Hutang Pengetahuan

822 Views |  Like

“To be radical is to grasp the root of the matter. But, for man, the root is man himself.”

-Karl Marx

Beberapa tahun lalu, tidak lama setelah menyelesaikan studi perkotaan tingkat magister, aku sempat berdiskusi dengan seorang profesor. Aku sudah lupa ujung dan pangkal dari diskusi di siang bolong itu, namun yang pasti aku sempat mengutarakan kekecewaanku terhadap Vitruvius bahwa ia lah akar permasalahan dari sempitnya arsitektur saat ini.

Tahun 2009 adalah kali pertama aku mengenal nama Vitruvius melalui slide presentasi di studio arsitektur tingkat sarjana. Ia berkata bahwa arsitektur adalah firmitas, utilitas, dan venustas, atau kekuatan, fungsi, dan estetika. Dengan kata lain, arsitektur adalah bangunan dengan struktur yang kuat, bentuk yang estetis, dan mampu mengakomodasi fungsi yang berjalan di dalamnya. Studio demi studio aku jalani dengan menggunakan prinsip Triasnya yang legendaris itu. Perancangan sering dimulai dari struktur dan program ruang. Lalu tidak jarang pula melihat lahan dan bangunan dari sudut pandang dua dimensi, yaitu gambar-gambar denah, tampak, dan potongan. Sedangkan sudut pandang tiga dimensi digunakan untuk menggambarkan logika abstraksi, seberapa ahli kita mampu menggambarkan ruang secara logis tanpa distorsi.

Semua berjalan baik-baik saja sampai aku membawa pemahaman beserta pendekatan arsitektur tersebut ke Belanda untuk menyelesaikan tahun terakhir sarjana. Di sekolah tempatku belajar, gambar dan maket adalah visualisasi ide. Yang harus tersampaikan adalah apa yang kita maksud, bukan serta merta pertunjukan kemapuan logika visualisasi ruang. Maka wajar ketika sketsa ide Guggenheim Bilbao hanyalah garis-garis abstrak yang saling tumpang tindih. Arsitektur pun bukan persoalan mazhab, antara klasik ala Vitruvius, modernist ‘form follows function’, atau yang lain, melainkan soal sensitivitas terhadap konteks dan kesadaran posisi diri. Kedua hal tersebut bahkan menjadi komponen penilaian tugas akhir. Aku jadi membuat kesimpulan sementara bahwa mungkin pendekatan sekolah arsitektur di Eropa sedemikian canggih sehingga kota-kota mereka nyaman untuk ditinggali. Arsitek memahami konteks, menyadari lingkup pekerjaan, dan sistem yang berjalan mendukung praktik yang baik. Hasilnya kebanyakan arsitektur dan kota di Eropa terintegrasi, teratur, dan tepat sasaran. Betapa nyamannya hidup di lingkungan binaan yang demikian.

Konsep trias Vitruvius yang kupahami kemudian jadi banyak yang tidak sesuai. Vitruvius mengesampingkan banyak hal, termasuk satu yang paling penting yaitu manusia. Misalnya, di mana posisi pengguna ruang dalam perancangan arsitektur? Pemerintah? Komunitas? Anak-anak? Perempuan? Masyarakat adat? Dengan kerangka berpikir Vitruvius, keseharian menjadi ‘informal’ bahkan ilegal. Rumah yang tidak permanen tanpa sanitasi berarti tidak standar dan salah, sehingga harus ‘disesuaikan’ dengan berbagai cara. Banyak contoh riil yang kutemui, terlebih ketika aktif bersama komunitas dan mencoba pendekatan partisipatif. Karena tidak puas dengan kenyataan, akhirnya kuputuskan untuk menggali lebih dalam tentang arsitektur dan sistem kota lebih dalam melalui sekolah magister.

