Edisi 06|2011

932 Views |  Like

e-magazine arsitektur ruang hadir kembali dengan tema  “Ruang Publik”. Pada edisi 06|2011 kali ini, ruang menampilkan beberapa artikel mengenai ruang publik dari sudut pandang arsitektur atau urban design.

Ruang mengajak pembaca mengenali dan mempertanyakan kembali makna ruang publik di Indonesia. Ruang mungkin mencoba menggelitik untuk menginisiasi penghadiran kehadiran ruang publik. Seperti apa itu ruang publik. Apakah seperti taman-taman di benua biru sana? Nilai-nilai apa saja yang hadir dalam ruang publik. Dapatkah ruang publik dihadirkan dalam bentuk kesederhanaan di negeri Indonesia ini?

Tak hanya menampilkan sisi ruang publik di Indonesia, ruang menghadirkan beberapa sudut pandang dari kacamata internasional. Apakah ada pelajaran yang bisa kita ambil dari ruang publik di luar negeri untuk kemudian ditransformasikan dan diadaptasikan dengan nilai budaya Indonesia?  Kontributor Yuzni Aziz mengangkat tema Gotong Royong pada ruang publik di Indonesia. Sandy Putranto berbagi pengetahuan mengenai ruang publik setempat dari kesehariannya di Hong Kong . Ivan K. Nasution memberikan pandangan mengenai Mall di Jakarta sebagai ‘ruang publik’. Makna kematian pada ruang publik diangkat oleh Tiffa pada edisi ini. Dan masih banyak artikel Ruang Publik lainnya di edisi kali ini.

Ruang 06-2011 ruang publik

Selamat menikmati ruang melalui sharing media (scribdslideshareissuu) atau klik link berikut untuk mengunduhnya: e-magazine, atau dengan membaca artikel satu per satu pada web ini.

Yuk, mengenal arsitektur dengan membacaruang.
Salam ruang

admin
Ruang adalah sebuah majalah online bertema arsitektur, kota, dan lingkungan binaan, beserta segala permasalahannya. Kami tertarik dengan cara pandang yang beragam dalam melihat sebuah tema; karenanya, kami mengambil sebuah posisi yang objektif dengan memberikan kesempatan kepada setiap pandangan untuk menyuarakan argumennya. Tidak ada benar dan salah dalam berpendapat, yang ada hanya argumen yang lebih berdasar. Kami percaya bahwa konsensus bukanlah sebuah tujuan. Karenanya kami berupaya agar setiap edisi diwarnai oleh beragam kontributor: praktisi, akademisi, pengamat, penikmat, pengguna, patron maupun kritikus dari berbagai disiplin ilmu.

Ruang tidak mencari solusi terhadap sebuah permasalahan yang diangkat dalam setiap tema. Bagi kami, untuk saat ini merupa pertanyaan yang baik dan tepat lebih diperlukan daripada terburu-buru mengambil solusi. Maka, setiap edisi akan dibuka oleh sebuah pertanyaan berupa call for paper yang akan melahirkan sebuah edisi. Dan, edisi tersebut menjadi pengantar bagi sebuah temuan awal dari tema yang ditampilkan. Namun edisi tersebut belum akan ditutup, dan akan terus dibuka untuk mencari cara pandang lain mengenai permasalahan dalam tema tersebut.