Arsitektur Rizoma

6346 Views |  7

 “Seruas rizoma tanpa henti menciptakan hubungan di antara rantai semiotik, organisasi kuasa, dan keadaan sekitar terkait seni, sains, dan perjuangan sosial.”  

Gilles Deleuze & Felix Guattari, A Thousand Plateaus, 1987. Hal. 7

Awal musim hujan. Tunas menyeruak, membuncah pecah tanah. Rebung bambu tumbuh tegak penuh percaya diri. Seruas rizoma lahir dari indungnya, batang bambu yang sudah mencapai ketinggian dan sudah berdaun penuh. Pada dedaunan sari pati diolah dengan sinar matahari, fotosintesis, di dalam mesin-mesin yang otonom, automata, sehingga sari pati menjadi nutrisi bagi pertumbuhan. Pada irisan rebung jumlah keseluruhan ruas bambu terekam sebagai kode untuk pertumbuhan yang teleskopis; hampir satu meter dalam 24-jam, tinggi menjulang dalam hitungan empat bulan.

Di bawah permukaan. Rebung tumbuh dari indung, indung tumbuh dari nenek, nenek tumbuh dari buyut, dan seterusnya. Demikian akar rizoma berkembang jalin-menjalin membentuk labirin di bawah tanah, berlika-liku seperti novel Kafka; jalinan yang tidak memiliki awal maupun akhir, tidak ada pusat ataupun tepi, tidak ada pintasan Ariadne, juga tidak ada Minotaur. Dengan demikian tak ada singularitas, tanpa hirarki, non-otoriter secara elementer maupun sebagai kolektif. Labirin yang ideal seperti Tlön dalam cerita pendek Jorge Luis Borges.

“Pohon adalah filial, namun rizoma adalah aliansi unik. Pohon menyertakan kata kerja ‘menjadi,’ namun jalinan rizoma adalah konjungsi, ‘dan…dan…dan.’ Konjungsi ini mengandung cukup daya untuk mengguncang dan mencabut akar kata kerja ‘menjadi’…”

–Deleuze & Guattari, ibid, hal. 25

Rizoma adalah struktur lorong prosesi yang lebih banyak memiliki pintasan dan putar-balikan daripada jalur yang lurus dan langsung. Ia adalah sistem lorong yang menyediakan ceruk-ceruk bagi tabir-tabir, bagi ruang kontingensi, bagi pertemuan-pertemuan tak-terduga. Koneksi dan heterogenitas adalah prinsip. Ia adalah ruang multiplisitas yang melipat-ganda, mencerap stimuli, merespon tantangan, di tengah susutnya kausalitas.

Now you see, now you don't. Stereogram hutan bambu diNankin, Cina. (James Ricalton, 1990)

Now you see, now you don’t. Stereogram hutan bambu diNankin, Cina. (James Ricalton, 1990)

Tanpa desain sistem terbuka atau mutasi, evolusi tidak akan berlangsung. Tanpa pertemuan tak-terduga, kejutan, surprise, atau kekagetan, maka tidak akan ada peluang untuk regenerasi. Dengan demikian elemen kekagetan menjadi krusial dalam menjaga inersia sistem untuk terus menyediakan potensi penuhnya; ruang-ruang bagi proses kreatif. Tetapi, dia juga lantas menghadirkan paradoks dan situasi ambigu; dia bisa menghasilkan kesepahaman, juga ketidaksepahaman. Baik atau buruk hanyalah hasil dari seleksi aktif dan sesaat, maka kesempatan harus terus diperbaharui, dan dengan demikian tak ada tempat bagi dualisme Manichaean[1] yang hitam-putih.

Metafisika rizoma adalah tataran yang imanen, membedakannya dengan yang transenden. Pada tataran tersebut berlaku sebuah proses yang disebut misapropriasi, yang digambarkan seperti pencurian tanpa akuisisi. Tidak seperti prosesi pencurian konvensional yang melibatkan akuisisi, perpindahan kepemilikan untuk meningkatkan akumulasi kapital, proses misapropriasi menjelaskan suatu proses ekstraksi yang sementara dari sebuah konteks ke konteks lainnya, dari milieu ke milieu. Demikian dinamika internal menciptakan kapasitas baru untuk menghasilkan. Inilah proses kreatif rizomatis, seperti ribuan bengkel kerja, ribuan dataran tinggi, ribuan plato.

