Kotak Pandora Keseharian Arsitek(tur)

816 Views |  Like

Kotak Pandora (Pandora’s Box) menyimpan berkah yang juga petaka. Membukanya menghadirkan berbagai macam permasalahan yang tidak disangka-sangka.

Gambar 1. Epimetheus membuka kendi yang berisi kutukan milik Pandora, istrinya. (oleh Sébastien Le Clerc, 1676 ©Trustees of the British Museum)

Gambar 1. Epimetheus membuka kendi yang berisi kutukan milik Pandora, istrinya.
(oleh Sébastien Le Clerc, 1676 ©Trustees of the British Museum)

Log #102: Jalan Mayo – 5 Agustus 2018

Saya teringat hari ini, sepuluh tahun lalu.

Pagi. Sunyi.

Tak lagi mengalun 1800 Colinas dari Paula Toller. Tak lagi terdengar deru mesin kopi giling bebijian.

Pintu-pintu menganga.

Hitam hampir seluruh permukaan dinding plester dan langit-langit gipsum. Kusam lantai marmer dan meja travertin; kuyup oleh kubangan jelaga: percikan air yang tersemprot darurat menghantam kepulan asap.

Satu-persatu mereka datang: desainer, juru gambar, asisten arsitek, dan arsitek senior. Satu-persatu mereka tercengang.

Kantor. Sengit. Asap.

Asap di mana-mana.

Tadi malam, saat mereka tertidur, satu sudut kantor terbakar diam-diam. Memang, kerusakannya tak terlalu parah. Tapi: hari itu listrik padam; piranti-piranti elektronik tak menyala; gambar-gambar sebagian terabaikan, sebagian amblas; tenggat waktu t’lah bablas, panggilan telepon tak terjawab; klien bertanya-tanya; surel tak terbalas; sistem mati total.

Mereka, para pekerja sibuk mengelap meja yang basah dan berabu, mengepel kubangan, menyelamatkan data-data dalam komputer dan kertas-kertas yang berserakan. Sementara, khalayak di luar kantor berkerumun dan berceloteh: mempertanyakan keseharian praktik arsitektur seperti apa yang bisa memantik petaka sedemikian rupa.

Di manapun kejadiannya, kebakaran merupakan suatu kejadian luar biasa yang mengejutkan. Ia autentik. Tulen. Sah. Ia jelas-jelas secara autentik mendisrupsi kerja rutin sehari-hari. Keautentikan ini memancing keingintahuan khalayak untuk bertanya-tanya akan praktik-praktik keseharian yang mungkin tidak mungkin dilakukan oleh seorang arsitek—bahkan hingga membawa petaka. Bisa jadi, sesuatu yang autentik semacam ini bisa membuka mata lebar-lebar untuk untuk melihat bahwa ada berbagai hal dalam keseharian arsitek(tur) yang tidak melulu soal firmitas, venustas, dan utilitas; ada rutinitas yang terus berdenyut dan berdegup.

 

Iman dan iman

 Log, atau catatan barusan adalah milik Iman, sang amatir yang bermukim di Singapura.

Julukan “arsitek“ biasanya tak disematkan pada Iman. Empat tahun bersekolah arsitektur di Bandung dan tercatat sebagai anggota asosiasi profesi tidak serta merta mentahbiskannya sebagai seorang arsitek. Jenama yang melekat pada Iman selama tiga tahun berpraktik di kantor konsultan paling mentok hanyalah architectural designer (perancang kearsitekturan): ada kaitannya dengan kegiatan rancang-bangun, tapi ia “cuma“ perancang. Di pulau yang bergelimang kekayaan itu, ‘arsitek’ adalah gelar eksklusif yang dianugerahkan hanya pada mereka yang lulus kualifikasi (qualified person, QP).

Gelar “peneliti“ juga tak lazim bagi Iman, walau ia secara formal bergelar master setelah lulus bersekolah lanjutan berbasis penelitian di Rotterdam dan kemudian terlibat dalam riset-riset di beberapa negara. Sebutan yang melekat pada Iman selama hampir tujuh tahun berpraktik di pusat penelitian paling pol tak lebih dari research associate (rekanan penelitian): ada kaitannya dengan penyelidikan sistematis tapi ia hanya rekanan, bukan sang peneliti yang sesungguh-sungguhnya. Ia hanya Sancho Panza, bukan Don Quixote. Ia bisa jadi Robin, tapi bukan Batman. Menurut salah satu mentor di tempat ia bekerja, peneliti adalah orang yang sekurang-kurangnya tuntas kualifikasi doktoral.

Iman juga jauh dari layak untuk dipanggil sebagai seorang “penulis”. Ia belum pernah menerbitkan satu bukupun. Ia tak punya kualifikasi pelatihan formal yang menyahihkan kepenulisannya.

Tapi Iman pantang patah arang, walau sedikit ‘genit‘. Kini, ia bentangkan sayap-sayap ke-amatiran-nya lebar-lebar hingga menjangkau ilmu-ilmu sosial dengan cara merintis kerja etnografi. Yang akan Anda baca dari sini adalah salinan tulisan-tulisan autentik dari Iman; catatan-catatan penelitian kesehariannya yang telah penulis sunting dengan seizin beliau.

Mengingat kadar kegenitan Iman sang etnografer amatir, catatan penyelidikan lapangannya ihwal fenomena keseharian arsitektur bisa jadi diragukan. Maka, perlu iman untuk percaya Iman. Tapi, membaca tidak harus dan tidak sama dengan percaya, bukan?

 

Log #29: Kotak Pandora – 9 Desember 2017

Saya baru saja mempresentasikan tayangan (slides) soal keseharian praktik arsitek(tur) melalui Webinar dua hari yang lalu. Alih-alih memprovokasi para hadirin maya mengenai desain penelitian arsitektur melalui kacamata ilmu-ilmu sosial, seperti yang diduga, presentasi itu justru malah membingungkan pendengar. Saya pun ikut bingung.

Kebingungan ini bisa jadi adalah akibat John Law, seorang sosiolog sains dan teknologi dari Britania Raya.