Benar saja. Kesempatan untuk melanjutkan studi perkotaan di London mengantarkanku ke banyak dimensi. Ketika berbicara tentang arsitektur, yang sebenarnya dibicarakan justru hal-hal lain. Mulai dari geografi, sejarah, politik, sosial, lingkungan, sampai keprofesian arsitek yang dilematis. Kesimpulanku terkait dengan konsep Trias sampai saat itu adalah tidak relevan. Sama sekali. Arsitektur tidak hanya bangunan dan hal-hal teknis. Banyak dimensi yang penting untuk diketahui, khususnya oleh arsitek. Dan dengan memahami bahwa arsitektur adalah firmitas, utilitas, dan venustas, maka arsitektur akan menjadi sebatas itu saja. Tapi lalu apa arsitektur jika begitu banyak dimensi yang berkelindan didalamnya? Bukankah dengan kompleksitas itu arsitektur kemudian menjadi hilang tenggelam oleh bidang keilmuan lain?

“Tunggu dulu,” profesor memotong pikiran-pikiranku yang mulai meracau, “apa benar Vitruvius hanya bicara soal firmitas, utilitas, dan venustas?”

Aku terdiam.

“Sudah pernah membaca langsung?”

Benar juga, pikirku. Sejak kali pertama aku menjalani sekolah arsitektur, konsep Trias Vitruvius hampir tidak pernah kupertanyakan. Yang ada hanyalah perasaan dikecewakan, lalu lari mencari jawaban.

Picture1

Sampul buku On Architecture

Diskusi itu akhirnya membawaku pada sebuah buku berbahasa Inggris terbitan Penguin Classics yang dua isi utamanya adalah pendahuluan buku dan naskah lengkap On Architecture (De Architectura) sumber Trias Vitruvius. Dari situ, aku baru tahu bahwa Vitruvius rupanya tidak serta merta bicara tentang firmitas, utilitas, dan venustas. Trias Vitruvius hanya satu paragraf dari naskah On Architecture yang berjumlah sepuluh buku.

Daftar isi naskah On Architecture

Daftar isi naskah On Architecture

Naskah tersebut tentu saja tidak hanya berisi tentang konsep Trias. Lihat saja daftar isinya yang begitu panjang. Dengan kata lain, untuk memahaminya diperlukan keseluruhan naskah beserta konteksnya. Kalau boleh jujur, aku merasa mendapat pencerahan dari proses pemahaman konsep Trias Vitruvius, sehingga tulisan ini kubuat untuk sedikit mempersingkat kurva pembelajaran teman-teman yang senasib denganku. Semoga kalian suka.

Jadi begini ceritanya.

Sebagaimana kita semua tahu, pendahuluan adalah bagian terbaik untuk memahami isi dan konteks sebuah buku secara umum. Pendahuluan buku ini ditulis oleh Robert Tavernor, seorang praktisi sekaligus profesor di bidang arsitektur dan rancang kota di London School of Political Science (LSE) yang telah menulis banyak buku tentang sejarah, teori, dan kritik arsitektur. Ia menjelaskan bahwa Vitruvius menulis naskah On Architecture untuk Octavian-Augustus, kaisar Romawi pada tahun 27 S.M. yang berkuasa setelah Julius Caesar. Hal tersebut tampak jelas dari penggunaan kata sapa ‘Caesar, Supreme Ruler’ yang ditulis oleh Vitruvius pada pendahuluan naskah. Vitruvius pun secara gamblang menyatakan tujuan dari naskah tersebut. Vitruvius ingin memajukan dan menujukkan kebesaran kekaisaran Romawi melalui melalui bangunan-bangunan publik.

Kedua, Vitruvius diduga kuat memiliki latar belakang militer, yang tentu saja memengaruhi isi naskah On Architecture. Ia menjadi arsitek militer pada masa pemerintahan Julies Caesar, khususnya untuk perang di Gaul. Vitruvius lah yang mempersiapkan kemah militer prajurit, dan juga memperbaiki meriam di medan perang. Ia memiliki banyak pengalaman konstruksi, termasuk struktur benteng kayu yang tahan api. Maka wajar jika On Architecture banyak berisi detil konstruksi yang mengutamakan kekuatan dan fungsi.

Ketiga, Vitruvius banyak menyampaikan informasi dan detil yang berasal dari Yunani yang kemungkinan besar ia dapatkan dari pengalaman empiris. Di dalam naskah, Vitruvius menyebutkan beberapa kota seperti Sardis, Halicarnassuss, Sardes, dan terutama Athena. Ia mungkin mengunjungi kota-kota tersebut ketika bepergian bersama Julius Caesar, dan juga bekerja di sana, sebagaimana arsitek Romawi dan Yunani pada masa itu didorong untuk bekerja di kedua wilayah.

