Arsitektur & Rumah di Indonesia

3143 Views |  Like

Rumah adalah tempat terbentuknya dasar pemikiran, kreativitas, sikap dan sifat-sifat lain yang diturunkan langsung oleh orang tua dan anggota keluarga lainnya. Rumah juga menjadi lingkungan pertama seorang individu sebelum diterjunkan ke publik.

Bermula dari pertemuan dengan pak Tan Tjiang Ay di kantor sekaligus huniannya di jalan Gempol, Bandung, tahun 2004. Berlanjut kepada niat untuk mengundang beliau ke Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Bandung untuk berbicara mengenai desain dan perencanaan arsitektur rumah di Indonesia, menggali proses yang membentuk karakter beliau menjadi sangat kuat, baik secara personal maupun dalam perancangan arsitektur rumah, dan juga mencari tahu proses yang beliau lalui sampai ada di posisi sekarang.

Ketidaksengajaan yang tidak disangka akan menjadi ajang review studio perancangan arsitektur 4 di UNPAR, Bandung.

Tan Tjiang Ay (TTA), Asa Darmatriaji (AD), Adhi Wibowo (AW)

TTA: Mana coba lihat apa yang kamu belajar di kampus kamu?

AD & AW: Ini pak… kita sedang merancang rumah sekaligus tempat usaha, jadi ada dua fungsi dalam satu tapak perancangan.

(Beliau mulai menelaah gambar pada kertas ‘roti’ yang kami tunjukkan)

TTA: Kenapa kalian membuat parkiran seperti ini? Apa kalian sadar bahwa ukurannya bisa dipakai untuk upacara baris-berbaris…

(kemudian beliau beranjak dari kursinya untuk memperagakan seolah-olah sedang terjadi kegiatan baris-berbaris)

Yang digarisbawahi di sini adalah sebuah dimensi seharusnya diputuskan karena adanya kebutuhan; ketika menjadi berlebihan, ada pemborosan dalam perancangan dalam berbagai aspek, baik material, biaya, dan faktor-faktor lain dalam perancangan.

(Kemudian beliau melihat ukuran ruang tamu, ruang keluarga, ruang tidur dan sebagainya, sekaligus bertanya akan orientasi bangunan, penyikapan bangunan pada tapak)

Kok kalian membuat ruang keluarga ukurannya 8 x 4m? Apa keluarga menjadi dekat kalau ruangannya besar sekali? Apa kalian tahu secara fundamental apa definisi sebuah ruang keluarga, ruang tamu dan ruang tidur dalam sebuah rumah?

AD & AW: Ruang keluarga itu tempat berkumpul dan berkomunikasinya sebuah keluarga, saling berbagi senang dan susah serta untuk melakukan aktifitas yang tidak bisa dilakukan di kamar tidur ataupun di ruang-ruang lainnya.

TTA: Apakah kalian dekat dengan saya sekarang?

(wawancara informal ini dilakukan di sebuah ruang mungil dengan meja yang satu sisinya bersandar pada tembok dan beberapa kursi dimana kita duduk bersamaan)

AD & AW: …Iya, pak, dekat.

TTA: Nah, seharusnya kamu merancang ruang keluarga yang memungkinkan terjadinya hubungan sosial antara anggota keluarga.

.

Pada poin ini beliau menekankan bahwa dalam perancangan arsitektur rumah, perlu diamati derajat keintiman anggota keluarga dan bukan malah terlebih dahulu membicarakan luasan serta keterbukaan ruangannya. Beliau juga menekankan bahwa ada ruang intim, ruang dekat, ruang privat, dan ruang bersama. Kejelasan perancangan tergambar dari dimensi-dimensi yang dipakai dalam perancangan.

Saat itu kami terperanjat, hal ini tidak pernah kami sadari sebelumnya. Walaupun selama ini kami menganggap hal tersebut penting, tapi yang kami alami dalam proses asistensi di dunia pendidikan, seolah hanya membahas seputar bagus atau jelek atau ruang yang terlalu besar atau kecil. Pada saat itu pula, kami mempertanyakan kapabilitas para pengajar di universitas.

Kemudian Pak Tan membuka kisah mengenai sahabat lamanya. Pak Tan dan sahabatnya ini bersama-sama dalam pencarian mereka terhadap arsitektur. Beliau bercerita bagaimana ia kerap kali dijemput oleh sahabatnya dengan vespa antik setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu. Mereka kemudian mengunjungi banyak karya yang telah dibangun oleh pak Sujudi (arsitek Indonesia tahun 1960-1990-an yang menjadi idola mereka berdua). Pak Tan melanjutkan, tak jarang mereka memanjat plafon untuk mengamati ‘isi’ di balik plafon itu. Mereka juga kerap mengamati proses konstruksi rumah ataupun gedung untuk dijadikan referensi dalam perkuliahan saat beliau masih bersekolah di ITB dan UNPAR. Alhasil, beliau kerap mendapatkan nilai D atau E, karena beliau secara jujur menggambarkan apa yang beliau lihat dengan sahabatnya itu. Kejadian ini terjadi berulangkali sehingga pada akhirnya beliau memutuskan untuk rehat.

Sambil menghela nafas pak Tan melanjutkan. Beliau merasa skeptis dengan dunia pendidikan arsitektur di Indonesia, dan merasa hal ini perlu direvisi besar-besaran, mulai dari metoda pengajaran hingga kebaharuan ilmu yang diajarkan. Beliau nampak sedih ketika melanjutkan cerita mengenai sahabat lamanya itu. Walaupun mereka sempat bersama-sama dalam pencarian mereka, akan tetapi dunia akademis seolah memisahkan mereka.