Setiap plato adalah sebuah orkestrasi yang terdiri dari elemen-elemen layaknya kepingan batu bata yang diekstrak dari setiap situs-situs reruntuhan, sumber informasi, pengetahuan, dan pengalaman lain. Dia adalah sebuah rakitan, brikolase, yang di dalam dirinya terkandung vektor-vektor dan segala bentuk potensi untuk terus hidup, berkembang, dan mengorganisasi diri. Sebagaimana halnya sebutir telur, dia adalah Tubuh tanpa Organ (TtO) dalam proses menjadi. TtO bukan sebuah organisme, juga bukan sebuah organisasi, melainkan sebuah ruang bagi eksperimen organ yang berlainan dan organisasi yang berlainan.

Balai warga di Kampung Jatimulyo, Yogyakarta. (Andrea Fitrianto, 2012)

Balai warga di Kampung Jatimulyo, Yogyakarta. (Andrea Fitrianto, 2012)

Kinerja moda berpikir rizomatis berkaitan dengan cara-cara mentransfer satu konsep ke konsep lain, dari satu disiplin ke disiplin lain. Dengan demikian suatu fungsi dapat dicangkokan ke konteks atau milieu lain; prinsip dekalkomania[2]. Proses ini melibatkan transgresi antar teritorial, dalam melintasi batas-batas konvensional. Maka proses deteritorialisasi dan reteritorialisasi menggerakkan arus material, sosial, dan mikropolitis secara terus-menerus, konstan; sebuah flux. Seperti pengalaman imajiner saat membaca biografi seorang pengelana muka bumi, sebagaimana alur pikiran orang nomaden; nomadologi.

Arus perpindahan menemukan relevansi pada geografi dan demografi.Tercatat lebih dari separuh penghuni bumi termasuk dalam kategori urban. Kampung kota, yang seringkali digusur, adalah kemenangan atas individualisme yang melazim di kota, ia menjadi benteng terakhir bagi kemandirian, nilai-nilai lokal, kultural, tentang identitas, kolektivitas, modal sosial, dan lain-lain. Pembenaran moralakademiknya ada pada traktat Hak atas Kota dan Keadilan Spasial. Dan perlawanan dari kampung kota, klaimnya atas ruang kota, sudah menjadi fenomena global; Claiming the City.

Seperti halnya kampung miskin kota, sebagai komunitas akar rumput, menjadi sebuah simpul pada sistem rizoma. Demikianlah cara entitas sosial bernavigasi di kota-kota pada masa kini. Kampung kota yang miskin, padat, dan informal hadir dan akan selalu hadir. Mereka terus dan terus berkembang biak, melipat ganda, dan bertukar posisi dengan eksterioritasnya; konstan tanpa akhir. Dalam setiap kampungada kohesi yang dinamis dengan kota sebagai lingkungannya. Kampung kota adalah sebuah plato.

Kampung kota adalah ruang berkreasi seorang arsitek, seniman, warga, guna menjadi manusia pembuat, si tukang, homo faber. Maka, perlu pengetahuan tersendiri untuk bekerja di ruang rizoma, seperti studi tentang gerak, tentang menanti, dan etos dalam mengantisipasi. Karenanya, peta lokal akan lebih berguna dibanding peta global. Prosesi adalah lazim dan perubahan adalah sebuah kepastian, maka untuk menentukan arah perlu mata-ketiga, intuisi, atau mata batin; kontemplasi.