Saya terinspirasi oleh metodologi dalam bukunya yang berjudul After Method: Mess in Social Science (2004). Di sana, ia bercerita tentang kompleksitas realitas: berlapis, majemuk, tumpang tindih, tak-terarah, tak-teratur, carut-marut, sulit diprediksi. Ruwet? Iya. Mungkin ini semua karena John Law. Katanya, sesuatu yang beroperasi di dalam suatu keruwetan akan terpengaruh olehnya (seperti keruwetan tulisan yang sedang saya peragakan). Ia juga bilang kalau ilmu pengetahuan tidak berkembang dalam ruang hampa; mereka merupa dan dirupa oleh konteks sejarah, organisasi, dan masyarakat. Lalu, untuk menggambarkan ketidakteraturan dan kompleksitas sosial itu, kita perlu metode yang pelan, tak-ajek, majemuk, sensitif dan sensibel; kita perlu khayalan-khayalan dan kiasan-kiasan baru. Terkait dengan kebaharuan itu, ada dua contoh yang paling melekat: Laboratory Life (1979) oleh Bruno Latour dan Steve Woolgar dan the Body Multiple (2002) oleh Annemarie Mol.

Bruno Latour, seorang filsuf dari Perancis, tinggal di Salk Institute, San Diego, selama hampir dua tahun untuk mengamati apa-apa saja yang dilakukan oleh para peneliti dalam kerja penelitian kesehariannya. Saya catat tiga intisari pengamatannya. Pertama, kelompok/‘suku’ ilmuwan (tribe of scientist) memiliki kultur, kepercayaan, praktik, kerja, dan gosip tersendiri. Laboratorium juga memiliki rutinitasnya, misalnya, setiap pagi, para pekerja datang dengan membawa makan siang dalam kantong kertas, para teknisi mempersiapkan meja bedah dan menimbang larutan kimia, para sekretaris sudah mulai mengoreksi ulang manuskrip yang sudah lewat tenggat waktu, dan seterusnya hingga akhir hari. Kedua, pengetahuan ilmiah dihasilkan oleh praktik-praktik yang merupakan rutinitas keseharian dalam laboratorium seperti disebutkan pada poin pertama. Pengetahuan ilmiah yang tampak acak ini pada akhirnya disusun dengan ketertiban sedemikian rupa sehingga menjadi catatan/laporan yang membentuk kenyataan. Ketiga, realitas terpaut oleh instrumen, arsitektur, teks. Artinya, dalam mengonstruksi pengetahuan ilmiah (yang nantinya menjadi juga realitas), praktik-praktik ini memiliki ketergantungan atau berhubungan erat dengan alat-alat yang digunakan, sampel-sampel yang diambil, susunan ruang yang mengatur letak zat-zat kimia, tempat dokumen-dokumen ditulis atau disimpan, dan benda-benda sosio-material lainnya.

Imajinasi lain datang dari Annemarie Mol, antropolog asal Belanda, yang melakukan observasi etnografis di rumah sakit universitas Z di negeri kincir angin. Mol ‘mengikuti’ sebuah penyakit yang bernama aterosklerosis, penyumbatan pembuluh darah di kaki, dan Mol menemukan ke-fraktal-an bentuk aterosklerosis di berbagai lokasi. Misalnya, dalam tiga contoh lokasi:

  1. Di klinik, dokter bertanya kepada pasien soal kronologis kejadian, rasa dan keluhannya, pusat rasa sakit, dan memeriksa denyut nadi di kaki untuk menemukan intermittent claudication (kram yang berulang secara berkala). Aterosklrosis, di sini, adalah hasil pemeriksaan sang dokter klinik.
  2. Di laboratorium patologi, sebuah arteri diambil dari sepotong kaki manusia yang baru diamputasi. Arteri tadi lalu disimpan di dalam cairan pengawet, dibersihkan, dipotong kecil-kecil, diberi cairan penanda, ditempatkan dalam cawan kecil, lalu diamati melalui mikroskop. Di sini, aterosklerosis adalah benda yang tampak dari lensa mikroskop dan divalidasi oleh laboran.
  3. Di lokasi bernama duplex, pasien akan diperiksa oleh sonografer menggunakan alat ultrasound yang ditekan ke kulit (yang telah dilumuri gel), tepat berada di atas pembuluh darah, lalu gelombang akan dipancarkan dan dipantulkan. Di sini, kecepatan laju darah menjadi representasi aterosklerosis; indikasi merah pada layar artinya pergerakan cepat dan penyempitan.
Gambar 2. Aterosklerosis di berbagai lokasi (cuplikan tayangan Webminar)

Gambar 2. Aterosklerosis di berbagai lokasi (cuplikan tayangan Webminar)

Mol menyoroti dua hal. Pertama, ketiga objek aterosklerosis di atas tidak sama satu dengan yang lain, tetapi tidak sama sekali berbeda. Tidak tunggal, tetapi tidak lebih dari satu. Jika mereka adalah satu objek, tentu hasil-hasil di berbagai lokasi ini pasti konsisten. Nyatanya, mereka tidak selalu terkoordinasi dengan baik. Misalnya, Tuan Ilyas, seorang pasien yang pergi ke rumah sakit dengan mengendarai motor, sementara angka-angka hasil laboratorium menunjukkan seharusnya Tuan Ilyas tidak mungkin bisa mengendarai motor kecuali sambil berteriak-teriak kesakitan. Kedua, objek-objek tadi tidak hadir dengan sendirinya, tetapi dihadirkan oleh alat-alat dan metode-metode tertentu. Misalnya, penebalan intima di laboratorium patologi hanya akan terlihat melalui lensa mikroskop.

Oke, sip.

Mudah-mudahan, meski masih rumit, tulisan setelah ini akan makin bisa dipahami.

Memang, kalau alur metode ini dibawa ke dalam diskusi arsitektur, maka akan bertambah kerumitannya. Pertama, jelas, berdirinya bangunan tidak hanya soal desain. Hal-hal sehari-hari seperti ketersediaan bahan, keterampilan tukang, cuaca, tetangga yang tidak kooperatif, istri tukang yang sakit di kampung, hingga pungli juga menentukan. Dengan demikian, berarti sulit untuk mendeskripsikan apa yang dilibatkan dalam arsitektur dengan sederhana dan jelas.

