Dongeng Preservasi

1782 Views |  Like

Sebuah budaya, estetika, langgam, dan bangunan memiliki masanya. Tapi, pastilah akan mati. Jika ia menua, tidaklah bijak mendandaninya untuk mengelabui umurnya. Jika kelak ia mati, maka relakanlah, tapi semangatnya tidak boleh ikut terkubur.

Preservasi kerap merepresentasikan sebuah usaha membentuk identitas, atau kadangkala terkait etnik. Namun, di era global ini, identitas dan keetnikan seseorang adalah sesuatu yang rancu. Dari manakah identitas dan keetnikan seseorang diperoleh; apakah dari nama keluarga, garis keturunan, bahasa, atau bahkan preferensi?

Bendera Sisingamangaraja XII (Sumber: diolah dari Wikipedia)

Bendera Sisingamangaraja XII (Sumber: diolah dari Wikipedia)

.

Hiduplah A. Seperti orang kebanyakan, A berada di tengah-tengah globalisasi, di mana (hampir) semua manusia bergantung satu sama lain tanpa terpaut batas geografis yang kaku. Teritori membesar dan batas mengecil sehingga mempercepat perpindahan manusia, budaya, dan informasi dari suatu tempat ke tempat lain. Manusia seolah tidak punya cukup waktu untuk membangun keterkaitan yang kuat terhadap tempat. Manusia kembali nomaden.

A lahir dari orang tua bersuku Mandailing yang menetap di pinggiran ibukota, dan berbaur dengan berbagai macam etnik: Jawa, Tionghoa, Sunda, Bugis, Minang, Dayak dan beragam etnik lain. A tumbuh dari keberagaman, namun membentuk tingkah lakunya, serta kefasihannya dalam berbahasa Sunda (kasar) di Bandung. Walaupun begitu, ketika dewasa, A terobsesi oleh sebuah etnik bernama ‘global’, ia menyenangi bahasa dan kulturnya. Di hadapannya kita semua sama. Walau seseorang tumbuh dari bermacam budaya yang tercampur aduk, pada akhirnya dengan mempelajari sebuah bahasa dan kultur, mereka akan diterima menjadi masyarakat global.

Bertahun-tahun A hidup dengan semangat keglobalan yang dia anut. Seolah menjadi iman, A hidup berpindah dari satu inang ke inang lain. Hippi. Namun, keyakinan A akan konsep ‘manusia global’ goyah oleh tulisan kalau saya orang jawa, buat apa, lalu bagaimana?[1] Hal itu membuatnya berpikir dan mempertanyakan identitasnya.

Dari mana saya memperoleh identitas saya, apakah nama keluarga, orang tua, bahasa sehari-hari, tempat saya hidup sekarang atau tempat saya memilih untuk hidup nantinya? Perlukah atau menguntungkankah bila saya mengasosiasikan diri terhadap salah satu etnik? Perlukah sebuah usaha mem-preservasi identitas dan keetnikan? Dan bagaimana memilih dan memilahnya?

.

Ile ile onang onang,

On ma si Nasution i,

Indu sian le kecamatan Kotanopan on,

On ma si baik budi i,

Ois nda taronang ale baya onang…

Hampir setiap hari ayah A menidurkan cucunya dengan menyanyikan lagu  onang-onang. Walau tidak mengerti, apalagi memahami, sang cucu terlelap juga oleh melodinya yang sederhana namun menghipnotis. Unik. Di antara banyak lagu tidur lain yang lebih populer dan catchy, namun ayah A selalu memilih onang-onang. Ia menganggap lagu semacam nina bobo itu terlalu generik dan tidak ada kaitan dengan daerah asalnya. Dalam pikiran ayah A, menyanyi onang-onang adalah usaha untuk memperkenalkan asal usulnya kepada sang cucu. Kecamatan Kotanopan, Tapanuli Selatan, adalah daerah asal ayah A, di mana sawah-sawah terhampar luas, sesekali terdengar lantunan saluang (alat musik tiup dari bambu) dari seorang pemuda yang merindu di dangau; anak-anak gadis bermandian dan ber-markatimbung – bergantian memasukkan tangannya ke dalam air sehingga membentuk sebuah melodi – di tepi Sungai Batang Gadis; Siamang bergelantungan sambil menggembungkan kantung gularnya, bersahut-sahutan nyaring di atas pohon di belakang rumah. Kehidupan di tanah Mandailing erat berhubungan dengan nada dan harmoni.

