10 SENTOSA COVE

5021 Views |  Like
Tampak samping (Foto: CZARL Architects)

Tampak samping (Foto: CZARL Architects)

“Saya ingin dibuatkan Taj Mahal.”

Begitulah kurang lebih permintaan Pak Dadlani. Bapak ber anak dua ini merupakan salah satu klien kami. Walaupun beliau telah lama menetap di Singapura, namun beliau masih mengedepankan kultur dan budaya India-nya. Lahan seluas 1000 meter persegi yang baru dibelinya ingin ia segera tempati bersama keluarganya. Pak Dadlani merupakan salah satu orang yang dapat dikategorikan berada di tingkat ekonomi menengah ke atas.

Menurut kami, seiring dengan naiknya tingkat ekonomi seseorang, naik pulalah derajat rumah orang tersebut. Bagi para pemilik lahan di Sentosa Cove, rumah bukan hanya untuk berkumpul dengan keluarga dan berlindung dari hujan, tapi juga merupakan perpanjangan tangan akan status mereka.

Sentosa Cove berada di Pulau Sentosa yang memakan waktu kurang lebih satu jam berkendara dari pusat kota.  Masterplan rancangan Bernard Spoerry, McKerrell Lynch Architects, dan Klages, Carter&Vail ini memang terkenal sebagai perumahan tempat para arsitek memamerkan disainnya. Jika anda berkesempatan berkunjung kesana, anda dapat melihat berbagai bentukan rumah, mulai dari yang bergaya tropis sampai yang berkesan futuristik. Dengan luas kawasan lebih dari 117 hektar, perumahan ini dapat menampung lebih dari 2500 rumah.

Pihak pengelola Sentosa Cove sendiri mempunyai beberapa peraturan disain yang diharapkan dapat menjadi benang merah antara satu rumah dan rumah yang lain; seperti keharusan untuk menggunakan atap miring sebesar 50% dan pemilihan warna material eksternal yang diharuskan senada dengan warna-warna natural. Hal tersebut kami rasakan cukup berhasil membawa keseragaman di dalam Sentosa Cove.

Berangkat dari gagasan bahwa rumah ini harus berkesan megah namun tidak terkesan seperti benteng, kami memutar otak, berusaha untuk menerjemahkan keinginan serta kebutuhan mereka dalam bentuk disain. Beberapa diskusi dan presentasi pun dilakukan untuk menentukan disain yang sesuai dengan karakter Pak Dadlani dan keluarganya.

Setelah sempat tertunda selama 1,5 tahun, akhirnya pada tahun 2010 silam, proyek ini mulai  memasuki tahap konstruksi. Secara garis besar, rumah ini didisain untuk menjembatani kebutuhan dua generasi yang berbeda  namun tetap memberikan privasi terhadap aktivitas masing-masing penghuni. Hal ini dapat terlihat dari pengelompokan ruang yang terdiri dari tiga blok massa. Blok pertama berada di bagian depan rumah, terdiri dari ruang-ruang publik, seperti ruang tidur tamu, ruang makan formal, dan ruang teater mini. Sedangkan blok ke dua terdiri dari dapur, ruang keluarga, ruang kerja, dan kamar utama. Blok ke dua tersebut berada di bagian kanan, yang sebagian besar sisinya menghadap ke rumah tetangga. Blok terakhir, yaitu blok ke tiga, terdiri dari kamar tidur anak-anak dan ruang tamu. Blok ini berada di bagian kiri, menghadap ke lahan kosong yang memang diperuntukkan untuk tidak dibangun. Ketiga blok massa inilah yang akan kemudian dibalut dalam bentukan arsitektur, yang tidak berusaha memisahkan kegiatan di dalam rumah dengan aktivitas di luarnya.

Denah (Ilustasi: CZARL Architects)

Denah (Ilustasi: CZARL Architects)

Sirkulasi memegang peranan penting dalam rumah ini. Permainan antara koridor terbuka dan tertutup serta balkon yang saling terhubung, tidak hanya memberi keleluasaan bagi mereka untuk berpindah dari satu ruang ke ruang lain, tapi juga memberikan kenikmatan visual bagi yang melewatinya.

Dari sekian banyak gagasan, beberapa diantaranya berhasil terejawantahkan. Salah satunya adalah dengan meletakkan ruang-ruang publik seperti ruang tamu dan ruang makan formal di bagian depan lantai dua menghadap jalan utama. Sementara ruang-ruang privat, seperti kamar tidur anak, dapur, dan ruang keluarga justru diletakkan di lantai dasar. Hasil rumusan  tersebut di harapkan menimbulkan kesan ‘mengundang’ namun tidak mengumbar privasi.