 Kedua, arsitektur sebagai ilmu pengetahuan praktis yang nantinya menjadi teoritis jelas tidak diproduksi dalam vakum. Rutinitas arsitektur bersinggungan dengan realita yang majemuk, kompleks, tumpang tindih, dan tidak terarah. Jika, praktik (practice) berarti sebuah kebiasaan dalam melakukan suatu hal, dan pengetahuan praktis didapat dari pengalaman langsung dan pengulangan (Tjahjono, 2009), maka hal-hal apa saja yang diulang-ulang dalam keseharian arsitek tapi jarang didiskusikan?

Dua hal ini mengawali penyelidikan saya tentang arsitektur. Penyelidikan ini tidak berupaya menghasilkan definisi – arsitektur ‘adalah’ dan ‘bukanlah’ – namun mencermati hal-hal yang jarang dikatakan secara gamblang tapi dilakukan secara nyata dalam keseharian seorang arsitek. Seperti yang diuraikan oleh Mol, apa-apa saja yang dilakukan arsitek dan kejamakan arsitektur di berbagai lokasi (misalnya, institusi akademik, kantor konsultan arsitektur, lahan konstruksi, pusat penelitian, dan lembaga keprofesian) bukanlah hal yang sama tapi tidak sama sekali berbeda. Tidak tunggal, tetapi tidak lebih dari satu. Arsitek dan arsitektur yang jamak. Kemungkinan besar, detail keseharian dari alat-alat yang dipakai, keterampilan dan pengetahuan, serta cara-cara yang digunakan oleh arsitek untuk memproduksi arsitektur bisa mengungkap ini.

Untuk menerangkan lebih lanjut perkara kejamakan arsitek(tur) ini, saya akan mengolah hasil wawancara tiga orang narasumber yang mengaku telah melakukan sesuatu yang arsitektural di tiga lokasi berbeda (lokasi konstruksi, keseharian di kantor, dan tahun pertama sekolah arsitektur). Transkrip wawancara mereka serta rincian yang terkandung di dalamnya saya rekonstruksi sedemikian rupa menjadi tiga tokoh yang hadir menarasikan kisah mereka soal ‘menjadi arsitek(tur)’.

Lapangan

Setelah cuti untuk kuliah magister di Inggris, Komang (34 tahun) kembali menjadi praktisi waktu penuh pada tahun 2012. Ia akui beban pekerjaan sehari-harinya tidak semakin ringan, malah sebaliknya. Ia telah bekerja selama lebih dari 10 tahun di salah satu perusahaan korporasi arsitektur di Singapura dan berperan sebagai perpanjangan tangan dari Architectural Qualified Person (Architectural QP), suatu gelar resmi bagi mereka yang terdaftar di Board of Architects (BOA) Singapura. BOA adalah sebuah lembaga hukum pengelola Undang-Undang Arsitektur yang mengatur kualifikasi dan persyaratan registrasi. Tidak semua lulusan universitas arsitektur serta merta dianugerahi gelar kehormatan “Arsitek“ (dengan kapital A). Seseorang secara formal disebut sebagai Arsitek bila dia sudah teregistrasi di BOA, melalui proses rumit pengumpulan data mengenai tanggung jawab dan keterlibatan dalam bidang arsitektur selama dua tahun, untuk kemudian mengajukan studi banding untuk mengikuti ujian arsitektur.

Seorang Arsitek bertanggung jawab ‘mengawasi’ jalannya pengembangan desain, produksi gambar konstruksi dan spesifikasi, serta mengoordinasikan keinginan dan kebutuhan klien dengan konsultan lain, hingga memastikan proyek dapat diselesaikan tepat waktu, sebelum akhirnya diserahterimakan kepada klien.

Komang, dituntut untuk bisa mengimbangi Architectural QP. Ia mengawasi apa yang dilakukannya sendiri dengan terus mengabari perkembangan proyek terkini atau melibatkan Architectural QP pada saatnya. Namun, seringkali, Komang diharuskan untuk bekerja nyaris tanpa supervisi. Kantornya terlalu sibuk. Tahun lalu, dua tim (ada 15 arsitek dalam 1 tim) di perusahaannya memenangkan 75% (lebih dari 10,000 unit) dari seluruh proyek perumahan publik milik pemerintah. Celakanya, Komang pun mendapat bagian 2,000 unit. Selain itu, ia pun harus menangani empat hingga lima proyek dalam fase yang berbeda-beda dalam satu waktu, mulai dari desain konseptual, pengembangan rancangan, dokumentasi gambar kerja, pengawasan konstruksi, dan serah terima. Karenanya, diperlukan keterampilan untuk menyusun garis waktu agar semua prosesnya berjalan sesuai dengan rencana.

Proses konstruksi di lapangan, kata Komang, itu rumit dan tidak mungkin sepenuhnya berjalan sesuai dengan rencana dan gambar. Tidak mungkin. Ada hal-hal kecil dan besar yang harus disesuaikan dengan kondisi lapangan, entah tak terduga atau akibat kecerobohan pengerjaan. Namun, proses konstruksi harus terus berjalan sesuai dengan garis waktu. Apalagi untuk proyek perumahan publik berkepadatan tinggi milik pemerintah yang Ia kerjakan, keterlambatan bisa menuai protes para pembayar pajak di negara ini. Karenanya, ketika ada masalah di lapangan, seringkali proses pengajuan perubahan (request for variation order [RVO]) melalui jalur yang semestinya (proses ini njelimet dan memakan waktu) dipangkas dengan menggunakan instruksi arsitek untuk menyelesaikan secara cepat dan tepat, lalu barulah dokumentasi dilakukan setelahnya. Keterlambatan waktu juga bisa memakan korban. Komang bercerita, baru-baru ini, seorang manajer proyek (MP) dari subkontraktor dipecat akibat keterlambatan penyediaan beton pracetak. Padahal itu bukan salah sang MP sepenuhnya, ia hanya dijadikan kambing hitam di tengah-tengah miskomunikasi antara kontraktor utama dan insinyur struktur. Dalam berbagai proyek, dua peran ini memang musuh bebuyutan. Keduanya seringkali beradu argumen sambil meninggikan suara soal masalah kecil saat rapat di lapangan: yang berteriak paling keras ingin terlihat bekerja paling keras.

