Man is just a passer-by in nature

1297 Views |  Like

(dialog dengan Eko Prawoto)

Arsitektur dan arsitektur (di) Indonesia 

Sejak awal berdirinya sekolah arsitektur pertama di Indonesia, ITB, kita sudah sangat terekspos oleh nilai-nilai asing (modern, klasik atau apapun) yang dibawa oleh V.R van Romondt yang berambisi untuk mendefinisikan ‘arsitektur Indonesia’ sebagai penggenapan gagasan fungsionalisme, rasionalisme, dan kesederhanaan dari desain modern, namun terinspirasi oleh prinsip arsitektur tradisional.

Bagaimana menurut bapak definisi ‘arsitektur Indonesia’ yang dibawa oleh van Romondt?

Kebetulan saya mengikuti pendidikan yang masih ‘bernafaskan’ semangat itu. Jurusan Arsitektur UGM didirikan oleh 7 arsitek lulusan ITB. Pada saat saya mahasiswa di sana tahun 70-80 an wacana tentang perlu adanya ‘politik identitas’ dalam berarsitektur relative masih sangat kuat. Dengan tampilnya arsitek2 Jepang di panggung dunia dengan mengusung wacana Regionalisme, semangat pencarian atas hadirnya ‘arsitektur Indonesia’ menjadi semakin menguat. Pendekatan pencarian ini sangat memetingkan bentuk atau wadag arsitekturnya. Eksplorasi design dengan semangat yang ‘eklektis’ banyak dilakukan bahkan sangat popular.

Pada akhirnya semangat ini ‘mereda’ karena arus informasi yang a-simetris, publikasi pemikiran arsitektur ‘barat’ sangat dominan sementara pencarian dan penggalian wacana yang menindonesia sedikit demi sedikit terlupakan. Mungkin juga karena sebagain merasa bahwa lebih penting melakukan ‘pendekatan dari dalam keluar’ bukan sebaliknya. Ungkapan wadag akan ditemukan ketika kita mampu melakukan ‘pembacaan baru’ atas kebutuhan hidup manusia. Arsitektur memiliki akar budaya yang lebih luas, lebih dari sekedar bentuk luar.

Apakah kita memiliki kultur arsitektur yang kontinu dari arsitektur tradisional kita. Apakah ‘arsitektur Indonesia’ sebuah rupture untuk mendefinisikan lagi arsitektur di Indonesia?

Pengetahuan kita tentang arsitektur tradisional yang sangat beragam itu haruslah diakui masih sangat sedikit/terbatas. Di beberapa daerah mungkin masih berlanjut sementara ditempat lain sudah ‘terputus’.Sehingga apakah ini sebuah kontinuitas dalam arti yang ‘sadar’ mungkin masih bisa dipertanyakan. Sepertinya ini lebih berawal dari keputusan ‘politik kebudayaan’ untuk memahami tentang potensi serta nilai dan pemikiran yang terkandung dalam tiap budaya kita. Saya melihatnya sebagai peluang untuk ‘belajar’ dari sesuatu yang telah hadir dalam rentang waktu panjang. Kalau toh ada kontinuitas mungkin dalam artian ‘menyambung’ atau mengadopsi prinsip universalnya dalam konteks kekinian.

Apakah arsitektur menurut bapak?

Sekarang ini saya lebih melihat arsitektur sebagai media untuk melakukan transformasi kehidupan yang lebih baik. Mungkin lebih berbicara tentang impact dari karya dalam konteks yang lebih luas. Arsitektur bukan sebuah entitas lepas yang berawal dan berakhir dalam dirinya sendiri, namun lebih sebagai ‘platform’ untuk menganyam lagi aspek sosial, budaya dan lingkungan.

Nilai-nilai apa yang bapak percaya dari arsitektur dan arsitektur (di) Indonesia?

Saya merasa bahwa kedekatan dengan alam,pemikiran yang lebih utuh, ketrampilan menggunakan/mengolah bahan alam,serta semangat kebersamaan masih dapat kita baca dalam aritektur tradisi kita. Dalam kesederhanaan ungkapan designnya sebenarnya kita bisa belajar banyak tentang nilai kehidupan yang lebih memberi harapan. Krisis lingkungan yang terjadi dalam kehidupan modern ini berawal dari sikap individualistic juga keserakahan untuk mengeksploitasi alam . Wawasan tentang nilai2 yang lebih menyeluruh dan bertumpu pada kebersamaan masih bisa kita temui dalam arsitektur tradisional. Arsitektur masih bisa sebagai media untuk berbagi nilai yang lebih positif tentang kehidupan.

