Dialog Dalam Pendidikan Arsitektur

3005 Views |  1

 

Tantangan kota dan zaman telah banyak berubah. Haruskah arsitek dididik dengan cara yang sama? ©Yusni Aziz

 

Setelah tiga tahun lebih mengajar, saya menemukan bahwa dialog adalah aksi fundamental dalam pendidikan arsitektur yang tak banyak dibicarakan. Ketika dosen mengevaluasi mata kuliah studio perancangan, topik pembahasan lebih berputar pada materi dan metoda penyampaiannya. Tidak salah, karena itu juga penting. Namun, bagaimana dosen berdiskusi dengan mahasiswa, atau memantik dialog antar anak didiknya seperti menjadi isu sensitif yang disimpan rapat di saku masing-masing dosen. Saya sendiri pun jarang mengangkat topik itu karena khawatir menyinggung, atau parahnya lagi, mungkin saya juga takut dikritik.

Padahal aksi ini tak bisa dilepaskan dari pendidikan arsitektur. Ia juga mempengaruhi proses bertukar ilmu, pengembangan pribadi dan gagasan, hingga membentuk relasi kuasa antara dosen dan mahasiswa. Cara berkomunikasi dosenlah yang akan menentukan apa mahasiswa menjadi obyek yang sedang dicetak, atau manusia merdeka yang sedang mengenyam pendidikan.

Ketertarikan saya pada isu ini didasari oleh sering absennya ruang dialog yang sehat pada pendidikan saya sedari kecil hingga sarjana. Baik dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun kampus. Pendidik, atau mereka yang lebih tua, seringkali merasa lebih tahu tentang dunia, lantas mencekoki saya akan ide dan cara berpikirnya. Lalu saya harus menuruti apa yang mereka katakan. Situasi yang Paulo Freire katakan dalam “Pedagogy of The Oppressed” sebagai “banking concept of education.”

Sistem ‘banking’ ini memposisikan pendidik sebagai narator, dan anak didik sebagai obyek yang hanya mendengarkan. Freire mengatakan pemimpin (dalam konteks perkuliahan adalah dosen) yang memaksakan kehendaknya tidak sedang mendidik, tapi memanipulasi. Mereka memaksakan perspektifnya pada mahasiswa, daripada mengajari mendefinisikannya sendiri. Sistem pendidikan seperti ini menolak dialog, menekan kreativitas dan mendomestikasi, meski tidak sepenuhnya menghancurkan independensi.

Melalui tulisan ini, saya ingin membuka pintu pembahasan tentang dialog. Hal yang lama didiamkan para dosen. Tulisan ini juga tidak berusaha menggeneralisir bahwa semua dosen di kampus tempat saya mengajar dan belajar adalah sekumpulan bankir pendidikan. Namun lebih pada ajakan berkaca pada cara berdialog masing-masing.

Dalam konteks pendidikan, dosen jelas memiliki pengalaman, dan pemahaman lebih luas, sehingga ia harus menjadi pemimpin atau fasilitator dalam menginisiasi dialog. Karena itu, pembahasan akan lebih ditujukan pada dosen daripada mahasiswa, dengan harapan dosen bisa secara perlahan mengenalkan mahasiswa pada seni berdialog. Studio perancangan menjadi fokus utama, karena intensnya aksi ini dalam sesi asistensi akan menjadi studi kasus. Namun, pemilihan mata kuliah ini hanyalah contoh, yang tentu refleksinya bisa merambah hingga mata kuliah lainnya.

 

Berkaca ke Masa Lalu

Josef Albers, seniman Amerika yang sempat mengajar di Bauhaus, berkata bahwa mendidik yang baik adalah memberi pertanyaan yang tepat daripada jawaban yang tepat. Tapi pendidikan yang saya alami dari kecil hingga SMA seperti menawarkan sebaliknya. Guru lebih sering memberi sederetan jawaban yang harus diketahui, dan buku-buku yang harus dihafal, ketimbang ajakan untuk mengurai dunia. Pemberian materi di kelas mayoritas dilakukan secara monolog, di mana semua murid harus mau mendengarkan. Murid yang jarang dikenalkan pada ruang mempertanyakan seperti saya lantas menjadi anak penurut, yang selalu mengikuti permainan yang ada. Semata-mata agar bisa lulus dengan nilai baik.

