Makna Kematian di Ruang Publik: Selebrasi Melawan Lupa

1268 Views |  Like

Bagi seluruh makhluk yang tidak abadi, mati adalah sebuah kepastian, tanpa bisa dipastikan dengan cara apa kematian menjemput. Dalam pemahaman sebagian kaum yang beragama, ‘mati’ adalah sebuah awal dari kehidupan yang baru. ‘Mati’ adalah pembebasan dari belenggu keduniawian menuju kehidupan yang abadi.

Sedangkan sejarah adalah rekaman, jejak yang ditinggalkan oleh mereka yang kebanyakan telah mati. Dunia mencatat, ada beberapa peristiwa sejarah yang dikategorikan sebagai kejadian luar biasa karena melibatkan sebuah ‘kematian massal’. Yang sangat terkenal misalnya Holocaust dan Tragedi Minamata. Kematian massal ini disikapi sebagai sebuah mass mourning, ratapan massal, yang disimpan sebagai memori kolektif sebagai penghormatan terhadap yang telah pergi maupun peringatan bagi yang tertinggalkan.

Peringatan dan penyimpanan memori kolektif terhadap kematian massal yang dianggap ‘kehilangan’ diwujudkan dalam ruang salah satunya berbentuk memorial park. Menurut bahasa, memorial park berarti pemakaman, pekuburan, atau necropolis yang digunakan sebagai tempat penguburan, yang dapat didatangi untuk mengenang mereka yang telah mati. Definisi lainnya adalah sebuah bentuk pemakaman modern dengan penataan tanpa nisan tegak. Memorial park pertama didirikan tahun 1906 dengan nama Forest Lawn di San Fransisco. Pada tahun 1917, Dr. Hubert Eaton sebagai pengelola baru dari area pemakaman ini mengubah kuburan berbatu nisan yang berkesan gelap dan menyeramkan menjadi kuburan tanpa nisan tegak, hanya plakat yang diletakkan di tanah. Dalam bayangan Eaton, plakat yang sejajar dengan tanah tidak mengganggu penataan lanskap di area pemakaman, dengan demikian area memorial park tersebut dapat dijadikan taman dengan pepohonan dan fitur-fitur indah lainnya agar lebih berkesan menenangkan.

Memorial park merupakan sebuah repository yang dapat diakses oleh masyarakat umum, baik yang memiliki keterikatan atau hubungan dengan kejadian yang dikenang maupun yang tidak. Dalam sebuah memorial park ada jiwa yang membangkitkan bayangan mengenai sebuah kejadian, dan kebanyakan dari kita memaknai ‘jiwa’ ini dengan kegelapan. Dengan makna kehilangan yang menyesakkan. Dengan kepedihan. Namun apakah kenangan tentang yang telah pergi selalu diingat dalam kesuraman?

Berdasarkan pertanyaan demikian maka banyak contoh memorial park yang akhirnya melengkapi kawasan pemakaman dan/atau kawasan memorial ini dengan fasilitas-fasilitas yang meriah. Contohnya Memorial Park Houston yang memiliki lapangan golf dan convention hall, tanpa pemakaman ataupun monumen peringatan di dalamnya sekalipun perancangannya konon sebagai sebuah ‘pengingat’ akan para prajurit Amerika yang tewas dalam Perang Dunia I. Hal ini bertujuan untuk menciptakan kesan ‘hidup’ di kawasan yang sedang menyuarakan kematian. Walaupun demikian, ada pula memorial park yang didirikan sebagai sebuah pengingat sejarah tidak dalam bentuk pemakaman sehingga proses mengenang tidak dilakukan dengan memandangi plakat nama mereka yang telah meninggal dunia.

Berlin Holocaust Memorial – Karya Peter Eisenmann

Eisenmann merancang sebuah area memorial bagi kaum Yahudi korban pembantaian Perang Dunia ke-2 di salah satu pusat kota Berlin. Lokasinya terletak tidak jauh dari Brandenburger Tor, salah satu objek wisata kota teramai di kota tersebut. Rancangannya berupa deretan kotak beton/stelae di sebuah lahan yang tidak rata, bergelombang ke semua penjuru. Karya ini sempat diprotes karena tidak mencantumkan nama korban pada setiap stelae dan dianggap terlalu abstrak bagi pengunjung untuk memaknainya sebagai monumen peringatan dari sebuah momen kehilangan massal.

