Adaptasi Konteks, Menjaga Kejeniusan Jaman

1694 Views |  Like

Adaptasi

Sebuah karya Frank Llyod Wright, Falling Water, duduk dengan elegannya di tepi sungai. Wright seakan-akan menjawab tantangan dari Lewis Mumford akan harapan terhadap generasi arsitek yang bisa menghadirkan desain yang kontekstual, dan menginspirasi generasi arsitek setelahnya di sela-sela deruan gaya-gaya arsitektur yang ada seperti gaya Romawi, Yunani, Neo-gothic, Romanesque, Byzantine di masa 1938, saat dimana buku Culture of the Cities diterbitkan. Mumford menggaris bawahi pentingnya kejujuran mendapatkan inspirasi dalam berkarya.[1] Kejujuran ini dekat artinya dengan menjawab kebutuhan yang ada, baik itu kebutuhan bermukim, kebutuhan akan tempat untuk berjualan (daerah komersial), ataupun kebutuhan tempat akan bangunan pemerintahan.

Falling Water yang di desain oleh Frank Llyod Wright. (Photo: discoversouthwestnm)

Falling Water yang di desain oleh Frank Llyod Wright.
(Photo: discoversouthwestnm)

Aula Barat Institut Teknologi Bandung (Photo: itb.ac.id)

Aula Barat Institut Teknologi Bandung (Photo: itb.ac.id)

Bangunan-bangunan kosong banyak diubah fungsinya ketika mereka berada di lokasi yang strategis dan memiliki kualitas desain yang bisa dieksploitasi, di sini faktor ekonomi mulai memainkan peranannya dan definisi preservasi mulai muncul. Ada semacam penghargaan dari masyarakat setempat terhadap sebuah bangunan berdasarkan kebutuhan untuk apa ia digunakan. Beberapa contoh diantaranya bangunan yang terdapat di Surry Hills Sydney, bangunan komersial di jalan Braga Bandung, Garment district di New York, menunjukkan bahwa tidak hanya bangunan tersebut berfungsi sebagai penanda jaman, namun kualitas bahan yang ada seringkali tidak bisa digantikan dengan kualitas yang sama di jaman yang lebih maju. Hal ini dikarenakan biaya yang diperlukan menjadi teramat mahal. Sebagai contoh, pada saat pemerintah jepang memindahkan Imperial Hotel yang didesain oleh Frank Lloyd Wright dari Tokyo karena hancur oleh gempa, mereka hanya membangun bagian lobby saja karena permasalahan biaya. Proses adaptasi dan re-adaptasi itu selalu terjadi untuk membawa monumen arsitektur ini ke masa depan berdasarkan kebutuhan masyarakat yang berbeda dari dulu, sekarang, dan masa depan. Contoh yang diambil dari Ghiradelli Square berikut mengilustrasikan desain preservasi yang kompleks, kaya akan rajutan keterbatasan, dan rajutan kepentingan mengenai untuk apa bangunan itu dibangun dimana selalu perlu didefinisikan kembali fungsinya dari waktu ke waktu.[2]

Ghiradelli Square

Pada tahun 1893, keluarga Ghirardelli membeli sebidang tanah yang dikelilingi Jalan North Point, Jalan Larkin, Jalan Beach, dan Jalan Pol di San Francisco. Lahan tersebut memiliki kontur kemiringan ke arah Sungai San Francisco. Mereka membangun sebuah pabrik pembuatan coklat yang terbuat dari bata merah untuk sebuah perusahaan pembuat coklat yang didirikan oleh Domingo Ghirardelli pada tahun 1849. Komplek tersebut dibangun di antara tahun 1900 sampai 1916. Di sini terjadi proses desain dari sebuah lahan kosong, adaptasi pun terjadi kebutuhan itu muncul dari kebutuhan untuk membuat coklat sebagai bagian dari bisnis.