Komang berupaya sebisa mungkin menghindari perseteruan semacam ini dan bersiasat dengan cara bersekutu dengan kontraktor. Walau, mereka kadangkala culas dan tidak mau rugi; perubahan seminim apapun berarti biaya tambahan, dan Komang mesti tidak kalah pintar untuk mengakali kekurangan detail dan spesifikasi di suatu gambar kerja. Misalkan, kontraktor protes soal gambar kerja tidak jelas terlihat ada bukaan atau tidak di sepanjang koridor, entah terlewat digambarkan atau skalanya tidak memungkinkan, Komang akan berargumen “coba deh lo lihat di tender drawing gue, kan gue bilang tipikal desain jadi itu harus di-adopt semua”. Layaknya seorang diplomat lihai, kata-per-kata dijadikan bahan untuk mempertahankan argumentasi, supaya tidak berimplikasi pada biaya. Memelihara hubungan baik dengan mereka itu penting sekali: selain mengurangi tekanan darah tinggi juga menjadi sumber  informasi soal kesalahan pada gambar kerja, mereka tidak sungkan memberi bocoran secara empat mata.

Untuk mengurangi kesalahan pada gambar, Komang dituntut untuk memiliki ketelitian yang tinggi untuk memeriksa gambar dan spesifikasi dalam dokumentasi konstruksi. Namun ketelitian saja belum cukup, pengetahuan dasar yang melebar juga diperlukan. Beban koordinasi gambar dari berbagai konsultan (sipil, struktur, mekanis dan listrik [M&E], lansekap, dan lainnya), lagi-lagi, ditimpakan kepadanya. Semua ini dipengaruhi oleh dokumentasi tender awal dari klien yang mengharuskan arsitek sebagai konsultan utama (lead consultant) yang juga seringkali memberikan keputusan akhir dari koordinasi desain dan konstruksi.

Urutan menjadi penting. Misalnya, untuk mendapatkan authority clearance untuk memulai konstruksi dibutuhkan 15 bulan, jadi Komang harus menghitung mundur kapan arsitek harus memulai permohonan Provisional Permission (PP), kapan insinyur struktur harus memulai aplikasi structural plans (ST), dan seterusnya, karena terkait berapa lama waktu yang diperlukan. Arsitek perlu berkoordinasi dan memantau aplikasi-aplikasi ini. Setiap aplikasi juga memiliki detail informasi yang berbeda-beda. Penting membekali diri dengan pengetahuan praktis untuk mengira-ngira besaran kolom dan balok struktur, ukuran pipa saluran listrik dan buangan air, perhitungan penyediaan pemercik bomba (sprinkler) dan lampu darurat, jarak rute lari ketika kebakaran, dan hal-hal teknis lainnya. Nyaris keseluruhan pengetahuan ini didapat dari pengalaman. Komang mengumpamakan cara belajar pengetahuan praktis tadi dengan cara tercepat untuk belajar berenang: yaitu dengan mencemplungkan seseorang. Risikonya cuma dua: tenggelam atau bertahan hidup. Komang memilih termegap-megap bertahan hidup.

Demi ‘bertahan hidup’ di lokasi konstruksi, kontraktual adalah kunci. Segala masalah dan konflik di atas, keterlambatan garis waktu, kekurangan detail dan spesifikasi, mengeluarkan RVO, atau soal miskomunikasi dan miskoordinasi bisa diminimalisasi dengan pengetahuan tentang kontrak yang ciamik. Karena, ini urusannya biaya. Selain teliti garis-per-garis, teliti kata-per-kata juga penting. Komang mempelajari satu keahlian yang sangat penting bagi seorang arsitek: kepiawaian menulis surat elektronik. Surel menjadi alat bukti sah yang merekam segala kejadian yang terjadi dan keputusan-keputusan yang diambil di lapangan. Banyak sekali pihak yang hanya memberi instruksi di lapangan tapi tidak memberikan instruksi tertulis, takut diminta pertanggungjawaban. Ucapan tidak bisa dipegang, sementara tulisan terekam. Komang tidak hilang akal, Ia akan menyarikan permintaan dan pernyataan verbal dari berbagai pemangku kepentingan (stakeholder). Jika proses tunjuk menunjuk kambing hitam dimulai, Komang akan membuka kotak arsip surelnya dan membeberkan bukti-bukti tertulis yang ada lengkap dengan kronologi waktu dan kejadian, seperti seorang pengacara.

Namun, Komang pun pernah berbuat kesalahan karena kurangnya pengetahuan, memang tidak melihat hal itu, atau tidak menyangka hal itu akan terjadi, dan itu disadarinya. Ia bilang, “kalau memang salah, ya, gue duduk di kantor dan nulis email deh: my apology and I will not do this again in the next project, thank you.”

Kantor

Surya (34 tahun) tiba di kantornya pukul 09:15; dia datang lebih awal dari kedua penghuni kantor yang lain. Beristirahat di sofa lobi, dia masih fokus membaca artikel dezeen terbaru. Selesai membaca, Surya lalu berdiri untuk mengganti air di cawan-cawan bermotif pola Tiongkok yang ada di berbagai sudut ruangan, serta menyirami tanaman yang ada di kantornya.

Sudah beberapa tahun belakangan ini, Carlo (44 tahun), partner Surya di kantor sedang giat-giatnya dengan feng shui. Setiap orang punya arah yang baik, kata Guru Feng Shui Carlo. Menurut perhitungan angka kua oleh sang Guru, chi ketiga anggota kantor akan bergerak positif jika mereka menempatkan kantor di daerah timur Singapura. Tanah adalah elemen mereka. Tanah membutuhkan air, jadi perputaran air di dalam kantor akan memperlancar rezeki mereka.

Biar cuan, kantor Surya dan Carlo, secara feng shui, dibagi-bagi menggunakan kisi-kisi maya menjadi enam kotak. Begitu masuk, tamu akan melihat sebuah patung naga kecil dan enam cawan air di sebuah lemari yang juga menjadi pembatas ruangan. Lalu di bagian sebelahnya ada sebuah lobi kecil dengan banyak elemen warna kuning, tempat diskusi ringan dengan para klien. Pojok ini dilabeli pula sebagai pojok kreativitas sekaligus bisnis. Di sisi lain, pojok keuangan, unsur api menjadi dominan, jendela ceruk diwarnai merah menyala dan dua buah lilin di kedua pojokan dinyalakan setiap harinya. Feng shui, selain menjelma menjadi hal-hal fisik dalam kantor, juga menjadi ritual dalam rutinitas dan keseharian Surya.