Tamu yang berkunjung ke rumah ini tidak akan disambut dengan dinding tinggi yang berkesan angkuh, melainkan oleh lobi terbuka setinggi dua lantai yang didalamnya terdapat jejeran anak tangga yang menghantarkan seseorang ke ruang tamu yang terletak di lantai dua. Anak-anak tangga tersebut merangkul sebuah struktur berbentuk silinder yang selubungnya merupakan rangkaian panel baja ringan. Panel-panel tersebut membungkus tangga spiral yang menghubungkan lantai basemen dengan lantai satu dan lantai dua dengan ruang terbuka di atap. Masing-masing panel tersebut mempunyai lubang yg di atur sedemikian rupa, sehingga pada malam hari, struktur silinder ini akan berpendar dan menghasilkan bayangan yang menarik di sekitarnya.

Gagasan lainnya yang berhasil diaplikasikan adalah mengambil contoh dari rumah courtyard, yaitu ruang publik berupa kolam renang, sengaja diletakkan di tengah rumah. Dengan penempatannya yang berada di tengah-tengah, seolah-olah mendorong ketiga blok massa tersebut menjauhi pusat. Kondisi ini menciptakan air well yang membantu sirkulasi udara mengalir dengan lebih baik. Tidak hanya dari segi penghawaan, kolam renang ini pun menjadi pemandangan yang menarik bagi orang-orang yg sedang berjalan dari satu ruang ke ruang lainnya. Di awali dengan dinding bermaterialkan batu vulkanik setinggi dua lantai dan diakhiri dengan panel kaca, kolam renang ini menjadi jembatan antara dapur yang terhubung dengan ruang keluarga dan kamar tidur anak-anak.

Pencahayaan alami bukanlah sesuatu yang langka bagi rumah ini. Sebagai contohnya pada ruang tamu yang terletak di lantai dua. Ruang ini terbungkus kaca yang menjulang dari lantai sampai langit-langit di ketiga sisinya. Namun demikian, aksesoris interior berupa tirai, siap di gunakan jika dirasa sinar matahari yang masuk terlalu menyilaukan. Di sisi yang berlawanan, kamar anak-anak yang berada di bawahnya, lebih mempunyai kesan tersembunyi. Dengan tetap memperhatikan pencahayaan dan penghawaan alami, kamar-kamar ini di posisikan sedemikian rupa agar juga memfasilitasi kebutuhan penghuni yang menaruh minat besar pada musik dan fotografi. Panel-panel geser, yang juga berfungsi sebagai filter sinar matahari, dan beberapa tanaman di sisi rumah menambah kontras visual dua fungsi ruang tersebut.

Tampak belakang (Foto: CZARL Architects)

Tampak belakang (Foto: CZARL Architects)

Kamar tidur utama kami letakkan di lantai dua, di bagian belakang rumah, sebagai salah satu cara memberikan privasi bagi si Tuan rumah. Kamar tidur yang menghadap ke sungai yang mengalir sepanjang pantai Sentosa ini terhubung secara visual dengan ruang meditasi di atasnya. Disinilah aspek religi menjadi bagian dalam pengambilan keputusan penempatan sebuah ruang. Ruang yang memungkinkan terjadinya hubungan batin dengan Sang Pencipta ini ditempatkan di lantai teratas, mengisyaratkan tidak adanya batas antara ke duanya.

Jika anda melangkah keluar dari ruang meditasi ke arah ruang terbuka di atap rumah ini, anda dapat dengan leluasa melihat ke sekeliling kawasan. Dua buah tangga yang terletak pada sisi berlawanan, menghubungkan ruang terbuka di atap tersebut dengan lantai-lantai dibawahnya.

Rumah belum tentu menjadi tempat tinggal yang nyaman. Pencahayaan alami dan sirkulasi udara yang baik merupakan dua syarat penting dalam mencapai kenyamanan. Namun hal yang paling utama menurut kami adalah perhatian terhadap karakter dan pola hidup si pemilik rumah agar dapat dimunculkan dalam disain sebuah rumah.

CZARL Architects
Biro Arsitek yang didirikan tahun 2008 ini di prakarsai oleh Carl Lim dan Anditya Dwi Saputra. Latar belakang pendidikan dan karakter yang berbeda membuat keduanya tidak lepas dari diskusi argumentatif. Hal tersebutlah yang membawa biro ini bergerak dinamis diantara dunia disain yang terus berkembang. Mereka percaya bahwa ide dapat datang dari mana saja. Oleh karenanya biro yang berdomisili di Singapura ini tidak hanya membatasi dirinya dalam arsitektur, namun juga interior, disain produk, bahkan disain grafis sekalipun pernah dicicipi mereka. Keinginan mereka untuk terus menghasilkan ide-ide kreatif membuahkan hasil di ajang World Architecture Festival tahun 2012 dimana tiga dari disain mereka berhasil masuk nominasi.