Almari Kuriositas

874 Views |  2

Almari Kuriositas (Cabinets of Curiosities) ialah suatu ruang berisi koleksi berbagai macam benda alam tak lazim yang menanti untuk dikategorikan. Batas-batasnya yang ambang membuka ruang-ruang keingintahuan.

Die Wunderkammer ou la Chambre des merveilles (Erik Desmazières, 1997)

Die Wunderkammer ou la Chambre des merveilles (Erik Desmazières, 1997)

Babak 1: Pertanyaan Besar

Singapura, 2014.

“Aku punya pertanyaan untukmu,” ujarnya seraya mengeluarkan kertas kusam yang berisi coretan kata-kata dari saku roknya. Dia menarik nafas, terdiam sejenak, mengamati kertas tadi, lalu dengan hati-hati bertanya: “Apakah kamu percaya dengan kehidupan?” – “Tentu saja!” Aku tertawa, “Pertanyaan macam apa itu! Apakah kehidupan merupakan sesuatu yang harus dipercaya?” Dia mempertanyakan sesuatu yang janggal di lokasi yang banal, di tempat duduk seberang sungai menghadap barisan rumah toko di bawah gedung-gedung pencakar langit Boat Quay. “Faktanya kita hidup dan melihat orang-orang yang hidup pula. Bukankah kehidupan itu menjadi suatu hal yang harus dipercaya oleh seseorang yang hidup?” pikirku.

Dia lantas tersenyum, seperti lega mendengar jawabanku. Kemudian dia kembali membuka mulutnya, “Lalu, menurutmu, apa yang manusia harus lakukan untuk terus hidup dalam kehidupan ini?”

 

Babak 2: Neri

Paris, 2023.

Burgundy de Bruno baru saja merampungkan artikel yang berjudul Neri, or the Life of Architecture. Dalam tulisan itu Bruno berpendapat bahwa kini arsitektur hidup. Neri Oxman, seorang arsitek-ilmuwan, telah meniupkan nyawa pada tubuh arsitektur. ‘Arsitektur yang hidup’ tak lagi sebatas metafora tentang bagaimana kehidupan lain mencipta arsitektur yang dinamis, tumbuh dan berkembang.  Arsitektur tidak lagi hanya sebuah benda mati yang berasal dari bahan baku yang pernah hidup, kini ia hidup dan mampu membusuk kembali ke alam.

Neri muncul pada saat yang tepat bersama eksperimen Bio-Arsitekturnya. Eksperimen tersebut mematikan dilema produksi benang sutra yang telah ada sejak ribuan tahun lalu – perdebatan antara komoditas dan moralitas. Sutra telah menjadi komoditas unggulan pendiri globalisasi kuno melalui Jalur Sutra. Namun, proses produksinya melibatkan pengorbanan kehidupan sebuah spesies makhluk hidup – kepompong-kepompong ulat sutra direbus hidup-hidup untuk menghasilkan benang sutra. Neri menemukan cara untuk merekayasa sistem struktur hidup yang sekuat baja itu, sekaligus jalan untuk memanen benang sutra tanpa harus merebus satu organisme pun.

Lantas bagaimana cara arsitektur memperoleh hidup dari organisme lain?

 

Babak 3: Alba Si Kelinci

Teheran, 2010.

Hal pertama yang Fallan lihat ketika memasuki ruangan Aramis, sang ahli genetika, ialah sepenggal artikel lama di dinding, bertajuk kontroversi organisme transgenik – organisme yang memperoleh unsur kehidupan (gen) dari organisme lain.

Alba

“Alba yang malang, hidup hanya 2.5 tahun. Ia mati karena sengketa kedua orang tuanya, seorang ilmuwan dan seorang seniman. Hingga kini, dunia hanya mengetahuinya sebatas foto. Tidak ada yang benar-benar tahu apakah ia benar-benar hidup atau hanya hidup di cerita sang seniman,” ujar Aramis sambil berjalan masuk dari lubang pintu.

“Tadi salah satu peneliti Anda meminta saya untuk menunggu di ruangan ini.”

“Semoga Anda tidak menunggu lama. Silakan duduk, Tuan Fallan.” Aramis lalu duduk di kursinya, “Boleh Anda jelaskan mengenai konsep ‘perabot hidup’ yang Anda singgung lewat surel tiga hari yang lalu.”

