Arsitektur Abad 21

1505 Views |  Like

“Neri Oxman, arsitek, peneliti, yang fokus pada pencarian sifat ekologis material, dia menyatakan bahwa dia tidak percaya bahwa konsep biomimicry sudah tidak fashionable: dunia biologis, menempatkan perkembangan mesin
menjadi model disain yang umum.”

Perkembangan dunia arsitektur Barat pada abad 21 ini secara sederhana ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi, sebagai contoh perkembangan teknologi yang sangat dekat dan hangat dengan manusia yaitu handphone, notebook/laptop dari skala yang beberapa tahun kebelakang masih cukup dominan dengan ukuran besar dan cukup berat untuk dibawa kemana-mana atau dapat kita katakana generasi Iphone, Apple menjadi brand yang sangat dominan, pada tahun 2011 ini penemuan dan perkembangan pesat teknologi memungkinkan ukuran notebook hanya setebal 1,93cm atau bahkan lebih tipis dan ukuran yang bervariasi hingga yang seukuran buku tulis A5 (210x148mm).

Hal ini menyatakan sekaligus menandakan keberadaan kepentingan perkembangan arsitektur yang juga perlu untuk mempelajari bagaimana integrasi dan kemungkinan-kemungkinan dari kolaborasi antara disain yang ditunjang oleh software yang terintegrasi dengan mesin-mesin seperti mesin 7 aksis CNC (Computerized Numerical Control), 3d Printer ABS (Acrylonitrile Butadiene Styrene), 3d scanner, teknologi robot, dan lain sebagainya. Istilah-istilah baru seperti arsitektur parametrik, disain komputasi, penulisan pemrograman bahasa komputer dalam perancangan arsitektur, dan masih banyak istilah baru lainnya yang muncul dikarenakan adanya kebosanan dalam proses perancangan disain arsitektur yang umumnya mengarah kepada gagasan perulangan atas hal yang sudah ada atau standarisasi yang sangat kental pada contoh arsitektur abad 20 baik di Asia, Amerika, Afrika, Eropa, ataupun Oceania.

Hal ini menandakan era baru untuk kembali mengangkat isu-isu seperti struktur sebagai ornamen (tidak ada pemisahan antara ornamen dan struktur), pergerakan yang mengutamakan optimalisasi kinerja elemen arsitektur, pergeseran proses produksi, software dan komputer menjadi alat disain dan bukan otak dari proses disain, arsitektur tidak hanya mengekspresikan ukuran panjang, lebar, tinggi, volume, berat dan massa melainkan juga menitikberatkan pada pencarian sifat material yang mempengaruhi proses perancangan secara holistik.

Adapun yang perlu digarisbawahi untuk dijadikan bahan pertimbangan pembaca artikel ini adalah perkembangan arsitektur digital sekarang ini masih dalam periode yang terus menerus dijadikan bahan diskursus atau bisa dikatakan masih pada fase film hitam putih, sehingga masih banyak yang perlu dibahas lebih lanjut mengenai pro dan kontra yang sekiranya berjalan seiring dengan proses penerapannya dalam perancangan arsitektur abad 21. Inti dari perkembangan arsitektur ini adalah pengembangan dari sistem statis perancangan ke arah sistem dinamis yang diterapkan melalui proses pemecahan masalah bertahap dan inovatif dalam artian tidak mengulang hal-hal yang sudah diterapkan dalam proses perancangan arsitektur pada abad 20, dengan maksud memberikan variasi dan posibilitas dalam dunia arsitektur yang lebih terintegrasi.

