ruang merupakan segenap mahasiswa kehidupan nyata dari dunia arsitektur yang hendak berbagi curahan hati dan emosi yang ada di dalam otak dan jiwa kami melalui artikel, fotografi, karya seni maupun proyek-proyek arsitektural.

cara menikmati ruang:
1. Membaca e-magazine ruang
(silakan klik: http://www.ruangmagz.com)
Membaca ruang per-edisi yang telah didesain dengan tampilan yang menarik dan artikel yang lebih lengkap.

2. Mengunduh e-magazine ruang
Dikemas dalam bentuk pdf high-resolution dan low-resolution untuk diunduh (silakan masuk ke pilihan download), atau mengunduh melalui Melalui sharing media:
- issuu: klik berikut http://issuu.com/akudanruang
- slideshare: http://www.slideshare.net/akudanruang
- scribd: http://www.scribd.com/akudanruang

3. Membaca artikel pilihan dari web-blog ruang
Silakan membaca artikel-artikel pada web-blog ruang.

Selamat menikmati ruang
ruang | kreativitas tanpa batas

e-magazine arsitektur ruang hadir kembali dengan tema  “Ruang Publik”. Pada edisi 06|2011 kali ini, ruang menampilkan beberapa artikel mengenai ruang publik dari sudut pandang arsitektur atau urban design.

Ruang mengajak pembaca mengenali dan mempertanyakan kembali makna ruang publik di Indonesia. Ruang mungkin mencoba menggelitik untuk menginisiasi penghadiran kehadiran ruang publik. Seperti apa itu ruang publik. Apakah seperti taman-taman di benua biru sana? Nilai-nilai apa saja yang hadir dalam ruang publik. Dapatkah ruang publik dihadirkan dalam bentuk kesederhanaan di negeri Indonesia ini?

Tak hanya menampilkan sisi ruang publik di Indonesia, ruang menghadirkan beberapa sudut pandang dari kacamata internasional. Apakah ada pelajaran yang bisa kita ambil dari ruang publik di luar negeri untuk kemudian ditransformasikan dan diadaptasikan dengan nilai budaya Indonesia?  Kontributor Yuzni Aziz mengangkat tema Gotong Royong pada ruang publik di Indonesia. Sandy Putranto berbagi pengetahuan mengenai ruang publik setempat dari kesehariannya di Hong Kong . Ivan K. Nasution memberikan pandangan mengenai Mall di Jakarta sebagai ‘ruang publik’. Makna kematian pada ruang publik diangkat oleh Tiffa pada edisi ini. Dan masih banyak artikel Ruang Publik lainnya di edisi kali ini.

Selamat menikmati ruang melalui sharing media (scribdslideshareissuu) atau klik link berikut untuk mengunduhnya: e-magazine

Yuk, mengenal arsitektur dengan membacaruang.
Salam ruang

e-magazine arsitektur ruang hadir kembali dengan tema yang mendasar, yakni “Arsitektur”. Pada edisi 05|2011 kali ini, ruang mencoba mengumpulkan ide, gagasan, opini, dan manifestasi dari arsitektur saat ini.

Artikel “Arsitek, berkata dalam berkarya” menggambarkan mengenai fungsi kehadiran arsitektur. Artikel “Arsitektur Abad 21″ mempresentasikan isu arsitektur terkini. Arsitek Yu Sing ikut berbagi pandangannya mengenai arsitektur pada karya integritas arsitektur. Artikel “Anda ingin jadi arsitek?” karya arsitek Dony Pasaribu memberi gambaran praktis mengenai hal-hal fundamental dalam berarsitektur. Ruang fotografi melengkapi perspektif terhadap arsitektur dari kacamata fotografer dan arsitek. Khairul Mahadi, Adriyan Kusuma, Fauzan Rahmat Purnomo dan Anastasia Widyaningsih berpartisipasi pada ruang fotografi. Dan masih banyak artikel lainnya yang bisa dinikmati dengan tampilan yang menarik dan bahasa yang familiar.

Selamat menikmati ruang melalui sharing media (scribdslideshareissuu) atau klik link berikut untuk mengunduhnya: e-magazine

Yuk, mengenal arsitektur dengan membacaruang.
Salam ruang

makna.

Bila kita berkaca pada arsitektur tradisional/nusantara, arsitektur sanggup melampaui batas-batas fisik (fungsi arsitektur). Arsitektur juga dipakai sebagai medium bagi makna kehidupan yang lebih luas (nenek moyang kita menitipkan warisan makna di berbagai hal, tidak hanya melalui elemen arsitektur, tetapi juga melalui dongeng/cerita rakyat, lagu daerah, motif ornamen, motif tenun, motif batik, dll). Misalnya dalam tata ruang kampung adat sunda, sampai sekarang wilayahnya terbagi menjadi 3 bagian, yaitu: permukiman, perkebunan, hutan keramat.

Arsitektur tidak hanya tentang tipologi rumahnya (yang juga banyak makna) tetapi juga keseimbangan lingkungan alamnya yang terbukti lestari. Bumi kita akan memiliki keseimbangan alam yang baik bila prinsip ini dipakai pada setiap perencanaan lahan.