Peta Linguistik Sumatra Utara (Sumber: Uli Kozok)

Peta Linguistik Sumatra Utara (Sumber: Uli Kozok)

“Batak” adalah sebuah generalisasi yang dipakai pemerintahan Belanda untuk mengelompokan suku Karo, Pakpak-Dairi, Simalungun, Toba serta Angkola-Mandailing menjadi satu. Mulanya ‘Batak’ adalah istilah yang digunakan kepada semua suku yang tidak (belum) memeluk Islam, yang secara kebetulan memiliki kesamaan budaya.[2] Ada banyak spekulasi asal kata “Batak”, salah satunya berasal dari kata “Bataha” yang merupakan sebuah kampung di Burma yang dipercaya sebagai asal keturunan ini sebelum menuju Nusantara. Adapula yang mengatakan Batak adalah keturunan suku bangsa “Bataq” yang tinggal di Ilcos Utara, Pulau Luson, Filipina. Klaim ini didukung oleh kemiripan postur tubuh, bentuk muka dan gaya bicara[3]. Sementara itu istilah “Mandailing” dan “Batak” sendiri masih mengundang banyak perdebatan, satu sisi mengatakan Mandailing memiliki perbedaan agama dengan Batak umumnya serta lebih memiliki kedekatan dengan rumpun Melayu, sisi yang lain mengatakan bahwa agama datang setelah ada kebudayaan, walaupun agama Mandailing dan Batak berbeda, tetapi banyak kemiripan pola budaya: bahasa, aksara, kesusasteraan, sistem kekerabatan, marga dan lainnya[4]. Walaupun begitu, klaim ini dianggap tidak begitu membantu oleh para peneliti dalam pencarian asal usul Batak. Sementara saat ini secara umum istilah ‘Batak’ lebih banyak digunakan untuk menyebut suku Batak Toba dibanding suku lainnya.

Di masa kecil A, ayahnya bercerita soal asal-usul bangsa Batak (versinya) yang bermula dari sebuah nama “Sirajabatak” yang memberi keturunan kepada banyak sekali nama yang nantinya menjadi marga-marga Batak, di beberapa generasi selanjutnya lahirlah “Nasaktion”(“Nasangtion”) – orang yang sakti – yang tinggal di Hutapungkut, yang merupakan asal usul marga A, “Nasution”. Konon ompung (kakek) Nasangtion menguasai dua ilmu sihir, baik yang putih maupun yang hitam. Walaupun begitu, tidak ada satu ilmu sihir pun yang diwariskan kepada A, sebagai turunan ompung Nasaktion. Kalau kemampuan untuk tidur di mana saja dapat dianggap ilmu hitam, pada masa berkuliah di jurusan Arsitektur, A adalah pertapa sakti.

Tidak puas dengan cerita Ayahnya, A menemukan sebuah film dokumenter berjudul Batak: Perjalanan ke Tanah Leluhur[5]. Dalam dokumenter tersebut diceritakan bahwa banyak versi asal-usul orang Batak. Menurut cerita rakyat, leluhur bangsa Batak jatuh dari langit ke Pusuk Buhit di jantung Pulau Samosir di tengah Danau Toba. Sementara itu, menurut sebuah kitab tua yang bercorak “Malim” (agama Batak mula-mula) diceritakan bahwa leluhur bangsa Batak berasal dari “negeri terbitnya matahari” atau Timur Tengah, dan menyebrang lautan menuju “negeri terbenamnya matahari”. Adapun dari sisi arkeologis, dikatakan bahwa budaya Batak berasal dari corak budaya Dong Son yang dibawa dari Taiwan, melalui Filipina, Sulawesi, Kalimantan dan berakhir di Sumatera, yang diperkirakan dimulai dari abad ke-12. Artefak dari peradaban tertua di Pulau Sumatera berupa makam-makam syeikh dan pedagang asal Persia yang menyebarkan agama Islam pertama kali di Nusantara yang tercatat sejak abad ke-6 ditemukan di Barus, pelabuhan dagang termahsyur pada masanya. Kesemua cerita ini bisa saja valid, tergantung dari kacamata mana yang akan dipilih untuk melihat dan memercayainya. A tidak ambil pusing mengenai kebenaran dan kesahihan cerita-cerita itu.

