Edisi 02|2010

618 Views |  Like

Setelah merilis edisi pertama pada bulan Maret 2010, kini ruang hadir kembali pada edisi #2 dengan tema yang sedang hangat diperbincangkan, yaitu arsitektur hijau.

Seringkali kita melihat, mendengar dan membicarakan arsitektur hijau. Kata “arsitektur hijau” menjadi sebuah padanan kata yang rasanya membumi dan bersikap ramah terhadap lingkungan. Sebenarnya, apa itu arsitektur hijau? Seberapa besar kita telah tenggelam dalam dunia arsitektur hijau? dan apa yang bisa dilakukan oleh arsitektur hijau untuk mengurangi beban lingkungan yang dialami bumi ini.

ruang #2 arsitektur hijau

ruang #2 mencoba mengangkat tema arsitektur hijau, sebagai bagian dari kehidupan manusia yang berkelanjutan. Berbagai pandangan mengenai arsitektur hijau dikomunikasikan dan dikritisi dalam ruang #2. Arsitek prasetyoadi, realrich sjarief dan ivan nasution mencoba membagi pandangannya mengenai arsitektur hijau.

Simak pendapat beberapa alumni ITB, seperti Kusmayanto Kadiman dan Triharyo Soesilo mengenai arsitektur hijau dan simak juga perbincangan dengan Pak Hiramsyah S. Thaib, Presiden Direktur dan CEO Bakrieland Development,mengenai perkembangan arsitektur hijau di Indonesia. Tak lupa, nikmati pula perjalanan Goris ke Kopenhagen, Denmark untuk merasakan dan mengalami ruang-ruang pada Green Lighthouse, gedung yang diklaim dengan emisi karbon netral pertama di dunia

Selain itu, ruang#2 menyajikan beberapa karya arsitektur yang dibangun dengan pendekatan ‘hijau’ seperti yang bisa diliat pada bamboo house karya arsitek Budi Faisal atau Kawasan Gerbang Utara karya PDW. Pengambilan fotografi yang apik pada Bamboo House oleh Andhang Trihamdani melengkapi kenyamanan dalam menikmati arsitektur.

ruang #2 arsitektur hijau

Selamat menikmati ruang #1 melalui sharing media (scribdslideshareissuu), atau mengklik link berikut untuk mengunduhnya: e-magazine, atau dengan membaca artikel satu per satu pada web ini.

Selamat mengapresiasi
ruang | kreativitas tanpa batas

admin
Ruang adalah sebuah majalah online bertema arsitektur, kota, dan lingkungan binaan, beserta segala permasalahannya. Kami tertarik dengan cara pandang yang beragam dalam melihat sebuah tema; karenanya, kami mengambil sebuah posisi yang objektif dengan memberikan kesempatan kepada setiap pandangan untuk menyuarakan argumennya. Tidak ada benar dan salah dalam berpendapat, yang ada hanya argumen yang lebih berdasar. Kami percaya bahwa konsensus bukanlah sebuah tujuan. Karenanya kami berupaya agar setiap edisi diwarnai oleh beragam kontributor: praktisi, akademisi, pengamat, penikmat, pengguna, patron maupun kritikus dari berbagai disiplin ilmu.

Ruang tidak mencari solusi terhadap sebuah permasalahan yang diangkat dalam setiap tema. Bagi kami, untuk saat ini merupa pertanyaan yang baik dan tepat lebih diperlukan daripada terburu-buru mengambil solusi. Maka, setiap edisi akan dibuka oleh sebuah pertanyaan berupa call for paper yang akan melahirkan sebuah edisi. Dan, edisi tersebut menjadi pengantar bagi sebuah temuan awal dari tema yang ditampilkan. Namun edisi tersebut belum akan ditutup, dan akan terus dibuka untuk mencari cara pandang lain mengenai permasalahan dalam tema tersebut.