Pada motif dayak perintai lima memiliki makna peringatan pada manusia untuk memelihara kelestarian hutan agar tidak rusak oleh ulah manusia sendiri. Tampaknya peringatan ini sudah dilupakan, setiap tahun 1,5-2 juta hektar hutan di Indonesia hilang akibat berubah fungsi. Tentu saja keseimbangan alam terganggu, gajah, orangutan, burung, dll kehilangan tempat tinggal. Motif dayak dengan makna yang adiluhung menjangkau kelestarian masa depan, telah melampaui fungsinya sebagai ornamen semata. Lagi-lagi (elemen) arsitektur sebagai medium makna dapat melampaui fungsi arsitektur semata.

adaptasi motif dayak akar betaut (persatuan & kesatuan manusia) sebagai fasad rumah

Demikian pula proses upacara dalam pendirian banyak rumah adat di indonesia seringkali berhubungan dengan kepercayaan masyarakat akan nilai-nilai ilahi, kesejahteraan dan keselamatan warga, juga penghormatan/penghargaan terhadap alam. Budaya upacara tersebut diwariskan turun temurun menjadi tradisi. Tradisi melahirkan integritas masyarakatnya apabila memahami dan menghidupi makna yang terkandung dalam tradisi tersebut.

integritas.

Pentingnya integritas (budaya tradisi, cara memandang hidup, cara menjalani hidup) seringkali dijaga dengan cara membatasi pengaruh luar modernisasi. Misalnya lagi di kampung2 adat sunda, modernisasi dibatasi atau dilarang. Pelestarian budaya adat membuatnya menjadi latar pembelajaran banyak pihak, termasuk peneliti2 luar negeri. Kampung adat menjadi menarik karena berani berbeda. Tidak mudah larut dalam globalisasi keseragaman. Bahkan dalam beberapa kampung, jumlah warga dibatasi, kemungkinan juga karena kesadaran atas keterbatasan daya dukung lingkungan. Hal ini bertolak belakang dengan kecenderungan ‘manusia modern’ yang relatif lebih suka mengeksploitasi alam demi keuntungan sesaat.

Dapat dibayangkan betapa sulitnya warga kampung adat itu memelihara integritas (nilai2 hidupnya) dalam menghadapi kecepatan perubahan jaman.

Beberapa juga terjadi asimilasi tanpa meninggalkan akar budayanya. Melalui integritas, nilai-nilai kebijaksanaan filosofi hidup terpatri dalam cara hidup keseharian. Arsitektur bukan hanya tentang proporsi, komposisi, teknis konstruksi tetapi juga tentang menemukan diri. Budaya membantu manusia menemukan dan memiliki integritas.

Dalam dunia saat ini, manusia dituntut berjalan makin cepat, bertindak cepat, berpikir cepat. Tidak ada cukup ruang dan waktu bagi perenungan. Mungkin juga bagi budaya. Perlahan-lahan tapi pasti, kita sedang menyaksikan evolusi pemusnahan budaya yang beragam. Keseragaman (arsitektur) terjadi dari aceh sampai papua (1). Arsitektur tradisional hanya masa lalu yang layak dilestarikan saja tanpa dikembangkan sesuai konteks masa kini, seolah-olah seperti itulah yang  terjadi.

Manusia yang meninggalkan budaya seringkali juga melupakan pentingnya integritas. Larut dalam arus dunia (yang lebih mementingkan popularitas).

keberpihakan.

Ilmu pengetahuan dikembangkan untuk kesejahteraan semua mahluk. Arsitektur bukan hanya untuk melayani dirinya sendiri. Arsitektur merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari lingkungan alam, budaya, dan kemanusiaan (selain hal-hal teknis teknologinya).  Dengan demikian, arsitek bersama arsitekturnya perlu menempatkan diri dalam konteks persoalan yang dihadapi alam, budaya, dan manusia.

alam.

Sungguh sayang, arsitektur selama ini cenderung dimiskinkan dengan hanya melayani kepentingan ekonomi. (Keseimbangan) Alam merupakan hal paling pertama yang dikorbankan. Koefisien Dasar Bangunan/KDB hanya hitungan matematis dan diakali. Ruang bawah tanah diberikan koefisien yang lebih besar dari KDB. Sisa KDB dijadikan area perkerasan parkir. Ruang terbuka hijau nyaris nihil. Pepohonan hanya pemanis yang dibuat-buat. Arsitektur hanya barang dagangan, yang mudah dilacurkan untuk kepentingan ekonomi. Uang rajanya. Apapun dapat dibeli. Arsitek tak berdaya. Peraturan mandeg demi uang pelicin yang besar. Seolah-olah ekonomi adalah monster rakus kekanak-kanakan yang harus selalu menang, tidak bisa dihentikan. Alam jadi bulan-bulanan. Berarsitektur makin sulit dan mahal ketika alam makin rusak.

budaya.

Bumi diciptakan Sang Pencipta dengan beraneka kondisi alam. Konteks berbeda-beda melahirkan budaya yang juga beraneka ragam. Budaya dan kondisi alam yang bhineka melahirkan pula arsitektur

yang bhineka (2). Namun kecenderungan era globalisasi dan informasi ini justru keserupaan dan keseragaman. Kekayaan (arsitektur) nusantara berada terutama di bawah tanggung jawab arsitek yang dilahirkan dan dibesarkan di tanah Indonesia (3).  Pengembangan arsitektur nusantara dalam konteks kekinian terutama merupakan tantangan arsitek-arsitek indonesia, yang juga telah diperkaya oleh ilmu-ilmu arsitektur yang sebagian besar tumbuh di barat. Kekayaan warisan masa lalu sepantasnya pula melahirkan karya-karya arsitektur nusantara mengkini yang kaya dan bhineka. Karya-karya tersebut akan menjadi karya-karya arsitektur yang khas dan berakar pada budaya Indonesia (yang beragam). Dan selanjutnya dapat ikut memberi warna pada kebhinekaan arsitektur dunia.

manusia.

