Kabur Dari Bandara

1169 Views |  1

Akhirnya pesawat yang aku tumpangi mendarat di Surabaya siang itu. Setelah pramugari mengumumkan bahwa kami sudah bisa keluar dari pesawat, aku segera berdiri di lorong untuk ikut antri keluar bersama para penumpang lain yang juga sudah siaga. Tidak banyak yang bisa dilakukan ketika terhimpit dalam antrian seperti ini. Paling hanya melihat gedung terminal yang berada di luar, atau memperhatikan orang-orang disekitarku dengan seksama. Seperti mengintip layar sentuh ponsel yang tampak bercahaya dari balik bahu laki-laki yang berdiri beberapa senti didepanku. Posturnya tidak terlalu tinggi, tapi badannya berisi. Ia mengenakan kemeja putih, sedangkan jas berwarna gelap yang senada dengan celananya menggantung di tangan kanannya. Jemarinya bergerak di atas layar, mencari nomor seseorang. Ia berhenti pada satu nama, kemudian menekan layar untuk menelepon. “Halo,” katanya, “Saya sudah mendarat nih. Tolong jemput di kedatangan domestik ya.” Hening sejenak. Lalu ia melanjutkan, “Iya, didepan Rumah Makan Padang Salero aja, kayak biasanya.” Lalu pembicaraan berakhir. Enak juga ada yang menjemput, pikirku. Sementara aku harus mencari taksi untuk bisa keluar dari bandara ini. Persisnya yang online, supaya lebih murah.

Karena pintu pesawat yang tidak kunjung dibuka, laki-laki berkemeja putih itu akhirnya mengajakku bicara. Ia memiringkan badannya ke arahku. Tampak tangan kirinya yang masih menggenggam ponsel sambil mengapit koran yang sudah lusuh. Ia bertanya tentang tentang moda transportasi apa yang akan kugunakan untuk keluar dari bandara ini. Setelah aku mengatakan rencanaku untuk menaiki taksi online, ia berkata, “Taksi online dilarang di bandara ini, lho.”

“Oh, begitu ya?” tanyaku tidak percaya.

“Iya. Nanti di terminal kedatangan, kalau mbak nggak langsung pesan taksi bandara atau terlihat nggak ada yang jemput, pasti banyak supir-supir taksi yang deketin. Nawar-nawarin taksi mereka.” Ia menjelaskan.

“Jadi taksi dengan merek selain koperasi bandara boleh ngambil penumpang, tapi yang online nggak?” Aku mencoba memastikan.

“Iya, begitu.” Jawabnya dengan yakin. “Penumpang pasti lebih milih naik taksi online karena tarifnya lebih murah. Jadinya mereka dilarang ngambil penumpang dari bandara ini.” Lalu ia menjelaskan, “Kalau ketahuan, penumpangnya akan dipaksa turun. Terus supir taksi onlinenya akan disuruh nyetir keliling bandara sampai bensinnya habis. Dan nggak cuma itu…”

Aku masih mendengarkan.

“Dia juga mungkin akan disuruh push-up atau jalan jongkok atau hitung jumlah daun, terserah petugas. Pokoknya hukuman fisik yang aneh-aneh. Supaya pada kapok dan nggak ngambil penumpang dari bandara ini lagi. Dulu pernah ada yang berontak, eh malah mobilnya dipukul sampai lecet…”

Adrenalinku naik. Rupanya di bandara ini memiliki sistem pengawasan yang cukup ketat. Seperti penjara. Petugas bandara berperan seperti pengawas yang mengawasi, mengarahkan, dan memberi sanksi; sedangkan para penumpang seperti tahanan yang diawasi, diarahkan, dan diberi sanksi jika melanggar. Dan bandara ini adalah penjara tempat mereka beradu.

“Biasalah, takut kalau penghasilan turun. Berebut penumpang, berebut rejeki. Seperti nggak ada yang ngatur saja…” Lanjutnya.

Aku sudah tidak terlalu mendengarkan celotehan berikutnya tentang rejeki, iman, dan ketuhanan, karena yang ada dalam pikiranku sekarang adalah bagaimana caranya agar bisa kabur dari bandara ini menggunakan taksi online.

