Makan Malam Bersama Randu Permakultur dalam Fiksi

527 Views |  3

 

Tumben, Randu manut sama saya waktu saya ajak dia makan di emperan jalan Barito, daerah Blok M Jakarta Selatan, waktu kami habis jalan-jalan lihat barongsai liburan Imlek kemarin. Sebab, awalnya saya kira selama ini dia jijik kalau lihat cucian piring yang joroknya bukan main: piringnya cuma dicelup-celup saja di ember kecil, belum lagi kalau piring bekas cuciannya dijilat-jilat kucing. Maklum dia itu orangnya sangat pilih-pilih makanan. Biasanya dia cuma mau makan makanan sehat dengan sayuran organik saja. Tapi dugaan saya salah.

Dia cuma nggak mau makan lele.

Jangan heran kenapa saya pakai kata manut. Randu ini orangnya cukup keras kepala. Meski saya sudah tanyakan sejak lama kenapa dia tidak mau makan pecel lele, baru kali ini dia mau jawab meskipun cuma sekenanya.

“Wong Lamongan nggak oleh mangan lele,” jawabnya dengan logat khas Jawa Timuran sembari menyelupkan tangannya ke kobokan lalu menyeruput es teh manis yang sudah dipesan.

Perkara bersih atau tidak es batunya, yang saya lihat si abang yang bikin es teh manis itu memecahkan bongkahan es batu di atas terpal samping ember cuci piring. Setelah itu sisa bongkahan es yang masih besar dibungkus lagi dengan terpal dan dibiarkan begitu saja. Perkara itu air matang atau mentah, wallahualam. Tapi masalah rasa jangan ditanya.

Opo o emange (kenapa ya memangnya)?” Saya balas dengan logat Jawa Timuran sekenanya hasil belajar lumayan lama di Surabaya. “Toh sing dodolan iki yo wong Lamongan sisan. Ndelok wae tulisane asli Lamongan. (Toh yang jualan ini ya orang Lamongan juga. Liat aja tulisannya asli Lamongan.)” Raut muka Randu mendadak mengkerut mendengar pernyataan saya itu. Meskipun masih bingung saya memilih untuk tidak melanjutkan pertanyaannya.

Makanan yang kami pesan akhirnya datang. Saya memilih pecel lele sementara Randu ternyata tidak menolak untuk makan bebek goreng. Tempat ini cukup terkenal dengan pedas sambalnya yang pas di lidah ditambah kol gorengnya yang gurih.

Sambil makan, saya tiba-tiba kepikiran, dari mana asalnya spanduk brand pecel lele yang begitu khas ini. Mau di Jakarta atau kota lainnya, tiap tenda warung pecel lele macam begini formatnya mirip, ditutup spanduk gambar mural ikan dan unggas berpadu tipografi warna-warni yang menyebutkan semua menu makanan yang dijual.

Pada tahun 2015 lalu sempat ada kumpulan seniman yang mengangkat fenomena mural di tenda pecel lele ini sebagai budaya visual dan memamerkannya di Galeri Nasional Indonesia. Pameran ini menunjukkan bahwa publik juga secara kritis memproduksi objek visual dengan cara dan makna masing-masing secara bebas, diikuti pula dengan pertarungan yang terus berlangsung di ruang publik antara mereka yang mencari nafkah bermodalkan tenda seadanya begini dengan korporasi dan pemangku kebijakan yang merasa terganggu dengan keberadaan mereka.

Pameran bertajuk Bebas tapi Sopan dari Kolektif Visual Jalanan

 

Entahlah, kalau sudah lapar begini apa saja saya sikat. Saya lahap habis lele itu sampai ke bagian ekornya yang renyah.

Warung tenda ini hanya menggunakan meja kayu panjang dan kursi plastik sehingga mampu menampung pembeli dengan jumlah yang cukup banyak. Pada saat kami makan di tempat ini pengunjungnya hanya ada beberapa, masih ada cukup ruang untuk ngobrol dengan nyaman. Mungkin karena suasana yang hangat ini, sebelum saya tanyakan ulang, Randu mendadak memberi penjelasan.