Keberpihakan arsitektur tidak lengkap tanpa melayani kemanusiaan. Arsitektur merupakan kebutuhan semua manusia tanpa kecuali dan tidak terbatas oleh kalangan ekonomi atas saja. Namun selama ini arsitektur lebih condong melayani kebutuhan ekonomi semata-mata (seringkali juga alam dan budaya dikorbankan).

Kemiskinan adalah keniscayaan yang hadir di semua negara. Angka kemiskinan di Indonesia cenderung tinggi dan kalangan hampir miskin sangat rentan untuk jatuh miskin ketika berhadapan dengan aneka kenaikan harga atau krisis (4).

Perhatian lebih banyak hendaknya diberikan kepada golongan yang lebih lemah. Kenyataannya pemerintah kota pada umumnya lebih berpihak kepada kepentingan golongan menengah dan atas, termasuk menyerahkan kebijakan pada hukum rimba pasar yang tidak adil. Pemilik modal besar makin menguasai pusat-pusat kota. Masyarakat kecil semakin tersisih ke pinggiran kota dengan biaya transportasi yang lebih mahal dan waktu bersama keluarga yang makin sedikit.

Di banyak kota di Indonesia, perkembangan mini-supermarket dan mal menjamur di berbagai pelosok. Warung-warung rakyat kecil dan pasar tradisional makin sulit bertahan karena tidak terlindungi dan dibiarkan melawan hukum rimba ekonomi. Jauh lebih sulit menemukan mahasiswa dan arsitek Indonesia yang hebat mendesain pasar tradisional daripada fasilitas komersial mewah.

Lebih sulit pula menemukan fasilitas pedagang kaki lima yang dirancang dengan baik daripada berita-berita pengusurannya di berbagai kota (5).

Arsitek merupakan profesi yang sangat mudah dimanfaatkan untuk kepentingan pemilik modal sebagai pemberi tugas. Arsitek dengan demikian menjadi profesi yang sangat rentan. Bila bertemu dengan pemberi tugas yang peduli pada alam, budaya, dan manusia, maka arsitek diuntungkan karena mengerjakan karya yang juga akan bernilai positif. Tapi sebaliknya bila pemberi tugas hanya mementingkan nilai ekonomi semata-mata, menghalalkan segala cara untuk keuntungan ekonomi saja, arsitek pun ikut terlibat di dalamnya. Namun arsitek sebetulnya juga memiliki pilihan. Pilihan untuk menjaga integritas, melalui proses diskusi memberikan banyak pertimbangan kepada pemberi tugas untuk juga peduli kepada alam, budaya, dan manusia. Atau menolak pekerjaan-pekerjaan yang bertentangan dengan hati nurani (walaupun memiliki nilai ekonomi yang besar). Betapa terlalu banyak sudah proyek-proyek yang merusak alam, budaya, manusia. Betapa terlalu banyak sudah kebocoran uang rakyat pada proyek-proyek gedung pemerintah di negara ini. Tapi masih bisakah arsitek Indonesia menolak pekerjaan? Apakah integritas masih dipentingkan? Apakah arsitek hanya bisa menunggu? Atau masih bisa ‘menciptakan’ kesempatan untuk berkarya demi kebaikan alam, budaya, manusia?

juni-agustus 2011,

Yu Sing

(1) secara sederhana, keseragaman terjadi pada rumah2 yang dibangun pada perumahan di aceh sampai papua.
 
(2) bumi milik Sang Pencipta, bukan negara-negara. Negara hanyalah batas politis. Bumi idealnya tanpa negara. Masing-masing negara saat ini bertanggung jawab mengelola batas wilayahnya kepada Sang Pemilik. Bukan untuk dinikmati atau dieksploitasi hanya demi kepentingan negaranya sendiri, tetapi juga bagi kepentingan semua mahluk.
 
(3) tidak ada satupun kelahiran yang kebetulan. Tidak akan ada kelahiran tanpa ijin Sang Pencipta. Kalau bukan kebetulan, tentulah setiap orang dilahirkan dengan maksud/tujuan tertentu.
 
(4) Biro Pusat Statistik mencatat Maret 2011 mencatat jumlah orang miskin sebesar 30,02 juta orang atau 12,49% dari total seluruh penduduk Indonesia (melebihi jumlah penduduk Malaysia yang sekitar 26,79 juta pada tahun 2010. http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2010/12/23/jumlah-penduduk-miskin-indonesia-melebihi-penduduk-malaysia/). “Sebagai perbandingan, Jumlah penduduk Miskin di Indonesia yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada maret 2010 adalah hanya 13,33 persen atau 31,02 Juta jiwa dengan standar Garis kemiskinan nasional sebesar Rp211 ribu per bulan per orang yang diukur berdasarkan pemenuhan makanan pokok sebesar Rp155.615/bulan dan non-makanan Rp56.000/bulan. Berbeda data dari Bank Dunia dengan Ukuran kemiskinan Pengeluaran US$ 2 per hari, maka penduduk miskin di Indonesia mencapai 59% atau sekitar 120 juta jiwa. Perbedaan angka yang signifikan ini wajar mengingat standar serta metodologi yang digunakan oleh BPS dan Bank Dunia jelas berbeda.”
sumber: http://birokrasi.kompasiana.com/2011/07/15/8102-masih-relevankah/
 
(5) jumlah masyarakat yang bekerja di sektor informal (termasuk di dalamnya pedagang kaki lima) ternyata sangat tinggi.  99,91% pengusaha indonesia adalah kelompok usaha kecil dan mikro! dengan tenaga kerja 90 jutaan orang. Betapa ironi mereka yang sering digusur, tidak diberi t4 dlm perencanaan kota, kena pungutan2 liar. Negara (penguasa, dpr,mpr) masih saja durhaka pada rakyatnya! (BPS 2009, http://www.solopos.com/2011/ekonomi-bisnis/menteri-koperasi-ukm-pasar-tradisional-hilang-5-6-tahun-lagi-98015). Solo merupakan kota yang dapat dijadikan teladan dalam melindungi masyarakat kecil. Di bawah kepemimpinan walikota Jokowi (panggilan akrabnya) perijinan mal, mini-supermarket sangat dibatasi. Renovasi perbaikan pasar tradisional mendapat dana belanja daerah yang cukup besar. Pengelolaan pasar dipantau secara berkesinambungan. Pedagang kaki lima disediakan tempat berdagang di beberapa wilayah kota yang telah disiapkan dan direncanakan sebelumnya.
 