Fallan, sang arsitek, mengeluarkan lembaran sketsa dan kolase foto, “Baiklah, sebaiknya kita tidak buang waktu. Ya. ‘Perabot hidup’ saya artikan sebagai sebuah objek yang memperoleh kemampuan dari makhluk hidup, ia akan menjadi bagian dari peralatan kebutuhan sehari-hari manusia. Bayangkan ketika kota tidak lagi memerlukan listrik untuk penerangan. Tapi, hal-hal keseharian yang tidak terduga, misalnya tanaman rambat, akan berpendar untuk menerangi jalan-jalan, dinding-dinding bangunan, dan langit-langit ruangan. Sebut saja, sebuah Parthenocissus … ummm… albae.”

Aramis tersenyum, dan mempersilahkan Fallan untuk bercerita lebih jauh.

“Kita bisa menguji dari skala kecil, misalnya interior rumah. Dengan keahlian Anda, kita rekayasa Parthenocissus agar hanya hidup di medium tertentu, juga memiliki sifat yang berbeda dengan alaminya. Pertama, ia akan diselipi gen green fluorescent protein (protein pendar hijau) atau GFP dari ubur-ubur, Aequorea victoria, agar memiliki kemampuan berpendar. Sama seperti Alba, tapi kali ini pendarannya tergantung pada cahaya matahari. Ketika cahaya tersebut absen, GFP akan aktif dan memendarkan daun-daun Parthenocissus, dan meredup ketika terang. Kita juga perlu memodifikasi jam biologisnya untuk memiliki sifat dorman dari sebuah rangsangan, sentuhan misalnya. Parthenocissus  albae ini akan mengurai GFP tadi ketika disentuh, jadi pendaran tadi akan hilang. ON/OFF button. C’est facile, Mademoiselle Aramis?”

Glow_fin

Aramis nampak makin penasaran, “Menarik. Menarik, Tuan Fallan… Apakah ini serupa dengan konsep yang mendasari Rumah Biophilia Tuan yang masyhur itu? Saya membaca sebuah artikel yang bercerita tentang bagaimana Anda membuat kerangka bangunan yang dibiarkan tidak selesai, kecuali elemen infrastrukturnya. Rangka itu akan disisipi secara oportunistis oleh ruang hidup manusia atau liarnya alam. Seolah mereka hidup berdampingan, tapi sedang berkompetisi untuk hidup di alam, antara memakan atau dimakan, memangsa atau dimangsa.”

“Ha ha ha… Nona Aramis, Anda terlalu banyak membaca jurnal yang selalu ingin berpolemik, beretorika segar, dan hal-hal aneh lainnya.” Fallan sejenak terdiam lalu selanjutnya berkata, “Saya seorang pragmatis, Nona. Hal terpenting bagi saya adalah bagaimana kehidupan manusia tetap berjalan dan bagaimana hal-hal di sekitar kita bermanfaat. Jadi, rumah yang tadi Nona sebut, adalah usaha meletakkan alam dan bentuk kehidupan di dalamnya bersama dengan ruang hidup manusia. Hal ini semata-mata untuk meningkatkan produktivitas, mengurangi stres, juga merawat manusia.” Fallan menyingkirkan kertas-kertas tadi ke tepi meja, menyandarkan tubuhnya, menaruh kedua lengannya di pegangan kursi, dan menyilangkan jemarinya, menunjukkan gerak-isyarat siap berdiskusi.

“Tuan Fallan memiliki pandangan yang sangat unik. Dengan filosofi ini, menurut Tuan, apa pengertian kehidupan bagi disiplin arsitektur?

 

Babak 4: Hidup dan Kehidupan

Singapura, 2014.

“Kami sangat percaya dengan kehidupan. Disiplin ilmu kami menyelidiki sesuatu yang hidup serta karakteristik kehidupannya. Bios dan logos,” katanya sambil memasukkan kertas catatan tadi kembali ke dalam saku roknya.

Dia lalu bertanya soal ‘apa itu arsitektur?’ “Hmmmm… Arsitektur tidak sesederhana archi (kepala) dan tekton (pembangun). Mustahil untuk mencapai definisi tunggal, karena setiap arsitek punya definisi masing-masing tentang arsitektur.” Aku menjawab dengan yakin.

