Kisah Hong Kong Di Balik Surealisme Okupasi Kota dan Euforia Kesadaran Politik Kaum Muda

864 Views |  1
"Bustling City Under the Rain" watercolor on paper. ©Rofianisa, 2016

“Bustling City Under the Rain” watercolor on paper. ©Rofianisa, 2016

 

“Don’t forget your umbrella!

It is

The Warrior God’s halberd,

The Monkey God’s staff,

Ai Wei Wei’s paintbrush,

Bruce Lee’s fist of fury,

The vermilion sword in Jin Yong’s wuxia,

The five-petal orchid blossom

That smells like freedom,

And grandma’s chopsticks —

Always reaching for the best piece of dim sum

At the far end of the table.”

―Kenneth Wong

 

Bagi saya, Hong Kong adalah kota surealis. Bahkan sebelum peristiwa Occupy Central terjadi di akhir tahun 2014, sepanjang 79 hari di sekitar bulan Oktober.

Langkah tergesa para pekerja korporat berbaju rapi bercampur dengan turis-turis yang menghalangi jalur pedestrian; kepala mereka senantiasa mendongak ke atas, kamera di leher, koper besar di tangan.

Pencakar langit bersandar di antara bukit-bukit.

Meski saya bukan satu-satunya yang teralienasi. Anak-anak generasi ketiga di Hong Kong, yang orangtuanya pun lahir dan besar di sana, pun merasa asing dengan negaranya sendiri.

“They don’t want to be called Chinese. They hate mainland (China). Yes, we’re different from them, raised and taught a different ideology from what kids in mainland learn. And now we have to share the same political system?”

Anak-anak generasi ketiga ini lah yang turun ke jalan, mengokupasi titik-titik sentral di tengah kota, menuntut demokrasi dan menyuarakan protes terhadap pemerintah China terkait kebijakan hak pilih universal untuk kota Hong Kong. Mereka adalah bagian dari generasi Y yang lahir pada tahun 1980 – 2000, generasi produktif yang masih bersekolah hingga eksekutif muda yang sedang meniti karir. Berbeda dengan generasi muda China yang apolitis, millenials di Hong Kong adalah pribadi yang vokal dan kritis terhadap pemerintah. Dan anak-anak ini tumbuh bersama nilai-nilai liberal barat, jauh dari paham sosialis di Beijing.

Hong Kong memang kota yang istimewa. Setelah sekian dekade berada dalam konstitusi kerajaan Inggris, pada tahun 1997, mereka menyerahkan Hong Kong kepada China. Dibuatlah perjanjian yang memberlakukan sistem demokrasi agar setiap warga punya hak pilih penuh. Hong Kong (dan Makau) menjadi Special Administrative Region. Hal ini membuat China menjadi satu negara dengan dua sistem pemerintahan. Maka, ketika Pemerintah China memutuskan dalam pemilihan tahun 2017 nanti bahwa otoritas China yang akan memilih kandidat pemimpin Hong Kong, para pemuda ini menuntut.

Di akhir bulan September 2014, ternyata tak hanya para pemuda (yang sebagian besar adalah pelajar yang tergabung dalam organisasi Scholarism dan Hong Kong Federation of Students); ribuan warga pun turun ke jalan. Apa yang diawali dengan protes damai di hari libur, berubah menjadi boikot kota besar-besaran yang konon hampir mengancam keberjalanan ekonomi kota. Sebuah fenomena yang aneh, mengingat warga Hong Kong adalah warga yang taat hukum dan bergantung kepada produktivitas kapital.

"The Umbrella Revolution" watercolor on paper. ©Rofianisa, 2016

“The Umbrella Revolution” watercolor on paper. ©Rofianisa, 2016

 “What’s happening now with this Umbrella Movement is that you start to see among the younger people a collective obsession with Hong Kong, a Hong Kong identity, which is very unusual for Hong Kong,” …. “In the past, when they see something troubling, their first reaction would be emigration. But this is something new. We say, ‘We stay here, we fight.’ This is total freedom to voice our discontent.”

Kampanye pembangkangan sipil (civil disobedience campaign) ini kemudian lebih dikenal dengan nama Umbrella Movement, setelah insiden kekerasan dan penyemprotan gas airmata yang dilakukan oleh polisi direspon secara damai oleh pengunjuk rasa dengan hanya melindungi diri mereka menggunakan payung. Berangkat dari situ, payung yang semula dianggap sebagai simbol kelemahan politik, berubah makna menjadi simbol politis gerakan perlawanan. Simbol payung kemudian digunakan sebagai subyek maupun obyek kampanye yang mengokupasi distrik-distrik vital Hong Kong; Admiralty, Causeway Bay, dan Mong Kok.

The city is a giant gallery! "Occupy Central" watercolor on paper. ©Rofianisa, 2016

The city is a giant gallery! “Occupy Central” watercolor on paper. ©Rofianisa, 2016

 

In a city as crowded as Hong Kong, where policy is often controlled by real-estate developers, the public has never had such unbridled access to roadways and avenues. The proliferation of artworks is in many ways a response to this experience of freedom and expansiveness.

Kebebasan berekspresi warga Hong Kong yang selama ini tertahan akibat minimnya ruang publik dan terbatasnya ruang gerak bahkan dalam skala hunian individu, tiba-tiba terlepas dan menemukan kanalnya.