Nikmati karya fotografi Khairul Mahadi, Adriyan Kusuma, Fauzan Rahmat Purnomo dan Anastasia Widyaningsih menceritakan arsitektur. Selengkapnya di e-magazine ruang 05|2011.

This slideshow requires JavaScript.

e-magazine arsitektur ruang hadir kembali. Ini merupakan edisi pertama ruang di tahun 2011. Sepanjang tahun 2011, ruang akan hadir dengan tema arsitektur, ruang publik dan metropolis asia. Sebagai pembuka di tahun 2011, ruang hadir dengan tema “Karya Arsitek Indonesia di Luar Negeri”.

.

.

Pada edisi 04|2011 kali ini, ruang menyajikan beberapa manifesto, karya, discovery, kontribusi, dan eksploitasi arsitek-arsitek Indonesia di luar negeri. Para arsitek Indonesia membawa nilai-nilai sendiri dalam berarsitektur di luar negeri. Menjadi menarik untuk mengetahui apa yang terjadi dengan karya mereka, proses arsitektur mereka, dan lingkungan mereka.

Beberapa arsitek Indonesia yang berpengalaman dalam berarsitektur di luar negeri, seperti Maulana Murdan (di US), Surjanto (di US), dan Karolina Astaman (di Singapura) berbagi pengalaman di ruang edisi ini. Nikmati pengalaman dan pembelajaran yang didapat arsitek Realrich (DOT Workshop), Daliana Suryawinata (SHAU) dan Tiyok Prasetyoadi (PDW) dari berarsitektur di luar negeri. Nikmati pula perbincangan dengan arsitek Eko Prawoto dan Berry Natalegawa dalam berarsitektur di luar negeri. dan masih banyak lagi.

Selamat menikmati ruang melalui sharing media (scribd, slideshare, issuu) atau klik link berikut untuk mengunduhnya: e-magazine

Yuk, mengenal arsitektur dengan membacaruang.
Salam ruang

oleh: Realrich Sjarief

“Saya tiba di NewYork dengan kapal laut sebagai seorang remaja, imigran dan seperti orang orang yang lain, saya tekesan dengan patung liberti dan horizon gedung gedung kota manhattan. Saya tidak pernah melupakan kesan tersebut. Dan proyek ini adalah mengenai kesan saya yang tidak pernah saya lupakan.” Itulah paragraph yang dibuat Daniel Liebeskind dalam narasi pembuka skema Word Trade Center yang dia menangkan dalam kompetisi Internasional yang diikuti oleh 5200 orang.

42 Skema WTC dari Daniel Liebeskind - source: http://www.september11news.com/1_Libeskind_LMDC_3.jpg

Dalam perjalanan hidupnya, seorang arsitek belajar untuk merasakan, mengatur, ataupun mencipta ruang dimana kemampuan arsitekturalnya akan semakin terasah seiring berjalannya waktu. Desainer arsitektur atau architectural designer, merupakan padanan / istilah yang tepat untuk seseorang yang tidak mempunyai sertifikat sebagai seorang arsitek. Kita tidak akan membahas mengenai legaliltas seorang arsitek, namun lebih ke latar belakang factual seorang arsitek. Kita berhipotesis bahwa ada satu benang merah yang dialami oleh para arsitek. Benang merah yang bisa membuat kita belajar. Tulisan ini menjadi dasar untuk thesis selanjutnya, sebagai batu pondasi kalau ia bisa dianalogikan dalam satu bangunan.

Model proses pembentukan dan pembelajaran arsitek yang cukup terkenal diambil dari 7 arsitek yang mempelopori gerakan deconstructivist architecture, dimulai dari sebuah pameran di museum of modern art yang dikuratori oleh Philip Johnson.

Frank O. Gehry, peraih Pritzker Prize (penghargaan arsitektur tingkat dunia) di tahun 1989, lahir di Kanada kemudian berangkat untuk bersekolah arsitektur di University of Southern California, School of Architecture dan meneruskan ke Harvard Graduate, School of Design. Lain dengan Frank O. Gehry, Zaha Hadid, seorang arsitek wanita ternama lahir di Badhdad, belajar di bawah bimbingan Rem Koolhaas di sekolah arsitektur ternama di UK, Architectural Association (AA) School of Architecture, London dan kemudian berkerja di OMA (kantor Rem Koolhaas) selama beberapa tahun sebelum ia menjadi partner dan membuka kantor sendiri.

Salah satu figur lain dari 7 arsitek tersebut adalah Rem Koolhaas, lahir di Roterdam di tahun 1944, belajar di Architectural Association (AA) School of Architecture sebelum mendirikan biro konsultan OMA (Office for Metropolitan Architecture) bersama Elia, Zoe Zenghelis dan Madelon Vriersendrop. Arsitek lainnya yakni Bernard Tschumi, lahir di Lausanne Switzerland, belajar arsitektur di Paris dan ETH Zurich, dimana ia memenangkan kompetisi Parc de la villete di tahun 1982.