Lebih jauh lagi, Vitruvius dikatakan sebagai orang Romawi yang ‘phihellenic’, atau mencintai budaya Yunani, sebagaimana mayoritas orang Romawi pada masa itu. Hasilnya, prinsip-prinsip yang ia tulis berdasar pada pengetahuan Yunani. Vitruvius merujuk pada kecanggihan peradaban Yunani kuno dalam geometri, filosofi, musik, kesehatan, hukum, dan astronomi, sehingga hal-hal tersebut ia jadikan dasar dalam pendidikan arsitektur.

Terakhir, dan yang paling penting menurutku, adalah penjelasan tentang mengapa konsep trias bisa begitu universal. Menurut Robert, Vitruvius begitu populer karena keterbukaan teorinya terhadap interpretasi dan kemudahan terminologi pada buku-bukunya. Ilustrasi asli yang dibuat Vitruvius tidak ada yang bertahan, begitu pula dengan pengetahuan di dalamnya, sehingga apa yang ia katakan sering dirasa tidak jelas. Namun justru ketidakjelasan itulah yang menstimulasi para penerjemah. Di saat yang sama, Vitruvius juga memberikan banyak kosa kata elemen-elemen bangunan yang dapat langsung digunakan, seperti ‘Tuscan’, Doric’, ‘Ionic’, dan ‘Corinthian’.

Naskah On Architecture berkelana cukup jauh dalam waktu yang panjang. Dalam perjalanannya, naskah tersebut mengalami berkali-kali translasi bahasa dan makna. Robert Tavernor menulis sub bab khusus di dalam pendahuluan yang membahas hal ini. On Architecture sempat menghilang dan ditemukan kembali oleh seorang ilmuwan dari Firenze bernama Poggio Bracciolini pada abad pertengahan yang berteman dengan arsitek-arsitek dome katedral Firenze, Filippo Brunelleschi, yang juga berteman dengan arsitek lain yaitu Leon Battista Alberti. Lingkaran pertemanan tersebut menstimulasi Poggio untuk merangkai kembali naskah, yang kemudian diperkaya dengan pengetahuan Alberti tentang Romawi dan Yunani klasik.  Sejak itu, naskah beredar. Ditambahkan ilustrasi, diganti bahasa, dibaca bagian-bagian pentingnya, digunakan perihal praktisnya, hingga entah kapan dan bagaimana muncul firmitas, utilitas, dan venustas di sekolah-sekolah arsitektur saat ini.

Seorang kawan yang cukup paham tentang sejarah arsitektur melempar pertanyaan menggelitik tentang kenyataan bahwa apakah naskah dan sosok Vitruvius benar-benar ada. Karena pada dasarnya yang kita bahas dan gunakan selama ini adalah turunan hasil translasi Alberti yang diturukan ke translasi lain. Betul juga, pikirku, mungkin itu bisa menjadi satu topik diskusi khusus.

Sekarang, mari kita lihat di mana kata-kata firmitas, utilitas, dan venustas dalam naskah On Architecture berada. Mereka tercatat di Buku I Bab III bagian 2 (hal. 19).  Namun sebelum kita membahas definisinya, ada satu hal fundamental yang menggangguku. Kalimat pertama di bagian tersebut berbunyi sebagai berikut:

  1. And all these buildings must be executed in such way as to take account on durability [firmitas], utility [utilitas] and beauty [venustas]. …

Jika diterjemahkan secara umum, kalimat tersebut mengatakan bahwa “bangunan-bangunan tersebut” harus dieksekusi dengan cara tertentu sebagaimana mempertimbangkan “firmitas, utilitas, dan venustas.” Kata ‘tersebut’ merujuk pada bangunan tertentu, sehingga aku terpaksa melacak ke bagian sebelumnya, yaitu Bagian 1 (hal. 19), untuk mendapatkan pemahaman yang lebih utuh.