Yang terjadi adalah selebrasi ruang kota. Sebagian dari kita merasakannya setiap hari Minggu di Car Free Day, atau di beberapa festival komersial yang berhasil meyakinkan (dan tentu saja, membayar) pemerintah untuk menutup jalan demi memberikan pengalaman ruang yang baru dalam kurun waktu tertentu. Selebrasi rekreasional demi pembuktian identitas individual atau golongan. Sementara di Hong Kong, euphoria mengokupasi ruang terbuka justru muncul dalam kebersamaan pencarian identitas kolektif yang telah terkonstruksi sejak lama, lalu kehilangan pegangannya.

Maka bagi warga kotanya, sepanjang 79 hari di sekitar bulan Oktober 2014, Hong Kong adalah kota surealis.

MTR berhenti beroperasi dan jalan-jalan protokoler sepi. Trem dan bus digantikan oleh deretan tenda dan kios-kios kuliah umum tentang demokrasi. Median jalan menjadi ruang belajar dadakan. Ruang kota terbebaskan dari definisi sehari-harinya yang mengekang.

Hong Kong Central terokupasi menjadi sebuah galeri seni raksasa.

Seni menjadi bagian integral dari aktivisme; akrab dengan keseharian dan bukan lagi menjadi sesuatu yang steril di balik lemari kaca, tak tersentuh debu keberpihakan politik. Pada kasus Umbrella Movement, seni muncul secara organik, spontan, ekspresif. Seni ikut membentuk teritori “miniatur kota” yang dibangun di tengah unjuk rasa; hadir dalam bentuk poster, instalasi maupun benda fungsional sehari-hari; beberapa bahkan menjadi penanda, ―landmark.

The icon of the movement: "The Umbrella Man" watercolor on paper. ©Rofianisa, 2016

The icon of the movement: “The Umbrella Man” watercolor on paper. ©Rofianisa, 2016

 

Lalu, apa yang dapat kita pelajari dari Hong Kong dan drama di bawah payung besar bernama demokrasi? Sementara di belahan dunia lain ada yang mengelu-elukan pemimpin bertangan dingin yang mampu melindungi budaya lokal dari keruwetan pengaruh universalisme dan nilai-nilai global. Di era keberagaman dan kesetaraan yang mendefinisikan kemanusiaan dengan harga mati, Hong Kong justru ingin terlepas dari stereotip Chinese, menjadikan penduduk daratan Cina sebagai momok bahkan bahan ejekan. Atas nama demokrasi dan kebebasan berpendapat!

“It is important to protect our form of freedom. However it is also a lesson to learn that we are part of China now. Money or not. It is naïve for the government to not mediate the process for the past 17 years. And now created a certain degree of confrontation of cultures. If Shanghai and Beijing people can be proud of their cities,we Hong Kong could do the same. But have to realize that we are China as a whole.”

Virtual and symbolic support from the world to HK protesters. "Lennon Wall Add Oil" watercolor on paper. ©Rofianisa, 2016

Virtual and symbolic support from the world to HK protesters. “Lennon Wall Add Oil” watercolor on paper. ©Rofianisa, 2016

 

Kisah romantis tentang perjuangan memenangkan demokrasi yang muncul dari balik ribuan tenda pada 79 hari di sekitar bulan Oktober di Hong Kong, merupakan representasi mikrokosmis tentang bagaimana dunia saat ini sedang dalam kebingungan. Batas kota, batas negara, batas budaya; tercabik-cabik oleh kenyataan bahwa manusia saat ini telah terkoneksi lebih jauh dibanding garis imajiner geografis yang sudah disepakati. Era keterhubungan melepas pemaksaan identitas individu sebatas kedekatan geografis menjadi tak berbentuk dan samar. Secara cepat, nilai-nilai yang telah dibangun pendahulu mereka di masa lampau terkontaminasi norma budaya skala global. Individu-individu menjadi schizophrenic, berkepribadian majemuk, menyesuaikan diri tergantung di mana mereka berada. Mereka membaur sekaligus terasing di dunia nyata dan imajiner….

Dalam keterasingan yang familiar, keterbukaan yang janggal, dan keriaan yang sedikit terlihat ambisius; Hong Kong, bagi saya, menjadi lebih dari sekedar sebuah kota surealis. Ia ternyata mewakili individu schizophrenic yang brilian, kreatif, meletup-letup; namun terkungkung dalam ketidakmampuannya lepas dari realitas.

*

 

Referensi:

 

 

 

 

Rofianisa Nurdin
Menjadi sarjana Arsitektur ITB pada tahun 2012. Ketertarikannya kepada kota, manusia, dan budaya membawanya ke dalam ranah industri kreatif dengan semangat kolaborasi melalui Vidour yang digagas pada tahun 2011 dan CreativeMornings Jakarta yang digagas pada tahun 2014. Memori kolektifnya tersebar di kota-kota Asia Tenggara: Bandung, Ubud, Jakarta, George Town (Penang), dan Singapura. Saat ini menjadi Jakarta Chapter Ambassador di CreativeMornings, Community Manager di lingkaran.co, dan Program Manager di rabu(n) senja bersama tim a publication andramatin.