Kondisi fisik kantor dan rutinitas harian Surya juga diwarnai oleh spontanitas. Suasana kantornya jauh dari formalitas kantor korporasi. Butik, istilah kerennya. Kantor terbuka lengkap dengan  ruang tamunya, serta meja komunal untuk mengobrol di pusat ruang.  Seperti memasuki sebuah rumah. Keseharian Surya  pun cair, tidak selalu terjadwal, seperti sehari-hari di rumah. Dia kadang mengawali harinya dengan menyapu lantai kantor, datang lebih terlambat dari biasanya, atau memanfaatkan waktu makan siangnya untuk membeli keperluan kantor, seperti kertas, alat tulis kantor, sabun, atau tisu toilet.

Walau ada waktu-waktu tertentu yang stabil, misalnya ketika harus menelepon orang-orang di kantor pemerintahan di dua slot waktu: pagi sebelum jam 11 dan sore setelah jam 4; selebihnya mereka sulit dijangkau. Atau ketika menagih bayaran klien: perlu waktu strategis untuk mengirim surel karena biasanya klien hanya mengecek surel pagi-pagi sekali sebelum memulai hari atau sambil makan siang. Ketiga orang di kantor harus mengatur waktunya sendiri. Mandiri.

Kendatipun demikian, selalu ada acuan: mereka berdiskusi tentang kemajuan pekerjaan individu dalam rapat mingguan tiap hari Senin. Dalam rapat itu mereka akan mencatat segala hal yang belum selesai, proyek yang sedang sibuk-sibuknya, lalu dibuat prioritas. Selain pekerjaan, hal-hal yang berhubungan dengan sehari-hari juga dibahas, seperti ketersediaan sabun, kertas, atau kopi, pembayaran tagihan telepon, listrik, atau koneksi internet, ataupun status tagihan ke klien: sudah dibayar, jatuh tempo, atau masih dalam grace period. Kata Surya, semua sudah menjadi kebiasaan, keseharian yang diulang.

Surya, sebisa mungkin, tidak mengulang konten desain dalam setiap proyek, walau proses desain sudah menjadi kebiasaan yang diulang. Ada polanya. Pertama, setelah mengobrol dengan klien soal kebutuhan dan keinginannya, tim berunding tentang parameter-parameter untuk dijadikan ikhtisar desain (design brief) yang memuat ruangan-ruangan yang akan didesain serta luasan kasar yang diajukan. Kedua, setelah ikhtisar disetujui, tim akan berunding lagi soal aspirasi desain yang ingin dicapai. Selanjutnya, ada tiga lapis pekerja desain dan pekerjaan mendesain: Carlo akan mengawal keseluruhan niatan desain (design intention), lalu Surya di lapisan kedua akan membuat desain awal (first cut), dan orang ketiga akan mengeksekusi desain lanjutan. Waktu yang diperlukan untuk proses ini tergantung dinamika ketiganya, juga tenggat waktu. Karena karakter dan banyaknya pengalaman, kadangkala Carlo yang terlampau idealis membuat proses desain dalam satu proyek memakan waktu lebih lama. Walau, Carlo dan Surya setuju bahwa arsitektur harus berani berpetualang (adventurous), tetapi keberanian itu tidak mesti kelewatan.

“… Zaha Hadid pernah bilang kalau sudut itu ada 360 derajat, kenapa harus terpatok 90 derajat. Ya, dia sih bebas, resources-nya kenceng, timnya punya, teknologinya ada, software translasi ke konstruksinya ada, lalu mereka juga tau cara menjualnya. Kalo kantor gua kan tanggung, cuma bertiga, teknologinya ga ada, perlu effort yang luar biasa pula, trus siapa kami. Tapi, kalo kebetulan permasalahan site bisa diselesaikan dengan bentuk seperti itu, ya jodoh namanya.” (Wawancara dengan Surya, 11 November 2017)

Surya perlu alasan yang menurutnya tepat untuk mengambil keputusan desain. Surya menceritakan sebuah proyek kuil yang bentuk dan fasad bangunannya ‘tajem-tajem’ karena kondisi lahan dan kebutuhan ruang yang banyak, plus klien ingin menarik generasi muda untuk pergi ke kuil, jadi ‘keren tidaknya’ menjadi satu parameter acuan. Semua ini berawal dari pertanyaan-pertanyaan dan keadaan lahan yang akan memandu desain. Surya tidak percaya dengan proses arsitektur yang tiba-tiba, tanpa melalui tahapan-tahapan tertentu atau tanpa tahu konteks lahan. Misalnya, begitu bertemu dengan klien, seorang arsitek langsung mengawang-awang dan mensketsa, lalu akan terbangun seperti sketsanya. Hal itu memungkinkan, jika lahannya itu tanah lapang yang selapang-lapangnya, tambah Surya. Atau semuanya itu pasca-rasionalisasi. Surya meragukan proses arsitektur yang terpotong-potong dan sepotong-sepotong semacam itu. Masih banyak proses yang harus dilalui sebuah sketsa untuk menjadi benda di lapangan, dan mereka (sketsa dan benda) bisa jadi dua hal yang tidak sama, tapi mungkin tidak jauh berbeda.

Kampus
Hampir genap tiga tahun Sarah bekerja di sebuah sekolah tinggi teknik planologi & arsitektur. Sejak Januari 2016, ia bekerja sebagai seorang asisten dosen program sarjana. Tugas utamanya: membantu berjalannya satu mata kuliah dan mendukung sebuah laboratorium. Namun, seperti bisa diduga, yang sesungguh-sungguhnya ia kerjakan melampaui deskripsi pekerjaannya. Misalnya, ia mesti mengajar dan mementori beberapa mahasiswa magister, sesuatu yang tak tertulis di kontrak kerjanya.  Konon ia dianggap berkapasitas karena ia menyandang gelar magister dari salah satu universitas di benua Kangguru. Ia juga diminta beberapa dosen untuk membantu menyusun penelitian, melakukan survei, hingga menulis sejumlah publikasi. Lagi-lagi, konon, pengalamannya sebagai penulis arsitektur membuatnya dianggap memiliki kapasitas sebagai asisten riset yang mumpuni. Peran majemuk ini “setengah pilihan setengah kebutuhan,“ Sarah bilang, “demi mengejar pendapatan.“