Para arsitek tersebut memiliki satu pola yang sama. Pola hidup nomaden, berpindah–pindah untuk belajar, kemudian terkulminasi dalam satu titik di hidupnya. Mereka lahir di suatu tempat untuk kemudian belajar atau berkerja di tempat yang memiliki budaya yang berbeda, termasuk dua arsitek lainnya, yakni Wolfgang Prix, yang mendirikan Coop Himmeblau bersama Helmut Swiczinsky and Michael Holzer, dan juga Peter Eisenman sebagai salah satu dari 7 arsitek tersebut. Meskipun ada arsitek–arsitek jenius yang memang bisa menetap di satu tempat dan kemudian mendalami budaya, material lokal, dan pengetahuan membangun yang kemudian disintesiskan menjadi karya terbangun yang orisinal, akan tetapi perjalanan nomaden memberikan satu dampak signifikan bagi pengembangan karir arsitek. Pengembangan karir tersebut bisa dilakukan dengan berjalan–jalan, bersekolah, ataupun berkerja pada biro konsultan arsitektur luar negeri, sebuah perjalanan nomaden untuk membuka mata.

Architectural association pada latar belakang dengan paviliun salah satu karya mahasiswanya. source: http://www.dezeen.com/2008/07/15/swoosh-pavilion-at-the-architectural-association/

Patut dicatatbahwa krisis ekonomi terjadi pada tahun 1987 dan 1988 yang kemudian berulang setiap sepuluh tahun. Krisis di tahun 1987 ini berkaitan dengan gerakan Dekonstruksi yang digaungkan pada akhir tahun 1980. Saat itu, ada sebuah celah kesempatan setelah krisis ekonomi. Ketika ekonomi sudah mulai pulih, kesempatan–kesempatan bisnis datang dan peluang untuk arsitek berkarya menjadi lebih besar.

Hal ini juga berlaku setelah krisis 1997–1998, dimana setelah perekonomian pulih, banyak biro–biro baru yang kemudian memiliki portfolio yang unik dan baru yang dilengkapi dengan brand marketing yang mampu menyerap perhatian pasar, seperti kemunculan biro-biro konsultan arsitketur BIG (Swedia), Lava (Australia & Jerman), dan REX (New York). Di Indonesia, juga terdapat biro konsultan seperti Urbane Indonesia, yang karyanya progresif, dalam waktu kurang dari lima tahun mampu menyabet peringkat 10 besar BCI Asia dan memenangkan beberapa kompetisi nasional.

Uniknya orang–orang di belakang BIG, Lava, REX, atau Urbane Indonesia mengalami sebuah perjalanan dalam hidupnya yang kurang lebih sama dengan 7 arsitek desconstructivist, yakni kesempatan untuk belajar , bekerja, dan berjalan-jalan di sebuah tempat yang berbeda budaya dengan tempat kelahirannya dan mengalami hidup nomaden.

Satu arsitek yang patut dicatat karena tidak memiliki latar belakang formal pendidikan arsitektur adalah Tadao Ando, peraih Pritzker Prize tahun 1995. Jauh sebelum menjadi arsitek, ia adalah petinju. Ia menghabiskan waktu-waktunya untuk mempelajari arsitektur barat dengan berjalan–jalan berkeliling dunia, menjadi nomaden dalam rentang umurnya 24 sampai dengan 28 tahun. Dalam kemiskinan ,ia bepergian ke Moskow, Finlandia, Spanyol, Italia, Marseilles, Madagascar, India, Paris, dan Vienna; dimana ia melihat karya arsitek ternama, Alvar Alto dan Michaelangelo sebagai sumber inspirasi. Ia kemudian memberanikan diri membuka praktek yang berkonsentrasi dalam perancangan rumah kecil dan sederhana. Di usia 35, Tadao Ando kemudian mendapatkan penghargaan tahunan dari Institut arsitek di jepang, sebuah penghargaan yang diberikan pertama kalinya untuk proyek rumah berskala kecil sebesar 65m persegi. Pengalaman belajar menikmati arsitektur dari tempat-tempat di luar Jepang dalam rentang waktu 4 tahun memberikan pengaruh yang besar dalam kesuksesan Tadao Ando. Proyeknya berkembang dari rumah kecil menuju bangunan publik seperti museum atau bangunan komersial, tidak hanya di Jepang, namun tersebar di Texas, Perancis sampai Abu Dhabi.

Salah satu karya tadao Ando, Church of light

Kalau kitalihat dari lokasi geografis bahwa Indonesia adalah negara khatulistiwa dengan 2 musim yang suhu udaranya cenderung konstan sepanjang tahun, Indonesia merupakan sebuah negara yang sangat beruntung dengan posisinya di equator dan memiliki tanah yang subur dengan kekayaan hutan tropis yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Hal Ini sungguh berbeda dengan kota yang memiliki sekolah arsitektur, Architectural Association (AA), sebuah sekolah avant–garde penghasil arsitek kelas dunia, London dimana cuaca yang ada tidak bersahabat dengan terpaan angin kencang sehingga pada musim dingin kita selalu merasakan wind chilled effect, dan sinar matahari hanya datang untuk menerpa suhu diatas 20 derajat tidak lebih dari empat bulan dalam satu tahun. Ada satu benang merah dari bagaimana letak geografis dan kondisi iklim satu negara bisa memberikan sebuah masa adaptasi yang luar biasa, sense of survival.