Komunitas tumbuh secara organik di setiap momen kegagalan pembangunan terencana. Hunian-hunian ad-hoc, spontan, irregular, atau informal terbentuk atas dasar kebutuhan. Misalnya, oleh mereka yang mengisi relung-relung kosong, seperti ruang-ruang sisa di kota-monumen Chandigarh, The White Building di Phnom Penh, The Walled City di Kowloon, atau konstruksi pencakar langit yang tidak selesai, karena pemodalnya keburu bangkrut terinterupsi oleh resesi ekonomi, Torre David di Caracas.

Di Torre David, kaum miskin kota mengokupasi lantai-lantai pencakar langit dengan meletakkan dan menata sekat-sekat, memberi kehidupan di antara kerangka kolom-lantai beton yang usang. Kampung miskin memenuhi kebutuhan dasarnya untuk bertahan hidup di kota. Rancangan dan penataan mereka jauh dari sempurna. Karenanya tidak jarang mereka menyertakan mafia, meminggirkan akuntabilitas, institusi, dan demokrasi pada kategori utopia, bersama-sama dengan negara serta segala rezim perencanaannya. Maka, kegagalan perencanaan dan  arsitektur adalah kejayaan populer atau kemenangan rakyat dan sama sekali bukan anomali. Maka, Rem Koolhaas membawa serombongan mahasiswa Harvard berkunjungan-belajar ke Lagos, Nigeria demi menyaksikan kegagalan kota-terencana dengan perspektif helikopter yang sinis-nyaris-fatalis; membaca Lagos dari ketinggian sebagai sebentuk ketangguhan, kesempatan, inspirasi, bagi masa depan yang spekulatif.

Lewat sebuah percakapan, Nenek Dela, warga kampung kota, tampil sebagai tokoh sentral pada film dokumenter Jakarta Disorder karya Ascan Breuer dan Victor Jaschke sudah tiga kali digusur selama berada Jakarta. Rasdullah, penarik becak yang di tahun 2002 mencalonkan diri sebagai gubernur Jakarta, bahkan sudah tujuh kali digusur. Di sini kita mesti cermat: bertahan hidup adalah prinsip, sedangkan digusur adalah konsekuesi. Bersama kaumnya, Nenek Dela dan Rasdullah tinggal di bantaran sungai, bantaran kanal, waduk, rel kereta, di bawah sutet, di kolong tol, di lahan terlantar, di lahan spekulasi, yang semuanya merupakan tataran, strata, khusus bagi kampung miskin di Jakarta. Terkait kelangkaan lahan sebagai sumber daya kota yang paling krusial, Nenek Dela, Rasdullah, dan keluarga termiskin kota umumnya hidup nomaden. Setiap saat mereka harus siap berhadapan, bertukar teritori, bertukar penguasaan dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), aparat rezim keindahan dan ketertiban sekaligus aparatus otoritas formal kota.

Potongan sekolah alam di Bogor. (Andrea Fitrianto, 2013)

Potongan sekolah alam di Bogor. (Andrea Fitrianto, 2013)

Pada ruang komunitas, organisasi setempat, arsitek, dan warga bersekutu untuk mengadakan eksperimen kreatif, seringkali dengan bahan lokal dan organik, dengan teknik-teknik yang juga bagian dari tradisi. Misalnya, pada sekolah yang dirancang Diébédo Francis Kéré di Gando, Mali; pusat interpretasi Mapungubwe di Afrika Selatan rancangan Peter Rich yang menggunakan teknik kubah yang merupakan warisan kultural berumur 600 tahun; museum yang dibangun dari puing-puing karya Wang Shu di Cina; redefinisi arsitektur bambu yang modern lewat tangan dingin Simón Vélez di Kolombia; dan taktik menghidupkan kembali tradisi sekaligus mitigasi bencana à la Hunnarshala di India dan Yasmeen Lari di Pakistan, dan banyak lagi arsitektur dengan kompleksitas, arsitektur yang peka-konteks.