Kesemua cerita itu tidaklah lengkap menceritakan sebuah sejarah bangsa Batak, banyak ruang untuk berdiskusi bahkan berkonspirasi. Walapun begitu, A menarik sebuah benang merah bahwa kesemuanya mengisahkan sebuah perantauan yang dilakukan untuk sebuah tujuan, bisa demi menyebarkan budaya, agama atau berdagang. Hijrah demi keadaan yang lebih baik.

Perantauan semacam ini juga dilakukan oleh kakek A pada tahun 1970 yang merantau membawa anak-anaknya, termasuk ayah A, dari Huta Pungkut ke Kecamatan Kotanopan untuk berdagang beras. Ayah A mengikuti jejak sang kakek. Pada tahun 1974, saat Ayah A berumur 19 tahun, ia merantau seorang diri untuk berkuliah di Yogjakarta. Setelah menyelesaikan kuliahnya dan bertemu ibu A, mereka mengadu nasib di ibukota pada tahun 1980. Perantauan semacam ini kemudian diteruskan kembali oleh A, yang merantau dari daerah asalnya, Bandung, menuju Singapura untuk bekerja dan menetap untuk sementara waktu. A mengafirmasi statusnya sebagai nomad.

A menyadari bahwa ‘merantau’ adalah salah tradisi yang dapat ia asosiasikan dengan daerah asalnya. Sesuatu yang diwariskan secara turun-temurun dari mulai nenek-moyangnya, kakek, ayahnya, hingga dirinya saat ini.

.

Untuk kampung-kampung sunyi di tanah Batak. (Foto: Nestor Rico Tambunan)

Untuk kampung-kampung sunyi di tanah Batak. (Foto: Nestor Rico Tambunan)

Onang-onang sendiri merupakan nyanyian tradisi Angkola-Mandailing yang hingga kini belum diketahui asal-usul di mana ia bermula dan kapan. Onang-onang tidak dapat diartikan secara harfiah, namun pendapat mengatakan bahwa onang-onang berasal dari kata ‘inang’ yang berarti ‘ibu’, dan dikisahkan bahwa onang-onang dinyanyikan sebagai ungkapan kerinduan seorang anak terhadap ibunya[6]. ‘Ibu’ disini dapat diartikan pula sebuah tanah kelahiran, bahkan tanah air juga sering disebut sebagai ‘Ibu Pertiwi’. Mungkin orang beranggapan bahwa tanah air adalah induk yang melahirkan dan membesarkan mereka. Dengan begitu, onang-onang dapat diartikan sebagai sebuah ungkapan kerinduan seseorang terhadap ‘ibu’, baik berarti orang maupun daerah asal yang melahirkannya dan membesarkan.

Seiring berjalannya waktu onang-onang tidak lagi menjadi luapan kerinduan seseorang saja, lagu tersebut sering digunakan dalam upacara adat, terutama dalam upacara adat seperti upacara pernikahan, kelahiran anak, atau memasuki rumah baru[7]. Dan untuk itu dibutuhkan seorang paronang-onang atau penyanyi onang-onang. Tugasnya adalah memediasi antara tuan rumah dengan tamu untuk mengungkapkan maksud dan tujuan penyelenggaraan upacara adat melalui syair. Umumnya struktur nyanyian onang-onang terdiri dari: (1) pembukaan, (2) penjelasan maksud, (3) cerita latar belakang, (4) pujian, (5) nasehat, dan (6) doa. Isi syairnya berubah-ubah disesuaikan dengan acara dan latar belakang pemilik acara. Setelah paronang-onang memperkenalkan dirinya dan maksud acara, ia akan berecerita mengenai asal-usul dan identitas pemilik acara maupun pengiring acara, daerah asalnya, marganya, kedudukannya di masyarakat, keberhasilan yang dicapai, dan hal-hal baik lainnya. Dengan begitu, ada sebuah afirmasi identitas terhadap masing-masing individu yang terkait.