Sebagai perpanjangan tangan dosen, Sarah diserahi tanggung jawab mengawasi kehadiran mahasiswa dan mendisiplinkan mereka untuk menghasilkan karya yang mengikuti standar ‘normal‘. Di tahun pertama, ada sekitar 200 mahasiswa-mahasiswi program sarjana yang sama-sama menjalani fase orientasi awal sebelum memasuki program studi (prodi) yang spesifik: planologi atau arsitektur. Mereka diberikan waktu dua semester untuk ‘memilih’. Karena kuota kedua prodi yang seimbang, jika minatnya seimbang, maka tidak akan ada persaingan. Tapi, bila tidak, maka mahasiswa akan diperingkatkan berdasarkan nilai indeks prestasi kumulatifnya. Lalu, jika ada IPK yang sama, nilai mata kuliah masing-masing prodi yang akan menentukan. Planologi menjatah tiga puluh kursi khusus untuk ‘putra-putri daerah‘, jadi ada semacam peminatan sedari mula: motivasi untuk pulang kampung dan merencanakan pembangunan daerahnya. Tapi, di sisi lain, ada yang ganjil: seleksi awal menjadi calon arsitek, keluh Sarah, hampir tidak ada hubungannya dengan arsitektur. Tidak ada uji menggambar atau tes bahasa visual lainnya. Akibatnya, seakan-akan yang ada bukanlah pilihan, tapi nasib.

Sarah bercerita banyak tentang nasib mahasiswa-mahasiswi mata kuliah Metoda Presentasi dan Komunikasi (MPK) di semester kedua program sarjana. Dalam enambelas minggu mata kuliah MPK, kedua program studi diberikan waktu yang seimbang untuk memberi gambaran soal apa-apa saja yang akan mereka akan hadapi di masa datang. Keduanya sama-sama memperkenalkan keterampilan dan alat-alat yang diperlukan oleh masing-masing profesi. Selama delapan minggu bersama prodi planologi, mereka akan belajar cara membuat grafik yang ciamik, laporan yang holistik, tayangan presentasi yang informatif, serta presentasi verbal yang jelas. Sementara, di delapan minggu yang lain, mahasiswa diajarkan soal persepsi ruang, teknik menggambar, dan berbagai pengetahuan yang berhubungan dengan arsitektur. Mereka yang diduga menjurus ke arsitektur diharapkan telah memperoleh pemahaman awal mengenai denah-tampak-potongan setelah delapan minggu ini. Tentunya, mereka juga dituntut meningkatkan pemahaman ruang yang apik, kemampuan menggambar dan mengarsir dengan elok, nalar untuk mengira-ngira jatuhnya bayangan, teknik perspektif, membuat kop gambar, syukur-syukur bisa menulis dengan aksara arsitektural.

Meski waktu yang dialokasikan cukup intensif, “tiga hari dalam seminggu, delapan minggu dalam satu semester tidak cukup,“ keluh Sarah. Mereka yang telah berkutat dengan matematika dan fisika di bangku sekolah menengah, tiba-tiba dipaksa menyerap semua keterampilan dasar untuk menjadi arsitek dalam waktu singkat. Setiap minggunya ada pengumpulan gambar dengan beragam tema. Minggu pertama merupakan ujian pemahaman ruang, misalnya, dengan diminta berkeliling kampus dan mensketsa apa yang menurut mereka menarik. Hasilnya cukup mencengangkan. Tidak sedikit anak didik yang mensketsa dari mata burung, terlihat dari atas, seolah-olah mereka bisa terbang. Kok bisa? Padahal sketsa kan seharusnya dari mata manusia. Kadangkala, ada pula mereka yang ‘nakal’, mensketsa dengan menjiplak foto dari telepon genggam. “Kalau sudah begini, biasanya kami kasih tau, ‘ini pake kamera ya? View kamera itu kan ngga sedalam mata, jadi ya keliatan kalo ini ngejiplak”, ujar Sarah. Sebagai mentor, ia harus pandai-pandai mengamati kemampuan para anak didik, duduk bersama secara berkelompok untuk membahas satu persatu gambar mereka, serta menyemangati dan memberi arahan jika mereka tampak kebingungan. Ia juga harus adil sejak dalam pikiran: bahwasanya anak-anak didik itu masih hijau soal ruang. Para asisten akademik sering memberikan materi tambahan di luar yang tertera dalam silabus. Misalnya, perkenalan awal soal perspektif satu titik hilang dan dua titik hilang, memperkenalkan apa itu konsep dalam arsitektur, atau teori tentang bayangan, warna atau tekstur. Selain itu, menunjukkan contoh-contoh gambar pun menjadi metode yang efektif; selain melatih ‘rasa’, metode itu juga memperkenalkan pengetahuan merepresentasikan rupa-rupa benda nyata jadi sketsa, entah itu batu pecah ataupun kaca.

Sarah kadang iri akan betapa berbakatnya sejumlah mahasiswa-mahasiswi. Walau sayang, gambar bagus, belum tentu nilainya akan bagus pula. Gambar pun mesti mengikuti kaidah nalar. Contohnya, ada acuan yang spesifik untuk menentukan jatuhnya bayangan benda. Perlu logika yang teratur. Ilmiah. Tertib nalar. Sarah dan mentor lain menggunakan ilmu optik untuk menjelaskan kepada anak didiknya soal seni bayangan. Sarah bilang, anak yang terbiasa dengan hal empiris, perlu diberi bukti empiris pula untuk meyakinkannya. Ada keseimbangan antara rasa dan akal; keindahan itu ada ilmunya.

Sarah juga mengamati ada resistensi yang kuat dari muda-mudi kekinian. Mahasiswa zaman now stres banget! Pasar tenaga kerja arsitek sangat menuntut seseorang lulusan arsitek untuk tahu semuanya. Apalagi di era informatika nan digital ini. Anak didik diharapkan berbakat mendesain juga fasih menggunakan piranti-piranti lunak dari grafis hingga simulasi. Memang secara persentase, lulusan yang tetap bekerja dalam bidang arsitektur meningkat setiap tahunnya. Tapi, ironisnya, banyak komentar dari para dosen yang menyayangkan hilangnya antusiasme para pembelajar, misalnya ketika asistensi proyek. Mereka tidak cukup kritis: hanya mengangguk-angguk dan tidak bertanya-tanya apalagi penasaran dengan arsitektur. Belum lagi, menurut Sarah, generasi sekarang bukanlah mereka yang berani mengambil risiko (risk takers). Tapi apa lacur, di sisi lain, dosen juga terhimpit titah kelembagaan untuk tidak tidak-meluluskan anak didik. Mau tidak mau kurikulum juga tertekan untuk berkompromi dengan dinamika pasar. Ada pula dosen yang terlampau sibuk mengerjakan proyek-proyek atau terlalu arogan dan menjatuhkan mental para pembelajar. Berbagai sisi punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Resiprokal. Tapi, jika resistensi-resistensi ini dibiarkan menumpuk, maka yang akan tumbuh adalah rasa muak dan benci.