Beliau sempat mengingatkan kalau suatu hari nanti kita menjadi orang besar, jangan cepat puas dengan apa yang dicapai, dan cari tahu lebih banyak lagi.

Akhirnya waktunya tiba. Setelah kurang lebih satu bulan mempersiapkan bersama pak Tan, akhirnya materi telah rampung dan siap untuk pak Tan sampaikan di UNPAR. Beliau pun tiba ke kampus UNPAR. Namun, hal yang cukup mengejutkan, hanya seorang dosen yang hadir di acara. Hall UNPAR hanya dipenuhi oleh mahasiswa.

Acara tetap berjalan. Dengan gayanya yang tegas dan lugas, pak Tan tetap berhasil membuat semua mahasiswa terperanjat dengan pertanyaan-pertanyaan. Diantaranya, pak Tan menanyakan mengenai apa yang mahasiswa pikirkan ketika mulai merancang? Pada kesempatan ini, beliau mengingatkan bahwa perancangan arsitektur seharusnya tidak menjadi satu rumah produksi untuk mengeluarkan solusi yang praktis tapi tidak menyeluruh, ataupun hanya menawarkan variasi yang diperlukan dari dinamika kehidupan di Indonesia.

 

 

Proses pencarian kami tidak berhenti di sana. Lantas, kami melakukan ekspedisi ke Yogyakarta. Tujuannya untuk mengunjungi pak Eko Prawoto di kediaman sekaligus studionya. Beliau menyambut kami dengan pakaian sederhana dan menjamu kami di teras depan rumahnya. Kami mulai bertanya mengenai hal yang mendasari pencarian arsitekturnya.

Pak Eko menjelaskan peribahasa “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”, alias beradaptasi dengan apa yang sudah menjadi basis setiap lokasi dan mengoptimalkan potensi material lokal serta solusi praktis dalam perancangan yang ekonomis. Tak lupa kami mengunjungi beberapa bangunan yang beliau rancang, salah satunya bangunan kumpul komunitas di Tembi. Beliau juga menunjukkan beberapa karya instalasi, rumah, dan juga bangunan publik yang beliau rancang.

Beliau mengingatkan bahwa kita harus mengerti sifat-sifat alamiah setiap elemen arsitektur yang akan kita pakai, juga memahami karakter penghuninya secara spesifik.Dari sini kita mulai menyimpulkan bahwa perancangan menjadi sangat plural dan spesifik disesuaikan dengan kebutuhan dan kemauan, atau dengan kata lain merancang rumah itu harus luwes.

Kerap kali perkembangan arsitektur rumah di Indonesia, didominasi oleh pengaruh budaya Barat yang nilai korelasinya sangat kecil dengan karakter bangsa Indonesia. Sebagai contoh pembanding, coba kunjungi rumah-rumah di Bali, misalnya Desa Perliangan Bangli, Bali, yang terlihat sangat spesifik dan berkarakter, walaupun setiap rumah hanya memiliki tanah kurang lebih 5 x 10m untuk memisahkan aktivitas memasak, mandidalam satu atap dan tempat tidur dalam ataplain. Ruang keluarga terjadi di ruang irisannya. Ruang keluarga menjadi tempat bertemunya setiap aktivitas.

Salah satu cara untuk memudahkan pencarian arsitektur rumah Indonesia, seyogyanya para arsitek Indonesia mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah yang dimana terdapat kompilasi rangkuman rumah adat Indonesia. Di sini kita dapat menelaah secara seksama proses perancangan, penentuan sekuensial ruangnya yang sangat ditentukan oleh asal-muasalnya. Proses evolusi dalam perancangan arsitektur tradisional menjadi satu poin penting untuk dipelajari, dilestarikan, dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan jaman, etikanya, dan nilai-nilai luhur yang dipegang oleh tiap-tiap suku bangsa Indonesia.

Namun di sisi lain, rangkuman ini tidak menawarkan solusi praktis atau pun menyimpulkan bagaimana kita membentuk rumah Indonesia. Kebebasan dalam penentuan keputusan yang jujur, kritis, dan bertanggung jawab menjadi satu hal yang sangat berharga bagi para perancang. Hal yang perlu digarisbawahi adalah jangan terlalu banyak terpengaruh oleh budaya barat, kembangkan dan lestarikan budaya kita yang sudah diwariskan oleh nenek moyang menjadi poin yang sudah mulai sedikit terlupakan dalam agenda pencarian para arsitek di Indonesia.

Asa Darmatriaji
Alumnus arsitektur Universitas Parahyangan dan DIA, Dessau, Jerman. Bekerja sebagai intern di Budi Pradono Architects. Setelah lulus (2007), bekerja sebagai architectural designer di SCDA, Singapura. Pada tahun 2010 bekerja sebagai Senior Architectural Designer di studiogoto, Singapura; juga membentuk biro arsitektur, designstudio. Karyanya dipamerkan di eksebisi Fringe Bandung, Imagening Bandung bersama komunitas Archos. Beberapa penghargaan yang diraihnya: 300 proyek terpilih dari 4000 entry di Evolo magazine; juara kedua Pondok Tjandra Indah Gate competition di Surabaya.