Menginjak kampus, budaya serupa masih terasa. Monolog masih sering dijumpai di banyak kelas. Disertai slide dan metoda penyampaian yang monoton. Pertanyaan-pertanyaan untuk memantik diskusi juga jarang terlontar, lebih disimpan di akhir presentasi yang sering disambut dengan hening. Jika ada mahasiswa yang perhatiannya teralih, dosen bersikap acuh, atau malah tersinggung. Semua harus memerhatikan, tak peduli sekering apapun penyampaiannya.

Positifnya, kampus mulai mengenalkan saya pada dialog dan usaha berpikir mandiri. Terutama dari asistensi studio perancangan. Meski saat berkaca ke belakang, masih ada yang terasa janggal. Selama asistensi dengan sebagian dosen pengampu, pembicaraan sering berjalan searah. Di awal sesi asistensi, memang saya diberi kesempatan menjelaskan konsep. Tapi selanjutnya, dosen yang selalu memberi masukan, dan saya diam mendengarkan. Saya hanya bertanya saat ada yang tak jelas, atau mengangguk tanda setuju. Mengutip Eko Wicaksono, kawan seangkatan saya, “diam yang bisa berarti saya tidak paham apa yang ia katakan, atau kurang berani mengungkapkan isi pikiran saya.”

Untuk mendapat nilai baik, saya juga harus tahu selera dosen tersebut. Jika mungkin bukan itu yang mereka maksud, tapi itulah yang saya tangkap. Mungkin tidak ada masalah jika dosen bisa menjelaskan alasan selera mereka, tapi yang sering saya terima adalah keputusan subyektif “suka tidak suka,” atau “bagus tidak bagus.” Tanpa penjelasan lebih lanjut dasar keputusan tersebut.

Tentu tidak semua mahasiswa menurut seperti saya, tapi yang bersikap serupa juga tidak sedikit. Dalam kondisi itu, saya sedang menjadi kontainer dan dosen menjadi depositor ilmu.

Pendidikan seperti ini cenderung menindas kepribadian, sikap kritis, kemandirian dan bakat anak didiknya. Potensi dan cara pandang unik mereka kurang diapresiasi dan dimanfaatkan. Sebaliknya, dosen juga mengunci perkembangannya sendiri. Tanpa disadari, mereka sedang menyetop lahirnya pemahaman baru yang bisa muncul dari temuan unik mahasiswa.

Padahal, pendidikan arsitektur dengan budaya dialognya yang intens dan keputusan desain yang subyektif berpotensi besar membebaskan mahasiswa dari cengkraman budaya “yes man,” atau selalu menuruti mereka yang posisinya lebih unggul. Asal dilakukan dengan terbuka, kritis dan konstruktif. Lantas apa yang dapat diperbaiki?

DSCF5861

Berdialog adalah aksi fundamental dalam pendidikan arsitektur ©Yusni Aziz

 

Dialog dan Memori

“Tell me, I forget. Show me, I remember. Involve me, I’ll understand” ­­– Xun Kuang

Sejak abad ke 3 Sebelum Masehi, Xun Kuang, seorang filsuf Konfusian, telah menemukan bahwa proses transfer ilmu yang inklusif memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi, daripada cara monolog. Satu abad sebelumnya, Socrates juga memakai dialog secara intens, seringkali secara dialektik, dalam sekolahnya. Ia lebih banyak mengutarakan pertanyaan kritis untuk mengajak muridnya berpikir dan berargumentasi dalam iklim pengetahuan terbuka, ketimbang melempar jawaban-jawaban pasti.

Kesimpulan ini sejalan dengan temuan Daniel T. Willingham, profesor psikologi kognitif dari Universitas Virginia, di dalam “Why Don’t Students Like School?” Melalui buku itu, ia membeberkan proses kerja memori, dan menjelaskan kenapa murid cenderung lupa banyak informasi yang disampaikan.

Sebagai awalan, ia membagi proses kerja memori menjadi dua: working memory dan long-term memory. Working memory beroperasi saat kita mengolah apa yang sedang kita pikirkan dan membuat kita sadar akan hal-hal di sekitar. Sedangkan long-term memory seperti gudang data yang menyimpan fakta-fakta yang diketahui, seperti warna bunga sepatu, lagu favorit, hingga kejadian menyenangkan yang terjadi tiga hari lalu. Memori yang tersimpan di sini cenderung diam, dan hanya aktif saat working memory membutuhkan, lalu akhirnya menjadi kesadaran.