Lung, Eko Prawoto, Yogyakarta, 2008

Lung, Eko Prawoto, Yogyakarta, 2008

Pendidikan arsitektur dan ketertarikan

Latar belakang bapak sebagai alumnus sekolah arsitektur UGM, yang bersituasi di daerah yang erat kaitannya dengan tradisi dan kultur. Saya melihat hal ini kerap muncul di beberapa karya bapak yang erat kaitannya dengan kultur lokal, yang dalam bahasa kerennya kita sebut vernakular.  Bapak yang (kalau saya tidak salah sebut) merupakan murid Romo Mangun, sedikit banyak menunjukkan semangat dan pandangan akan arsitektur yang sejalan.

Bagaimana intervensi dan kontribusi bapak terhadap masyarakat sekitar melalui arsitektur yang mempengaruhi dan menginspirasi banyak orang?

Saya merasa baru saja mulai untuk berarsitektur secara lebih sadar . Dampak arsitektur sebenarnya sangat langsung dan berjangka waktu panjang. Untuk itulah diperlukan keputusan yang utuh dan harmonis terhadap berbagai aspek kehidupan. Saya pikir kontribusi dan pengaruh karya saya belum terasa,mungkin sedikit menginspirasi beberapa orang. Terutama dalam memberikan penghargaan pada alam,pohon serta tenggang rasa social dan pada nilai budaya. Ini sebenarnya lebih sebagai ‘gerakan’ bagaimana mengajak orang untuk lebih menghargai alam sebagai sumber kehidupan.

Bagaimana komentar bapak dan nilai kultur apa yang bapak ekstrak dari dua pengalaman ini?

Yogyakarta sebagai tempat belajar saya pikir sangat besar pengaruhnya. Paling tidak kita bisa merasakan dan memahami bahwa konsep tentang keseimbangan dan keselarasan dalam keseharian. Dan dari YB Mangunwijaya tentu pada panggilan profesi dan kemanusiaan kita untuk mengupayakan agar kehidupan ini menjadi lebih baik berkeadilan. Romo membahasakannya sebagai ‘memanusiakan manusia’. Saya mencoba untuk belajar dalam ‘mencari keseimbangan baru’ dalam situasi yang penuh goncangan dan tekanan ini.

Kira-kira semangat apa atau nilai-nilai apa yang bapak pelajari dari beliau? Bagaimana peranan beliau dalam ruh arsitektur yang bapak percaya?

Saya merasa pengaruh beliau sangat banyak. Dari wawasan pemikiran serta inspirasi karya-karya beliau. Hampir dalam setiap kunjungan dalam karya beliau saya menemukan atau melihat sesuatu yang baru. Keberadaan kita dalam suatu ruang dan waktu tentulah memiliki ‘panggilan’ yang spesifik. Saya mencoba terus belajar untuk memberikan dampak bagi terwujudnya kehidupan dalam kebersamaan yang lebih baik. Mohon maaf kalau jawaban ini terasa sangat klise dan normative…:)

Eksposur asing

Pada tahun 1993 bapak menempuh pendidikan lanjut di Berlage Institute Amsterdam. Dan secara langsung bapak terekspos oleh pemikiran dan filososfi-filosofi baru, permasalahan baru, metoda baru serta bertemu beberapa arsitek (Herman Hertzberger, Aldo Van Eyck, Wiel Arets, Steven Holl, Rem Koolhaas, Kenneth Frampton, dll) yang sangat berpengaruh di Eropa/ dunia pada saat itu.

Sejauh mana pengalaman di Berlage tersebut mempengaruhi hal fundamental yang sudah bapak mengenai pegang  mengenai Arsitektur?

Pengalaman di BIA serta kesempatan tinggal dan hidup di negara 4 musim juga perjumpaan dengan banyak orang, memberikan keluasan cakrawala pikir saya. Dimanapun selalu ada masalah kehidupan. Kembali kepada bagaimana kita melihat atau melakukan ‘diagnosis’ atas situasi sosial ini, dan mengupayakan perbaikannya. Dari Amsterdam saya kemudian malah lebih mengenal tentang Indonesia, tentang permasalahannya namun juga tentang potensinya. Jarak yang cukup membuat saya bisa ‘melihat’ dengan lebih seimbang.