Berlin Holocaust Memorial (sumber: Dokumen Pribadi)

Berlin Holocaust Memorial
(sumber: Dokumen Pribadi)

Namun mungkin Eisenmann memang tidak berniat menjadikan desainnya sebagai sebuah penggugah rasa pedih. Tidak berniat membuat memorial park yang menyimpan kenangan buruk, setidaknya bagi mereka yang datang mengunjungi. Bahwa para korban meninggal dengan cara yang menyedihkan adalah sesuatu yang dipercayai. Untuk itu telah disediakan museum peringatan bagi para korban di bagian bawah memorial park ini, yang dibuat oleh perancang lain.

Kawasan Berlin Holocaust Memorial ini terbuka di keempat sisinya, memungkinkan pengunjung untuk mengakses desain Eisenmann dari titik manapun. Konfigurasi stelae dalam tapak yang berkontur dan dengan ketinggian balok beton yang berbeda-beda bagi pengunjung justru dapat menimbulkan perasaan playful. Tertutupinya pandangan akibat komposisi balok yang tinggi dan besar membangun perasaan tersesat di sebagian tempat. Perasaan ini tersembuhkan ketika pengunjung keluar dari kurungan balok beton berwarna abu-abu kehitaman menuju lokasi tempat balok stelae berubah menjadi lebih rendah dan menjadi satu lokasi yang nyaman untuk memandang keseluruhan kawasan.

Persepsi terhadap sebuah kehilangan dalam momentum kematian massal yang terekam dalam sejarah telah digeser oleh taman monumen ini. Mengingat kematian dengan cara yang lebih ‘menyenangkan’, mendekatkan pengunjung pada perasaan ‘letting go’ yang lebih halus dibandingkan memupuk kesedihan dan menjadikannya dendam.

Awajiyumebutai Hyakudanen Garden – Karya Tadao Ando

A maestro of poetic architecture, demikian Ando dikenal. Hyakudanen Garden atau Hundred Flower-bed Park adalah salah satu bagian yang dirancang oleh Tadao Ando sebagai bagian dari kawasan Pusat Konferensi Awajiyumebutai, Pulau Awaji, Kobe. Pulau Awaji adalah episentrum dari gempa besar Kobe tahun 1995 yang telah menewaskan lebih dari 6200 orang.

Awaji Yumebutai dirancang sebagai salah satu cara mengembalikan kehidupan di pulau Awaji setelah luluh lantak digoyang gempa berkekuatan 6,8 MMS (berdasarkan USGS) dan kedalaman episentrum hanya 16 km. Untuk mengenang mereka yang meninggal sebagai korban dalam gempa besar saat itu, Ando merancang sebuah taman bunga.

Hyakudanen Garden (sumber: Dokumen Pribadi)

Hyakudanen Garden
(sumber: Dokumen Pribadi)

Hyakudanen Garden dalam masterplan Awaji Yumebutai seakan-akan menjadi semata taman belakang bagi Westin Hotel dan Oval Forum yang sangat dominan sebagai paket wisata. Dalam kawasan yang didominasi warna abu-abu khas Tadao Ando, taman ini justru menjadi pemanis yang meringankan kesan ‘kering’ dari komposisi beton sebagai material utama. Tidak banyak yang menyadari bahwa taman ini adalah juga sebuah memorial park. Tidak ada papan nama, tidak ada publikasi dalam bahasa Inggris yang menyebutkan bahwa kawasan ini dirancang oleh Ando sebagai penghormatannya kepada para korban. Kecuali sebuah papan nama berisi nama-nama dalam huruf kanji yang ditempel di dinding menuju pelataran Hyakudanen Garden.