Pesan kritis bagi para pengguna atau pengusung dari arsitektur digital, parametrik, disain komputasi, bahasa pemrogaman komputer dalam arsitektur adalah untuk memanfaatkan teknologi pada tingkatan kritis yang tepat untuk mencapai proses revolusioner dalam proses perancangan disain. Beberapa hal yang dapat dijadikan bahan masukan bagi yang baru dengan perkembangan arsitektur ini, ada beberapa hal yang positif dari proses disain digital adalah proses variasi dan perubahan dalam satu algoritma yang dapat menghasilkan banyak posibilitas dalam disain sehingga proses disain tidak lagi linear dan setiap fase dapat ditentukan secara kritis, ketepatan waktu yang dapat dicapai dengan proses automatisasi, geometri didefinisikan melalui prosedural matematik sehingga memudahkan insinyur sipil untuk menganalisa bahkan bekerja dari sistem file yang sama, disain terorganisasi dalam bentuk data komputerisasi, dan memungkinkan pengoptimalisasian bangunan dari banyak aspek secara terintegrasi. Kata lain dari periode arsitektur ini adalah proses estetika mesinisasi melalui kontrol disain yang kritis dalam prosesnya, untuk menghasilkan proses optimalisasi kinerja struktur dan estetika arsitektur secara paralel.

Penjelasan diatas adalah proses kritisisasi dari pemakaian instan software CAD (Computer Aided Design) yang tanpa sadar sekarang dipakai dan terus menerus menjadi alat produksi paling optimal bagi para perancang dan arsitek, pada prosesnya ada proses algoritma matematika yang berjalan dibalik semua geometri yang dipergunakan oleh arsitek atau perancang. Selain itu ada hal-hal yang perlu dijadikan bahan pertimbangan dalam perancangan arsitektur bahwa limitasi arsitek dalam perancangan arsitektur yang umumnya hanya berdasarkan pada orientasi bangunan Utara, Selatan, Timur, Barat, dengan adanya software seperti Ecotect, Autodesk Revit, perancangan arsitektur memungkinkan untuk diproses melalui pendekatan simulasi yang cukup akurat berdasarkan data yang selalu diperbaharui.

Banyak hal yang perlu dijadikan bahan pemkiran kritis bagi perancang ataupun arsitek, sebagai contoh dalam dunia arsitektur, seringkali seorang arsitek melakukan penerjemahan langsung dari sebuah istilah, lipat atau folding, yang dimana istilah ini diambil dari buku Le Pli, Gilles Deuleuze, misalnya pekerjaan Massimiliano Fuksas, New Milan Fair Trade, yang mendemonstrasikan atap bergelombang menerus untuk menjadi dinding dan kemudian menjadi lantai yang berukuran panjang 1300m dan lebar 32m. Hal ini mengaburkan definisi dari lantai, dinding, atap. Upaya tersebut medukung yang disebut oleh Greg Lynn, arsitek sekaligus filsuf arsitektur abad 21, sebagai bentuk halus, baik secara visual maupun secara matematis. Artikulasi tersebut adalah komposisi dari elemen yang identik yang diramu oleh koki yang tepat. Ketertarikan Greg Lynn terhadap arsitektur yang memanfaatkan hubungan antara unsur-unsur yang tidak menekankan kontradiksi melainkan kesinambungan, misalnya karyanya yang terkenal, blob wall, 2008, mendemonstrasikan teknik proses industri otomotif, dengan industri penerbangan yang tidak pernah diperkenalkan pada dunia arsitektur sebelumnya, melalui proses kolaborasi ini membuka kemungkinanan akan apapun yang seorang arsitek ingin lakukan, dengan adanya elaborasi berbagai industri ini mengangkat beberapa hal-hal yang perlu dipertanyakan bagi keprofesian seorang arsitek sekarang ini, seperti: apakah arsitek juga pematung? Apakah sekarang seorang arsitek dapat merancang segala sesuatu, termasuk mobil? Desainer interior akan digantikan oleh arsitek atau bahkan sebaliknya? Apakah arsitek sebagai profesi masih berlaku dalam era digital yang energik ini?

Berkaitan dengan beberapa pertanyaan yang disebutkan di atas, merupakan kondisi dimana ketersediaan informasi dan fleksibilitas melalui internet dan juga berkembangnya sistem terbuka yang memungkinkan beberapa perkembangan software dapat diperoleh secara cuma-cuma juga memberikan dampak yang lain dalam dunia arsitektur Barat.