“Gini loh. Kamu ngerti cerita tentang Boyopatih? Beliau orang yang dihormati di desaku. Semenjak kabar kematian Boyopatih ratusan tahun silam di Desa Medang Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan, masyarakat setempat percaya kalau makam mendiang Boyopatih ada di depan telaga. Di sana ia bersembunyi di balik ribuan lele ketika dikejar pasukan Mbok Rondo Barang. Pasalnya, ia meminjam keris yang tak dikembalikannya meski tujuh purnama telah berlalu.”

“Gara-gara itu kamu nggak makan lele?”

“Iya. Sebab Boyopatih pernah bersumpah agar kelak anak cucunya tidak memakan ikan-ikan itu. Apabila melanggar, mereka sendiri yang menerima akibatnya.”

Saya manggut-manggut.

Ia pun meneruskan, “Konon untuk menyembuhkan gatal-gatal itu mereka harus memohon ampun terlebih dahulu di depan makam mendiang Boyopatih, lalu megusapkan air yang berasal dari telaga penuh lele tempat mendiang Boyopatih bersembunyi.”

Tapi saya heran, meskipun kini dia sudah lama tinggal di kota yang isinya orang serba bodo amat begini, dia masih tetap percaya pada mitos macam begitu. Untuk para penggemar seafood di ibukota ini misalnya, makan kerang dari Muara Angke yang kandungan logam beratnya sudah melebihi batas maksimum saja, mereka tidak masalah.

“Aku baru denger itu, Ndu. Selama ini banyak dengarnya orang ndak mau makan lele karena jorok, dia bisa hidup di tempat kotor. Ditaruh di septic tank saja katanya bisa hidup. Yang penting sambelnya jos, anggep aja ga kenapa-kenapa. Toh sampe sekarang aku sehat-sehat saja makan lele tiap minggu.”

Randu tersenyum sinis, saya jadi ketakutan. Saya kira perkataan saya ada yang salah.

“Toh kebanyakan orang kota yo ndak paham dari mana asal usulnya makanan mereka, mereka ngertinya apa yang udah di meja makan saja. Perkara yang dimakan itu baik atau mudharat, yang penting sudah baca doa. Itu pun kalau sempat.”

“Maksudmu ayam tepung di restoran cepat saji, Ndu?”

“Itu lebih menjijikan. Sekarang ini bumi sudah terlalu sesak, urusan pangan itu bikin pemerintah sakit kepala. Gimana caranya ngasih makan ke 7 miliar lebih orang di dunia? Kalau cuma ngandelin pertanian dan peternakan di pinggiran kota tok ya ndak mungkin cukup. Makanya pemerintah impor sana sini untuk nyediain beras sama daging daging. Berarti kita perlu hati-hati kan pilih makanan. Masa kamu mau makan daging beku yang udah dioper sana sini dari seminggu lalu terus ditepungin.”

Dengan mode asbun alias asal bunyi saya jawab, “Ya tinggal ditanemin aja toh yang pinggiran kota itu. Kok bisa ndak cukup.”

Nampaknya Randu kali ini mulai jengkel beneran dengan saya yang sedari awal tidak terlalu peduli dengan omongannya. Biasanya dia kalau sudah jengkel begini bicaranya dengan logat Jawa Timuran lagi.

Kon iku lak arsitek se, mosok urusan sing ana hubungane karo ruang ngene wae gak paham. Lapo ae kon. Ngurusi bangunan tok lali yo lek butuh mangan. (Kamu itu kan arsitek ya, masa urusan yang ada hubungannya sama ruang gini aja gak paham. Ngapain aja kamu. Ngurusin bangunan aja sampe lupa kalo butuh makan.)”

Untungnya mode Jawa Timuran itu tidak bertahan lama, ia kembali lagi ke bahasa Indonesia medok.

“Gini loh. Semenjak tahun 2006, penduduk dunia untuk pertama kalinya lebih banyak yang tinggal di kota ketimbang desa. Segala tetek bengek urusan politik, keamanan, sains, lingkungan, dan kesehatan diatur untuk membuat manusia tidak kelaparan. Berarti kebutuhan konsumsi makanan semakin naik, produksi bahan makanannya juga perlu terus ditambah. Sayangnya ruang untuk produksinya itu berkurang terus-terusan, berbanding terbalik sama kebutuhan konsumsinya. Yo iki ulah wong-wong koyok kon sing kerjone mbikin bangunan tok. (Ya ini ulah orang-orang kayak kamu ini yang kerjanya bikin bangunan aja.) Ndak peduli kalau sebelumnya tempat untuk ngebangunnya itu sawah atau kebon sumber makanan mereka sendiri. Malah milih cari makanan dari tempat yang jauh.”