Lalu, bagaimana dengan definisimu sendiri?, air mukanya berubah serius.

“Ahem…”, aku membersihkan tenggorokanku. “Bagiku arsitektur itu berwajah majemuk. Ia adalah keindahan juga anti-keindahan. Ia instrumen ideologis sekaligus pembongkar norma. Ia narasi, kadang-kadang propaganda. Ia juga hanya sebuah latar belakang. Tidak ada yang benar-benar melihat arsitektur kecuali sang arsitek sendiri.”

“Kalimat terakhirmu unik ya, kami mempelajari disiplin ilmu biologi untuk menemukan dan mengamati berbagai kehidupan alam ini. Sementara kalian mempelajari arsitektur untuk menemukan apa arsitektur itu sendiri. Apakah hanya itu makna hidup arsitektur, atau ada unsur hidup atau kehidupan lain?” ujarnya ketus.

“Tentu saja! Kami memperhatikan kehidupan manusia. Kami mempelajari kebutuhan, keinginan, perilaku, dan kebiasaan manusia. Pengetahuan ini berguna untuk merupa ruang-ruang hidupnya. Dengan kata lain arsitektur bisa dikatakan sebuah kontainer yang berisi kehidupan penghuninya.”

“Ironis. Bukankah hidup itu dinamis. Bagaimana hidup bisa ditampung? Seperti kelinci percobaan yang hidup dan dikurung dalam lab, diisolasi dari kehidupan lain sekitarnya.”

 

Babak 5: Jaringan

Paris, 2023.

Langkah pertama Neri meminjam kehidupan untuk arsitektur ialah dengan membuka penutup laboratorium yang kemudian membawanya ke peternakan ulat sutra. Neri mengambil beberapa spesimen ulat sutra untuk melakukan dua observasi. Pertama, Neri memetakan pergerakan ulat saat memintal protein sutra menjadi kepompong. Kedua, ia bereksperimen dengan berbagai bentuk wadah (kotak, datar, melingkar bahkan tak berbentuk) untuk memediasi metamorfosis ulat sutra. Ada dua temuan kunci dari eksperimen itu. Pertama, pemetaan arsitektur kepompong yang jelimet. Rupanya kepompong tersusun dari satu jenis protein dengan dua konsentrasi yang berbeda, satu bertindak sebagai struktur yang lain sebagai perekat. Kedua, proses pemintalan dan bentuk kepompong dipengaruhi oleh bentuk lingkungan sekitarnya. Dua hal ini menjadi basis bagi Neri untuk mengimitasi protein struktur sutra menjadi cetakan-cetakan yang dibuat oleh tangan-tangan robotik dari benang-benang sutra alami. Alam menginspirasi buatan.

Dengan habitat-habitat artifisial ini, Neri lalu mengontaminasi lab-nya dengan dunia luar. Ia memindahkan lab-nya ke sebuah ruang antara, sebuah galeri. Cetakan-cetakan struktur sutra buatan tadi dipasang menjadi kerangka berbentuk setengah bola yang diletakkan di tengah ruangan. Walau memiliki pengkondisian udara, ia tetap terekspos cahaya matahari – sebuah kombinasi buatan dan alami. Pergerakan sinar matahari digunakan untuk memandu pergerakan ulat sutra yang bergerak ke daerah yang lebih gelap dan dingin. 6.500 ulat didatangkan dari peternakan untuk melengkapi paviliun sutra sintetis tadi. Ulat-ulat itu melengkapi struktur setengah bola tadi dengan memberi protein perekat dengan sulaman sutra biologis dengan total sepanjang 6.500 kilometer. Kini buatan menginspirasi alam.

Eksperimen ini produktif, ngengat dari ulat sutra pekerja paviliun memroduksi 1.5 juta telur yang dapat mengisi 250 paviliun tambahan. Neri mengklaim bahwa dengan membangun jaringan aktor-aktor (petani, ulat sutra, cetakan, tangan robot) ini, kita dapat meningkatkan produktivitas tanpa harus mengeksploitasi alam.

 

Babak 6: Etika

Teheran, 2010.