Secara naluriah aku memang selalu memilih yang lebih murah, tapi kali ini bukan soal uang. Kali ini soal prinsip bahwa tidak ada sistem yang sempurna. Termasuk sistem pengawasan bandara ini terhadap taksi. Aku lupa pernah membaca di mana atau berdiskusi dengan siapa, tapi, intinya, selalu ada celah yang bisa membawa kita keluar dari sebuah sistem. Dan itulah yang akan aku lakukan siang ini.

Para penumpang mulai bergerak keluar dari pesawat. Aku mengikuti arus sampai akhirnya menginjakkan kaki di garbarata. Detik itu juga, resmi sudah pengawasan bandara ini terhadapku. Tidak ada jalan lain selain lorong garbarata yang memanjang lurus didepanku. Lima orang petugas berseragam biru muda berdiri di dekat pertemuan antara lorong itu dengan pesawat. Dua dari mereka menggunakan rompi hijau berspotlight. Mereka semua berbincang dengan suara rendah sambil sesekali melihat kami, kecuali satu yang membawa papan alas tulis. Badannya tinggi, dan bahu kirinya agak miring. Tangan kanannya terus bergerak, menulis di atas kertas pada papan itu, sambil memperhatikan kami satu-satu. Sekilas aku melirik kertas-kertas itu, dan tampak seperti daftar penumpang. Tapi aku segera memalingkan wajah sebelum mata kami beradu. Setelah beberapa langkah, aku bisa melihat koridor terminal kedatangan yang melintang di ujung garbarata. Tergantung papan penunjuk arah di langit-langit yang menginstruksikan untuk belok kiri menuju Meja Transfer, Sabuk Bagasi, dan Terminal Kedatangan. Semua orang berbelok. Aku berjalan sambil memicingkan mata pada benda kecil berwarna putih yang berada didekat pertemuan antara dinding dan langit-langit terminal. Kamera pengawas, kataku dalam hati. Dan ada lebih banyak lagi disepanjang koridor itu. Aku semakin merasa diawasi.

Sebenarnya ponselku sudah aktif sejak didalam pesawat dan aplikasinya sudah bisa digunakan untuk memesan taksi. Tapi tidakkah akan terlihat dari layar bahwa aku sedang memesan taksi online? Seperti aku bisa melihat layar ponsel lelaki yang berada didepanku tadi? Oh iya, ngomong-ngomong, dimana ia sekarang? Aku tidak melihatnya sejak berbelok di garbarata. Biarlah. Mungkin dia sudah bergegas ke rumah makan padang itu karena sudah dijemput.

Aku terus berjalan menuju terminal kedatangan sambil menutupi layar ponsel, diam-diam memesan taksi online. Tidak lama, aku melirik layar ponselku dan sudah ada tanda bahwa pesananaku dikonfirmasi oleh seorang pengemudi. Untuk keamanan dan keselamatan pengemudi itu, aku tidak bisa menuliskan namanya, jenis dan nomor polisi mobilnya, serta nama aplikasi layanan taksi online dalam tulisan ini. Jadi, mari kita anggap saja namanya Eko, pengemudi Honda hitam dengan nomor polisi L 5555 XX, dan berada dalam manajemen layanan taksi online ‘Kekinian’. Kemudian aku menelepon Eko melalui aplikasi Kekinian untuk menentukan tempat penjemputan.

Tuuutt…

“Halo?” jawab suara di seberang.

“Halo? Dengan driver ‘Kekinian’ ya?” Tanyaku begitu saja.

“Mbak, tolong jangan sebut merek ya. Nanti kita ketahuan.” Kali ini suara itu terdengan keras.

“Eh, maaf…” kataku, kaget.

“Langsung panggil nama saja. Saya Eko, dan kita teman lama.”

Lalu aku segera mengendalikan diri.

“Ohh, Eko apa kabar?” Aku mencoba melakukan instruksinya.

“Nah, iya begitu…” Ia terdengar lega.

“Jadi mau jemput saya dimana? Kejutan nih, kita udah lama nggak ketemu…” Aku mulai bisa mengikuti skenarionya.

“Mbak tahu toko roti di terminal keberangkatan domestik?”