“Klienku emang banyak yang punya lahan besar, Ndu. Tapi ya kalo dia nyarinya arsitek berarti kepinginnya bikin bangunan dong. Kalau kebetulan punya lahan besar di Jakarta, dibangun perumahan langsung biar bisa cepet kejual. Kalau di Bali bisa dibangun villa. Bagianku ya bikinin desain buat mereka dan bantu supaya itu bisa menuhin kebutuhan mereka. Kalau mereka emang lebih tertarik bikin sawah, kebun, atau peternakan. Ya mereka pasti ndak menghubungi aku. Mending cari petani atau ahli peternakan. Masalahnya, desainku dibayar aja aku udah sujud syukur bisa ngasih makan karyawan dan keluargaku pakai cara halal.”

Sedikit curhat jadinya saya dengan dia. Saya tidak tau apa saya cukup bijak atau dia terlalu naif untuk urusan ini.

“Aku pernah sekali main ke Jogja, ada hotel namanya aku lupa yang ada sayuran hidroponiknya di atas bangunannya. Katanya sayuran itu kalau sudah panen langsung diproses untuk restoran di bawahnya dan sayurannya jadi segar banget. Ini mirip sama kantor yang ada di Jepang aku pernah lihat di facebook. Jadi satu kantor makan sayuran yang ditanem dengan sistem hidroponik gitu, waktu sudah panen sayuran ini diproses di kantinnya. Memang sih itu butuh teknologi baru untuk bikin sistem menanam begitu. Jumlah nutrisinya pun jauh lebih rendah ketimbang tanaman yang ditanam di tanah. Masa panen juga sedikit lebih panjang. Jadi itu kan masalah pilihan cara kamu mendesain.”

Ternyata Randu lumayan update juga berita arsitektur beginian. Tapi terus terang saya masih skeptis dengan apa yang diceritakan dia, terutama desain bangunan yang dindingnya cuma ditanemin sayur-sayuran begitu saja sudah dianggap keren. Bahkan belakangan ini muncul di status fb kalau tren vertical garden dipakai dimana-mana, di bagian belakang billboard, di menara pemancar, di pembatas proyek, dan di bagian-bagian dinding bangunan yang biasanya udah bingung mau dijadikan apa lagi daripada sepi ya diisi saja pakai tanaman. Beberapa orang mempertanyakan seberapa penting sih vertical garden begini dipakai di saat masih ada tanah untuk bercocok tanam. Malah lebih ekstrim lagi ada yang bilang, kalau sistem pertanian vertikal dipaksakan begini terus akhirnya malah jadi alasan supaya tidak menyisakan lahan hijau untuk resapan dan tanaman. Saya bilang saja sama si Randu.

“Itu kan tergantung orangnya aja lagi, Ndu. Dia mau nanem atau tidak. Hidroponik yang katanya untuk lahan terbatas dibuatnya toh di atas tanah juga. Kalau masih ada tanah ngapain tembok yang ditanemin. Itu kan cuma bisnis.”

Randu segera mengeluarkan data-data lagi. Seperti gatal tidak bisa berhenti bicara.

“Farm and Agriculture Organzation United Nation (FAO UN) tahun 2008 bilang dunia mengalami revolusi peternakan gara-gara saking tingginya permintaan daging di seluruh dunia. Prediksi PBB tahun 2030 nanti 2/3 suplai susu dunia bakalan dikonsumsi di negara berkembang, konsumsi daging juga meningkat 2x lipat dari hari ini. Tahun 2050 nanti diprediksi 80% manusia tinggalnya di kota dan mereka bakalan hidup dalam jangka waktu 40 tahun (Steel, Caroline. Hungry City. 2008).