“Oh, Tuan Fallan. Mengapa kehidupan kita selalu berujung pada produktivitas, dan alam selalu dieksploitasi agar memberi keuntungan bagi manusia.  Aneh memang ketika konsep ekonomi dikawinkan dengan ekologi. Kehidupan flora dan fauna dalam berbagai ekosistem dipaksa mendukung kehidupan manusia dalam basis untung rugi. Kami, ilmuwan, semua memegang satu tujuan, mencari kebenaran bukan pembenaran.”

Aramis menarik napas dan melanjutkan, “Kita hidup di era postfaktisch dan ada hal yang lebih menarik dari sekedar mencari kebenaran, yaitu bagaimana sesuatu diterima oleh masyarakat sebagai kebenaran. Dalam kontroversi Alba, ada hal-hal menarik yang jarang dibahas, tertutup oleh kesuksesan organisme transgenik. Berpendarnya Alba hanya tahap awal dari proyek sang dalang, Eduardo Kac. Dua tahapan berikutnya merupakan hal yang paling menantang bagi Alba, dialog publik dan integrasi sosial. Ia akan menjadi subjek sosial yang digiring dari ruang laboratorium ke ruang publik untuk didiskusikan status ketransgenikannya.

Etiskah percepatan proses evolusi kehidupan ini? Apakah sesuatu yang menantang akal ini akan diterima atau ditolak oleh masyarakat? Siapkah masyarakat hidup bersama organisme transgenik dalam kehidupan sehari-hari?”

“Nona Aramis, perlukah dialog itu? Bukankah jika sesuatu membuahkan hasil bagi manusia, tidak perlu ada penjelasan berikutnya? Lagi pula, masyarakat hanya mengekor para penemu.”

“Tuan Fallan, membangun dialog dengan masyarakat selalu menjadi tanggung jawab etis para ilmuwan. Arsitektur mungkin memiliki banyak kesempatan untuk hubungan dialog ini, tapi entah kenapa sepertinya kita selalu masuk pada perangkap yang sama. Kita, arsitek dan ilmuwan, abai untuk membangun hubungan antara temuannya dengan masyarakat luas. Seolah-olah temuan kita, bangunan yang kita usulkan, ide atau gagasan kita tak terbantahkan karena keilmiahan metode, kelogisan pola pikir, keahlian merupa, dan kebaruan temuan. Absolut. Kita jadi memperoleh kuasa bukan karena kesetaraan temuan kita dengan masyarakat, tapi karena keabsolutan gravitasi dan ilmu pengetahuan yang terjadi di ruang ideal dan hampa.”

Aramis menarik napas panjang, “Keabsolutan Kuasa seperti ini absurd, Tuan…”

 

Babak 7: Kesejajaran Hidup dan Kuasa Keilmuan

Paris, 2023.

Neri menolak keabsolutan kuasa keilmuan. Ia malah bekerja untuk menjaga keseimbangan dalam sebuah jaringan yang labil dan tak tentu. Ia menjadi juru bicara dan penerjemah dari berbagai kepentingan aktor dan aktan – pertanian dan petani sutra, pasar dan kapital, moralitas dan komoditas, dan arsitektur-struktur dan biologi. Tugas Neri ialah merekayasa relasi dan aliansi mereka secara halus dan spesifik untuk merespon kepentingan bersama dari aktor-aktan tersebut.

Di tahap ketiga dari paviliun sutra, Neri memproduksi massal cetakan-cetakan struktur sutra sintetis dan mengirimkannya kembali ke peternakan. Cetakan ini menjadi habitat baru bagi ulat-ulat sutra. Mereka dapat memilin sutra, bermetamorfosis, dan berkembang biak tanpa menjadi korban komoditas. Petani sutra tetap dapat memanen benang-benang sutra yang terpilin di cetakan-cetakan struktur tadi, tidak lagi harus merebus kepompong sutra hidup-hidup. Bentuk pertanian sutra mengalami perubahan drastis, karena batas antara buatan dan alami melebur bersama. Hal ini juga mengubah pola produksi sutra. Ia tetap menjadi komoditas andalan dan kapitalisme global tetap dapat berjalan. Simetri kepentingan berbagai aktor ini  membuat keilmuan kembali mempunyai kuasa untuk mempengaruhi dan memberi arah kepada masyarakat.