Sedangkan yang bebal-konteks juga ada; di London, sebuah gedung baru menjelma menjadi suryakanta raksasa dan melelehkan mobil-mobil yang parkir di bawahnya; di Dubai, di balik kemilau arsitektur mewah, terungkap eksploitasi terhadap pekerja bangunan migran. London dan Dubai mungkin sudah terlanjur menjadi poros bagi rezim Arsitektur yang hirarkis, singular, monolitik, dan totaliter yang tujuan akhirnya definit; akumulasi kapital adalah eskatologi.  Di sana, moda kreativitas ditandai dengan kecintaan akan permukaan, mekanisasi proses yang mengebiri arsitektur menjadi sebentuk ritual digitasi prosedural.

“Kadangkala kami bekerja secara ilegal, bukan untuk menyakiti seseorang. Kebalikannya, justru kami lakukan untuk menolong banyak orang. Keputusan untuk bekerja secara ilegal berarti bekerja dengan pendekatan lain”

–Santiago Cirugeda

Araña, sirkus dan ruang seni pos-apokaliptis La Carpa di Sevilla. (Woody James, 2014)

Araña, sirkus dan ruang seni pos-apokaliptis La Carpa di Sevilla. (Woody James, 2014)

Santiago Cirugeda mendapat julukan arsitek pembangkang dan subversif. Ia tergabung dalam sebuah kolektif arsitektural Recetas Urbanas di Sevilla. Mereka berarsitektur lewat aksi langsung, salah satunya dalam merancang-bangun ruang seni sirkus kultural independen La Carpa dengan profil-profil baja yang diekstrak dari bangunan lain. Saat ada yang mencibir La Carpa sebagai arsitektur yang menarik tapi juga buruk rupa, Santi menjawab “Siapa yang gak punya teman buruk rupa? Setiap orang punya teman buruk rupa.” Mereka sudah tinggalkan estetisasi obsesif kaum pemodal, untuk arsitektur yang ekonomis dan fungsional. Di Sevilla, La Carpa adalah antitesis bagi Metropol Parasol, sebuah folly dari kayu laminasi yang menguras biaya $130 juta dari kantung para pembayar pajak di tengah situasi resesi.

Recetas Urbanas juga harus menyiasati formalisme aturan membangun dan meniti di antara batas-batas legal-ilegal. Pembangunan dilakukan dalam waktu sesingkat satu-setengah hari. Secara klandestin mereka bergerilya di bawah bayangan rezim ruang dan waktu sang kota; seperti Sulaiman memindahkan istana Ratu Sheba, seperti Sangkuriang, Bandung Bondowoso, juga seperti ribuan gecekondu[3] yang tumbuh dalam semalam di kota-kota di Turki.

Di Davao, Mindanao, warga kampung informal membangun jembatan pedestrian sepanjang 23 meter. Dana terkumpul dari kelompok tabungan para ibu di tiga kampung. Lantas mereka meminjam $10.000 untuk membiayai pembangunan jembatan pedestrian dengan teknologi alternatif; bambu. Setelah setahun menabung sekaligus menggalang kolektivitas, relawan warga bekerja membangun jembatan lewat arahan Suyadi dan Sunarko (alm.), dua perajin bambu asal Cebongan, Yogyakarta. Sepanjang April 2011, tujuh hingga sepuluh relawan warga bekerja enam hari dalam seminggu. Pada satu akhir pekan, lebih dari seratus-lima-puluh warga kampung dikerahkan untuk menghela rangka utama menuju posisi pondasi beton; bayanihan paralel dengan gotong-royong. Sekurangnya duaratus bambu petung dan seratus bambu legi dan bambu ori, dirangkai menjadi jembatan bambu modern pertama di Filipina. Pembangunan inklusif/partisipatif dan teknologi alternatif merupakan paralelisasi dua strata yang membentuk rizoma.