Hidup di luar negeri menjanjikan pola hidup yang baru, lepas dari kultur bangsa kita sebagai bangsa Indonesia. Pola hidup tersebut mengasah pola berpikir untuk bisa beradaptasi yang kemudian memberikan satu titik positif luar biasa dalam pengembangan diri pribadi. Selain itu, dalam pencampuran budaya di tempat yang baru , para arsitek sering mendapatkan jaringan pertemanan yang kemudian terhubung dengan bisnis . Bjarke Angels, seorang arsitek asal Denmark dan pendiri biro arsitektur BIG, pernah berkerja di biro konsultan Belanda MVRDV. Zaha Hadid, yang kini menjadi arsitek ternama sebelumnya pernah berkerja di biro konsultan OMA.

Di organisasi profesi, Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI), proses untuk mendapatkan sertifikasi arsitek dibedakan menjadi 3 tahap: Pratama dengan 3 tahun pengalaman, Madya dengan lima tahun pengalaman, dan Utama dengan 12 tahun pengalaman. Pengalaman tersebut menunjukkan kematangan arsitek. Seorang arsitek mengalami program sarjana, bachelor arsitektur di Indonesia 4 tahun ataupun di luar negeri selama 3 tahun, dimana rata–rata akan lulus di usia 23 sampai 25 tahun. Setelah seorang arsitek itu lulus ia membuka mata dan memulai perjalanannya. Baik atau buruk hidup di luar negeri, menjanjikan satu fase dalam hidup yang signifikan dalam perkembangan karir seorang arsitek. Belajar untuk memulai perjalanan membuka mata.

Bibliography

  • OMA official Website, www.oma.eu
  • Jodiiou Philip, New Forms, 1990 3.http://architecture.about.com/library/bl-libeskind-statement.htm

Suatu sore di sebuah kedai kopi di London, saya bertemu dan berbincang dengan Berry Natalegawa. Beliau merupakan seorang warga negara Indonesia yang tinggal dan berprofesi sebagai arsitek dan building design consultant di London, UK. Selain kecintaannya terhadap arsitektur, beliau juga merupakan orang yang sangat peka dan murah empati terhadap lingkungan sekitarnya. Pada tahun 2010, beliau menginisasi program life’s walk dan berjalan kaki dari London menuju Edinburgh (700 km) guna mengumpulkan bantuan untuk menolong anak-anak terlantar di seluruh dunia. Tidak hanya di UK, beliau pernah melakukan aksi serupa mengumpulkan bantuan di Indonesia dengan berjalan kaki dari Jakarta ke Depok melewati beberapa lokasi bantuan (97 km). Beliau yakin setiap usaha kecil yang dilakukan untuk menolong sesama akan sangat berarti dan dapat berpengaruh besar kelak. Terakhir, Life’s walk dari Edgware ke Sandhurst (67 km) dilakukan untuk bantuan Merapi dan Tsunami di kepulauan Mentawai.

Perbincangan hangat ini membicarakan mengenai kesibukan beliau sehari-hari, aktifitas sebagai pengajar karate, terkadang perbincangannya membahas masalah bangsa diselingi candaan ringan, dan tak lupa membicarakan mengenai arsitektur. Beliau bercerita mengenai perjalanan hidupnya menjadi arsitek dan pengalamannya berarsitektur di UK.

Selama Bapak berprofesi sebagai arsitek dan konsultan desain gedung di London, karya-karya arsitektur apa saja yang telah Bapak hasilkan? Bisakah bapak menceritakan perjalanan Bapak dari high school hingga berprofesi menjadi arsitek?

Sebagai arsitek dan consultant gedung, saya telah bekerja untuk beberapa consultant arsitektur dan menghasilkan beberapa mixed-use development untuk flat, apartemen, pertokoan, perkantoran. Di samping proyek komersial seperti ini, saya pun bergerak di residential project di berbagai daerah di London.

Keinginan menjadi arsitek itu tumbuh cukup awal. Di tahun 70-an, saya seringkali melihat paman saya, seorang insinyur. Saya melihat meja gambar dan gambar-gambar kontruksi. Itu membuat saya cukup tertarik. Tapi lebih dari itu, saya sendiri suka meggambar. Ayah saya, R.S.Natalegawa (almarhum), selalu bersedia memberikan kertas kepada saya dimana saja. Ketika dia melihat saya sedang duduk sebentar; dia akan mengambilkan kertas dan pensil untuk ditaruh di tempat saya. Saya selalu menggambar. Momen itu akan selalu saya ingat.

Kami sekeluarga sendiri sudah lama tinggal di Inggris. Setelah lulus dari high school, di Concord College, Shropshire Midlands, saya mendapatkan kesempatan untuk meneruskan ke universitas. Di high school, saya sudah mendapatkan beberapa kualifikasi (O & A level), dimana salah satunya adalah technical drawing and art, dua topik yang saya sangat sukai. Saya membuat aplikasi kuliah ke AA (Architectural Association, School of Architecture) dan Bartlett UCL (University College London). Saya diterima di keduanya. Pada akhirnya saya memilih AA karena belum ada yang berhasil masuk ke AA dari high school saya, Concord.

Di AA sendiri, saya rasa itu penuh dengan pengalaman yang mengesankan. Tidak gampang. Penuh dengan kesulitan. Karena AA itu sangat bertolak belakang dengan architecture school kebanyakan di UK. AA boleh dibilang sebagai salah satu sekolah arsitektur terbaik di UK. Selama di AA, saya juga bekerja-bekerja paruh waktu di beberapa tempat , ketika summer contohnya. Di AA, kita tidak dianggap sebagai student, tapi dianggap sebagai fellow architect. AA itu Asosiasi Arsitektur, tempat dimana berkumpulnya para associate di sini. Kompetisi terjadi tidak hanya antar pelajar, tetapi juga antar dosen. Selembar tisu yang disertai penjelasan yang baik pun bisa digunakan untuk presentasi.

