan kaca. Atau lantai yang tadinya cukup dengan multipleks, kami lapis dengan kayu pinus. Semata karena ada rezeki tambahan.

Begitupun, secara umum rumah ini sesuai seperti yang saya dan suami harapkan. Rumah tiga lantai ini rampak ramah, tidak menjulang angkuh. Bahkan ketinggiannya sama dengan rumah tetangga yang berlantai dua. Belum lagi selesai dibereskan, anak-anak tetangga sudah datang bertamu dan bermain tanpa ragu.

Tangga ke lantai mezzanine (foto: Dinda Jouhana)

Tangga ke lantai mezzanine (foto: Dinda Jouhana)

Ruang Mezzanin (foto: Dinda Jouhana)

Ruang Mezzanin (foto: Dinda Jouhana)

Detail-detailnya fungsional, seperti tangga dari lantai dua ke lantai mezzanine yang juga berfungsi sebagai rak buku. Cahaya alami melimpah di siang hari dan sirkulasi udara begitu bagus. Bahkan lantai mezzanine pun terasa dingin karena angin bebas masuk. Rumah ini juga ramah lingkungan karena tidak hanya hemat listrik, tapi juga ada penampungan air hujan yang dapat digunakan untuk menyiram tanaman atau mendinginkan atap.

Rumah ini memberikan perasaan yang menyenangkan bagi saya dan suami. Bagi saya, setiap sudut rumah ini photogenic. Ia memberikan inspirasi untuk berkarya. Sesuai dengan nafas etnik facade rumah ini, saya bahkan membayangkan ini sebagai ‘rumah Indonesia’: mendekorasinya dengan kain-kain tradisional koleksi saya atau menjadi semacam ‘galeri’ untuk memajang karya-karya seniman Indonesia.

Meski banyak ketidaksempurnaan yang umumnya bersumber dari pengerjaan yang kurang rapi, rumah ini tetap cantik. Seperti kata Yu Sing sang arsitek saat berkunjung di akhir Februari lalu, “Ini adalah rumah yang manusiawi, yang memaafkan kesalahan.”

Rumah ini, adalah semacam constant reminder untuk saya yang ‘terlalu perfeksionis’: bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Saya tahu, saya akan belajar banyak dari rumah saya sendiri.

… kemudian pertanyaan sejuta dolar dilontarkan: berapa total biaya yang dihabiskan? Wah, untuk menjawabnya, saya masih menunggu tagihan dari kontraktor, hehehe…

Ruang Makan (foto: Dinda Jouhana)

Ruang Makan (foto: Dinda Jouhana)

Dinda Jouhana
Telah lulus Ilmu dari Komunikasi FISIP, USU; mencintai penulisan dan fotografi juga dunia seni budaya, filantropi dan bisnis. Sejak mengundurkan diri dari Los Angeles Times biro Jakarta tahun 2009, menjadi freelancer dan mengerjakan berbagai proyek yang menarik
minatnya, seperti pembuatan buku dan mengorganisir event budaya. Dengan dukungan penuh suaminya, Teuku Ismail, perempuan yang sedang kerajingan diving ini juga mempunyai berbagai bisnis, mulai dari jasa fotografi, produksi yogurt hingga rental mobil.
Saat ini, ia tengah sibuk merancang dekorasi untuk rumah yang baru saja selesai dibangun.