Bapak yang teredukasi dari ‘timur’ yang ‘terstruktur’ dan ‘hirarkis’ dihadapkan dengan edukasi Berlage yang dipercaya Herzberger sebagai Montessori School of Architecture, (dengan motto nya help me to do what I want) bagaimana menurut bapak mengenai perbedaan ini?

Pada semester pertama disana saya hampir memutuskan untuk pulang ke Indonesia karena merasa itu bukan tempat yang pas. Namun setelah bertemu dengan Balkrishna Doshi, saya mendapatkan sudut pandang yang lebih proporsional. Saya merasa lebih nyaman dan mampu berkomunikasi secara lebih ‘setara’ dengan siapa saja.
Kebebasan dan kelekuasaan berpikir berpendapat memberikan wawasan baru buat saya. Saya bisa melihat berbagai ‘kekayaan’ budaya Indonesia, kearifan dalam sikap dan tindakan, kesedehanaan.
Sikap keterbukaan dan dorongan positif dari ‘pengajar’ disana juga membangun sikap yang lebih terbuka serta rendah hati sekaligus pentingnya tanggung jawab dan peran sosial arsitek.

Bapak juga membawa sebuah kontribusi untuk dunia Internasional dengan mengangkat perkampungan di tepi kali code sebagai tesis bapak di Berlage, yang sangat erat kaitannya dengan permasalahan di Indonesia dan juga mentor bapak, yaitu Romo Mangun. Sebenarnya apa ambisi dari proyek ini? 

Peluang untuk melakukan eksplorasi dan melontarkan wacana design sangat menyenangkan. Hanya pada semester akhir saya merasa bahwa sekolah sekaliber BIA ini harus juga melihat realita dunia yang lebih utuh. BIA waktu itu berstatus sebagai international postgraduate school of architecture. Saya hanya berharap bahwa predikat ‘internasional’ itu juga bermakna memiliki relevansi dan kaitan atas realitas dunia. Saya lalu mengusulkan proyek yang waktu itu sangat ‘kontras’. Ini semacam ajakan untuk berpikir bersama untuk melihat realitas yang lebih luas. Disana kita kadang merasa terlalu nyaman dan hanya melakukan eksplorasi estetik saja. Dalam konteks itulah saya menawarkan proyek yang sangat ‘down to earth’ dimana estetika bukan menjadi issue penting.

Berkarya di luar Indonesia

Bapak banyak menggunakan material, elemen serta masyarakat lokal dalam karya-karya bapak baik di dalam maupun di luar negeri. Bagaimana bapak melihat posisi karya bapak dalam ranah Arsitektur Indonesia?

Salah satu nilai yang baik dalam masyarakat Indonesia adalah kebersamaan. Saya kemudian juga semakin menyadari bahwa berarsitekturpun merupakan proses yang kolaboratif ( bukan sekedar expresi individual! ), berarsitektur sebagai kerja kolektif yang terbuka.

Dalam setiap karya saya mencoba memandangnya dengan perspektif seperti itu, keterbukaan juga berarti mengakomodasi potensi local , bahan local dan ketrampilan local. Arsitektur bukan sebagai sesuatu yang ‘ditaruh’ kedalam site namun lebih sebagai sesuatu yang ‘dimunculkan/ditumbuhkan’ dari dalam site.
Ya, saya masih terus belajar untuk mempertajam kepekaan saya dalam ‘membaca dan melihat’ aspek local ini. Dan ini bukan persoalan Indonesia saja. Dalam berbagai pengalaman berkarya ditempat lain saya merasakan bahwa lokalitas merupakan issue global juga. Kehidupan kita sekarang ini dalam terpaan kekuatan industry global yang cenderung membuat keseragaman ungkapan. Kesadaran atas sesuatu yang local merupakan upaya untuk brdialog atau membuat perimbangan wacana.

The Temple, Eko Prawoto, Singapore, 2010

The Temple, Eko Prawoto, Singapore, 2010

The Temple, Eko Prawoto, Singapore, 2010

The Temple, Eko Prawoto, Singapore, 2010

Karya bapak beberapa berada di luar Indonesia seperti Straw Poem di  Buonconvento, Siena, Italia, Lung dan  the Temple di Singapura. Apakah ini usaha untuk berkontribusi dalam diskusi arsitektur di dunia? Apa motif dan ambisinya?