Susunan Massa Bangunan di Ghirardelli Square.(Photo: Lang, 2005)

Susunan Massa Bangunan di Ghirardelli Square.(Photo: Lang, 2005)

Pabrik tersebut adalah salah satu karya arsitektur yang memiliki kualitas detail yang baik yang dibangun dengan struktur bata yang diekspos dengan pengerjaannya yang rapih sehingga diakui oleh San Francisco’s Landmark Presevation Board[3] sebagai satu bangunan yang harus dipreservasi.  Namun, perusahaan tersebut merugi dan lahan tersebut perlahan – lahan kosong dimana kemudian menyisakan sebagian kecil dari bangunan yang masih beroperasi. Area tengah dari komplek tersebut terbuka dan memiliki pandangan ke Sungai San Francisco, pertanyaan yang muncul adalah apa yang bisa dilakukan dengan komplek tersebut?  Salah satu pilihan tentunya adalah menghancurkan pabrik tersebut dan membangun apartmen.

Namun sayangnya tata guna lahan Ghirardelli Square membatasi ketinggian dari bangunan di kompleks tersebut mengingat lokasinya ada di sepanjang sisi sungai. Tata guna lahan tersebut dibuat dengan tujuan, yang pertama untuk menjaga horison kota yang dilihat dari Russian Hill, bukit di sekitar lahan tersebut. Yang kedua, untuk menjaga karakter dari kota yang dihasilkan oleh topografi kontur yang ada.

Prihatin dengan tidak adanya kepentingan publik yang diperjuangkan dengan pembangunan apartmen yang ada, William Matson Roth membeli area tersebut dengan tujuan merenovasi komplek tersebut. Ia menunjuk firma arsitektur Wurster, Bernardi and Emmons dan konsultan lansekap Lawrence Halprin dan John Matthias. Proyek tersebut adalah proyek renovasi dua tahap, yang pertama selesai tahun 1965 untuk operasional pabrik coklat yang tersisa, yang kedua selesai pada 1967. Masalahnya adalah bagaimana memasukkan 68 buah kios untuk berjualan dan 15 buah restauran dengan menyediakan parkir untuk 300 buah mobil, sementara ruang terbuka dari Ghirardelli Square  dan karakter bangunan tersebut harus tetap dipertahankan.  Di sini proses adaptasi ulang pun terjadi, dan iterasi adaptasi desain terjadi kembali nantinya karena kebutuhan pun berubah.

Perbedaan kontur yang dipergunakan untuk menempatkan 5 lantai parkir mobil. (Photo: Lang, 2005)

Perbedaan kontur yang dipergunakan untuk menempatkan 5 lantai parkir mobil. (Photo: Lang, 2005)

Parkir lima lantai diletakkan di area bawah tanah, di bawah ruang terbuka yang ada dengan memanfaatkan kontur yang menurun ke arah sungai. Tempat berjualan dan restauran ditempatkan di sekitar plaza besar yang didesain ulang dengan akses menuju plaza-plaza yang lain dengan memanfaatkan permainan kontur. Kompleks ini kemudian menjadi tempat yang dicintai oleh warga San Francisco dan terkenal sebagai tempat tujuan turis.  Kompleks ini menjadi satu contoh adaptasi dan apropriasi yang bisa dilakukan terhadap komplek industrial.

Pada tahun 1982, Roth menjual kompleks ini ke perusahaan asuransi dan developer, North western Mutual Life Insurance Company dan Real Estate West. Dua organisasi ini menunjuk Edward Plant Company untuk mengatur bisnis retail yang ada. Roth mengusulkan ke Edward Plant Company untuk menunjuk Thompson dan Lanier sebagai firma arsitektur yang menangani perubahan Ghirardelli Square. Thomson sendiri adalah seorang juri dari Progressive Architecture Award yang memberikan penghargaan ke Ghirardeli Square dan Albert Lanier adalah penasihat dari Roth. Tim desain ini kemudian merumuskan visi untuk meningkatkan bisnis retail yang ada dengan beberapa misi yaitu, (1) meredefinisikan kembali citra dari Ghirarderi Square, (2) mempermudah akses pengunjung yang disebabkan oleh perbedaan ketinggian, (3)  menghilangkan jalan buntu yang membuat kios tidak laku dan (4) adalah menambahkan anchor, toko besar sebagai penarik pengunjung sebesar 980 m2 sebagai kebutuhan utama.