“Keberangkatan Domestik?” aku mengulangi, “Roti Boy atau Dunkin Donut’s?”

“Iya, Keberangkatan Domestik. Area drop off disana cukup lebar untuk saya berhenti. Lokasi persisnya tepat didepan Roti Boy.”

Oh, aku paham. “Boleh, masih inget kok Roti Boy tempat kita ketemuan dulu…” kataku, menyetujui.

“Oke.” lanjutnya. “Mbak pakai baju apa supaya bisa saya kenali?”

“Jaket jeans warna biru dongker biasanya. AC pesawat selalu dingin sih…”

“Baik. Saya naik Honda warna hitam ya, nomor polisi L 5555 XX. Tolong dihafalkan, supaya terlihat kalau mbak sudah tahu mau naik mobil apa, dan bisa langsung menuju kendaraan.”

Sipdeh. Saya jalan kesana ya. Nggak sampai lima menit kok…”

“Nanti saya nggak bisa turun dari mobil karena terminal kedatangan sedang padat. Saya akan nyalakan lampu dim mobil kalau saya sudah lihat mbak.” Ia melanjutkan, “Dan kalau mbak mau kontak saya, sebaiknya ketika sudah di terminal keberangkatan. Jangan lihat layar ponsel terlalu sering, apalagi sambil mencari mobil. Nanti bisa ketahuan kalau mbak sedang nunggu taksi dari aplikasi. Biasa saja, seperti nggak ada hubungan antara ponsel mbak dengan mobil-mobil yang ada di terminal.”

Gila, pikirku. Sepertinya Eko sudah cukup berpengalaman dalam hal ini.

“Oke, sampai ketemu ya, Eko!” Aku mengakhiri pembicaraan agar bisa bergegas.

“Satu lagi mbak,” rupanya ia belum selesai, “kalau mbak sudah lihat saya, lambaikan tangan ya. Ingat, kita teman lama yang sudah bertahun-tahun nggak ketemu. Jangan terlihat seperti driver dan penumpang.” lanjutnya. “Sampai ketemu lima menit lagi.”

Klik.

Oke, aku benar-benar harus bergegas. Perjalanan dari koridor terminal kedatangan ini ke area drop off Terminal Keberangkatan Domestik masih panjang. Aku baru sadar kalau ada beberapa petugas bandara berseragam putih berdiri didekatku, didepan toko oleh-oleh yang penuh dengan Bandeng Presto khas Jawa Timur. Aku berpura-pura melihat tumpukan kardus bergambar ikan yang berada dibelakang mereka sambil diam-diam memasukkan ponsel ke dalam saku celanaku. Aku cukup yakin kalau layar ponselku sudah mati. Para petugas itu lalu beranjak ke arah yang berlawanan. Aku jadi sedikit lega, walaupun kamera pengawas berada dimana-mana. Karena siapa yang bisa menjamin kalau percakapanku dengan Eko tadi tidak ada yang mendengar? Lalu aku berjalan cepat agar tidak terlalu menarik perhatian. Ingatanku tentang denah bandara ini masih cukup bagus. Tapi aku harus berlagak seperti sudah lama tidak mengunjungi kota ini, apalagi bandaranya, sehingga aku berjalan sambil melihat ke kanan dan kiri. Meja Transfer baru saja aku lewati, berarti setelah ini adalah tempat makan bakso… toko batik… toilet… musholla… etalase oleh-oleh khas daerah… toko buku… layar berisi jadwal penerbangan… dan akhirnya Starbucks di sisi kanan koridor. Sabuk Bagasi dan Terminal Kedatangan berada di lantai bawah dan bisa dicapai menggunakan eskalator yang ada di samping kedai kopi itu. Aku berbelok ke kanan menuju eskalator bersama para penumpang lain, menaikinya, lalu diam saja diatasnya. Membiarkan tangga otomatis itu membawaku satu lantai lebih rendah.

