Bincang Siang Bersama Marco Kusumawijaya: Komunitas sebagai Alternatif Masa Depan

3337 Views |  1

 

Kami bertemu Marco Kusumawijaya di kampus ITB, Bandung, dalam sebuah bagian rangkaian acara konferensi di mana sebagian besar orang yang hadir punya keterkaitan dengan sebuah istilah yang belakangan tak asing: “komunitas.” Ia menjadi salah satu panelis di sana. Setelah acara selesai dan kerumunan orang-orang yang ingin bersosialisasi berhasil dilalui, kami mencegat taksi dan bertolak ke utara, menuju daerah Ciumbuleuit. Perbincangan mengalir sepanjang perjalanan di taksi dan di kantin belakang kampus Unpar, dengan pemandangan rumah-rumah di lembah dan udara khas Bandung yang sejuk.

© Majalah Ruang 2014

© Majalah Ruang 2014

Kami beruntung gayung bersambut ketika mengutarakan keinginan untuk berbincang dengannya untuk edisi Komunitas. Marco adalah arsitek dan perencana kota lulusan Universitas Katolik Parahyangan dan Post Graduate Center Human Settlement, K.U. Leuven, Belgia, yang lebih banyak berkecimpung dalam isu perkotaan dalam praktiknya. Ia mendirikan Rujak Center for Urban Studies di tahun 2010 bersama sekitar 10-11 orang dari berbagai disiplin ilmu dan profesi: akademisi, arsitek, sosiolog, perencana kota, budayawan, juga ahli lingkungan. Mereka membangun Rujak sebagai lembaga non-profit yang menjadi wadah untuk berbagi gagasan, tindakan, pertanyaan, tantangan, dan solusi; demi membuat Jakarta menjadi metropolis yang lebih baik dan berkelanjutan.

Tahun 2012, Rujak bersama dengan Arkom Yogya dan Kunci Cultural Studies Center memprakarsai sebuah pusat pembelajaran kelestarian bernama Bumi Pemuda Rahayu di Dlingo, Bantul, Yogyakarta.

Rofianisa (R): Sebenarnya, apa itu Bumi Pemuda Rahayu (BPR), Pak? Apa posisinya di Rujak?
Marco (M): BPR adalah salah satu fasilitas untuk menjalankan misi kita membantu kota dan wilayah untuk memasuki abad ekologi di mana orang bisa bertukar pikiran, menggali kembali kearifan lokal, mengembangkan praktek-praktek atau pemikiran baru berdasarkan apa yang ada dan apa saja yang sedang berkembang. Pada saat yang sama, kita melakukan (misi ini) juga melalui kesenian, jadi BPR merupakan satu fasilitas untuk Rujak bekerja sama dengan kesenian untuk menjalankan misi tersebut.

R: Lalu, mengapa memilih lokasi di Bantul?
M: Sebenernya banyak alternatif lain, hanya saja di Bantul kita menemukan tempat yang memenuhi syarat, dan kebetulan ada hubungan dengan teman-teman Arsitek Komunitas Yogyakarta (Arkom Yogya).

Jadi dulu mereka (desa Bantul) adalah korban gempa, lalu dibantu oleh teman-teman Arkom Yogya. Kemudian ketika gunung Merapi meletus, gantian mereka yang membantu. Ada hubungan yang panjang (antara keduanya). Jadi ketika kita mencari tanah, mereka (Arkom Yogya) membantu kita untuk mendapatkannya. Tentu membeli, tapi soal tanah kalau orang beli tapi gak mau ngasih, kan ya gak bisa.

Lokasinya memenuhi syarat. Terletak di desa, tapi tidak jauh dari kota. Jadi di situ ada isu yang sangat penting dalam perubahan menuju abad ekologi, yaitu hubungan kota-desa yang harus direkonstruksi. Misalnya hubungan (pasokan) makanan, juga transportasi. Di sana setelah gempa, semua orang naik motor, angkot collapsed. Mengerikan, gak?

Nah jadi ada masalah di sana, (tapi juga) ada potensi.

Potensi soal pertanian mereka punya produk unggulan, yaitu ubi kayu (singkong) dan kacang tanah. Lalu mereka (warga desa Bantul) punya kemampuan pertukangan kayu, yang kita ingin (lakukan) kerjasama supaya menghasilkan inovasi, plus pelatihan ekologis. Kita sudah coba punya furnitur sendiri dari kayu bekas, kombinasi dengan bambu. Bengkel dan alat-alat bengkel kayu sudah ada.