Ghirardelli square

Ghirardelli square

Tampak depan dari setiap kios didesain untuk mempermudah pengunjung melihat ke dalam dengan bukaan yang lebar dan memodernkan citra Ghiradelli Square dengan perbaikan dan penambahan bata merah sebagai ekspresi dari bangunan, penambahan signage dan petunjuk jalan terbuat dari kayu. Tim desain ini juga merespon kebutuhan yang dimiliki bangunan komersial seperti bagaimana neon sign yang akan ditempatkan di depan muka bangunan secara hati-hati.  Semua perubahan harus sesuai dan dengan anjuran dari San Francisco’s Landmark Preservation Board.  Tidak hanya desainnya yang diubah namun juga dengan pemilihan kios yang ada mencakup merek-merek yang bergengsi juga restoran yang memiliki area luar untuk orang menikmati udara luar. Festival-festival seni juga diadakan secara berkala [4]. Citra kuno yang sebelumnya ada perlahan-lahan tergantikan oleh citra yang baru, sebuah citra yang baru, terbuka, dan muda, di mana semua orang datang untuk bersosialisasi di tempat ini.

Sebagai hasil dari renovasi ini, dalam 4 tahun, hasil penjualan kotor toko-toko di area Ghirardelli Square meningkat sekitar 50%,  dan penghasilan bersih meningkat sekitar 60%. Hal ini menjadi sebuah contoh bagaimana Ghirardelli Square bisa berkembang selaras dengan bangunan preservasi yang ada; perencanaannya juga merespons kebutuhan yang baru seperti kebutuhan akan anchor dan tempat parkir dalam keterbatasan yang ada, yang notabene ini adalah murni proyek swasta bukan proyek pemerintah.

Suasana malam Ghirardelli square

Suasana malam Ghirardelli square

Kesimpulan

To preserve berarti menjaga supaya kondisi yang ideal tetap terjadi. Untuk itu, dalam hal ini arsitektur atau bangunan yang akan dijaga, perlu dinilai oleh badan khusus yang memang memliki kompetensi menjaga nilai preservasi dari lingkungan binaan untuk selalu mempertanyakan apakah ia layak untuk dijaga. Kaitan yang ada bukan dari segi bagaimana bangunan bisa berdiri sendiri dalam terpaan jaman, namun bangunan preservasi yang baik harus mampu beradaptasi terhadap kebutuhan yang baru, menambah nilai baru, apakah itu bangunan komersial, bangunan pemerintahan, ataupun bangunan residensial. Ghirardelli Square menjadi salah satu contoh yang baik dalam bangunan perencanaan komersial di tengah kota dimana nilai preservasi tetap dijaga dan selaras.

Manusia Berubah, kemudian Arsitektur berubah karena memang kebutuhannya berubah, begitupun preservasi, kebutuhan mungkin bisa berubah, proses untuk menjawab kebutuhan yang lebih baik ini adalah sebuah penghargaan yang semoga saja tidak langka.


[1] Lihat harapan Lewis mumford dalam bukunya Culture of the Cities dicetak 1938 oleh Lund Humpries London hlm. 402-406

[2] Pembahasan kasus studi Ghirardelli dibahas didalam Urban Design a typology of procedures and products. Ref : Lang, Jon (2005). Urban Design A Typology of Procedures and Products Elsevier Ltd. Oxford hlm. 140 – 143

[3] San Francisco’s Landmark Preservation Board sendiri adalah sebuah lembaga yang mengatur preservasi dari bangunan – bangunan di San Francisco. Lihat http://www.sf-planning.org/index.aspx?page=1892.

[4] Beberapa acara regular bisa dilihat di http://www.ghirardellisq.com, http://www.fairmontheritageplace.com/heritageplace/ghirardelli untuk mengetahui bagaimana merespons kebutuhan komersial didalam penyusunan mendesain preservasi bangunan.

Realrich Sjarief
Arsitek, sekaligus suami dari dokter gigi Laurensia Yudith adalah Principal Architect di > O + Workshop dan RAW architecture Pernah berkerja untuk Lord Norman Foster di London. Karyanya untuk Charles dan Irene, Bare Minimalist mendapatkan finalis IAI Award Jakarta 2012. Selain itu di-samping berpraktek sebagai arsitek, ia aktif sebagai dosen mengajar di Universitas Pelita Harapan.