Against Sustainability

936 Views |  Like

“I hate green architecture. I can’t stand the hype, the marketing claims… Grassy roofs? Swell! Recycled gray water to flush the toilets? Excellent! But if 500 employees have to drive 40 miles a day to work in the place—well, how green is that?
Cathleen McGuigan. The Bad News about Green Architecture. Magazine issue dated Sep 15, 2008

”The issue of sustainability is not about an add-on technology, nor about green representation”
H20BITAT, the Berlage Institute research report No. 25 with Freek Persyn and Laurens Tait

“Theoretically, no one can take a stand against Sustainability because there is no definition of it. Neither is there a history of Sustainability. The S-word seems to point to a universal idea, valid anywhere, at any time.”
Amir Djalali with Piet Vollaard. The Complex History of Sustainability.

Semakin hari semakin banyak desainer atau arsitek yang mengklaim pro-sustainable, bahkan saat ini hampir semua proyek pembangunan tidak terlepas dari kata sustainable development. Layaknya sebuah kata mujarab untuk memasarkan dagangan, meyakinkan klien bahkan untuk mengambil hati masyarakat.

Material Sustainable, beton sustainable, cat sustainable, komunitas sustainable, villa sustainable, sustainable casino, desain sustainable, gaya hidup sustainable, turisme sustainable, kota sustainable, makanan sustainable, sushi sustainable, dan lain lain. Apalagi yang mau kita ‘sustainable’-kan? Politik sustainable?

Sustainable telah digunakan, digunakan secara berlebihan dan bahkan disalahgunakan hingga makna nya sendiri selalu berubah setiap saat. Hype dari sustainable telah (secara tidak langsung) mengkorelasikan kata tersebut dengan elemen-elemen atau kata kunci. Dalam arsitektur, sustainable lebih mengarah pada terminologi green building, yang berupa optimasi standar konstruksi, efisiensi energi dan lain-lain. Sehingga, hari ini banyak orang mengerti dan mengartikan sustainable adalah gadget sustainable: photovoltaic cell, atap rumput, meng-hutankan site, jalusi pada fasad (baca: tampak muka bangunan) kaca, windmill, otomasi pada toilet, lampu hemat energi dan lain-lain.

Memang tidak mudah untuk membuat sebuah proyek yang bertajuk green building karena membutuhkan kerjasama yang solid dari berbagai pihak: arsitek, klien, konsultan struktur dan mekanikal, kontraktor. Tetapi, tak jarang sebuah mega-proyek di tengah ibukota jauh dari tempat tinggal berisi fasilitas komersial, kantor dengan berpuluh ribu meter persegi sekonyong-konyong disebut proyek sustainable karena mampu mengoptimasi energi, atau penggunaan photovoltaic cell yang memenuhi fasad bangunan. Jika dilihat secara terpisah, ya bangunan itu bisa diklaim sustainable dan memenuhi standar green building, tapi apa dampaknya dalam skala urban, proyek tersebut mengundang ratusan penggunaan kendaraan bermotor yang keluar masuk kota yang justru menghabiskan banyak energi, dalam hal ini bahan bakar fosil dan emisi.

Saat ini proposal sustainable di dunia lebih mengacu kepada pemenuhan standar yang berbeda-beda di setiap region, LEED, DGNB, Green Mark dan lain sebagainya. Dan kebingungan yang terjadi adalah sebuah bangunan yang dikategorikan A oleh LEED di Amerika belum tentu memiliki standar yang sama di Negara lain, misal Belanda. Jadi dengan standar yang ambigu seperti ini mungkin saja New York lebih sustainable dari Randstad Holland. Jadi sustainable itu menjadi sebuah hal yang relatif terhadap konteks.

Dalam diskusi peluncuran buku Green Dream[1] oleh Why Factory[2] yang dimoderatori oleh Winy Maas dibahas secara tegas permasalahan sustainability dan green architecture, yang lebih banyak mengarah kepada kritisisme terhadap green itu sendiri. Diantara beberapa poinnya adalah “Green buildings are ugly”, aspek green dalam bangunan hanyalah add on dan menjadi sebuah klise dengan ‘green’ look-nya, bahkan dilebih-lebihkan dengan pernyataan bahwa unsur paling indah dalam green building adalah roof garden yang hanya bisa kita lihat melalui google earth saja. Green ideology is Schizophrenic, memiliki banyak sisi dan bagai dua mata pisau yang tajam dan satu sisi bisa kontradiktif dengan yang lain, bahkan saat ini green menjadi religius, kita bisa lihat bagaimana Al Gore dengan inconvenient truth[3]-nya seolah menyebarkan ajaran agama keliling Amerika Serikat. Hal ini tidak jarang dijadikan sebuah argumen dalam mendesain. ‘Small deeds are not enough’, meng-hijaukan bangunan saja terlalu kecil dampaknya, kita harus melihat dengan skala urban, kota bahkan regional, bagaimana system infrastruktur kota, kondisi politik, serta paling penting adalah gaya hidup kita sendiri. Pada beberapa butir kesimpulan diskusi tersebut diatas adalah perlu adanya diskusi antara beberapa institusi green ini untuk membuat sebuah standar evaluasi yang pintar, yang dapat digunakan secara global, sehingga ada sebuah penilaian objektif antara bangunan yang baik dan tidak secara global. Sebuah Green City Calculator.