Salah satu dosen yang juga mentor Sarah berpetuah, para pendidik harus kembali ke tugas dasarnya, mencipta keluarga: lingkungan yang kondusif, mengkaji dan menanamkan nilai-nilai yang relevan, merupa atmosfer dan suasana yang produktif nan menarik, merawat tradisi kecendekiaan yang mengakar; menjadi sebuah civitas academica. Mungkin dengan ini anak didik dan para pengampu bisa kembali mencintai arsitektur tidak hanya di dalam kampus, tapi juga di luar. Karena, ketertarikan terhadap arsitektur tidak muncul selama di kampus saja. Kadangkala, setelah seseorang lulus, ia baru tertarik dengan teori arsitektur misalnya. Curiosity and love for architecture needs to be cultivated.

Praktik dan Pendidikan: Satu Sama Lain Yang Saling Menyerupai

Lalu, pembaca yang sabar nan budiman akan bertanya-tanya, apa urusannya cerita-cerita tadi dengan pendidikan arsitektur? Hmmm… Tampak sederhana pertanyaannya, tapi tidak mudah jawabannya. Mari kita urai.

Daoed Yusuf mendefinisikan pendidikan sebagai “proses pembiasaan diri” untuk menggali, mengenal, mempelajari, menguasai, dan menerapkan “nilai-nilai yang disepakati bersama”. Salah satu proses pembiasaan melibatkan pengulangan: membiasakannya jadi laku keseharian. Jadi, merujuk pada definisi beliau, pendidikan arsitektur adalah proses pengulangan laku keseharian untuk menggali, mengenal, mempelajari, menguasai, dan menerapkan nilai-nilai kearsitekturan. Catatan Iman telah memperlihatkan kompleksitas dan ketidakkonsistenan nilai-nilai yang dipraktikkan di berbagai lokasi – lapangan, kantor, kampus – yang, dengan demikian, menunjukkan bahwa pendidikan dan praktik arsitektur tidak hanya terjadi di salah satu lokasi, tapi saling menyerupai dan melampaui satu sama lain. Untuk memperjelas pernyataan terakhir ini, kita bisa susuri kembali catatan Iman.

Dalam catatan Iman mengenai lapangan, kita bisa menyaksikan peran arsitek sebagai koordinator (penyelaras) dan mediator (perantara) yang bertugas memastikan kebutuhan dan keinginan para pemangku kepentingan dapat berjalan seirama, segendang sepenarian. Sementara, ketika terjadi konflik di antara mereka, arsitek juga berperan dalam bernegosiasi dan berstrategi. Untuk mengampu peran-peran tersebut, sang arsitek bergantung pada alat-alat berupa dokumentasi tulisan dan gambar yang tertib nan teratur (termasuk di dalamnya dokumen kontrak) serta disiplin pengarsipan yang handal nan sistematis. Maka, arsitektur tak lebih dan tak kurang adalah sebuah objek yang berada di antara koordinasi, negosiasi, dan dokumentasi antara kontrak dan konstruksi.

Dalam pintu kantor yang tertutup, kita mengamati pergulatan arsitek dalam menyelaraskan kemenduaan dalam praktik keseharian: kepercayaan terhadap metafisika yang menjurus klenik, tapi tidak menghilangkan daya rasionalitas yang tinggi dalam proses desain; ada suatu tingkatan keterbukaan pada spontanitas, tapi tidak dengan serta merta berarti tidak patuh pada jadwal. Kemenduaan tersebut juga merupa dan meraga: membentuk keadaan fisik lingkungan sang arsitek bekerja, serta aktivitas ketubuhan dalam kesehariannya bekerja. Artinya, kepercayaan dan rasio bukanlah dua hal yang terpisah apalagi berseberangan: sesuai kebutuhan, keduanya dipilah-pilah dan diolah-olah sedemikian rupa sehingga menghasilkan objek arsitektur yang ‘beralasan’. Sang arsitek berwajah Janus: dua muka ambigu yang mampu secara bersamaan melihat dan mengatakan dua hal yang tampak berseberangan, secara cerdik menciptakan kesan bisa maju dan mundur secara serempak.

Lalu sampailah kita di sebuah lokasi yang biasanya dianggap sebagai tempat cap stempel pendidikan: kampus. Dalam tahun pertama kuliah, yang syahdan adalah masa-masa kritis, kata seleksi dan substansi menjadi kunci utama. Tahap awal ‘menjadi (calon) arsitek’ pada dasarnya adalah “seleksi“ sebagian mahasiswa terseleksi menurut kecakapan dalam menggunakan alat-alat kearsitekturan (teknik maupun pengetahuan menggambar). Arsitektur mengejawantah jadi tugas-tugas – ulangan-ulangan – yang wajib diselesaikan secara empiris nan artistik, yang berjejalan dari satu minggu ke minggu lainnya. Kalaupun ada, “substansi“ arsitektur merupakan sebuah dialog antara “akal“ dan “rasa”: lagi-lagi suatu kemenduaan yang secara cerdik digunakan sesuai kebutuhan. Apakah nasib para arsitek telah digariskan sedari sekolah tinggi – bahkan tahun pertama perkuliahan – yang telah mereka tempuh?

Kepingan-kepingan catatan Iman memperagakan berbagai persona arsitek, benda apa itu arsitektur, proses apa yang terlibat dalam ber-arsitektur, alat-alat apa yang digunakan untuk merupa arsitektur. Apa yang dilakukan secara nyata dan diulang-ulang dalam keseharian seorang arsitek: yang di-praktik-kan tidak sama persis di berbagai lokasi, tapi juga tidak sama sekali berbeda.