Dalam arsitektur digital pada dekade ini, arsitektur digital masih tetap optimal apabila diaplikasikan dalam skala kecil dan sifatnya temporal, ekspresi arsitektur dengan bentuk halus merupakan wujud alternatif sebuah transformasi arsitektur dan juga sebagai upaya meninggalkan paham dan prinsip dekonstruksivisme dalam arsitektur. Adapun pada sisi lain perkembangan arsitektur kosmetik atau arsitektur yang umumnya mempertimbangkan detail secara optimal, sebagai upaya pengoptimalan estetika arsitektur seringkali melupakan perhatian terhadap percobaan radikal yang kritis atas apa yang dibutuhkan untuk diamati pada konteks dan waktu yang tepat. Meskipun teknik arsitektur kosmetik ini menambahkan pengetahuan dan perhatian baru terhadap detail.

Tiba di abad 21 ini yang saya temukan adalah berlimpahnya kompleksitas yang datang dari dalam dan luar bidang arsitektur, yang perlu dipertimbangkan secara cermat oleh arsitek adalah bagaimana memahami proses perancangan disain untuk proyek-proyek tertentu dalam pengamatan yang intensif dan ekstensif dengan semua kemudahan dari kemajuan teknologi pembangunan harus mempertimbangkan aspek nyata dalam proses merancang dalam lingkup masyarakat yang luas, dan hal ini harus diimbangi dengan pertimbangan untuk apa arsitektur atau sebuah bentuk dibangun dan dipilih yang sekiranya dapat memberikan mimpi yang dinamis dengan, tepat sasaran dan tujuan, melbatkan realitas yang ada dan berkembang di suatu lokasi dan waktu yang spesifik, sekaligus mempertimbangkan apa ‘keinginan’ pasar dan animo masyarakat saat ini dan tidak meninggalkan warisan budaya, akan tetapi untuk memikirkan kembali dan bereaksi terhadap apa yang dapat memberikan input positif, refleksivitas, pemikiran kritis dalam konteks tertentu yang tepat. Dunia yang dinamis sebagian besar disalahgunakan dengan menawarkan kosmetika arsitektur yang harus dihadapi dengan pertimbangan melalui proses pemikiran skala kecil akan tetapi mengupayakan gambaran yang lebih besar di masyarakat, dengan metode perubahan, modifikasi, sebagian pembongkaran atau penghancuran sepenuhnya, dan memelihara kultur dan budaya masyarakat yang esensial.

Dampak dari efek gambaran sebuah mimpi yang sekarang seakan lebih nyata dari pencitraan aslinya; keberadaan kamera pengintai menjadi hal yang tak terelakkan hampir di berbagai kota besar sebagai upaya mengamankan properti atau harta benda dalam waktu 24 jam di setiap sudut kota. Hal ini tidak dapat dihindari yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa bernegosiasi dan berhubungan dengan perkembangan pesat teknologi yang diakomodasi secara sadar dan bertanggung jawab, kita sebagai arsitek tidak boleh mempergunakan visualisasi sebagai alat untuk memanipulasi apa yang menjadi kondisi nyata dan tetap harus dipisahkan apa yang merupakan hasil majinasi dalam dunia maya, komputer yang mulai memiliki kehidupan karena penggunanya yang dimana pun tetap berusaha mengakses kehidupan sosial yang dibangun dalam dunia maya, tanpa sadar sebagian besar masyarakat mulai dibatasi dengan dunia yang nyata, yang memberikan kemungkinan banyak melalui setiap jenis pengamatan aspek, valid atau tidak valid tidak lagi menjadi penting. Hal ini menjadi penting sebagai wujud usaha dan kesadaran diri tentang bagaimana seorang arsitek atau mahasiswa arsitektur berpikir, dari awal hingga keputusan akhir untuk meringkas keputusan tajam untuk semua analisis dan sintesis dalam proses perancangan disain arsitektur.