Detik berikutnya Terminal Kedatangan menyambutku dari sisi kiri dengan langit-langitnya yang tinggi dan salah satu sisi dindingnya yang masih saja berisi papan-papan iklan berukuran besar. Sabuk Bagasi meliuk-liuk di sisi dinding penuh iklan itu. Dikerumuni penumpang, porter, dan troli barang. Makin banyak petugas bandara di ruangan ini. Mereka yang berdiri didekat pintu keluar mencocokkan stiker pada barang bagasi dengan yang dimiliki penumpang untuk memastikan bagasi yang diambil sudah sesuai. Ada lagi yang mengawasi ketertiban proses pengambilan bagasi. Ada juga yang memastikan semua orang keluar melalui pintu kaca otomatis diseberang sabuk bagasi.

“Silakan keluar lewat sana ya…” begitu kata salah satu petugas kepadaku ketika ia melihatku berjalan kearah pintu kaca yang berada di sisi kanan eskalator. Aku tahu pintu itu langsung menuju terminal keberangkatan domestik. Rencanaku untuk menghindari meja pemesanan taksi bandara gagal sudah. Pintu kaca otomatis itu sekarang sudah terbuka didepanku. Udara lembap dan berat langsung menghantam wajahku. Menambah keringat yang sudah muncul sejak tadi karena adrenalin yang tinggi. Ada pagar besi yang tidak mengijinkan para penumpang untuk lurus langsung ke area kedatangan. Jika mengambil arah kiri, berarti kita akan menggunakan angkutan umum dan pemesanan dapat dilakukan di meja yang sudah disediakan. Termasuk taksi bandara. Tentu saja aku mengambil arah kanan, karena Eko ‘si teman lama’ yang akan membawaku keluar dari tempat ini.

“Taksi, mbak?”

“Diantar kemana? Malang? Pasuruan?”

“Boleh mbak, dalam kota dua ratus ribu saja…”

“Sewa sehari juga bisa, mbak. Mau pakai driver apa lepas kunci..?”

“Sama saya nggak usah pakai argo. Pasnya saja mbak mau berapa?

Benar saja. Banyak sekali orang yang menawariku taksi. Aku menolak mereka semua dengan mengatakan kalau sudah ada yang menjemput.

“Mana, mbak?”

“Lama lho nunggu yang jemput. Surabaya macet. Sama saya aja..”

Dan mereka mengekoriku. Mengikuti kemana aku berjalan. Memastikan aku benar-benar dijemput dan tidak perlu taksi. Tuhan.

Sampai akhirnya aku menjauhi Terminal Kedatangan dan mulai masuk di Terminal Keberangkatan Domestik. Orang-orang tadi sudah berhenti mengikutiku. Berganti dengan penumpang yang lalu-lalang dan jumlahnya jauh lebih banyak. Benar kata Eko, area drop off penuh. Banyak mobil yang berhenti. Dan, buruknya, hampir semua bertipe Honda berwarna hitam.

Aku mulai panik. Padatnya kendaraan membuatku tidak bisa melihat plat nomor mobil dengan seksama. Dimana Eko? Bagaimana caranya menghubungi dia tanpa dicurigai? Banyak sekali petugas bandara disini. Aku tidak mau misi ini gagal. Aku melihat Roti Boy yang kami sepakati, lalu berjalan kesana sambil mengeluarkan ponsel. Kupilih panggilan terakhir dari menu telepon.

Tuuutt…

Tuuutt…

Tidak diangkat. Aku kembali melihat deretan mobil didepan toko roti ini. Sambil melipat tangan dan berusaha terlihat santai dengan mengetuk-ketukan kakiku ke lantai. Terminal Keberangkatan Domestik sedikit berubah, tapi aku sudah tidak fokus untuk mengamatinya. Aku hanya bisa melirik jam besar yang berada diatas layar jadwal penerbangan.

Satu menit.

Dua menit.

Tiba-tiba ada sebuah cahaya lampu kendaraan.

Honda berwarna hitam, kataku dalam hati. Aku mendekat perlahan. L 5555 XX. Eko. Itu Eko. Senyumku merekah. Pintu pengemudi terbuka, lalu muncul seorang laki-laki muda berambut ikal yang tersenyum ke arahku. Sesuai skenario, aku melambaikan tangan kearahnya sambil berkata “Hai!” dengan setengah berteriak. Ia membalas dengan lebih bersemangat lalu mengingatkan, “Cepetan masuk! Macet banget!” Aku bergegas mendatanginya kemudian duduk di kursi penumpang depan agar tidak terlihat seperti pengguna taksi. Eko mengeluarkan mobilnya dari antrian, lalu melaju dengan lambat di lajur paling kanan. Aku lega.