Disana, mereka tidak pernah mau membicarakan bangunan. Mereka tidak menggunakan kata “building”. Kita belajar arsitektur, tetapi kita tidak membangun bangunan. Lebih dari itu, Kita bicara proses. Proses itu yang penting. Arsitektur bukan hanya satu end-product dari sebuah bangunan. Satu bangunan ketika selesai dibangun itu bukan berarti selesai, tapi awal daripada ide arsitektur tersebut. Interaksi antara manusia dengan ruang terjadi dan berkembang. You’ll learn by doing it. Tak semua bangunan itu arsitektur. Sebuah bangunan dibangun sama siapapun, belum tentu menjadi arsitektur. Arsitektur harus touch your heart. Arsitektur itu menyentuh. Menggugah,membawa dan berbicara. Membangun ruang tanpa membangun, memberi arah tanpa menunjuk,menyatukan dengan membedakan. AA memberikan banyak pembelajaran buat saya. Saya tidak merasa menyesal mengambil AA. Di AA, saya mengambil full design school. Lepas dari AA, saya bekerja di beberapa konsultan di London.

Apa suka dan duka berprofesi arsitek di luar negeri? Apakah Bapak pernah mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan karena posisi Bapak sebagai minoritas?

Kita lihat secara general dulu. Suka menjadi arsitek ya, kita punya kebebasan dalam merancang. Ketika arsitek melihat rancangannya menjadi sesuatu yang nyata, itu menjadi sesuatu kelebihan yang dimiliki arsitek. Ada kepuasan disitu. Salah satu kelebihan berprofesi arsitek di sini yaitu setiap sesuatu memiliki peraturan dan informasi yang jelas. Ini tidak berlaku hanya di arsitektur, tapi di semua bidang. Undang-undang dan segala regulasi mengenai building design sangat jelas dan clear. Ini memang dihadirkan untuk kebaikan pengguna bangunan itu sendiri. Selain itu, suka menjadi arsitek di luar negeri, mungkin lebih dekat dengan arsitektur global.

Untuk duka, saya pernah mengalami satu kejadian di kantor saya sampai akhirnya saya mengundurkan diri. Ini tidak menyangkut eksistensi saya karena saya merupakan etnis tertentu, tapi lebih karena office politics. Ini bisa terjadi dimana saja. Jadi kejadiannya, ada satu orang yang bisa dibilang menyabotase hasil kerja saya. Sering gambar-gambar saya dirubah tanpa sepengetahuan saya sehingga membuat pihak yang membaca hasil kerja saya menjadi meragukan kinerja saya. Hal ini terjadi berulang kali dan akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari situ. Tapi secara umum, masyarakat disini sangat fair terhadap kemampuan seseorang.

Kita jangan sampai berfikir kita minoritas dan merasa rendah diri sendiri. Kita harus yakin kita mempunyai kelebihan sebagai orang timur. Saya rasa kelebihan kita sebagai orang timur, kita memiliki sifat gotong royong, kekeluargaan dan sopan santun yang baik. Seringkali saya mendapat nilai lebih dan unik dari klien karena sikap sopan yang saya miliki.

Selain itu, ya duka menjadi arsitek di luar negeri, namanya juga jauh dari tanah air, selalu saja merasa ada kekurangan. Kita merasa tidak berada di sekitar teman-teman kita sendiri. Kita harus menguatkan diri kita sendiri untuk mampu bertahan.

Bagaimana apresiasi masyarakat terhadap arsitektur di UK?

Apresiasi masyarakat terhadap arsitektur di sini baik sekali. Di sini ada yang namanya CABE (the Commission for Architecture and the Built Environment) yang bergerak sebagai advisory board untuk pemerintah dalam urusan building, urban spaces, urban planning, sub-urb dan lain-lain. Mereka yang melihat satu kelayakan bangunan dan itu berlaku untuk seluruh bangunan di UK. Itu muncul semenjak tahun 1999 menggantikan board bernama RFAC (The Royal Fine Art Commission) yang telah berdiri sejak tahun 1924. RFAC juga menentukan rancangan yg layak. Publik pun sangat apresiatif dengan desain, terbukti dengan emergence dari urban design sebagai satu design skill yg melibatkan sosial, political economic juga historical konteks.

Disini nilai environment sangat diperhatikan oleh pemerintah. Misalkan kita hendak mendesain sesuatu, spesifikasi dan value dari sebuah material sudah ada dan tertera di bawah Approve Documents dan Building Code. Jika saya menggunakan sebuah material A, maka sudah ada data dan spesifikasi yang jelas mengenai value material tersebut, seperti thermal value-nya, fire safety, structural safety, conservation on fuel and power, dan lain-lain. Ini semua yang berhubungan dengan building control. Semuanya disediakan oleh pemerintah dan kita mutlak merancang dengan batas-batas ini. Mereka selalu meng-update data-data tersebut setiap tahunnya. Mereka sangat memperhatikan isu environment.