Menurut Daniel, kapasitas memori manusia memang terbatas. Oleh karena itu ia cenderung menyimpan informasi yang dirasa berkesan dan bermakna. Dua hal itu menjadi kunci penting dalam pembelajaran. Kesan bisa diperoleh dari kualitas interaksi sosial, dan cara penyampaian dosen ke mahasiswa. Sensasi emosional saat mahasiswa menerima informasi menjadi krusial. Tetapi makna harus digali dari refleksi mahasiswa sendiri.

Untuk mengajak mahasiswa berpikir, dosen harus membuat mereka penasaran. Tapi Daniel berujar bahwa rasa penasaran manusia sangatlah rapuh. Ia hanya fokus pada konten yang menarik atau relevan dengan mereka. Sehingga strategi lain yang biasa dilakukan adalah memberi tantangan untuk dipecahkan. Namun untuk membuat problematika dan materi itu relevan dengan mahasiswa, dialog masih harus menjadi jembatan.

Memang, repetisi juga bisa menanamkan informasi pada long-term memory, terutama untuk mengajarkan keterampilan tertentu. Sebagai contoh, di semester awal mahasiswa arsitektur dilatih membuat garis lurus secara berulang-ulang hingga terbiasa; atau mereka secara intens menggunakan software gambar tertentu sampai fasih. Namun repetisi jelas tak dapat diaplikasikan ke semua bentuk pengetahuan. Apa mahasiswa harus terus membaca teori arsitektur modern sampai hafal di luar kepala? Tentu itu bukan keputusan yang bijak. Tapi jika mahasiswa bisa digiring untuk paham pentingnya mempelajari teori, dan apa manfaatnya bagi mereka dalam bahasa yang mereka pahami, niscaya materi akan lebih melekat di dalam memori.

Hal ini menjelaskan kenapa pendekatan monolog yang minim diskusi lebih rentan membuat mereka lupa materi. Mereka tak tahu pentingnya materi tersebut, sehingga kurang bisa memaknai dan menjalin ikatan dengan informasi. Meski dosen rasa materi itu sangatlah penting.

Daniel menjelaskan teknik presentasi dengan pendekatan storytelling bisa membantu menyampaikan problem dan makna sekaligus. Namun, saya tak akan jabarkan lebih lanjut di sini. Yang ingin saya ulik adalah bagaimana dialog bisa membantu mahasiswa belajar, sekaligus melatih sikap kritis dan mandiri. Dalam konteks pendidikan arsitektur, proses asistensi studio perancangan bisa menjadi pintu masuknya.

DSCF6395

Mensketsa di lapangan adalah salah satu keterampilan yang bisa diasah lewat repetisi. ©Yusni Aziz

 

Seni Berdialog

Proses asistensi yang sering terjadi satu lawan satu antara dosen dan mahasiswa, bisa membantu dosen mengenal karakter, kebutuhan dan kapasitas masing-masing anak didiknya. Tak ada mahasiswa yang berangkat dari titik yang sama, atau punya kapasitas dan potensi serupa. Oleh karena itu dosen perlu memahami, tidak malah menyamaratakan. Semua telah menenteng bagasi pengetahuan dan budaya dari luar kampus, sesederhana kepekaan visual dan ruang yang di dapat dari aktivitas sehari-hari. Tantangan pendidikan lantas mengawinkan pengetahuan lama mereka dengan pengetahuan baru, bukan seperti mengisi gelas kosong.

Saat berdialog, dosen juga mampu melakukan scaffolding. Istilah ini ditelurkan oleh Jerome Bruner, psikolog Amerika, untuk menekankan proses pengajar dalam memberi dukungan bertahap pada anak didiknya untuk menjadi mandiri, terutama saat mempelajari material-material baru. Sebagaimana perancah bangunan yang terus menopang konstruksi sebelum bangunan itu dapat berdiri sendiri. Salah satu strategi yang sering digunakan dalam scaffolding adalah dialog.

Sebuah artikel berjudul “Dialogic Scaffolding: Enhancing Learning and Understanding in Collaborative Contexts” yang ditulis oleh Sylvia Rojas-Drummond bersama rekan, lalu berusaha mengawinkan scaffolding dengan prinsip dialogic teaching[1] dari Robin Alexander, edukator Inggris. Sebagian contoh yang anda baca di bawah ini adalah usaha saya menerjemahkan poin-poin di dalamnya ke konteks studio perancangan:

  1. Kolektif

Kedua pihak membahas tugas dan menyelesaikan permasalahan bersama, dalam skala grup atau kelas.