“Selamat siang, mbak. Maaf atas ketidaknyamannnya ya. Ini untuk menghindari pengawasan dari pihak bandara…” Ia menjelaskan. Iya, aku bisa maklum. Dan justru bersemangat, karena berhasil kabur dari bandara ini menggunakan taksi online yang dilarang. Aku berhasil keluar dari sistem pengawasan bandara terhadap taksi online melalui celah yang telah ditemukan Eko. Well, entah siapa diantara kami yang menemukan celah dan berhasil keluar dari sistem, tapi yang jelas kami sudah duduk manis di dalam mobil Honda hitam ini. Menuju gerbang keluar. Memang benar, tidak ada sistem yang sempurna.

Eko bercerita bahwa para petugas bandara sekarang semakin canggih dalam mengawasi praktik taksi online. “Ada yang pura-pura jadi penumpang,” katanya. “Bahkan banyak juga yang pakai baju preman, berbaur dengan orang-orang di terminal, sambil mengawasi layar ponsel dan mendengarkan pembicaraan mereka.”

Aku cukup kaget dengan fakta yang terakhir. Jika itu benar, siapapun yang berada disekitarku selama berada di bandara ini bisa saja petugas yang sedang menyamar. Berarti, bisa saja misi ini sebenarnya sudah ketahuan.

“Tapi syukurlah siang ini lancar…” lanjutnya sambil melambatkan mobil. Kami mendekati Terminal Kedatangan yang juga macet karena ramai. Mobil pun berhenti. Aku jadi sempat memperhatikan terminal itu dengan seksama. Masih ada kios Soto Lamongan kesukaanku. Dan tidak jauh dari situ, ada Rumah Makan Padang Salero. Aku bisa melihat lelaki berkemeja putih yang tadi satu pesawat denganku. Ia memakai jas hitamnya. Jadi tampak seperti mata-mata, pikirku. Ia memegang papan alas menulis dan membolak-balik kertasnya. Lalu seorang petugas bandara berseragam biru muda menghampirinya. Bahu kirinya miring. Aku mengerenyitkan dahi, merasa ada sesuatu yang familiar. Mereka berdua berbincang dengan serius, mendiskusikan daftar penumpang yang ada di papan itu. Si bahu miring menjelaskan sesuatu dengan bahasa tubuhnya, seperti gerakan menelepon dan melambaikan tangan. Mereka berdua lalu diam, kemudian mengalihkan pandangannya. Kearahku. Pandangan kami beradu. Mobil kami sudah mulai bergerak, tapi kami masih saling mentap. Ada yang tidak beres, pikirku. Lelaki berkemeja putih itu lalu mengeluarkan walkie talkie dari saku jasnya, kemudian bibirnya bergerak seperti mengatakan sesuatu. Aku terbelalak. Misi ini ketahuan. Ia pasti salah satu petugas berpakaian preman. Ia pasti bekerja sama dengan si bahu miring itu. Ia sengaja bertanya tentang bagaimana rencanaku keluar dari bandara ini.

“Maaf, mbak, apa ada uang receh untuk bayar parkir? Gate-nya ada di depan…” Eko mengagetkanku.

Aku baru sadar kalau kami belum benar-benar keluar dari bandara ini. kami masih diawasi. Dan di depan sana, sudah ada petugas bandara yang sedang bicara melalui walkie talkie. Aku pasrah. Maafkan aku, Eko, kataku dalam hati. Apapun bisa terjadi padanya setelah ini. Dan mungkin padaku juga. Kalau sudah begini, aku menyesal karena tidak terlalu mendengarkan celotehan pria berkemeja putih itu tentang rejeki, iman, dan ketuhanan.

 

 

Fath Nadizti
Alumnus program double-degree Arsitektur ITS Surabaya dan Urban Design Saxion Hogeschool Belanda tahun 2013. Kemudian melanjutkan program magister Urban Studies di University College London karena penasaran dengan sistem kehidupan berkota. Saat ini aktif berkomunitas dan berarsitektur di Bandung.