Komposisi taman ini terdiri atas petak-petak yang diisi oleh berbagai jenis bunga yang tumbuh bergantian sesuai musim, walaupun demikian waktu terbaik untuk menikmatinya adalah di akhir musim semi. Ratusan anak tangga mengarahkan pengunjung dari lantai dasar menuju puncak taman di atas bukit. Dari lantai dasar, yang terlihat adalah tumpukan bunga-bunga beraneka warna. Pemandangan terbaik dapat dilihat dari jembatan yang menghubungkan menara dengan puncak taman. Dari ketinggian, kita dapat menikmati petak-petak bunga yang terlihat seperti karpet bersusun, tergelar ke arah laut.

Dalam taman ini Ando telah membangun suasana yang lebih melankolis dan romantis dibandingkan rancangan Eisenmann. Bunga-bunga yang ditanam memberi kesan feminin yang lembut, kontras dengan dominasi beton hampir di seluruh kawasan. Seperti melangkah menuju surga, perlu sedikit tertatih menaiki ratusan anak tangga. Seketika setelah berada di ketinggian lihatlah ke arah laut, maka keletihan itu hilanglah. Dibandingkan karya Eisenmann yang terasa lebih seperti pengikhlasan atas kehilangan dengan cara menjadikannya kenangan yang playful, Ando memaknai kepergian dengan cara yang lembut dan damai. Sebuah perayaan atas ketenangan.

Kedua karya memorial park ini telah memaknai kematian dengan cara yang berbeda. Secara psikologis, emosi sangat berpengaruh terhadap ingatan baik emosi dalam bentuk kesedihan maupun kebahagiaan. Memperingati kematian dengan cara yang tidak suram tidak berarti menafikan kehilangan atau melupakan perasaan. Perayaan kematian, apalagi yang berupa kematian massal, adalah pemaknaan ulang terhadap memori kolektif. Ada kerelaan atas sebuah kejadian yang tak mengenakkan dan kehendak untuk menjadikannya pelajaran, bekal untuk bergerak ke masa depan.

Keberadaan memorial park seperti ini adalah penghargaan terhadap sejarah, terlepas dari benar tidaknya versi sejarah yang sedang diperingati. Seperti juga karya Eisenmann yang cukup kontroversial pada masa pembangunannya, merayakan kematian dengan cara yang tidak suram juga melawan kelaziman. Sebuah peristiwa yang menyakitkan lebih sering ingin dilupakan. Diamnesiakan. Jikapun diingat, seringkali tidak dapat termaafkan.

Dugaannya, ingatan terhadap sejarah-sejarah yang lekat dengan peristiwa kematian diasosiasikan dengan keseraman agar menyentuh zona yang ingin dihindari oleh kebanyakan manusia. Dengan demikian, ‘lupa’ terhadap peristiwa menjadi wajar. Melawan ‘lupa’ akan sejarah dapat dilakukan dengan sebuah perayaan agar sejarah yang suram dapat didekati tanpa rasa takut. Intinya, mengembalikan ingatan kolektif tentang sebuah peristiwa agar bisa diambil hikmahnya dengan cara yang lebih disukai: Berpesta untuk mengumpulkan memori positif. Berpesta melawan lupa.

Tiffa Nur Latifa
Co-founder of SAB Indonesia

Tiffa Nur Latifa
Menempuh studi di Program Studi Arsitektur ITB pada tahun 2003-2007 dan meraih juara ketiga dalam kompetisi Mahasiswa Terbaik ITB 2007 serta lulus dengan predikat cum laude. Pada tahun 2008 bersama beberapa rekan merintis kelompok studio arsitek muda SAB-Indonesia yang berbasis di Bandung. Tahun 2010 lulus dari kelompok studi Lanskap, Program Studi Magister Arsitektur, Institut Teknologi Bandung. Telah mengambil program research student di Urban Studies, Planning, and Landscape Laboratory Department of Architecture University of Kitakyushu, Fukuoka Jepang. Dalam periode ini telah memenangkan peringkat ketiga dalam kompetisi internasional perancangan lanskap yang diadakan oleh International Federation of Landscape Architect-Asia di Thailand. Tulisan-tulisan dan karya lain dapat dinikmati pada laman www.talesofthebreeze.wordpress.com