Contoh: dosen memberi kesempatan pada seluruh mahasiswa berpendapat dalam grup diskusi; dosen memberi waktu mahasiswa berpikir dan menjawab (daripada mengharap jawaban instan); dosen dan mahasiswa membuat rencana kerja bersama, dll.

  1. Timbal-balik

Kedua pihak mendengarkan satu sama lain, bertukar ide, menghargai dan mempertimbangkan pandangan lawan bicara. Dosen mendukung partisipasi aktif mahasiswa, dan juga diskusi antar mahasiswa.

Contoh: dosen mengajukan pertanyaan yang mengasah proses berpikir kritis mahasiswa atas keputusan desainnya (mengapa, bagaimana, kenapa, dll); dosen memberi argumen tanpa memaksa, di sisi lain ia juga mendukung mahasiswa mencari justifikasi opininya; saat memberi alternatif desain, dosen menggunakan kata-kata memperhalus seperti “mungkin saja” atau “bagaimana jika” ketimbang memaksakan; dll.

  1. Suportif

Dosen dan mahasiswa membangun suasana di mana semua orang bebas berpendapat, dan dosen membantu mahasiswa mempelajari seni berdialog dengan memberi contoh atau aturan.

Contoh: dosen tidak menghukum mahasiswa dengan sindiran, hujatan atau membandingkan dengan mahasiswa lain jika ia berbuat kesalahan atau prosesnya kurang memuaskan; dosen menanyakan pada mahasiswa intensinya akan proyek desainnya sendiri, berusaha memahami dan mendukung jika baik; dosen mencontohkan cara berdiskusi dan berdebat yang sehat, dll.

  1. Kumulatif

Kedua pihak saling memberi masukan dari ide masing-masing, dan berusaha merangkainya menjadi pemahaman yang koheren.

Contoh: Dosen menantang asumsi dan keputusan desain mahasiswa secara konstruktif; dosen memberi masukan dan menjelaskan apa yang baik dan tidak baik; dosen membantu mengaitkan pengalaman dari luar kelas, atau ilmu dari mata kuliah lain untuk diterapkan dalam keputusan desain, dll.

  1. Penuh tujuan

Dosen merencanakan proses dialog dengan tujuan spesifik di dalam kelas, atau proses asistensi. Intensi dan gol diutarakan dengan terbuka.

Contoh: Dosen mengajak mahasiswa merefleksikan apa yang telah dipelajari dari studio perancangan; dosen dan mahasiswa saling membuka diri untuk mengetahui ekspektasi yang diharapkan dari kelas studio; dosen membantu mahasiswa mencari makna akan ilmu yang ia pelajari, untuk ke depan dan aplikasinya dalam konteks lain, dll.

Dari penjabaran di atas, jelas jika dosen ingin mengamalkan dialogic scaffolding maka ia harus memiliki kesadaran politik yang berbeda. Ia harus berusaha menjadi sosok yang demokratis, ketimbang pemimpin otoriter. Dosen harus bersedia menempatkan diri dalam posisi setara dengan mahasiswa saat berdialog. Dosen juga harus percaya bahwa pendidikan sejatinya adalah sarana memerdekakan, bukan mengekang atau mencetak mahasiswa.

Selain mempraktikkan seni berdialog, Paulo Freire juga menekankan kualitas moral seperti “cinta”, “harapan”, “kerendahan hati” dan “berpikir kritis” untuk hadir. Terdengar romantis, tetapi saya menyertakannya karena saya yakin mengajar bukan semata-mata urusan tangan dan pikiran. Tapi juga urusan hati.

Cinta adalah awal kepedulian dan empati. Dialog yang sehat tidak akan terwujud dalam absennya perhatian pada lawan bicara. Jika dosen tidak peduli, maka pemikiran mahasiswa akan terpental sebaik apapun. Sebaliknya, jika dosen peduli, pemikiran senaif apapun akan dihargai, membuat mahasiswa lebih bersemangat belajar.

Dosen juga harus punya harapan pada anak didiknya. Sesederhana agar mereka bisa lebih baik dari kemarin, dalam kapasitas mereka sendiri. Harapan seringkali padam saat dosen membandingkan satu mahasiswa dengan yang lain, atau memiliki cetakan akan citra mahasiswa ideal dalam pikiran mereka. Padahal setiap mahasiswa punya limitasi, minat dan potensi masing-masing. Seringkali, tujuan besar mereka juga berbeda dengan keinginan dosen. Di sinilah dosen harus rela melepas ambisinya, dan menyaksikan mahasiswa tumbuh dalam jalur yang mereka buka sendiri.