Neri melampaui kategori arsitek atau ilmuwan dengan menjadi seorang aktor sosial. Muatan pengetahuan dikembalikan ke dan dikaitkan dengan masyarakat dan kehidupan alam. Dengan menyeberangi perbatasan antara biologi dan arsitektur, ilmuwan dan arsitek-insinyur,  ia menyetarakan hubungan antara ulat sutra, struktur sutra sintetis-biologis, pertanian dan petani sutra, moralitas dan komoditas, pasar dan kapital, dan arsitektur-struktur dan biologi. Neri mengubah dunia sekitar agar menyesuaikan dengan kondisi-kondisi di dalam laboratorium.

 

Babak 8: Evolusi

Teheran, 2010.

“Setelah dikondisikan di laboratorium dan ruang publik, pada tahap akhir, Alba akan diintegrasikan ke sebuah dunia baru, ruang privat keluarga Kac. Ia akan diberi perhatian, kasih sayang dan dipastikan tumbuh dan bersosialisasi dengan spesies lain. Dengan begitu, ia menjadi ‘normal’, layaknya hewan-hewan domestik lainnya. Implikasinya, percepatan evolusi dan rekayasa genetika akan menjadi sesuatu yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Chimaera bisa jadi bagian dari masyarakat, Tuan Fallan.” Aramis menyandarkan punggungnya ke kursi dan memandang langit-langit, lalu melanjutkan, “Tuan bilang,  kota terbentuk dari perkumpulan  manusia, pertukaran pengetahuan, dan transaksi untuk pemenuhan kehidupannya. Manusia sebagai pusat kehidupan kota. Antroposentris. Sementara alam dan kehidupan sekitarnya akan menyesuaikan dengan kehidupan manusia.

Umat manusia memang istimewa, Tuan Fallan. Manusia adalah spesies paling muda, namun mampu merupa wajah bumi. Bahkan sangat drastis jika dibandingkan dengan spesies-spesies lain. Bukan karena akalnya, tapi karena obsesinya terhadap kendali dan ketakutannya terhadap acaknya alam. Manusia berkembang dan berinovasi semata-mata untuk mengukuhkan kendali terhadap kehidupan. Kota, jaringan jalan, air, dan listrik, pola pengelolaan tanah dan pengaturan perumahan, atau penggambaran batas-batas geopolitik lahir guna mengatur dan menaklukkan alam. Menggambar dan memetakan setiap jengkal bumi, tanah, dan air agar semua terlihat. Tidak ada yang tersembunyi. Lalu manusia mengklaim kepemilikan.

Tapi ada satu hal yang dilupakan, Tuan Fallan. Manusia lupa berevolusi. Manusia tak lagi mampu beradaptasi dengan lingkungan. Sehingga selama ribuan tahun, yang dilakukan hanyalah mengubah lingkungan dan kehidupan sekitar agar dapat mendukung keberlangsungan hidup. Memaksa lingkungan berevolusi dengan eksplorasi, eksploitasi, domestikasi, dan mutasi. Manusia menciptakan temuan-temuan yang memperpanjang fungsi fisik dan mental, agar bisa berjalan dengan lebih cepat, berkomunikasi dengan lebih singkat, mengingat dengan lebih akurat, dan menghitung dengan lebih cermat.”

“Memang apa salahnya dengan tidak berevolusi, Nona Aramis?”

“Makhluk hidup telah mengalami beberapa kali kepunahan di bumi ini, Tuan Fallan. Selama ini alasan terjadinya kepunahan adalah sesuatu yang di luar kendali dan kuasa manusia – perubahan komposisi senyawa kimia di bumi, kenaikan permukaan laut yang drastis, supervolcano, atau bahkan supernova dalam skala semesta. Sementara, era kepunahan, antroposen yang sedang berjalan sejak puluhan ribu tahun lalu hingga saat ini, disebabkan oleh kehidupan manusia. Bukankah probabilitasnya besar bahwa manusia akan mengalami kepunahan berikutnya, bahkan mungkin dalam waktu dekat?”

 

Babak 9: Kota

Singapura, 2014.

“Jika kehidupan manusia dan alam tidak ingin punah, kita harus meninggalkan kota! Bagaimana kita bisa hidup di tempat yang tidak pernah hidup ini?” Dia mulai meracau di luar nalar.

“Kota ini hidup! Semua kota yang ada dihidupkan dan menghidupi manusia. Coba, ceritakan apa ciri-ciri sesuatu yang hidup?”