“Ndak perlu perhitungan matematika untuk ngebayangin nasib manusia nanti, peritungan model apapun ndak akan masuk. Meskipun ada benarnya kalau nanem di tanah itu lebih baik, penemuan-penemuan baru sistem bercocok tanam perlu untuk diperdalam lagi. Kalau hari ini nanem di tembok jadi olok-olokan, barangkali nanti bisa jadi barang mewah yang dicari-cari. Di atas gedung bertingkat, di langit-langit kamar, dimana aja orang bakalan cari tempat biar mereka bisa makan. Paling nggak lebih realistis sebelum ngomongin ada pil yang bikin kenyang.”

Randu melanjutkan ocehannya, sementara saya memesan air putih hangat karena tenggorokan saya terasa gatal gara-gara makan pecel lele tadi. Mungkin karena minyaknya yang belum juga diganti hingga sekarang — satu jam setelah saya makan tadi — sekitar 5 orang sudah lalu lalang bergantian makan.

“Kamu juga pernah dengar istilah agroekologi(1)? Di Surabaya itu juga ada komunitas(2) yang fokusnya bergerak di situ. Jadi mereka meneliti nutrisi tanaman-tanaman liar untuk diolah jadi makanan sehat. Ada juga yang kerja bareng seniman, arsitek, dan desainer untuk bikin dapur komunitas di dusun Medira Jombang. Mereka ngolah lahan ndak terpakai untuk kebun tanaman aneh-aneh itu terus bisa langsung dimasak masyarakat sekitar di dapur itu. Dinding dapurnya dari tanah liat, kompornya pakai biogas, ada penampungan air hujannya(3). Di Yogyakarta juga ada rumah makan yang semua menu makanannya mulai dari sayuran, roti, susu, daging yang dijual hasil olahan kebun mereka sendiri(4). Terus juga ada tempat residensi seniman udah mulai nyediain lahan kosong untuk berkebun dan bak penampung kotoran hewan untuk biogas(5). Kalau kamu lihat di Australia, pertanian macem begini udah banyak dilakuin. Itu tinggal gimana kamu sebagai arsitek bisa paham prinsip-prinsipnya, lalu kamu aplikasikan ke bangunanmu.”

Saya nyeletuk, “Itu bisa dilakuin di tempat-tempat yang tidak padat seperti Jakarta begini.”

“Ya memang, di kota yang sudah padat begini kita harus bersiasat supaya makan sehat. Bicara makanan sehat di desa tentu lebih mudah didapat. Tapi isu pangan di perkotaan butuh banyak orang kritis juga untuk meresponnya. Kalo aku boleh sedikit ngawur, pendapatku sih orang kota mulai ndak mikirin makanannya semenjak ada rel kereta api.” Ujar Randu.

“Kok bisa?” Tanya saya.

“Sebelum manusia mudah pergi-pergi, arsitektur sesepuh dan nenek kakek moyang kita selalu nyediakan tempat hasil bumi di atap rumahnya. Musim panen dirayakan, hasil bumi dibagikan, selesainya saling mendoakan. Urip meh numpang ngombe mangan tok. Begitu kalau dipelintir. Toh intinya kita ini butuh makan. Barangkali hubungan langsung antara rumah dan makanan ini satu-satunya yang dibutuhkan.” Boleh juga analoginya Randu ini.

Saya nyeletuk nyinyir, “Sekarang ini presiden kita malah galakin bikin jalan tol lintas provinsi di pulau Jawa, ribuan hektar sawah dibabat. Kalau orang Jawa sampai kekurangan beras makanin aja itu aspal jalan tol.”

“Atau ya ternak lele di rumahnya.” Randu lebih ngawur lagi.

“Katanya tadi ndak boleh makan lele, sekarang malahan nyuruh ternak. Gimana toh kamu, Ndu. Mau kamu dikutuk Boyopatih.” Meskipun idenya asal njeplak, tapi kadang menarik juga.

“Jangan salah, aku percaya betul kenapa Boyopatih ndak nyuruh makan lele. Kalau menurutku itu untuk persediaan masa depan. Orang-orang sekarang ndak sadar, lele itu bisa hidup dimana saja, orang cuma bisa cerita lele itu jorok tapi kalau dimakan enak. Lele itu hewan penghasil amonia (NH4)yang tinggi. Amonia yang diurai menjadi Nitrit (NO2) dikenal sebagai siklus nitrogen, ini bermanfaat untuk tanaman. Berarti lele selain bisa dimakan, bisa juga membantu kita produksi makanan. Meskipun aku ndak makan lele, aku melihara lele di rumah.” Kali ini Randu meracuni saya dengan sains yang menarik.