Bayanihan Power: gotong-royong menghela rangka jembatan di Davao. (Andrea Fitrianto, 2011)

Bayanihan Power: gotong-royong menghela rangka jembatan di Davao. (Andrea Fitrianto, 2011)

Dalam rangka kontekstualisasi dengan kota, arsitek menjadi agen penggubah untuk misapropriasi ruang-ruang mati, ruang-ruang sisa, residual, dan menjadikannya alternatif dan potensi. Di bawah hemisfer Utara ada Pet Architecture-nya Atelier Bow Wow di Jepang, Raumlabor di Jerman, dan Atelier d’architecture autogérée (AAA) di Perancis. Kelompok-kelompok lain memberi fokus kerja mereka di Selatan, seperti Urban-Think Tank (U-TT) di Swiss/Venezuela, Elemental di Chile, TYIN tegnestue di Norwegia. Grup arsitektur pro-bono seperti Architecture for Humanity (AFH) adalah jaringan sumber daya arsitektural yang berawal dari penerbitan sebuah buku, Architecture Sans Frontières (ASF) terdiri dari simpul-simpul yang independen di banyak negara Eropa, dan Community Architects Network (CAN) menjadi platform bagi kelompok-kelompok arsitek komunitas di tujuh-belas negara Asia.

Arsitek-arsitek dan kolektif arsitektural tersebut tumbuh sporadis, trans-nasional, nomaden, melampaui batas-batas teritorial, dan berjarak kritis dengan aparatus kekuasaan. Maka, wilayah kerja mereka tidak ditentukan oleh konvensi: apa yang boleh, tapi oleh intensi: apa yang harus, dalam pengetian masing-masing. Maka, tidak akan kita temukan agenda-agenda besar, melainkan etos dan disiplin berkarya yang realistis, taktis, dan penuh improvisasi. Maka, apapun sebutannya, arsitek komunitas, arsitek sosial, pembangkang, visioner, revolusioner, pada prakteknya adalah arsitek yang menanggapi perkara-perkara sosial dan lingkungan di sekelilingnya. Mereka bekerja secara militan, kadang bergerilya dengan penekanan pada proses. Ini akan melibatkan polinasi-lintas antar-elemen yang heterogen, teknis, sosial, kultural, ekologis, dan mikropolitis; sehingga tiba pada capaian-capaian arsitektural yang tak-terduga.

“… Jadi apa itu Tubuh tanpa Organ? Tapi kamu sudah di dalamnya, menggeliat seperti kutu, meraba-raba seperti orang buta, atau berlari seperti orang sinting; pengelana gurun dan nomaden stepa. Di dalamnya kita tidur, menghidupi hidup yang terbangun, melawan-lawan dan melawan-mencari tempat bagi kita, mengalami kebahagiaan tak terbilang dan kekalahan hebat; didalamnya kita menerobos dan diterobos; di dalamnya kita mencinta… TtO: ia datang saat tubuh telah berkelebihan organ dan dia ingin menanggalkan, ingin melepaskan.”

–Deleuze & Guattari, ibid, hal. 150

Dari ribuan teritori, ribuan plato, tentunya ada cukup daya untuk mengguncang, mencabut, menerobos ruang-ruang berruam, menjadikannya ruang-ruang mulus bagi Tubuh tanpa Organ dalam rangka mengantisipasi arsitektur yang akan hadir.

[1] Manichaeism adalah paham yang percaya dengan dualisme dalam kosmologi, pertarungan antara baik dan buruk.

[2] Delcacomania atau decalcomanian(Perancis) adalah sebuah teknik dekoratif yang mentransfer desain yang tercetak di atas medium kertas yang dilipat ke medium kaca atau porselen.

[3] Gecekondu (Turki) secara harfiah berarti “dibangun semalam” adalah pemukiman spontan di kota-kota besar di Turki.

Andrea Fitrianto
Andrea Fitrianto bekerja pada bidang teknologi alternatif bambu, perencanaan komunitas, dan pembangunan urban. Andrea menempuh pendidikan Arsitektur di UNPAR (1994), perkotaan di IHS Rotterdam (2007), dan pengembangan permukiman di HDM Lund (2010). Dia pernah bekerja di Aceh pasca tsunami, di Kenya pada sektor rural, di Jakarta dan di Surabaya tentang advokasi hak atas kota, di Davao dan Yogyakarta untuk perbaikan kampung informal. Saat ini Andrea adalah salah satu koordinator pada Community Architects Network (CAN), sebuah forum bagi arsitektur komunitas dalam konteks Asia.