“Setidaknya, ada delapan kualitas: (1) memiliki organisasi sel, (2) berkembang biak, (3) bermetabolisme, (4) mampu meregulasi kondisi internal tubuh, (5) mewariskan karakter genetis, (6) merespons stimulus, (7) tumbuh dan berkembang, serta (8) beradaptasi melalui evolusi.”

“Kalau hanya itu, kota jelas-jelas sebuah organisme yang hidup. Ia memiliki organisasi ruang-ruang dan bangunan. Ia juga memiliki struktur kunci yang satu dimiliki oleh setiap kota: misalnya, jalan, ruang terbuka, dan pemukiman. Ia tumbuh dan berkembang. Tentunya ia beradaptasi dan berevolusi sesuai dengan perkembangan perilaku penghuninya. Jelas-jelas ia bermetabolisme, setidaknya, sesuatu yang diterima oleh kota akan diolah dan diproses menjadi sampah atau emisi. Ia juga merespons pergerakan ekonomi, jika ekonomi itu bisa dikatakan stimulus.”

“Ayolah, itu semua hanya metafora. Kita selalu terjebak dalam dua kubu realitas, objektif dan fiktif. Secara objektif kita melihat sungai ini, gedung-gedung di seberang sungai, jalan-jalan yang menuntun manusia ke sana, dan pepohonan yang mengiringinya. Tapi, kita semua juga percaya dengan narasi realitas fiktif yang kita karang tentang mengapa kota adalah bentuk yang ideal untuk kehidupan manusia. Mengganti alam hidup dengan lingkungan binaan yang tak bernyawa. Terinspirasi dari sesuatu yang hidup, tidak serta merta membuatnya hidup. Coba jelaskan, apakah kota bereproduksi?”

“Tenang-tenang… Hmmmm… tentunya perkembangan ekonomi di satu kota akan mempengaruhi kota lainnya, kadang kala hubungan antara desa dan kota dapat memicu dan memacu desa menjadi kota. Jadi ya, sebuah kota akan melahirkan kota yang lain. Reproduksi aseksual!”

“Konyol!”

“Ha ha ha… ummm… Menurutmu, kalau kota ini hidup, apakah ia akan mati? Lihatlah semua orang di gedung-gedung pencakar itu, sepertinya ia tidak akan mati.”

“Omong kosong! Oke, kalau ia memang hidup, maka aturan ini berlaku: tidak ada sesuatu hidup yang tak mati. Kalau tidak mati, berarti memang ia tidak pernah hidup. Lihatlah semua bangunan di depanmu, mereka semua menampung beribu kehidupan manusia yang dinamis, tapi mereka sendiri statis dan putus asa… menunggu giliran kapan mereka akan… mati – lalu terdekomposisi dan entah terlahir kembali dalam bentuk apa.”

 

Ivan Nasution
Ivan Nasution lulus dari Arsitektur ITB pada tahun 2006, lalu bekerja di Park+Associates Architect, Singapura. Di tahun 2011, ia menyelesaikan pendidikan penelitian pascasarjana di Berlage Institute Rotterdam. Saat ini menjadi peneliti di Centre for Sustainable Asian Cities, National University Singapore. Di sela waktu luangnya, ia aktif menjadi fasilitator bagi Participate in Design, sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang desain, perencanaan, dan pendidikan.
Purwanti Wulandari
Purwanti Wulandari lulus dari Biologi ITB pada tahun 2006, lalu bekerja sebagai koordinator acara bertema lingkungan hidup sekaligus manajer keuangan di Greeners Media Lestari yang bekerja sama dengan Oxfam GB. Setelah menyelesaikan pendidikan pascasarjana Magister Sains Manajemen di Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB, ia menjadi peneliti muda untuk beberapa proyek pemerintah maupun internasional seperti proyek 'Enhancement of Global Carbon Sequestration From Indonesian Tropical Forest' yang didanai oleh Islamic Development Bank. Selain menyukai berwisata, ia juga peduli dengan pendidikan anak-anak sehingga sempat berkecimpung di Komunitas Sahabat Kota, Bandung. Saat ini tinggal di Singapura sebagai seorang ibu dari satu putri dan perencana keuangan paruh waktu.