Onang-onang adalah senandung yang sederhana, strukturnya ringkas dan maksudnya jelas, namun tidak ada pakem atau aturan yang membelenggu. Isinya yang fleksibel dan mampu disesuaikan dengan keadaan dan kondisi.

Walaupun onang-onang  yang dinyanyikan oleh ayah A telah dimodifikasi isi maupun strukturnya, namun memiliki makna dan tujuan yang sama. Diawali dengan sebuah larik ‘ile ile onang onang’ yang tidak memiliki arti harfiah namun mengekspresikan kerinduan terhadap kampung halaman. Sesuatu yang di rindu dalam potongan masa lalu. Kemudian diteruskan menyanyikan larik berikutnya yang berisi perkenalan terhadap nama sang cucu dalam bait “on ma si Nasution i” (inilah si marga Nasution). Tak jarang disisipkan pula pengukuhan asal-usul dalam bait berikutnya, misalnya “indu sian le kecamatan Kotanopan on” (yang datang dari kecamatan Kotanopan). Padahal, dalam hal ini, hanya ayah A yang berasal atau tinggal di Kotanopan, namun terdapat sebuah “harapan” terhadap sang cucu agar memiliki keterkaitan “semu” terhadap daerah asal ayah A. Larik “On ma si baik budi i“ (inilah dia [anak] yang baik budi ini), juga berisi pengharapan dan doa bagi masa depan sang cucu. Dan diakhiri dengan “ois nda taronang ale baya onang”, yang juga tidak memiliki arti harfiah, namun berfungsi sebagai penutup yang mengembalikan suasana “pengharapan” kembali menjadi “kerinduan”. Seolah-olah ada antisipasi ketidakpastian. Harapan tadi kembali menjadi sesuatu yang dirindu di masa depan.

Ada dua hal yang disadari A dalam makna dan cara menyanyikan onang-onang ini. Pertama, maknanya berevolusi sesuai dengan keadaan masyarakat yang menggunakannya. Dulu onang-onang adalah sebuah ekspresi “kerinduan” seseorang, perlahan menjadi sebuah ekspresi “kegembiraan” dalam upacara adat yang juga sarat dengan “nasihat” dan “doa”. Dan oleh ayah A, hal itu tidak hanya menjadi ekspresi “kerinduan” terhadap kampung halaman, “kegembiraan”-nya terhadap kehadiran seorang cucu, juga usaha untuk memperkenalkan “identitas”, serta “harapan” dan “doa” kepada sang cucu. Kedua, terkait dengan cara menyanyikannya, awalnya onang-onang dikenal sebagai ekspresi individual, kemudian dalam acara adat beralih fungsi menjadi sebuah komunikasi antara dua kelompok, tamu dan pemilik acara, yang dimediasi oleh paronang-onang. Namun, dalam onang-onang ayahnya, A melihat bahwa setidaknya ada tiga pihak yang terkait: sebuah komunikasi antar individu, paronang-onang dan taronang-onang, ayah A dan cucunya, juga kepada orang yang mendengarnya. Nyanyian itu berevolusi. Seolah-olah onang-onang terus menemukan tempat, cara, dan maknanya kembali dalam kehidupan yang terus berjalan.

.

A terdiam…

Walau perjalanan yang dilakukannya belum jauh, ia menyadari banyak hal. A telah merantau dengan pengharapan mendapatkan keadaan yang lebih baik, setidak-tidaknya belajar adalah usaha untuk menjadi lebih baik. Dalam perantauan, A membangun keterikatan dengan daerah asalnya. Ia mengenali arti sebuah “rumah”. A pergi agar mengetahui jalan pulang.

A membangun kerinduan, dengan apa yang disebut “rumah”; membangun kerinduan dengan onang-onang. Karena A percaya bahwa onang-onang mampu berevolusi dan menemukan maknanya kembali di setiap masa, bahkan akan terus dimaknai dari generasi ke generasi. Tidak lagi sebatas romantisme kerinduan akan identitas, berkembang menjadi ekspresi harapan dan usaha akan pencarian asal usul. Tidak lagi sebatas ekspresi emosional individu, melainkan sebuah dialog antarindividu dan individu dengan sekelilingnya. Bukan hanya selubung cantik atau rupawan, tapi dingin tak berjiwa. Bukan hanya cangkang yang megah, tapi mati karena tidak beradaptasi. Bukan wajah, melainkan hati. Preservasi adalah semangat yang diteruskan secara turun-temurun.