Benar saja. Di bagian 1 terdapat daftar bangunan yang menjadi rujukan[i]. Bagian itu menjelaskan bahwa arsitektur terbagi menjadi tiga divisi, yaitu konstruksi bangunan, jam bayangan matahari (sundials), dan mesin. Konstruksi itu sendiri terbagi menjadi dua bagian, yaitu benteng batas wilayah (city-walls) dan bangunan publik, serta bangunan privat. Dengan demikian, bangunan-bangunan (buildings) yang harus dieksekusi dengan mempertimbangan konsep trias adalah bangunan publik dan privat. Mulai dari tembok pemisah (‘devising walls’), menara (‘towers’), gerbang (‘gates’), tempat ibadah (‘sacred buildings dedicated to the immortal gods’), pelabuhan (‘ports’), alun-alun (‘squares’), teras (‘porticoes’), pemandian (‘baths’), teater (theatres), sampai jalan (‘covered walk’).

Baik. Sudah cukup tergambar tentang definisi dan bentuk bangunan yang dimaksud oleh Vitruvius. Mari kita kembali secara utuh ke Bagian 2 di mana konsep trias dijelaskan.

  1. And all these buildings must be executed in such way as to take account on durability [firmitas], utility [utilitas] and beauty [venustas]. Durability will be catered for when the foundations have been sunk down to solid ground and the building materials carefully selected from the available resources without cutting corners; the requirements of utility will be satisfied when the organization of the space is correct, with no obstacles to their use, and they are suitably and conveniently orientated as each type requires. Beauty will be achieved when the appearance of a building is pleasing and elegant and the commensurability of its components is correctly related to system of modules.

Menurut Vitruvius, firmitas didapatkan ketika pondasi tertanam sampai tanah keras (solid ground’), terbuat dari material yang tersedia, dan material tersebut tidak dipotong pada bagian ujungnya. Utilitas tercapai ketika ruang diorganisasi dengan benar sehingga tidak ada penghalang dalam penggunaannya, serta memiliki orientasi yang nyaman sesuai dengan peruntukannya. Sedangkan venustas tercapai ketika penampilan bangunan terasa menyenangkan dan elegan, serta komponen-komponennya proporsional terhadap sistem modul. Tentu saja semua itu hasil rumusan Vitruvius setelah bertahun-tahun mendapatkan pengalaman empiris, sebagaimana telah dijelaskan oleh Robert di pendahuluan buku.

Konsep Trias memiliki batas definisi dan lingkup yang dijelaskan sedemikian hati-hati oleh Vitruvius. Pun dengan studio dan kelas pembelajaran di sekolah arsitektur. Memang mungkin seharusnya pemahaman utuh tentang konsep dicari di kelas-kelas teori arsitektur. Bukan lantas menjadi kesal lalu mencari keluar, seperti yang aku lakukan.

Well, pada akhirnya, perasaan kecewaku terhadap Vitruvius menguap sedikit demi sedikit. Mungkin memang seperti ini proses pemahaman dan pembelajaran, khususnya tentang teori. Dari yang awalnya menggunakan, mempertanyakan, lalu menentang, dan dengan pertanyaan yang tepat, bisa berbalik menjadi memahami. Memahami bahwa sebuah konsep bukanlah hal yang serta merta, melainkan duduk pada definisi dan konteks tertentu.

***

Terima kasih kepada Prof. Yandi Andi Yatmo yang telah membuatku mempertanyakan kembali hal-hal yang kupertanyakan.

 

[i] “Architecture has three divisions: the construction of building, of sundials and of machines. Construction in turn is divided in two parts, one of which consists of the deployment of city-walls and civic buildings on public sites, the other, of the development of private buildings. Public buildings are divided into three categories: first, those destined for defence, second, those for religious use, and third, those for public utility. Defence involves devising walls, towers and gates capable of resisting enemy onslaughts at any time: under religion comes the planning of sanctuaries and other sacred buildings dedicated to the immortal gods; and public utility is concerned with the arrangement of communal areas for use by the people, such as ports, squares, porticoes, baths, theatres, covered walks [inambulationes] and everything else that is designed on the same principles for public sites.”

Fath Nadizti
Alumnus program double-degree Arsitektur ITS Surabaya dan Urban Design Saxion Hogeschool Belanda tahun 2013. Kemudian melanjutkan program magister Urban Studies di University College London karena penasaran dengan sistem kehidupan berkota. Saat ini aktif berkomunitas dan berarsitektur di Bandung.