Tiba di abad 21 ini yang saya temukan adalah berlimpahnya kompleksitas yang datang dari dalam dan luar bidang arsitektur, yang perlu dipertimbangkan secara cermat oleh arsitek adalah bagaimana memahami proses perancangan disain untuk proyek-proyek tertentu dalam pengamatan yang intensif dan ekstensif dengan semua kemudahan dari kemajuan teknologi pembangunan harus mempertimbangkan aspek nyata dalam proses merancang dalam lingkup masyarakat yang luas, dan hal ini harus diimbangi dengan pertimbangan untuk apa arsitektur atau sebuah bentuk dibangun dan dipilih yang sekiranya dapat memberikan mimpi yang dinamis dengan, tepat sasaran dan tujuan, melbatkan realitas yang ada dan berkembang di suatu lokasi dan waktu yang spesifik, sekaligus mempertimbangkan apa ‘keinginan’ pasar dan animo masyarakat saat ini dan tidak meninggalkan warisan budaya, akan tetapi untuk memikirkan kembali dan bereaksi terhadap apa yang dapat memberikan input positif, refleksivitas, pemikiran kritis dalam konteks tertentu yang tepat. Dunia yang dinamis sebagian besar disalahgunakan dengan menawarkan kosmetika arsitektur yang harus dihadapi dengan pertimbangan melalui proses pemikiran skala kecil akan tetapi mengupayakan gambaran yang lebih besar di masyarakat, dengan metode perubahan, modifikasi, sebagian pembongkaran atau penghancuran sepenuhnya, dan memelihara kultur dan budaya masyarakat yang esensial.

Dampak dari efek gambaran sebuah mimpi yang sekarang seakan lebih nyata dari pencitraan aslinya; keberadaan kamera pengintai menjadi hal yang tak terelakkan hampir di berbagai kota besar sebagai upaya mengamankan properti atau harta benda dalam waktu 24 jam di setiap sudut kota. Hal ini tidak dapat dihindari yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa bernegosiasi dan berhubungan dengan perkembangan pesat teknologi yang diakomodasi secara sadar dan bertanggung jawab, kita sebagai arsitek tidak boleh mempergunakan visualisasi sebagai alat untuk memanipulasi apa yang menjadi kondisi nyata dan tetap harus dipisahkan apa yang merupakan hasil majinasi dalam dunia maya, komputer yang mulai memiliki kehidupan karena penggunanya yang dimana pun tetap berusaha mengakses kehidupan sosial yang dibangun dalam dunia maya, tanpa sadar sebagian besar masyarakat mulai dibatasi dengan dunia yang nyata, yang memberikan kemungkinan banyak melalui setiap jenis pengamatan aspek, valid atau tidak valid tidak lagi menjadi penting. Hal ini menjadi penting sebagai wujud usaha dan kesadaran diri tentang bagaimana seorang arsitek atau mahasiswa arsitektur berpikir, dari awal hingga keputusan akhir untuk meringkas keputusan tajam untuk semua analisis dan sintesis dalam proses perancangan disain arsitektur.

“….yang perlu dijadikan bahan diskursus bersama adalah apakah peran arsitek di abad 21 ini?.”
Asa Darmatriaji
Alumnus arsitektur Universitas Parahyangan dan DIA, Dessau, Jerman. Bekerja sebagai intern di Budi Pradono Architects. Setelah lulus (2007), bekerja sebagai architectural designer di SCDA, Singapura. Pada tahun 2010 bekerja sebagai Senior Architectural Designer di studiogoto, Singapura; juga membentuk biro arsitektur, designstudio. Karyanya dipamerkan di eksebisi Fringe Bandung, Imagening Bandung bersama komunitas Archos. Beberapa penghargaan yang diraihnya: 300 proyek terpilih dari 4000 entry di Evolo magazine; juara kedua Pondok Tjandra Indah Gate competition di Surabaya.