Jika kelak ia mati, maka relakanlah, tapi semangatnya tidak boleh ikut terkubur.

.

O, ale huta na di pat ni dolok

(O, kampung di kaki gunung)

Situriakmu homi marribu ari na marlojong…

(Kisahmu adalah misteri beribu hari yang berlari)

Marribu borhat naposo bulung

(Beribu anak pergi)

Marjalang di desa nualu

(Jadi pengembara di berbagai negeri)

Mangadangi luat naribur luat portibi

(Menjelajah kota-kota dan benua)

Adong nalaho jala dang giot mulak

(Ada yang pergi dan tak ingin pulang)

Ditamondinghon di luat nadao

(Terkubur di negeri jauh)

Jadi bangke na so margoar

(Jadi tubuh tak bernama)

So ada pamilangi, so ada marga…

(Tanpa sejarah, tanpa marga)

Manadinghon hulungunon na so marbogas

(meninggalkan sunyi tanpa jejak.)[8] 


[1] Lihat Josef Prijotomo, “kalau saya jawa, lalu buat apa, lalu bagaimana?”, dalam Undi Gunawan (Eds.), Rupture in Culture (Karawaci: UPH Press, 2007),  hlm. 43-53.

[2] Uli Kozok, Warisan Leluhur: Sastra Lama dan Aksara Batak (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 1999).

[3] Batara Sangti, Sejarah Batak (Balige: Karl Sianipar Company, 1977), hlm 26-28.

[4] Ibid, hlm 48.

[5] Batak: Perjalanan ke Tanah Leluhur adalah film dokumentasi dari perjalanan Tim Tanah Air yaitu Arizona Sudiro, Arnold Simanjuntak, Budi Chandra, Diana Putri Tarigan, Hasiholan Siahaan, Mahatma Putra, dan Sihol Sitanggang. Mereka melakukan pencarian asal usul “Batak” dengan melakukan perjalanan selama hampir setahun ke beberapa wilayah yang menyimpan jejak-jejak leluhur Batak, serta melakukan wawancara kepada ahli sejarah, pemimpin desa, pemuka adat lokal, dan  beberapa karakter menarik.

[6] Lihat Deliana Harahap, Gondang Angkola Sipirok Dalam Konteks Upacara Adat Perkawinan, 1987, Skripsi Sarjana USU, Fakultas Sastra Jurusan Etmonusikologi. Juga Fera Mariany Sitompul, Analisis Tekstual Onang-Onang Dalam Upacara Perkawinan Adat Nagodang Pada Masyarakat Angkola-Sipirok, Di Kelurahan Bunga Bondar Kecamatan Sipirok Sumatera Utara (http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/21323), Skripsi Sarjana USU, Fakultas Sastra Jurusan Etmonusikologi. Lihat juga Anni Krisna Siregar, Onang-onang dalam Upacara Adat Perkawinan Batak Angkola, 2002.

[7] Anni Krisna Siregar, Onang-onang dalam Upacara Adat Perkawinan Batak Angkola, 2002, hlm 6.

[8] Dikutip dari puisi Bonapasogit oleh Nestor Rico Tambunan yang diterjemahkan bebas oleh Monang Naipospos. Monang Naipospos dan kawan-kawan, Situriak Nauli: Antologi Puisi Dua Bahasa Batak-Indonesia (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2013), hlm. 204-207

Ivan Nasution
Ivan Nasution lulus dari Arsitektur ITB pada tahun 2006, lalu bekerja di Park+Associates Architect, Singapura. Di tahun 2011, ia menyelesaikan pendidikan penelitian pascasarjana di Berlage Institute Rotterdam. Saat ini menjadi peneliti di Centre for Sustainable Asian Cities, National University Singapore. Di sela waktu luangnya, ia aktif menjadi fasilitator bagi Participate in Design, sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang desain, perencanaan, dan pendidikan.