Kita sendiri sebagai arsitek, harus memiliki keterdekatan dan koneksi dengan komunitas dan lingkungan. Ketika kita mau membuat sebuah arsitektur murah, kita harus mendefinisikan murahnya apa. Mungkin ketika memilih material, kita memiliki material yang murah. Tapi kita harus lihat effect-nya terhadap lingkungan dan keberlangsungan hidup arsitektur dan penggunanya sendiri. Arsitek harus berfikir beyond that. Murah untuk seseorang tapi bisa menjadi mahal untuk community (lingkungan). Disini pemerintah melakukan kalkulasi untuk arsitektur, sehingga memudahkan kita merespon isu lingkungan. Contohnya, jika kita mendesain pintu yang bisa dibuka, kita tidak boleh sembarang mendesain pintu tersebut. Begitu pintu dibuka, ada thermal issue. Arsitek harus mampu melihat itu secara berkesinambungan. Bangunan-bangunan, baik lama (eksisting) maupun yang baru, harus memiliki serfitikat mengenai dampak lingkungan, yang nantinya akan dievaluasi oleh advisory board.

Dari segi edukasi, bagaimana sistem edukasi arsitektur di luar negeri?

Secara general, edukasi di luar itu lebih terbuka. Disini murid itu diajak untuk berbagi pendapat dan ini terjadi sejak dini, dimana setiap pendapat itu didengarkan sedemikian. Pendeknya, lebih jarang hafalan. Lebih diajak untuk team work, terbuka dan analitis terhadap semua isu. Karena itu, kita itu tidak hanya mengerjakan tugas, tapi betul-betul bisa mengungkapkan pendapat dan ide kita. Ini sangat memberikan bentuk edukasi yang berbeda. Tapi disamping itu kekurangan pun tentu nya ada, seperti kelebihan yg munkin kita temui di Indonesia. Seimbang saya harap dan saling mengisi.

Saya punya pengalaman ketika masih jadi student dan diminta membuat rancangan untuk sebuah gymnasium. Kata guru saya, silakan pulang dan besok kembali dengan peralatan olahraga. Besoknya, datanglah murid-murid dengan peralatan olah raga. Kita diminta merancang peralatan olah raga untuk memulai satu discourse, satu pembicaraan yang unik. Beberapa murid harus perform dengan hasil desain peralatan olah raga-nya. Syukurlah saya terpilih diantara 4 dari 26. Peralatan tadi nantinya akan dimanifestasikan menjadi building. Satu tantangan. Jadi, lebih banyak bicara proses disini. Tidak hanya berbentuk brief yang menampilkan bentuk bangunan, spesifikasiknya, ukurannya.

Saran dari Pak Berry untuk arsitek Indonesia bisa bersaing di pasar global?

Pertama, Kita harus percaya diri. Kita tidak boleh merasa kurang atau tidak bisa. Kita harus yakin tapi bukan artinya merasa bisa dan tahu semua.Kita harus seperti cangkir yang siap menerima masukan, informasi dan pengetahuan. Kita harus fleksibel terhadap apa yang masuk. Kita harus menerima dan bisa beradaptasi terhadap perubahan. Apa yang bisa diambil untuk dipelajari. Sekarang zaman internet. Think global! Kita harus bisa mengambil referensi dari luar dan mempelajari apa yang terjadi di luar sana. Mengikuti perkembangan dengan seksama dan turut berpartisipasi dalam kegiatan2-kegiatan budaya international yang melibatkan arsitek dan perancang seni lainnya. Festival of Architecture in London sebagai contoh. Alur design group turut memeriahkan acara ini dengan kerjasama yang baik dengan KBRI London. Saya sempat berdiskusi dan bertukar pikiran dengan mereka (Alur design group). Sangat menarik.

Kedua, kita harus mampu melihat diri kita. Kita jangan melihat diri kita dari kacamata kita sendiri, tapi melihat bagaimana orang lain melihat diri kita. Kita harus berbenah dan terus memperkaya diri kita dengan pengetahuan. Kita harus menunjukkan ke orang lain bahwa kita bisa. Satu lagi, kita harus melihat secara global bahwa banyak yang tertarik dengan value dan budaya timur. Kita harus mampu mengekspos nilai-nilai keunikan kita. We have to use our strengths!

(Giri Narasoma Suhardi)

Sebuah karya fotografi hasil karya:
Prathita S Putra
Yogyakara

prathita@gmail.com

 

Setelah merilis edisi pertama dan kedua, kini e-magazine arsitektur ruang hadir kembali dengan tema  ”Jakarta”. Kami, sekumpulan arsitek, urban designer, fotografer, pemerhati dan penggiat seni atau engineer, ingin berbagi curahan hati dan emosi yang ada di dalam otak dan jiwa kami melalui artikel, fotografi, karya seni maupun proyek-proyek arsitektural

Jakarta merupakan sebuah kota metropolitan yang memiliki daya tarik luar biasa. Layaknya sebuah ibukota, Jakarta memiliki banyak kelebihan dan kekurangan. Kami mencoba untuk berbagi kisah mengenai Jakarta dari perspektif kami. Keberagaman itu membentuk sebuah kumpulan ide-ide yang kadang kritis, informatif, menggelitik dan juga kadang romantis.

Perjalanan ruang ini akan dimulai dari sejarah Menteng. Kumpulan ide, harapan dan kritik akan mengiringi perjalanan ruang kali ini. Nikmati lukisan seorang alumnus arsitektur ITB dalam memandang Jakarta. Simak pula pendapat beberapa alumni ITB, seperti Betti Alisjahbana, Hendry Harmen, Enda Nasution  mengenai kota Jakarta. Perjalanan ruang ini akan diakhiri dengan sebuah desain arsitektur kontemporer – Stadion Sepakbola, Taman BMW Jakarta Utara.

Selamat membaca per artikel atau dapat mengunduhnya dalam bentuk e-magazine dengan mengklik link berikut : e-magazine


Selamat mengapresiasi
ruang | kreativitas tanpa batas

 

January 2012
M T W T F S S
« Dec    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

our twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Our Articles

ruang3_Page_78

ruang3_Page_77

More Photos
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.