Green layaknya sebuah lantai yang licin dan kita mudah terpeleset bila tidak berhati-hati dalam melangkah. Ketidakhadiran konsensus dalam pengertian green tidak jarang membawa kontradiksi[4]. Banyak orang membela green tanpa pengertian yang baik tentang green itu sendiri atau tanpa informasi yang benar[5]. Dan energi yang tersalurkan untuk selalu mengeksporasi topik ini sungguh teramat besar, sedangkan krisis energi saja belum tentu benar adanya, telah banyak ditemukan energi alternatif yang niscaya akan menggantikan energi fosil.

Bagaimana jika kita mengerahkan energi besar eksplorasi green architecture dari kualifikasi ISO performatif bangunan ke arah pemahaman konteks urban. Dengan kata lain menunda hype green ini dan lebih membicarakan permasalahan kota, khususnya di tanah air. Bagaimana menyelesaikan permasalahan bekerja dan bermukim (working-living) yang bisa hidup berdampingan, bukan malah mengkonsentrasikan bisnis di suatu area dan tempat tinggal di tepian kota, yang notabene akan mengundang komuter keluar-masuk kota yang luar biasa padat.

Atau pemanfaatan banjir sebagai salah satu sumber daya alam yang mampu dikelola, atau proyek revitalisasi sungai yang mungkin sudah mulai berjalan, yang mampu memperbaiki ekosistem secara bertahap dan mampu memperbaiki kualitas hidup kita secara berkala. Atau penyelesaian masalah daerah kumuh di kota yang berpengaruh besar dalam pertumbuhan kota tetapi di sisi lain jarang dilirik seorang arsitek untuk direncanakan dan di desain.

Bagaimana dengan medesain bangunan tanpa mengkonsumsi material berlebih-lebihan dalam pembangunan, yang bukan semata-mata untuk mengejar sebuah form dan sebuah efek desain atau demi mengejar gaya star architect semata. Masih banyak hal yang bisa kita tawarkan sebagai seorang intelektual dan seorang arsitek kepada masyarakat mengenai green yang bukan melulu representasi. Akankah lebih baik jika kita salurkan energi kita ke arah penyelesaian permasalahan tersebut, bukankah kita agent of change?

Jadi sebuah kota sustainable bukanlah semata-mata kota nol emisi dan hemat energi, tetapi kota yang mampu mengambil manfaat bahkan mengelola konteks, konflik, potensi, friksi, dan mengolahnya demi kepentingan kota dan penduduknya dan menjadikannya self sufficient entity. Mungkin sebuah kesimpulan yang dapat ditarik bahwa bila green sudah menjadi gaya hidup kita, tugas kita sebagai arsitek terhadap isu ini telah selesai, sehingga kita harus menghadapi tantangan baru setelah ini (what challenges will we face, now than green is over…?)

Should we stop abusing green, stop this debate and start to think to solve problems in society…

(Ivan Kurniawan Nasution)


[1] Green Dream. Why Factory. NAi Publishers. 2010.

[2] The Why Factory is a global think-tank and research institute, run by MVRDV and Delft University of Technology and led by professor Winy Maas.

[3] An Inconvenient Truth, directed by Davis Guggenheim ,Al Gore’s campaign to educate citizens about global warming via a comprehensive slide show.

[4] Greening the GATT, Institute for International Economics, 1994

[5] Green Dream: how future cities can outsmart nature. Nai Auditorium. 20 May 2010

Ivan Nasution
Ivan Nasution lulus dari Arsitektur ITB pada tahun 2006, lalu bekerja di Park+Associates Architect, Singapura. Di tahun 2011, ia menyelesaikan pendidikan penelitian pascasarjana di Berlage Institute Rotterdam. Saat ini menjadi peneliti di Centre for Sustainable Asian Cities, National University Singapore. Di sela waktu luangnya, ia aktif menjadi fasilitator bagi Participate in Design, sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang desain, perencanaan, dan pendidikan.