Saya bersyukur atas berbagai kesempatan untuk berkarya ditempat lain. Dan ini juga sekaligus sebagai kesempatan untuk ‘membaca dan melihat’ kakarteristik local. Biasanya komunitas setempat juga sangat senang karena kemudian mereka punya peluang untuk merasakan dan melihat diri mereka sendiri (walaupun dengan meminjam mata orang luar). Saya merasa bahwa keunikan site juga komunitas perlu dijaga,perlu disadari dan diartikulasikan, kalau tidak kita akan ‘terhilang’, hadir tanpa konteks, seperti mengambang atau terapung dalam ruang dan waktu. Dalam perubahan dan pergerakan yang sangat cepat ini saya kira manusia juga memerlukan sebuah ‘static point’ sebagai reference keberadaan kita.

Posisi Arsitek
Dengan banyaknya posisi seorang arsitek yang ditawarkan dan dibela oleh beberapa arsitek: sebagai intelektual publik mengangkat permasalahan sosial dan ekonomi, sebagai pebisnis dengan motto good design is good business, sebagai agen sosial masyarakat yang membela orang-orang termarginalkan, sebagai pewujud impian developer dan masyarakat menengah, sebagai pendidik generasi berikutnya dengan tawaran dogma, sebagai seseorang yang peduli akan kota dengan mengumpulkan masyarakat ‘kreatif’ untuk menghidupkan kota dan lain-lain.

Bagaimana menurut bapak posisi seorang arsitek?

Kita semakin menyadari bahwa kehidupan semakin berkembang dan saling berkait. Berbicara tentang kota atau kehidupan social budaya, yang ini juga tentang arsitektur, kita bisa lihat bahwa kita menjadi semakin tidak kompeten. Dari sisi profesi kita ini terjadi karena kita terlalu ‘tertutup’ dan asyik dengan persoalan arsitektur saja, sementara realitas kehidupan mengharap kita masuk lebih jauh. Kalau kita sebagai arsitek tetap bersikap ‘innocent’ maka dominasi capital akan semakin besar. Arsitek hanyalah ‘penjual jasa’ bagi pelayanan kehidupan mereka. Sementara itu ketimpangan dan kesenjangan social juga kerusakan alam dan krisis kebudayaan semakin nyata. Ini bukan kerja orang perorang saja, namun lebih sebagai gerakan untuk memimpikan dan memperjuangkan keadaan yang lebih baik dan berkeadilan. Saya melihat ini panggilan besar kita…

Bagaimana arsitektur atau ruang (space) harus menginformasikan ini?

Ruang dapat tampil untuk mewacanakan persoalan dan juga berbagai upaya kreatif untuk memperbaiki kehidupan. Potensi jaringan yang dimiliki oleg generasi muda sekarang sangat besar. Ini bukan tentang kegelisahan ala negara miskin/berkembang. Ini kegelisahan besar yang mencoba untuk membuat wacana alternative demi kehidupan yang lebih baik. Dinegara majupun wacana ini semakin lantang terdengar.

eko prawoto(Eko Prawoto seorang arsitek dan pendidik yang konsisten dengan lokalitas, potensi material serta tenaga, dan ketertarikannya akan arsitektur yang membawa semangat kebersamaan. Beliau menyelesaikan pendidikan arsitektur di Universitas Gajah Mada pada tahun 1982, kemudian menempuh pendidikan lanjut di Berlage Institute Amsterdam pada tahun 1993. Beliau percaya bahwa esensi arsitektur terletak pada sebuah proses: materialisasi sebuah ide secara partisipatif. Arsitektur yang beliau komunikasikan cenderung sederhana dan sensitif yang berusaha mengartikulasi kembali relasi manusia dengan alam. Beberapa karya beliau diantaranya: Cemeti Art House, Yogyakarta (1997-1999); Rumah Butet Kertarajasa, Yogyakarta (2001-2002); Straw poem, Buenoconvento, Siena, Italia (2003); Lung, Yogyakarta dan Singapura (2008); The Temple, Singapura (2010).)
Ivan Nasution
Ivan Nasution lulus dari Arsitektur ITB pada tahun 2006, lalu bekerja di Park+Associates Architect, Singapura. Di tahun 2011, ia menyelesaikan pendidikan penelitian pascasarjana di Berlage Institute Rotterdam. Saat ini menjadi peneliti di Centre for Sustainable Asian Cities, National University Singapore. Di sela waktu luangnya, ia aktif menjadi fasilitator bagi Participate in Design, sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang desain, perencanaan, dan pendidikan.