“Kamu melihara lele untuk tanaman? Lelenya sendiri kamu apakan?”

“Lelenya ya dibiarkan saja, sampai satu saat udah ndak bisa makan daging, baru aku makan lele. Tapi kalau sekarang lelenya aku jadikan bibit untuk nutrisi tanaman sistem akuaponik di rumahku. Karena lele bisa hidup dimana aja toh, harusnya kalau kolamnya nampung air hujan juga bisa. Tapi aku belum buat itu. Aku baru buat di kolam saja, untuk tanaman pakai pompa biasa. Kalau kamu arsitek, barangkali ide ini bermutu. Jadi tiap desain rumah perlu ada kolam lelenya gitu loh, Ndu hehehe. Aku percaya sama lele di masa depan salah satu solusi alternatif untuk masalah kelaparan.”

Jenius sekali Randu ini pikirku. Tapi hal yang ada lagi satu hal yang membuatku bertanya-tanya. Kenapa orang Lamongan pada akhirnya juga jualan lele jikalau memang mitos mereka melarang itu.

“Ndu, aku tapi penasaran. Kenapa kamu masih ndak mau makan lele sementara wong Lamongan lainnya jualan pecel lele.”

“Biarkan mereka jualan lele, toh berarti mereka sudah memasyarakatkan cita rasa hewan yang selama ini dipandang sebelah mata ini. Cukup dengan tenda yang bisa dibongkar pasang begini, ribuan karyawan, anak sekolahan, preman, semua orang bisa makan dengan harga terjangkau kan. Kalau orang kantoran kan lebih suka makanan cepat saji yang jelas-jelas banyak berita miringnya. Jikalau boyopatih hidup lagi, aku yakin dia bakalan senyum sekaligus tertawa. Melihat kita yang seperti babi kelaparan gara-gara ulah kita sendiri yang sikat sana sini.”

Randu terdiam sebentar, lalu berkata-kata lagi.

“Sebab aku pegang betul wasiat kanjeng Sunan Drajat pada masyarakat di desaku, Menehono teken marang wong kang wuto, Menehono mangan marang wong kang luwe, Menehono busono marang wong kang wudo, Menehono ngiyup marang wongkang kodanan. Maknanya berilah ilmu agar orang menjadi pandai, sejahterakanlah kehidupan masya­rakat yang miskin, ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta beri perlindungan orang yang menderita. Itu nilai yang sulit untuk diamalkan di zaman edan begini. Kalau buat aku, setidaknya lewat makan aku tau apa yang telah aku pilih untuk kehidupanku. Karena kita itu apa yang kita makan.”

Begitu.

 

(Makan-makan fiktifku di ibukota)

 

 

 

 

 

 


Catatan:

  1. Agroekologi adalah studi proses ekologis yang diaplikasikan ke dalam proses pertanian. Terminologi ini biasanya merujuk pada sains, gerakan, atau praktik alternatif. Agroekologi tidak merujuk pada satu metode, baik itu organik, terintegrasi, atau konvensional.
  2. Mantasa, komunitas asal Surabaya yang meneliti nutrisi tanaman liar sebagai bahan makanan alternatif.
  3. Hasil kerjasama antara Holopis dan Studio Akanoma, dengan program residensi di dusun Medira, Jombang, Jawa Tengah Indonesia
  4. Rumah makan yang menjadi unit usaha Bumi Langit Institute, sebuah pusat studi permakultur di Yogyakarta
  5. Bumi Pemuda Rahayu, Dlingo, Yogyakarta
Rifandi S. Nugroho
Rifandi Septiawan Nugroho adalah penggemar wacana dan arsip arsitektur. Saat ini bekerja paruh waktu di OMAH Library dan arsitek junior di RAW Architects. Pada tahun 2015 menyelenggarakan pameran arsip Harjono Sigit bersama teman-temannya di Surabaya.