 

Yusni (Y): Jadi harapannya BPR itu ingin memberikan kontribusi kepada masyarakat?
M: Dengan sendirinya. Kita harus belajar dari mereka. Karena perubahan baru nyata jika ada orang dan tempat yang nyata. Suatu laboratorium. Meski istilah laboratorium sebenarnya agak mengerikan, ya.

Y: BPR ini kan tidak hanya eksklusif untuk arsitek, tapi ia menggabungkan beberapa profesi, itu tujuannya apa? Apa yang ingin dicapai dari sana? Mengapa harus multi-disiplin?
M: Kami (BPR) tidak berpikir dengan kerangka arsitektur (saja). Dengan sendirinya, hidup itu musti multi-disiplin, tidak bisa dipisah-pisah.
Kita mencari kombinasi. Pada residensi terakhir komposisinya adalah arsitek, musisi (pembuat alat musik), penulis fiksi, videografer, dan grup Papermoon Puppet Theatre. (Latar belakang mereka) beda-beda, supaya mereka berinteraksi.

Y: Apa harapan untuk para residen ketika mengikuti program BPR dan setelah kembali ke komunitas masing-masing?
M: Bagi mereka sendiri, (kami berharap mereka) belajar sesuatu dalam hal kelestarian. Kita melihat kelestarian itu bukan hanya sesuatu yang murni (ideal), selalu banyak masalah (yang muncul dari sana). Seperti nampak di tempat kami (BPR), kontradiksi ada di mana-mana. Misalnya tentang penggunaan plastik; penduduk sekitar di pos jaga tiap malam ngumpul, banyak sampah plastik segala macam. Idealnya, sampah yang kita bawa dari kota (Yogyakarta), harus dibawa lagi ke kota. Tapi kita pelan-pelan belajar. Maksudnya (menghadapi kontradiksi itu) bukan untuk putus asa, melainkan untuk mencari solusi.

Yang kedua untuk masyarakat agar belajar sesuatu. mereka mulai tahu bahwa vetsin itu buruk. Karena ada program videografer yang memfasilitasi ibu-ibu yang saling mendokumentasikan masakannya. Kita sendiri hampir tidak menggunakan minyak goreng, makanannya kukusan.

Belajar itu dua arah. Baik residen maupun masyarakat lokal, saling melengkapi satu sama lain.

Tujuan jangka panjang, kita menghasilkan sesuatu untuk siapa saja; entah inovasi pemikiran, praktek, atau produk. Tapi itu proses, kita tidak punya target yang rigid. Tapi kita berusaha dalam setiap apa yang kita buat kita pikirkan. Ada yang berhasil 10 persen, 20 persen, ada juga yang gagal total.

 

Y: Adakah perbedaan tentang pembangunan partisipatif dengan pengorganisasian masyarakat? Lalu dalam BPR pendekatannya lebih seperti apa?
M: Pengorganisasian itu artinya menyiapkan masyarakat untuk terbiasa pada cara-cara pengambilan keputusan bersama secara demokratis. Ada dua hal yang terkait. Satu tentang kebiasaan, mental. Kedua tentang struktur; harus ada yang memimpin rapat, pandangan harus dianalisis, ada organisasi, ada fungsi. Menyiapkan itu berbeda dengan langsung proses partisipasi. Jika orangnya belum punya struktur, agak berantakan jadinya.

Banyak (masyarakat) yang belum terbiasa dengan berdebat, berdiskusi; tetapi ada juga yang sudah terbiasa. Masyarakat Wakatobi itu sebenarnya sudah terbiasa (dengan proses partisipasi), karena sekian tahun bupatinya menerapkan demikian terhadap program-program yang diterapkan disana.

Arsitek sering salah ketika melakukan perencanaan partisipatif ketika masyarakatnya belum terbiasa. Harus disadari (oleh arsitek ketika memutuskan untuk melakukan metode partisipasi). Tapi arsitek bisa melakukan keduanya (partisipasi maupun pengorganisasian masyarakat). Tapi kita harus sadar sebagai arsitek kita sebenarnya tidak terlatih untuk itu. Jadi kalau kita mau melakukan itu ya mbok belajar dulu, atau magang, atau minta orang lain, hahaha.

Waktu di Aceh (program rekonstruksi pasca bencana tsunami), asumsinya kami tidak tahu apapun tentang pengorganisasian, jadi tim sosial yang melakukannya, meskipun karena keterbatasan jumlah orang akhirnya ikut jadi fasilitator, menginap di rumah penduduk, bergaul.