Setelah itu, usaha berpikir kritis. Jika usaha ini absen dari dialog, maka kedua belah pihak tak bisa mendapat pencerahan maksimal dari informasi yang mereka olah. Untuk proses ini, dosen dan mahasiswa juga perlu memahami banyak fakta dan cara pandang. Oleh karena itu, membaca dan riset menjadi penting. Dalam dialog, dosen juga sebaiknya tak mengambilkan keputusan untuk mahasiswa. Namun lebih mengenalkan konsekuensi dari keputusan yang akan mereka ambil. Sehingga mahasiswa dapat berkaca, belajar menghadapi risiko, dan mempercayai diri sendiri seutuhnya.

Terakhir, dialog harus diiringi kerendahan hati. Jika dosen merasa jadi sosok yang paling mengerti semua, maka pemikirannya akan tertutup dari ide-ide segar mahasiswa. Seringkali, mengajar juga menantang dosen bersikap bak amatir yang selalu haus untuk belajar hal-hal baru. Keangkuhan dan cara berpikir sempit hanya akan menjadikannya fanatik pada keyakinannya sendiri.

Untitled-1

Mendengarkan dengan penuh seksama, dan empati untuk bisa menempatkan diri di posisi orang lain, adalah sebagian kualitas penting yang harus hadir di setiap dialog. ©Yusni Aziz


Pendidikan Arsitektur dan Tantangan Zaman

Yang saya jabarkan di atas hanyalah sekelumit dari lika-liku pengajaran berbasis dialog. Segunung strategi dan cara pandang masih menunggu di luar sana untuk digali dosen, jika membutuhkan. Namun, apapun yang dosen coba terapkan, dialog dua arah tidak akan terjadi jika tidak disambut positif mahasiswa. Untuk itu, proses scaffolding agar mahasiswa dapat melepaskan diri dari sikap pasif yang ia bawa dari pendidikan sebelumnya harus terus dilakukan. Proses ini mungkin tidak membuahkan mahasiswa yang mendadak sangat aktif di proses diskusi dalam kelas. Tapi jika saat asistensi, dosen merasa mahasiswa mulai bisa mengambil posisi, mengelaborasikan idenya, tidak takut berpendapat, berpikir kritis dan proaktif; maka itu bisa menjadi tolok ukur yang positif.

Proses ini mungkin juga tak berhasil jika dilakukan dalam satu dua semester saja. Oleh karena itu, iklim berdialog sehat harus menjadi budaya baru di lingkungan kampus. Baik antara dosen dan mahasiswa, mahasiswa dan mahasiswa, dan antara sesama dosen. Perlahan, kultur ini harus mencabut akar-akar pendidikan gaya bank, yang semakin dipertanyakan relevansinya dalam menjawab tantangan zaman.

Di era informasi seperti sekarang, akses tak terbatas akan referensi, pilihan profesi hingga jenjang pendidikan lanjut harus disikapi dengan bijak oleh tiap individu. Sosok merdeka yang dilatih berpikir kritis akan lebih mampu menyortir dan mengolah informasi tersebut untuk kebaikan diri dan sekitarnya. Hal itu juga menjadi tameng agar tidak mudah terjerumus pada tren, hoaks atau berbagai opini publik yang superfisial.

Pada akhirnya juga, setelah lulus dari kampus, sebagian ilmu mungkin akan terlupa, tapi budaya dialog dan sikap kritis nan mandiri akan menjadi sangu berharga. Dosen tidak hanya membagikan ilmu, tapi juga cara menggalinya untuk jangka yang lebih panjang. Iklim dialog sehat jelas menjadi bekal ideal pembelajar arsitektur di era informasi. Namun, maukah kita membuka jalan untuknya?

DSCF6710

Setiap manusia punya mimpinya sendiri, dan tugas pendidikan adalah membekali mereka untuk mencapainya ©Yusni Aziz

Catatan kaki:

[1] Robin Alexander mulai mempopulerkan dialogic teaching sejak awal 2000-an. Pendekatan ini menggunakan potensi komunikasi untuk menstimulasi, dan mendorong cara berpikir murid agar dapat meningkatkan pemahaman dan proses belajar mereka.

Yusni Aziz
Alumnus dari double-degree bachelor program kerjasama antara ITS dan Saxion Hogeschool of Applied Sciences. Kemudian menyelesaikan riset di Berlage Institute pada tahun 2013, dan sempat mengajar di Arsitektur UPH. Saat ini sibuk sebagai penulis, dan fotografer lepas.