Critical Context 2017

Studio Units Logo

Keberagaman bisa dibilang adalah salah satu aspek terkuat yang dipunyai oleh Indonesia. Keberadaan 1.340 suku bangsa (menurut survei BPS tahun 2010) adalah sebuah kondisi istimewa yang tidak dipunyai oleh negara manapun di bumi ini. Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih kurang 18.306 pulau (menurut data citra satelit dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) dan hampir dari 70% luasannya adalah lautan mendukung suburnya tradisi dan kebudayaan maritim sekaligus agraris. Kondisi ini adalah modal yang seharusnya terus digali dan diselami sebagai titik tolak berinovasi dan berkreasi.

Dalam konteks perancangan arsitektur, perspektif ini juga seharusnya ditanamkan. Arsitektur sebagai sebuah seni olah ruang seharusnya mampu mencerminkan keragaman tersebut. Pencerminan ini dapat dibangun lewat agenda-agenda dari tiap perancangan arsitektur yang berangkat dari situasi dan kondisi tempat arsitektur tersebut [akan] berada.

Lokakarya Critical Context 2017 bertujuan untuk menjadi laboratorium metode pembelajaran di studio perancangan arsitektur (pedagogi) yang dapat diterapkan pada situasi–kondisi yang beragam. Kami berpendapat bahwa agenda dari perancangan arsitektur seharusnya erat dengan isu-isu lokal, didekati dengan pemikiran-pemikiran lokal, dan menghasilkan solusi-solusi unik dan spesifik terhadapnya. Namun pedagogi dari tiap studio seharusnya mempunyai kualitas yang sama.

Tiap Unit akan mempunyai dua perwakilan (kelompok). Kelompok pertama adalah kelompok pengajar (Unit Master). Kelompok kedua adalah kelompok mahasiswa. Pengajar dari kegiatan ini tidak harus berkarir sebagai dosen, tetapi siapapun yang mempunyai minat akan pengajaran dan riset arsitektural. Peserta dalam kegiatan ini adalah mahasiswa aktif dan tidak terbatas pada angkatan.

Lokakarya ini terdiri dari tiga tahapan. Tahap Pertama (14-15 Juli 2017) adalah lokakarya bagi para Unit Master dengan materi tentang penyusunan agenda studio, penyelenggaraan studio, dan standar produk studio perancangan. Lokakarya ini diselenggarakan di The Enterprise, kantor Han Awal & Partners, Bintaro, Tangerang Selatan.

Tahap Kedua (1-15 Agustus 2017) adalah penyelenggaraan studio unit di kota masing-masing berdasarkan agenda tiap unit yang telah dirumuskan pada Tahap Pertama. Lokakarya Critical Context 2017 ini diikuti oleh 4 kota dan 5 unit yaitu Padang (1 unit), Surabaya (2 unit), Semarang (1 unit), dan Denpasar (1 unit).

Tahap Ketiga (18-19 Agustus 2017) adalah Tahap Presentasi tiap Unit dan Evaluasi dari penyelenggaraan studio. Sesi ini akan kembali diadakan di kantor Han Awal & Partners, serta akan dihadiri oleh para juri yang akan mereview hasil lokakarya tiap-tiap kelompok Studio Unit.

Sebagai sasaran yang lebih luas, kegiatan ini diharapkan dapat menginisasi sebuah jaringan diskusi tentang pedagogi (metode pembelajaran) Studio Perancangan Arsitektur yang dilakukan secara berkala (tahunan) serta membuka peluang bagi kota-kota lain untuk bergabung.

Unit Master:

Unit Padang: Finding the Lost Economic Place

Ariyati

Al Busyra Fuadi

Unit Semarang: Filosofi ‘Loci’: Memayungi Ruang Rakyat

Resza Riskiyanto

Gustav Anindhita

Unit 01 Surabaya: Dots X Lines

Defry Agatha Ardianta

Endy Yudho Prasetyo

Unit 02 Surabaya: ‘Sumuk’ : Refleksi Subyektif

Hermawan Dasmanto

Goya Tamara Kolondam

Erel Hadimuljono

Unit Denpasar: Balinese Architecture Tomorrow

Dirgantara I. Ketut

Penanggap: Adi Purnomo, Andra Matin, Ary Indra, Avianti Armand, Budi Pradono, Robin Hartanto, Diana Ang, Jacob Gatot S. Kamil Muhammad, Setiadi Sopandi, Stanley Wangsadihardja

Media Partner: RUANG E-magazine – M. Yusni Aziz, Rofianisa Nurdin

Inisiator: Avianti Armand, Ariyati, Al Busyra Fuadi, Resza Riskiyanto, Gustav Anindhita, Defry Agatha Ardianta, Endy Yudho Prasetyo, Hermawan Dasmanto, Goya Tamara Kolondam, Dirgantara I. Ketut, David Hutama, Eko Alvarez, Jacob Gatot S.

Unduh Press Release