Intinya, jadi perlu membedakan, tapi tidak berarti orang harus bisa atau tidak bisa. Hanya harus dipahami.

Y: Tentang partisipasi masyarakat melalui sistem digital, seperti misalnya Solo Kota Kita, bagaimana pendapat Pak Marco?
M: Sistem tersebut perlu disikapi dengan kritis. Karena pelajaran dalam hidup saya segala hal ada baik dan buruknya. Kita harus mencegah buruknya, perbaiki positifnya. Yang punya hp kan tidak semua orang, gimana yang ga punya. Kalau kita mau melibatkan orang tua atau anak-anak kan susah. Tidak semua hal bisa lewat hp. Kadang tatap muka menjadi penting.

Politisi tertentu saya pilih karena saya kenal, pernah tatap muka. Kalo gak mungkin saya tidak pilih. Jadi ada hal yang tidak bisa digantikan. Tapi itu tidak berarti alat (komunikasi digital) tidak dipakai, harus bijak menyikapinya. Harus dipakai dengan tepat. Pisau saja ada bermacam-macam; ada yang berfungsi untuk memotong, menyayat, mengoles roti.

Kami terus menerus mencoba berbagai alat; membuat website, aplikasi Lapor! (www.lapor.ukp.go.id), klikJkt (www.klikjkt.or.id). Tapi ternyata ada perbedaan membuat dengan mempopulerkannya. Aplikasi tersebut sudah dibuat, tapi belum populer. Perlu ada dana khusus untuk mempublikasikan aplikasi tersebut untuk dipakai masyarakat.

Y: Posisi ideal arsitek terhadap komunitas itu seperti apa? Apa harus bergerak sendiri atau justru harus memperhatikan komunitas setempat?
M: Ada beberapa cara melihat. Pertama, komunitas sebagai klien arsitek. Bedanya hanya di struktur pendanaan. Komunitas tidak mampu membayar sendiri-sendiri. Jika misalnya kita membangun fasilitas bersama, tentu dibayarnya bukan oleh 1-2 orang. Tapi intinya ada di struktur pendanaan, bagaimana arsitek harus bisa bekerja di situasi yang struktur pendanaannya tidak biasa. Bukan taunya dibayar saja, 10% saja. Ini berbeda.

Lalu cara pandang kedua adalah melihat komunitas sebagai suatu masa depan. Arsitek harus meningkatkan perannya tanpa harus merasa ini kue yang kita harus dapat. (Kita sebaiknya) membantu komunitas karena idealisme bahwa komunitas adalah alternatif masa depan. Saya bilang alternatif karena mungkin tidak semua orang setuju. Barangkali semua orang inginnya seperti Singapura, tidak ada komunitas, semua diambil alih oleh negara.

Komunitas yang saya maksud adalah komunitas yang bekerja secara mandiri. Yang sebanyak mungkin memenuhi kebutuhannya dengan kemampuannya sendiri tanpa harus tergantung kepada negara. Makin dia mandiri, kuat terhadap intervensi. Saya merasa komunitas adalah bentuk alternatif dari kehidupan bersama, tanpa harus bergantung kepada negara/pemerintah.

© Bumi Pemuda Rahayu 2014

© Bumi Pemuda Rahayu 2014

*

Untuk informasi lebih lanjut tentang Rujak dan BPR dapat mengakses ke:
www,rujak.org
www.bumipemudarahayu.org
www.facebook.com/bumipemudarahayu

Rofianisa Nurdin
Menjadi sarjana Arsitektur ITB pada tahun 2012. Ketertarikannya kepada kota, manusia, dan budaya membawanya ke dalam ranah industri kreatif dengan semangat kolaborasi melalui Vidour yang digagas pada tahun 2011 dan CreativeMornings Jakarta yang digagas pada tahun 2014. Memori kolektifnya tersebar di kota-kota Asia Tenggara: Bandung, Ubud, Jakarta, George Town (Penang), dan Singapura. Saat ini menjadi Jakarta Chapter Ambassador di CreativeMornings, Community Manager di lingkaran.co, dan Program Manager di rabu(n) senja bersama tim a publication andramatin.
Yusni Aziz
Alumnus dari double-degree bachelor program kerjasama antara ITS dan Saxion Hogeschool of Applied Sciences. Kemudian menyelesaikan riset di Berlage Institute pada tahun 2013. Saat ini sedang sibuk dengan riset independen dan mengasuh blog pribadi di www.yusniaziz.com