Lalu, dengan bercermin pada definisi Tjahjono soal ‘praktik’ dan Yusuf soal ‘pendidikan’  kita bisa menyejajarkan  ‘praktik’ dan ‘pendidikan’ arsitektur sebagai dua buah kata kerja yang memiliki kemiripan dalam performanya, sama-sama mengulang kebiasaan dan nilai, meregularisasikannya sedemikian rupa hingga melembaga. Secara mimetik, serupa pantomim, pendidikan dan praktik tentu punya kesamaan dan akibatnya saling meniru juga menyerupai satu sama lain.

Pada tahun-tahun perkuliahan lanjutan, kadangkala sekolah mengimitasi keseharian kantor, misalnya studio perancangan yang lengkap dengan ikhtisar desain, lahan nyata, klien, dan berbagai batasan riil lain. Kadangkala kampus pun menyajikan rasa lapangan dengan simulasi pengawasan praktek ke lahan konstruksi. Ada pula saat mengecap atmosfer asosiasi profesi melalui organisasi himpunan mahasiswa arsitektur dan berbagai kegiatannya. Atau, tidak melulu teknik keprofesian, mahasiswa-mahasiswi juga berkesempatan untuk turun tangan lewat program-program pengabdian masyarakat tentang ruang atau lingkungan binaan.

Dari sini, kita juga bisa menduga-duga bahwa pendidikan adalah sesuatu yang melampaui ruang-ruang kelas dan institusi-institusi pendidikan formal. Ia menerus tidak dalam satu garis lurus; ia bisa memutar bahkan bercabang. Maka, baik para pengampu maupun mahasiswa-mahasiswi juga perlu melangkah melampaui ruang-ruang kelas hingga merambah ke realitas keseharian yang kompleks, berlapis, majemuk, tumpang tindih, tak-terarah, tak-teratur, carut-marut, sulit diprediksi.

Artikel ini telah tiba pada penghujungnya, meski Iman baru saja mengawali penelusurannya tentang fraktal-nya arsitektur. Arsitektur yang berkeping-keping. Catatan-catatan Iman telah membuka ‘Kotak Pandora’ yang melepaskan berbagai petaka yang bisa dijumpai dalam kemajemukan praktik arsitektur keseharian di berbagai lokasi. Pun demikian, catatan ini belumlah penuh utuh, masih banyak lokasi lain yang perlu disejajarkan – tentunya dengan kemalangannya masing-masing.

Bagaimanapun, isi Kotak Pandora pun tidak melulu petaka dan kemalangan. Di dalamnya juga ada: ‘harapan’.

Log #92: Biarkan kotak Pandora terbuka! – 27 September 2018

Dalam catatan kecil di buku The Body Multiple, Mol menyinggung anggapan mengenai pembelahan sains menjadi keilmuan alam (natural science) dan keilmuan sosial (social science). Beberapa bidang keilmuan – seperti Geografi, Arsitektur, dan Kedokteran – tidak mudah dimasukkan ke dalam salah satu dari dua kategori ini. Tak dapat dipungkiri bahwa arsitektur bergantung pada materialitas: untuk membuat sebuah bangunan tinggi kokoh berdiri, para arsitek berjibaku dengan gravitasi, bermain-main dengan gaya tarik dan tekan, memahami karakter tiap material, serta berlindung dari- sekaligus menantang cuaca. Di sisi lain, interaksi sosial juga telah bermain jauh sebelum bangunan dibangun, saat pembangunan, serta setelah bangunan itu terbangun. Dengan kata lain, arsitektur adalah benda sosio-material yang hanya dapat dipahami dengan kedua keilmuan secara berbarengan. Tapi dengan satu catatan penting: karena kusutnya keterpautan arsitektur dengan realitas, pemahaman ini hanya akan bermakna bilamana dilakukan tidak dengan terburu-buru.

Masih terang benderang dalam ingatan, sebuah petaka kebakaran di kantor tempat saya bekerja sepuluh tahun lampau. Sebuah petaka yang membakar ingatan.

Syahdan menurut laporan petugas pemadam kebakaran setempat, petaka itu bermula dari satu sudut kantor, meja seorang desainer arsitektural. Dini hari, sang desainer yang kelelahan pulang untuk mandi dan beristirahat sebelum berniat kembali ke kantor beberapa jam setelahnya. Khilaf, dia tinggalkan segelas kopi dalam wadah plastik di atas CPU-nya. Piranti itu sedang merender sebuah citra enam menara apartemen-lima-belas-lantai.

Lalu. CPU memanas, lelehkan gelas. Kopi tumpah. Komponen-komponen listrik basah. Korsleting. Api memercik. Tik. Tik. Tik. Pijar membakar. Meja dan kertas-kertas menyala. Asap di mana-mana. Hangus sudah.

Pagi hari setelah petaka, kami mempraktikkan arsitektur dengan cara-cara yang lain. Sejenak kami mogok menggambar. Sesaat kami abaikan tenggat. Untuk sementara, kami kembali bekerja secara manual. Kami berarsitektur dengan sapu, lap, pel, dan alat-alat kebersihan lainnya. Ada keseharian yang lain saat itu. Semuanya dilakukan untuk menggenapkan hari sekaligus agar bisa kembali kepada keseharian yang “normal.“ Rutinitas itu nyata: berdenyut dan berdegup.

Apakah kamu bisa mendengar dan merasa detaknya?

NB: Catatan ini hanya awal bagi penyelidikan yang lebih panjang.

 

Ivan Nasution
Ivan Nasution lulus dari Arsitektur ITB pada tahun 2006, lalu bekerja di Park+Associates Architect, Singapura. Di tahun 2011, ia menyelesaikan pendidikan penelitian pascasarjana di Berlage Institute Rotterdam. Saat ini menjadi peneliti di Centre for Sustainable Asian Cities, National University Singapore. Di sela waktu luangnya, ia aktif menjadi fasilitator bagi Participate in Design, sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang desain, perencanaan, dan pendidikan.
Indrawan Prabaharyaka
Indrawan Prabaharyaka is a researcher who has been working for urban and sanitation sector. He used to work as a researcher for UNESCO-IHE and international NGOs based in Indonesia. Recently, he worked as Program Coordinator for the National Task Force for Water and Sanitation (Pokja AMPL Nasional), a cross-institutional government organization under the Ministry of National Development Planning. Currently, he lives in Germany as a Ph.D. researcher in Munich Center for Technology in Society, Technische Universität München (TUM).